DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 42# Perhatian


__ADS_3

______________________


Sampai akhirnya, waktu yang di tunggu-tunggu pun semakin dekat. Tepat tiga hari sebelum acara pernikahan itu di langsungkan, Javier dan Jelita sudah di larang untuk bertemu oleh Dinda.


Tak terkecuali Dinda yang selalu sibuk mempersiapkan semuanya, bahkan Mario yang baru beberapa hari tiba pun ikut membantunya, begitu juga dengan para rekan-rekan Javier yang lain.


Jujur saja, Dinda sedikit terharu atas segala perhatian dan kebaikan yang di berikan oleh Mario.


Mario terlihat begitu antusias, seolah dia sedang mempersiapkan acara pernikahan putranya sendiri.


"Mario! Makan dulu yuk, dari tadi kau selalu sibuk, sampai tidak sempat makan," ujar Dinda dengan lembut.


Mario menoleh, seraya tersenyum. Kemudian lekas menjawab. "Kau sendiri, sudah makan?!"


"Belum," Dinda menggeleng pelan.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan sama-sama."


Dinda pun mengangguk, sebagai tanda jika dia setuju. Setelah itu mereka berdua berjalan bersama menuju ruang makan.


Di sana, sudah tampak beberapa hidangan tersedia di atas meja makan. Sebelum Dinda mengajak Mario untuk makan, terlebih dahulu dia mempersiapkan menu makanan kesukaan Mario.


"Ini.. Kan makanan favorit ku!" Mario terheran-heran saat melihat ada rendang daging serta sup buntut kesukaannya di sana.


Dengan cepat dia menggeser kursi lalu mendudukkan bokongnya di sana, tak terkecuali Dinda yang juga ikut menggeser kursi berhadapan dengan Mario, lalu mendudukinya.


"Kalau kau suka! Habiskan saja makanan itu. Itu.. Aku memasaknya khusus untuk mu,"


"Benarkah?! Kau memasak semua ini untuk ku?!" Mario tak percaya mendengarnya, hingga dia terperangah saat Dinda mengatakan itu.


Dinda mengangguk cepat. Tanpa menjawab pun, sudah dapat diartikan bahwa memang dia sengaja memasak untuk Mario.


Hati Mario begitu tersentuh. Kehangatan dari seorang wanita seperti Dinda lah yang sebenarnya sangat dia butuhkan.


Mendambakan seorang istri yang lembut dan pengertian seperti Dinda, benar-benar menjadi impian dalam hidup Mario.


"Ayo dimakan! Jangan dilihat terus!" ujar Dinda setelah menyendok kan nasi kedalam piring, lalu meletakkan piring tersebut tepat di hadapan Mario.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang luar biasa, terlihat layaknya seperti seorang istri yang sedang menemani suaminya yang sedang makan.


Bersamaan dengan itu, tanpa di sadari, dari kejauhan Javier menatap kearah mereka berdua dengan tatapan menyelidik.


Javier terus mengamati mereka dari tempatnya berdiri, seraya membati. 'Pa! Lihat dia, dia begitu mendambakan sosok seorang suami. Aku rasa.. Kau tidak perlu menghukum hatinya begitu berat, sudah sekian lama dia bersamaku dalam kesendirian. Sekarang, izinkan dia untuk hidup lebih bahagia bersama pasangannya yang baru.' Javier memejam di sela helaan nafasnya yang berat.


Sementara di meja makan, Dinda dan Mario tampak asik menikmati makanan mereka, sambil sesekali mengobrol.


"Dulu, waktu Mama ku masih ada, dia yang selalu memasak untuk ku,"


"Sekarang, Mama mu dimana?!" Sejenak, Dinda menghentikan suapan kedalam mulutnya, seraya mengarahkan pandangannya menatap Mario.


"Mama sama Papaku sudah tidak ada. Sekarang, aku hanya punya kak Karin,"


"Oh! Maaf, aku tidak bermaksud.. "


"Iya, tidak apa-apa," Mario mengulas senyum singkatnya sambil membalas tatapan Dinda. Setelah itu diapun kembali bersuara.


"Din! Boleh aku bertanya sesuatu?!" Terasa berat di hati Mario untuk bertanya, namun karena dia ingin mengetahui seperti apa tanggapan Dinda, maka dia pun segera memberanikan dirinya.


Mario melepaskan sendok di atas piringnya, lalu menatap lekat raut wajah Dinda. Begitu pula dengan Dinda yang langsung mengerutkan keningnya menatap Mario.


"Em! Apakah kau.. Benar-benar tidak ingin menikah lagi?!"


Deg


Detak jantung Dinda terasa berhenti berdetak. Pertanyaan Mario membuatnya seketika terdiam untuk beberapa saat.


Dinda memang pernah berjanji dalam hatinya pada mendiang Jhon. Dia tidak akan menikah dengan orang lain, dan hanya akan membesarkan putra mereka seorang diri.


"Aku.. " Dinda melemahkan nada suaranya, seraya lekas menunduk.


"Maafkan aku, aku.. Tidak bermaksud untuk memaksa mu, Adinda! Tapi.. Kau juga berhak hidup bahagia. Dan aku ingin sekali membahagiakan mu di sisa hidupku." Mario mengarahkan tangan kanannya, memegangi tangan kiri Dinda.


Jauh di dalam hati kecil Dinda, sebenarnya dia sendiri merasa senang mendengar ucapan Mario. Tapi apakah mungkin menerima kehadiran Mario dalam hidupnya tidak akan menjadi bumerang bagi hubungannya dengan putranya sendiri. Pikir Dinda.


Dinda mengangkat wajahnya, lalu menatap lekat manik mata Mario. "Aku.."

__ADS_1


"Aku tau saat ini kau belum bisa menjawab iya. Tapi aku akan tetap menunggu, entah sampai kapan. Asalkan aku masih bernyawa, jantungku masih berdetak, selama itu aku akan menunggu sampai kau siap."


Hilang sudah selera makan mereka berdua, akibat terhanyut dalam perasaan mereka masing-masing.


Tanpa di sadari, Javier melangkah menghampiri mereka. "Ekhm! Boleh aku ikut bergabung bersama kalian?!" Javier berdiri diantara keduanya, seraya mengarahkan pandangannya kepada Mario bergantian kepada Adinda.


Sontak saja dengan cepat Mario menarik tangannya, menjauhkannya dari posisi tangan Dinda yang di letakkan di atas meja.


"Jav! Kau_" Dinda gelagapan.


"Sejak tadi aku melihat kalian. Kalian terlihat seperti pasangan pengantin yang akan menikah. Aku yang akan segera menikah saja tidak bisa berduaan seperti ini." Dengan santai Javier menggeser kursi lalu mendudukinya.


Ucapan Javier justru membuat Mario maupun Dinda akhirnya tertawa bersamaan.


"Sabar! Kau hanya butuh 2 hari lagi untuk bisa meluapkan kerinduan mu pada nya," goda Mario, masih diiringi dengan suara tawa kecilnya.


Lalu, dimana sebenarnya Jelita?!"


Gadis itu sudah berada di sebuah hotel berbintang. Hotel yang telah di sewa untuk pesta pernikahan mereka.


Jelita di minta untuk berdiam diri di salah satu kamar hotel, sampai tiba waktunya acara pernikahan itu di langsungkan.


"Non! Makanlah dulu! Sejak pagi perutmu belum terisi. Non bisa masuk angin!" Marni yang sedang menemaninya, memaksa Jelita untuk segera menyantap makanan yang sudah tersedia di atas meja.


"Aku tidak lapar, Bi! Aku sangat gugup." Gadis itu menolak, dia sama sekali tidak berselera.


Marni menghela nafasnya sesaat, kemudian lekas menimpali. "Memang seperti itulah jika seorang gadis menghadapi detik-detik pernikahannya, Non! Tapi jangan sampai tidak makan! Jika ibu mertua dan calon suami Non tau kalau Non tidak makan, mereka pasti akan mengkhawatirkan mu, Non!" Marni terus berusaha untuk membujuk Jelita agar gadis itu mau makan.


Marni tidak akan membiarkan kondisi tubuh Jelita melemah. Apalagi Dinda sudah memberi kepercayaan padanya untuk mengurus segala keperluan Jelita.


Jelita menghela nafasnya yang sedikit terasa sesak. Benar apa yang di ucapkan Marni, seorang gadis tidak akan tenang menghadapi pernikahannya yang hanya tinggal 2 hari lagi.


Jelita benar-benar sangat gugup, jangankan makan, tidur pun dia tidak nyenyak. Jauh di dalam lubuk hatinya, terasa sakit dan sedih karena tidak ada keluarganya yang akan datang menyaksikan acara sakral nya nanti.


Hanya Marni seorang dirilah yang akan melihatnya bersanding di pelaminan, sebagai perwakilan dari pihak mempelai wanita.


Sungguh miris bukan? Jangankan Jelita, Marni pun ikut merasakan hal yang sama. Merasa seolah gadis itu hanya hidup sebatang kara, padahal jauh di luar sana, dia masih mempunyai seorang ibu dan juga seorang adik perempuan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2