
"Kau boleh pergi," ujar wanita itu, masih dengan nada datar dan raut wajah dinginnya.
Wanita itu tak lain adalah Anita, orang yang menyebabkan seorang Mafia yang bernama Jhonatan kehilangan nyawanya.
Puluhan tahun yang lalu, Anita adalah kekasih Jhonatan atau yang lebih di kenal sebagai John. Namun Jhon tidak pernah mencintai Anita, justru Anita lah yang selalu menggoda Jhon.
Anita selalu menjadikan cintanya sebagai penghasil pundi-pundi rupiah untuknya, apalagi Jhon adalah seorang pria mapan yang mempunyai banyak harta kekayaan, tentu Anita tidak rela jika Jhonatan jatuh ke pelukan wanita lain.
******
Setelah anak buahnya yang membawa kabar tentang kedatangan Adinda dan Javier pergi, Anita pun kembali menatap ke luar jendela sambil menyunggingkan senyum tipisnya sesaat.
"Adinda Larasati, kalau lah penyebabnya. Kau yang membuat aku merasakan tidur di balik jeruji besi. Kau penyebab hubunganku dan Jhon hancur. Kau menjauhkan aku dari Jhon. Kau harus dilenyapkan!" gumamnya sendirian, dengan di penuhi rasa dendam yang begitu menggebu, hingga ingin sekali dia bisa segera menghabisi Adinda.
****
Sementara di tempat lain, Adinda dan Javier akhirnya sampai di rumah lama mereka, rumah mendiang suaminya Jhonatan.
Adinda kembali meneteskan air matanya saat dia keluar dari mobil yang mereka kendarai.
"Jhon! Apa kau tau?! Rumah ini tetap sama, sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Semuanya tidak ada yang berubah," gumam Adinda lirih dalam benaknya. "Setiap kali aku datang kemari, aku merasakan seolah kau masih ada, menantikan aku datang menemui mu," lanjutnya, seraya terisak. Sambil terus mengamati sekeliling rumah tersebut.
"Ma! Mama kenapa?! Ayo kita masuk," ujar Javier menyadarkan Adinda.
Javier tau bagaimana perasaan Mamanya saat melihat rumah lama mereka, sebab itulah Javier tidak ingin Mamanya terlalu larut dalam kesedihan.
Tatapan mata Adinda seolah menggambarkan jika dirinya sangat merindukan sosok Jhonatan. Seperti itulah yang di artikan oleh Javier jika di lihat dari raut wajah kesedihan dan netra indah Adinda yang basah oleh air mata.
"Mama tidak sanggup, banyak sekali kenangan di rumah ini, Javier!!" Tangisan Adinda pun semakin menjadi, hingga dengan cepat Javier menarik tubuh kecil Dinda, membawanya ke dalam dekapannya.
Hal yang sama setiap kali Javier membawa Adinda pulang ke rumah itu adalah Adinda tidak bisa menahan tangisnya.
Begitu sakit dan perih terasa menusuk di hati Dinda, apalagi jika mengingat bagaimana cara dia dan Jhon bertemu hingga Javier tumbuh di dalam rahimnya. Dan lebih sakit lagi jika mengingat bagaimana besarnya cinta Jhon, hingga dia rela memberikan nyawanya demi keselamatan Adinda.
*****
__ADS_1
Javier membawa Adinda masuk ke dalam rumah.
"Mama mau lihat-lihat dulu atau mau langsung istirahat?!" tanya Javier saat mereka sudah berada di ruang tengah.
"Mama mau langsung ke kamar saja," jawab Dinda lemah.
"Baiklah kalau begitu, ayo ku antar, Ma!" balas Javier. Dia pun segera melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar lama milik Jhon, bersama dengan Dinda.
Di sana, Javier langsung membukakan pintu kamar, hingga detik berikutnya tampaklah suasana di dalam kamar tersebut.
"Mama jangan sedih ya! Ingat, ada aku di sini. Aku selalu ada buat Mama," ujar Javier yang langsung di tanggapi Adinda dengan senyum tipisnya sambil mengusap lembut air matanya yang membasahi pipinya.
"Kalau perlu apa-apa panggil saja aku, ya Ma! Aku di bawah," sambung Javier.
"Iya sayang, makasih ya!" jawab Adinda dengan nada lembut.
Javier membalas senyuman Dinda seraya memberi kecupan singkat di kening Mamanya, setelah itu barulah dia keluar dari kamar itu.
Sepeninggalan Javier, Dinda mengamati ruang kamarnya. Teringat kembali saat pertama kali dia berada di kamar tersebut.
'Hei, kenapa kau malah disitu?! Ayo cepat layani aku.'
"Jhon! Kenapa kau terus bersembunyi dariku?! Ayo cepat keluar, layani aku." Dinda berbicara seorang diri, seolah-olah dia sedang besama Jhon di kamar itu, seraya menirukan ucapan Jhon.
Detik kemudian, Dinda melangkah mendekati ranjang, sambil melucuti semua pakaiannya, lalu naik ke atas ranjang dan berbaring dengan posisi telentang di atas kasur empuk milik Jhon.
"Jhon! Keluar..! Aku butuh kamu malam ini. Dulu kamu yang nyuruh aku keluar buat layanin kamu, sekarang giliran aku, Jhon!" ujarnya lagi. Dinda seperti sudah kehilangan kesadaran, dan seakan lupa jika Jhon sudah tiada.
Namun detik kemudian tiba-tiba Dinda menangis pilu sambil memeluk bantal guling yang ada di sampingnya.
"Kenapa kau tega memberikan nyawamu demi aku, Jhon?! Aku hanyalah gadis biasa!! Kenapa tidak kau biarkan saja Anita membunuhku waktu itu..?! ujar Dinda lirih dalam tangis.
Dinda sungguh menyesal atas kejadian di masa lalu, hingga dia menangis sesenggukan di dalam kamar itu hingga dengan perlahan, dia terlelap dengan sendirinya.
****
__ADS_1
30 menit kemudian.
**Tok tok tok**
"Ma..! Boleh aku masuk?!" panggil Javier dari arah luar setelah mengetuk pintu kamar.
Javier sengaja datang untuk memastikan bahwa Mamanya sedang baik-baik saja.
Tok tok tok
"Ma..!" Javier memanggilnya lagi setelah beberapa detik tidak ada sahutan dari Dinda yang berada di dalam.
Dinda yang masih berbaring di kasur pun tersadar, lalu bergegas bangun dan dengan cepat dia memungut kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Sebentar..! Mama ganti baju dulu!" sahut Dinda dengan sedikit berteriak.
"Iya! Aku tunggu Mama di bawah," jawab Javier. Dan setelah mengatakan itu, Javier pun kembali turun ke lantai bawah.
Tak berselang lama, Dinda keluar dari kamarnya lalu turun menghampiri Javier.
"Ma! Kenapa matanya bengkak?! Mama habis nangis?!" tanya Javier lembut saat Dinda mendekat hingga terlihat kedua matanya yang merah dan sembab.
"Tidak! Siapa yang nangis?! Mama tadi ketiduran. Mama bangun karena dengar suara kamu ngetuk-ngetuk pintu," sela Dinda, berbohong.
"Oh.. Gitu?! Aku pikir Mama nangis! Ternyata ketiduran. Maaf ya, Ma! Aku udah ganggu waktu istirahat Mama,"
"Nggak papa, sayang! Sekarang, Mama udah nggak ngantuk lagi, kalau kamu mau bawa Mama jalan-jalan,"
Javier pun terkekeh mendengarnya, kemudian lekas menjawab. "Mama mau jalan-jalan?! Ya udah, yuk, kita jalan-jalan. Sekalian, kita cari makan, perut ku juga sudah lapar,"
"Jav! Bukannya tadi di pesawat kau sudah makan?! Kenapa sekarang masih lapar?!" Dinda sedikit heran. Pasalnya, putranya itu selalu menjaga pola makannya agar berat badannya tetap stabil.
"Itu kan tadi, Ma! Sekarang kan belum. Memang apa salahnya kalau aku makan banyak?! Lagi pula.. Tidak ada gadis yang berani mendekatiku."
"Kau ini..!"
__ADS_1
Sebenarnya Javier tidak benar-benar lapar, melainkan dia hanya berusaha untuk membuat hati Dinda nyaman, karena sebenarnya dia tau jika mata Mamanya sembab dikarenakan habis menangis. Untuk itu dia ingin sekali menghibur sang Mama agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
Bersambung...