
Javier berhasil membuat raut wajah Jelita merona, menahan malu.
Entah apa yang harus di jawab oleh Jelita, sekalipun ucapan suaminya itu benar adanya. Jelita memang mengakui jika Javier memang sangat tampan, terbukti raut wajah Javier mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan bukan hanya itu saja, bahkan sikap manis Javier pun mampu meluluh lantakkan hati Jelita.
Seolah tak kenal lelah, Javier tak perduli dengan sinar matahari yang sudah menandakan bahwa malam sudah berganti pagi.
Dia terus mengukung tubuh Jelita dibawah tubuhnya, hingga suara desa*an serta erangan diantara keduanya kembali menggema, memenuhi setiap sudut ruang kamar.
Sampai akhirnya, berkali-kali Jelita merintih, mengeluh sakit pada area sensitifnya.
"Sayang, sudah.. Cukup..!"
"Sekali lagi ya! Tanggung,"
Sumpah demi apapun, tubuh Jelita seolah menjadi candu bagi Javier. Dia tidak menghiraukan jeritan kecil sang istri saat dirinya terus berfantasi lewat gerakan-gerakan erotis nya.
Berkali-kali Javier melakukannya, menyetubuhi istrinya hingga dia mendapatkan kepuasan dan kenikmatan jiwa dan raganya.
Hingga, tiga hari sudah mereka lewati bersama di dalam kamar hotel tersebut, sampai akhirnya mereka pun kembali pulang ke rumah.
______________________
Di kediaman Javier.
Tepat di malam ke 4 setelah resepsi pernikahan itu, Javier kembali dengan membawa serta sang istri tercintanya.
Dinda yang duduk dengan di temani oleh Mario sambil menonton acara televisi pun bergegas keluar, saat seseorang memberitahukannya bahwa mobil yang di kendarai oleh pasangan pengantin baru itu tiba di rumah.
"Hai, sayang! Kenapa pulangnya malam-malam gini sih?! Kasihan menantu Mama, pasti capek. Ya kan?!" Dinda menyambut mereka, kemudian memeluk serta mencium singkat pipi kiri dan kanan Jelita.
"Dia sendiri yang minta pulang, Ma! Katanya di sana sepi,"
Javier terdengar sedikit kecewa. Pasalnya, dia meminta Jelita untuk tetap tinggal beberapa hari lagi di kamar hotel tersebut. Namun Jelita tetap ngotot, dan ingin kembali secepatnya ke rumah.
"Aku kangen Mama sama Bi Marni, makanya aku mau pulang cepet," ujar Jelita, menimpali.
"Hm! Ya sudah, kita masuk yuk!" Dinda berbalik, beranjak masuk kedalam rumah. Diikuti oleh Mario yang sejak tadi berdiri di belakang Dinda, begitu juga dengan Javier yang langsung melangkah mengikuti Dinda.
Sekilas, Jelita melirikkan sesaat matanya kearah Mario, sebelum dia ikut melangkah. Dan dengan cepat dia menahan pergelangan tangan suaminya, Javier. Hingga lelaki itu refleks menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Ada apalagi?! Ayo masuk,"
" Siapa pria itu?!" Jelita menunjuk sedikit kearah Mario yang berjalan beriringan dengan Dinda.
Tentu saja Javier pun dengan cepat mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Jelita, setelah itu dia kembali mengarahkan pandangannya lagi kepada Jelita.
"Itu calon mertua laki-laki mu," ujar Javier setelah tersenyum menyungging.
__ADS_1
"Hah! Serius?!"
Jelita terperangah dengan kedua bola matanya yang membulat serta mulut yang sedikit terbuka.
"He'em! Udah.. Ayo masuk! Mau berdiri di sini terus?!"
Dengan cepat Javier menarik pelan tangan Jelita, membawanya masuk kedalam rumah, bersama dengannya.
Jelita yang masih dengan raut wajahnya yang bingung pun mengikutinya begitu saja, walaupun didalam hatinya dia masih belum yakin dengan apa yang di katakan oleh Javier.
Jelita tidak pernah tau atau sengaja tidak di beritahu bahwa Dinda mempunyai kekasih. Sebab itulah dia terheran-heran saat mendapati seorang lelaki asing berada didalam rumah Javier.
Di ruang tengah, Dinda, Javier dan Mario duduk berkumpul bersama di sofa.
"Ma! Bibi mana?!" Jelita tetap berdiri. Dia mencari-cari keberadaan Marni yang masih belum tampak di depan matanya.
"Marni! Kemana ya dia?! Tadi sih di dapur. Coba lihat di sana,"
"Iya, Ma."
Dengan langkah cepat Jelita pun memilir pergi menuju dapur.
Setelah Jelita pergi, seseorang datang menghampiri Javier.
"Tuan! Selamat ya,"
"Leon! Kapan kau datang?!"
"Oh iya, Mama belum cerita kalau Leon baru saja tiba tadi sore." Dengan cepat Dinda menimpali.
"Hm! Bagaimana keadaan mu?!" Sesaat Javier mengamati tubuh Leon.
Pemuda itu sudah tampak lebih baik. Padahal, dia baru beberapa hari saja keluar dari rumah sakit, setelah insiden itu.
"Aku baik-baik saja, Tuan. Tapi.." Sejenak Leon melirikkan matanya kearah Dinda, bergantian dengan Mario.
Javier menunggu Leon melanjutkan ucapannya, tapi jika dia melihat dari gerak gerik mata Leon, sepertinya Leon hanya ingin berbicara berdua dengannya saja. Pikir Javier dalam benaknya, seraya mengerutkan kening saat menatap Leon.
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain saja."
Dengan cepat Javier melangkahkan kakinya, menuju ruangan berbeda. Dan langsung diikuti oleh Leon yang menjurus dari belakang.
__________________________
Sesampainya mereka di ruangan lain, Javier pun duduk berseberangan dengan Leon, seraya menatap Leon dengan tatapan serius.
"Ada masalah apa?!"
__ADS_1
"Sebelum aku terbang kemarin, aku terlebih dahulu mendatangi markas kita, Tuan. Tapi, baru saja aku tiba di sana, pelayan menitipkan ini padaku,"
Leon mengeluarkan selembar amplop berwarna putih dari dalam saku celananya, lalu mengulurkannya pada Javier.
"Apa ini?!" Dengan cepat Javier meraihnya, lalu membolak-balikkan amplop tersebut dengan kening yang mengerut.
"Aku tidak tau, Tuan. Buka saja amplop itu."
Javier pun segera membuka amplop tersebut, kemudian membacanya dalam hati.
'Javier ku sayang. Aku menunggumu pulang ke Indonesia, cepatlah kembali. Aku sudah sangat rindu.
By. Orang yang mencintai mu, V.'
Detik kemudian Javier mengangkat sedikit netra nya, kembali menatap pada Leon.
"Apa-apaan ini?!"
Javier meremas lembaran kertas tersebut menjadi gumpalan, lalu membuangnya asal ke lantai.
Leon pun mengerutkan keningnya, seraya lekas bertanya. "Memangnya apa isi surat itu, Tuan?!"
"Seorang gadis, dia ingin bermain-main dengan ku." Javier menyunggingkan senyum tipisnya sesaat, kemudian membatin dalam diamnya.
'V?! Siapa dia?!'
"CK, seorang gadis ingin menghancurkan rumah tangga mu yang baru saja kau bangun, Tuan! Kurang kerjaan sekali."
Terdengar seperti lelucon bagi Leon, hingga membuatnya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ternyata surat misterius yang di tujukan untuk Javier hanyalah sebuah ungkapan perasaan dari seorang gadis. Lantas saja itu membuat Javier dan Leon menanggapinya hanya sebatas hal yang tidak penting.
Merasa tidak ada hal yang lebih penting untuk di bahas, Javier dan Leon pun keluar dari ruangan tersebut.
Mereka kembali bergabung dengan Dinda dan Mario yang masih duduk bersantai di ruang tengah. Tapi ternyata, di situ hanya ada Mario seorang. Sedangkan Dinda, dia memilih untuk menemani Marni di dapur bersama dengan Jelita.
"Kalian dari mana?!" Mario lekas bertanya saat keduanya datang lalu duduk bersama di sofa.
"Hah! Javier menghela nafas jengah, kemudian lekas menjawab. "Ada surat misterius yang di tujukan untuk ku,"
"Surat misterius?! Apa isinya?!" Mario pun terkejut dengan kening yang mengerut.
"Tidak penting. Hanya ingin mengacau rumah tangga ku bersama Jelita."
Ada-ada saja. Seseorang datang ingin merusak rumah tangga pengantin baru. Pikir Mario membatin.
Baru saja mereka merasakan kebahagiaan, sekarang sudah ada seseorang yang diam-diam ingin merusak kebahagiaan itu.
__ADS_1
Terlebih lagi, Mario baru saja membahas tentang masa depannya bersama dengan Dinda. Mereka merencanakan akan segera menikah dalam waktu dekat.
Bersambung...