
Dokter itu menghentikan sejenak ucapannya, sehingga membuat Javier semakin tidak sabaran.
"Operasinya kenapa, Dok?! Operasinya berjalan lancar 'kan, Dok?!" Raut wajah Javier sudah tidak bisa di gambarkan lewat kata-kata, yang jelas dia cemas dan takut terjadi sesuatu pada Jelita.
Dokter itu tiba-tiba mengulas senyumnya, kemudian kembali bersuara. "Operasinya berhasil,"
"Hahh!" Javier pun menghela nafas lega begitu mendengar kalau operasinya berjalan dengan lancar, begitu juga dengan Adinda dan Zack.
"Terimakasih, Dokter!" Javier akhirnya bisa tersenyum, setelah sekian Jam dirinya bergelut dengan perasaan yang tidak menentu.
"Sama-sama, tapi maaf, untuk sementara waktu pasien belum bisa di ganggu. Sebab, kami akan segera memindahkannya ke ruang ICU, untuk masa pemulihan,"
"Baik, Dokter! Tidak apa-apa," Dinda dengan cepat menjawabnya, sebab dia tau jika putranya Javier sudah tidak sabar ingin bertemu Jelita.
Setelah memberitahu tentang kondisi Jelita, dokter bersama kedua perawat itupun pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan pintu ruang operasi.
Dan tak lama kemudian, pintu ruang operasi di buka lebar, hingga tampaklah beberapa orang perawat yang mendorong tubuh Jelita yang masih terbaring di atas hospital bad.
Jelita masih dalam keadaan belum sadarkan diri. Dia juga memakai serangkaian alat medis yang terpasang di tubuhnya, beserta alat bantu pernapasan.
Gadis itu tampak begitu pucat, dengan pelupuk matanya yang tertutup rapat.
Adinda meneteskan air matanya saat melihat gadis itu, jika tidak ada Jelita, mungkin dia yang akan terbaring di ranjang besi tersebut. Pikir Dinda.
Javier juga menatap sendu raut wajah Jelita. Namun detik berikutnya deru nafasnya memburu, seiring ingatannya kembali pada seseorang yang sudah membuat Jelita terbaring lemah tak berdaya.
Javier mengarahkan pandangannya kepada Zack, dan Zack yang mengerti maksud dari tatapan tajam Javier pun segera mendekat kearahnya.
"Aku sudah menyuruh Leon untuk memeriksa cctv yang ada di tempat kejadian itu," Zack memelankan nada suaranya, berbicara ke sisi telinga Javier.
"Bagus. Jika sudah tau siapa orangnya, segera bawa dia ke ruang bawah tanah,"
"Baik,"
Setelah itu mereka menyusul langkah Dinda bersama dengan para perawat yang mendorong Hospital Bad yang di pakai oleh Jelita.
Tak lama, akhirnya Jelita di bawa masuk ke ruang ICU rumah sakit. Dinda mendudukkan bokongnya di kursi, wanita itu ingin menunggu Jelita hingga siuman.
"Ma! Sebaiknya Mama pulang saja dulu, biar aku yang menunggu Jelita," Javier membujuknya seraya ikut duduk di samping Dinda.
"Tidak usah, Jav! Mama masih ingin di sini,"
"Tapi, Ma! Mama juga harus istirahat..!"
"Tuan muda benar, Din! Sebaiknya kau pulang dengan ku. Nanti saat gadis itu sadar, kita kembali lagi kemari," Zack menimpali.
Dinda menghela nafas lelahnya. "Baiklah, tapi kalau dia sadar, cepat kasi tau Mama,"
"Iya, Ma..! Aku pasti akan menelpon Mama,"
Zack pun segera membawa Dinda pulang ke kediamannya, sekedar untuk beristirahat sejenak. Namun baru saja Zack hendak melangkah berjalan bersama Dinda, suara notifikasi dari ponsel genggamannya pun terdengar.
Zack segera mengeluarkan benda pipih tersebut dari dalam saku celananya, kemudian mengarahkannya ke depan wajahnya.
Zack membaca pesan tersebut, pesan yang dikirim melalui ponsel milik Leon.
AKU SUDAH MENDAPATKANNYA, ORANG ITU ADA BERSAMAKU SEKARANG
Zack pun dengan cepat membalas pesan tersebut.
TAHAN DIA, BAWA KE MARKAS DAN KURUNG DIA DI RUANG BAWAH TANAH
Setelah mengirimkan pesan balasan tersebut, Zack kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Zack sengaja tidak memberitahukan kabar itu kepada Javier, karena dia ingin menunggu sampai kondisi Jelita pulih terlebih dahulu baru dia akan memberitahu Javier. Pikir Zack.
____________________________
Sepeninggalan Zack dan Dinda, Javier masih setia menunggu Jelita di depan ruang ICU.
Sesekali dia mendudukkan bokongnya di kursi, sesekali dia berdiri melihat kondisi Jelita dari balik kaca.
Dia hanya bisa menatap gadis itu dari kejauhan, tanpa bisa menyentuh, apa lagi berbicara langsung.
"Suster! Kapan saya diizinkan masuk?! Saya ingin melihatnya sebentar saja Sus," Javier memberanikan diri untuk meminta izin kepada salah satu perawat yang kebetulan hendak masuk ke ruangan tersebut.
"Sabar ya, Tuan! Paling tidak, Anda harus menunggu sampai pasien sadar,"
Setelah mengatakan itu, suster itupun segera masuk meninggalkan Javier.
Dengan lemah, Javier kembali duduk di kursi. "Jika aku sudah menemukan bajingan itu.. Akan ku habisi dia dengan tanganku sendiri!!" Javier mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat, desiran darah emosinya memuncak, terlihat dari raut wajahnya yang memerah menahan marah.
Javier terus menunggu hingga beberapa jam lamanya, sesekali dia mengutak-atik layar ponselnya, sekedar mengirimkan pesan singkat kepada Zack dan juga Mario.
Mario yang mendapat kabar tentang kejadian itupun segera meluncur ke rumah sakit yang di sebutkan oleh Javier.
________________________
Sore harinya, Mario yang datang bersama dengan Aldo pun langsung bertanya tentang kejadian yang menimpa Adinda dan gadis yang masih belum sadarkan diri di ruang ICU tersebut.
Javier pun menceritakannya, sesuai dengan apa di ketahui nya dari Dinda dan juga Zack.
"Ini pasti ulah perempuan iblis itu," Javier menyebut dengan nada geramnya.
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia," dengan cepat Mario pun menyetujuinya.
"Dimana orang tua gadis itu?! Apakah kalian belum memberitahu orang tuanya?!" Aldo menimpali saat melihat jika diantara mereka tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka.
Javier pun tersadar. "Ah, ya ampun... Aku lupa menyuruh Zack memberitahu orang tua Jelita," Javier menepuk pelan keningnya.
"Nanti saja kau hubungi orang tuanya, kalau keadaannya sudah membaik," timpal Mario.
Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba dari arah lain Adinda datang bersama dengan Zack. Merasa tidak ada kabar tentang kondisi Jelita, Adinda memutuskan untuk menemuinya kembali ke rumah sakit.
"Jav! Bagaimana keadaan, Jelita?!" Nada suara Dinda masih terdengar lemah. Dia berdiri menatap Javier penuh harap.
Dinda bahkan tidak peduli dengan keberadaan Mario dan Aldo diantaranya.
"Masih belum sadar, Ma.. Sabar ya!" Javier berdiri, lalu mengarahkan Dinda untuk duduk di sampingnya.
"Tuan muda.. Aku ingin bicara sebentar,"
Mendengar itu, dengan cepat Javier mengarahkan pandangannya menatap Zack. Dia mengangguk sedikit, kemudian mengarahkan pandangannya kepada Mario.
"Aku titip Mama sebentar, ada yang harus aku selesaikan,"
"Baik, pergilah."
Javier merasa sedikit lega meninggalkan Adinda, karena ada Mario dan juga Aldo yang menemaninya di sana.
Setelah posisinya lebih jauh dari Adinda, Mario dan Aldo, Javier pun langsung bertanya pada Zack.
"Ada apa?! Apa Paman sudah mendapatkan informasinya?!"
"Orang yang berusaha membunuh Mama mu sekarang sudah berada di Markas. Leon sudah menahannya di ruang bawah tanah,"
Javier pun menyunggingkan seringainya. "Waktunya untuk membuat perhitungan," dia sudah tidak sabar untuk melihat langsung wajah orang tersebut.
__ADS_1
"Ayo kita ke markas,"
Dengan langkah cepat dia meninggalkan area rumah sakit, diikuti oleh Zack yang menjurus dari belakang.
_________________________
Di tempat lain.
Anita sangat murka, saat mendapat kabar bahwa orang suruhannya telah di tangkap oleh orang-orang Javier, putra dari Jhon.
"Brengsek....!!"
PRAANGGGG!!!
Anita mengamuk di dalam kamarnya, dia melempar barang-barangnya ke dinding, hingga satu persatu barang-barang yang ada di dalam kamarnya tersebut jatuh dan hancur berserakan di lantai.
Di dalam rumah, hanya ada Anita dan Marni. Sementara Viona, gadis itu sudah kembali pulang beberapa jam yang lalu.
Dari arah dapur, Marni yang mendengar suara barang-barang pecah pun terkejut dan seketika menjadi ketakutan.
"Ya Tuhan.. Selamatkan Nona Jelita.." Marni memanjatkan doa dalam hatinya, berharap jika Jelita dalam keadaaan baik-baik saja.
Satu-satunya orang yang tau seperti apa dan bagaimana kehidupan Jelita adalah Marni. Tidak ada yang peduli dengan gadis itu selain Marni, sang asisten rumah tangga ayah sambung Jelita.
____________________________
Di Kediaman Javier (Markas mendiang Jhonatan)
Javier turun dari mobilnya lalu melangkah dengan tergesa-gesa, menuju ruang bawah tanah yang tersembunyi.
Zack mengikutinya dari belakang, begitu pula dengan beberapa anak buahnya yang lain.
BRAKKK
Javier menendang pintu ruangan tersebut dengan sangat keras, hingga daun pintu itu pun terbuka dengan paksa.
Langkah sepatu Javier terdengar menggema, membuat semua yang berada di sana menatap kearahnya.
Tatapan mata Javier bagai elang yang mendapatkan mangsa, saat tertuju pada seorang pemuda yang berada di sana dengan posisi tangan dan kaki terikat di kursi.
Javier semakin mendekat, lalu berdiri berhadapan dengan pemuda tersebut. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya, dengan posisi kaki kanannya menginjak bagian paha, dan tangan kanannya mengangkat kasar dagu pemuda tersebut.
"Kau ingin mencari masalah dengan ku! Berarti kau siap mati di tanganku!!"
Javier mengarahkan wajah pemuda itu agar berani membalas tatapannya yang sudah seperti malaikat maut.
"Maafkan aku, Tuan..!!" Suara pemuda itu sangat lemah, wajahnya lebam. Dia sudah babak belur di hajar oleh Leon dan teman-temannya sebelum Javier tiba.
"Hahahh, Maaf?! Maaf katamu?! Hahahhhhhhhh.." Mendengar kata maaf dari seorang laki-laki yang sudah berusaha untuk membunuh ibunya, tentu membuat Javier tertawa keras.
"Lepaskan tangannya,"
Salah satu anak buah Javier pun segera melepas tali yang di gunakan untuk mengikat kedua tangan pemuda tersebut.
Begitu ikatannya lepas, dengan cepat Javier menangkap pergelangan tangan kanan pemuda itu.
"Sakit?!"
Pemuda itu pun mengangguk pelan, raut wajahnya seperti orang bodoh yang kebingungan.
"Kau tau..?! Kau gagal melukai Mama ku.. Tapi kau berhasil membuat kekasihku terluka..!!"
****KRAAKKK****
__ADS_1
"AAAAAARRGH!!!"
Bersambung...