
Tak terasa, hari pernikahan yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Dimana, beberapa orang dari pihak keluarga mempelai pria sudah berkumpul di salah satu hotel berbintang. Mereka berkumpul bersama dengan para tamu undangan lainnya dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan besar, yaitu tempat yang akan di gunakan untuk kedua mempelai saling mengikat janji suci pernikahan.
Didalam sebuah kamar hotel, Jelita yang sedang di tata oleh tim MUA, tampak begitu cantik, dengan memakai kebaya modern berwarna putih pilihan Dinda.
Jelas saja, siapapun yang akan melihatnya pasti akan terpesona padanya. Polesan di wajahnya pun serasi dengan rambut yang di bentuk sanggul modern, sehingga menambah kesan anggun pada dirinya.
Sementara di tempat kediaman Javier.
Dinda yang baru saja selesai berdandan, segera membantu Javier untuk mengenakan pakaiannya. Javier pun terlihat sangat berbeda. Semakin tampan dengan rambut yang di tata rapi oleh penata rambut profesional, serta terlihat begitu menawan dan gagah dengan tuxedo yang dia kenakan, lengkap dengan dasi kupu-kupu nya.
Dinda terkagum-kagum melihat penampilan putranya sendiri, terlihat dari senyumnya yang terus mengembang menatap Javier.
"Gimana, Ma?!"
"Cocok. Kau sangat tampan dan gagah."
Javier pun tersenyum lebar mendengar pujian dari sang Mama.
"Mama juga terlihat sangat cantik memakai kebaya putih ini. Dimana Tuan Hadinata?!" tanyanya setelah balik memuji Dinda.
Beberapa jam sudah, Mario tidak menampakkan batang hidungnya di depan Javier. Namun tak lama setelah Javier menanyakannya, tiba-tiba Mario pun masuk kedalam kamar, menghampiri Dinda dan Javier.
Mario melangkah dengan senyumnya yang menawan. Penampilannya pun tak kalah dengan mempelai laki-laki.
Walaupun usianya terbilang sudah tidak muda lagi, tapi ketampanan dan tubuhnya yang masih gagah itu seakan tidak termakan oleh usia.
"Dinda! Kau, cantik sekali!" Mario berdiri di hadapannya Javier dan Dinda. Tapi tatapannya justru tertuju pada Dinda seorang, dengan rasa kekagumannya.
Dinda tersipu malu dipuji secara terang-terangan di hadapan putranya.
"Hei, Tuan! Pengantin laki-laki itu aku! Kenapa kau malah memuji Mama ku?!" sela Javier dengan cepat.
"Justru karna kau laki-laki! Makanya aku tidak memujimu dengan mengatakan kalau kau sangat cantik hari ini."
Jawaban Mario berhasil membuat Dinda tertawa lebar. Sedangkan Javier, pemuda itu malah berdecak kesal karena Mario malah membalasnya dengan candaan.
"Bagaimana?! Apa kalian sudah siap?! Kita harus segera menuju ke sana,"
"Tunggu, aku akan menghubungi seseorang di sana, apakah penghulunya sudah datang atau belum,"
Dengan cepat, Dinda keluar dari kamar putranya, bermaksud ingin mengambil ponselnya yang masih tertinggal di dalam kamarnya.
Setelah dia berhasil memastikan situasi di tempat acara, barulah dia kembali lagi menghampiri Javier dan Mario.
"Bagaimana?! Apa penghulunya sudah datang?! " ujar Mario dengan cepat, saat Dinda datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sudah, penghulunya sudah datang 15 menit yang lalu. Ayo kita berangkat."
Saat Dinda berbalik badan dan ingin melangkah menuju pintu, dengan gerakan cepat Javier menahannya dengan menangkap lalu memegang tangan kanan Dinda. Hingga Dinda refleks menghentikan langkahnya lalu mengarahkan pandangannya menatap Javier.
Javier mengubah posisinya dari berdiri menjadi berjongkok dengan kaki kanan yang di tekuk ke depan. Lebih tepatnya posisi seperti seorang pengawal istana menghadap ibunda ratu.
Sesaat Dinda mengarahkan pandangannya kepada Mario, kemudian kembali menatap Javier dengan raut wajah bingung.
Javier memegang erat kedua tangan Dinda, sambil mendongak, menatap lekat raut wajah Dinda.
"Ma! Terimakasih untuk semuanya. Setelah ini, aku tidak ingin apa-apa lagi. Aku hanya menginginkan sesuatu, sebagai hadiah pernikahan ku," Javier melemahkan nada suaranya.
"Iya, katakan saja. Hadiah apa yang kau inginkan dari Mama, sayang?!" Dinda tersenyum haru.
Melihat Javier yang seperti itu, rasanya dia ingin menangis detik itu juga. Tak terasa, akhirnya Javier menemukan tambatan hatinya, bahkan masa lajangnya pun akan segera berakhir.
"Aku.. Ingin melihatmu bahagia dengan pilihanmu. Tidak ada yang salah dengan hati. Sejauh apapun kita menghindar, tapi jika hati kita tidak pernah mati untuknya, maka tidak ada salahnya untuk mencoba."
"Jav... "
Air mata Dinda sudah tidak bisa di tahan. Dengan cepat dia memeluk putranya lalu menangis di sana.
Kata-kata Javier sungguh membuat siapapun yang mendengarnya akan menangis haru. Bahkan Mario yang masih berada di antara mereka pun sampai menitikkan air matanya.
Sesaat, mereka hanyut dalam suasana sedih. Tapi detik kemudian Javier menuntun Dinda untuk bangkit berdiri.
"Bersediakah kau mendampingi Mamaku sampai ajal memisahkan kalian?!" Javier menatap lekat manik mata Mario, bermaksud ingin menyerahkan Mamanya pada Mario.
"Iya, aku akan selalu berada di sampingnya sampai ajal memisahkan kami," jawab Mario dengan penuh keyakinan dan kepastian.
Javier pun mengulas senyumnya sesaat, kemudian kembali bersuara. "Terimakasih,"
Setelah mengatakan itu, dengan cepat diapun mengalihkan pandangannya pada Dinda.
"Ma! Tugas dan kewajiban mu pada ku dan Papa sudah cukup. Sekarang saatnya Mama untuk bahagia. Lupakan janji mu pada Papa. Perasaan mu pada Papa bukanlah cinta yang sesungguhnya, melainkan hanyalah sebuah rasa balas budi."
Dinda memejam, seraya menunduk yang diiringi dengan helaan nafas pelan. Rangkaian kata yang keluar dari mulut Javier adalah kebenaran yang sudah tidak dapat disembunyikan oleh Dinda. Karena bagaimana pun, Mario adalah cinta pertamanya.
________________________
Hotel berbintang.
Di sana, beberapa dari keluarga mempelai pria sudah sangat gelisah. Pasalnya, bukan hanya mereka saja yang menunggu, bahkan penghulu saja sesekali sampai melirik kan matanya kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kemana mereka?! Kenapa lama sekali?!"
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka."
Beberapa dari pihak keluarga merasa khawatir pada Javier dan juga Dinda.
Sementara didalam kamar hotel, Jelita tampak gelisah. Dia gugup menunggu dirinya akan segera di bawa keluar dari kamar itu.
"Tenanglah, Non! Semua pasti berjalan dengan lancar. Tarik nafas dalam.. Lalu hembuskan secara perlahan."
Sesuai dengan aba-aba yang diajarkan oleh Marni, dengan cepat Jelita pun mengikutinya.
"Bagaimana?! Lega?!"
Jelita tersenyum kemudian lekas mengangguk seraya menjawab. "Iya, sedikit lebih baik."
Beberapa menit kemudian, seseorang datang menghampiri Jelita didalam sana.
"Marni! Ayo kita bawa pengantinnya keluar, mobil iring-iringan pengantin laki-laki baru saja tiba,"
Deg
Detik itu juga, Jelita merasakan suhu tubuhnya menjadi panas dingin, seiring dengan debaran jantung yang semakin berdebar kencang.
"Non! Ayok.. Buruan keluar," Marni menyadarkan Jelita dari diamnya. Dan detik itu juga Jelita pun di giring keluar dari dalam kamar tersebut.
_______________________
Di ruangan yang berada, semua orang sudah tampak begitu ramai, mereka sudah tidak sabar menyaksikan ijab qabul yang sebentar lagi akan di mulai.
Javier juga sudah duduk berhadapan dengan seorang penghulu, serta para saksi yang lainnya. Begitu pula dengan Dinda dan Mario, yang duduk menemani Javier.
Detik kemudian, tampak Jelita melangkah berjalan dengan anggunnya, diiringi oleh Marni yang berjalan di samping kanan, serta seorang wanita lainnya berjalan di samping kiri Jelita.
Saat Jelita masuk kedalam ruangan tersebut, sontak saja semua mata memandanginya dengan terkagum-kagum. Bahkan, ada yang terang-terangan memuji kecantikan Jelita di depan orang banyak.
Tak terkecuali Javier, saat pandangannya tertuju pada Jelita yang sedang berjalan dengan menundukkan kepalanya, saat itu juga dia tersenyum smirk. Dalam hati, dia juga ikut memuji kecantikan gadis yang akan menjadi istrinya itu.
Begitu pula dengan Dinda. "Ya, Tuhan! Dia sangat cantik," Dinda terpesona menatap Jelita yang cantik dan anggun di mata semua orang yang berada di sana.
Javier menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan saat Jelita diarahkan untuk duduk di sampingnya.
Jangan di tanya lagi bagaimana kondisi detak jantung mereka, sudah pasti berdetak dengan kencang seiring dengan perasaan mereka yang gerogi.
Setelah Jelita duduk, tak lama setelah itu, ijab qabul pun di mulai.
Dengan lancarnya Javier mengucapkan menerima Jelita sebagai istrinya, hingga detik kemudian orang-orang pun bersorak dengan meneriaki kata SAH!!
__ADS_1
Bersambung...