DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 37# Berita Duka


__ADS_3

Rekan-rekan Javier yang selamat itupun tercengang, menyaksikan apa yang terjadi di depan mata mereka. Sesaat mereka saling melempar pandang, tapi detik kemudian mereka kembali menatap bangunan rumah yang telah ambruk sebagian itu.


Kepulan asap tebal pun membumbung tinggi, seiring dengan kobaran api yang menyala, sehingga membuyarkan pandangan mata mereka untuk melihat dengan lebih jelas.


________________________________


Tak berselang lama setelah kejadian itu, seseorang pun menghubungi Zack yang berada di kediaman Javier.


Zack yang sedang menunggu informasi dari tim Javier pun sangat terkejut mendengarnya.


"Tuan muda..." Zack memejam, tubuhnya melemah, hingga dia terduduk di kursi. Dia terdiam kaku untuk beberapa saat.


Sementara itu, suara yang berada di seberang telepon terus memanggilnya. 'Tuan! Tuan! Anda masih mendengar ku?!'


Zack kembali mengarahkan ponsel genggamannya ke sisi telinganya. Sesaat, Zack menghela nafas dalam, kemudian kembali bersuara.


"Segera amankan diri kalian. Ganti pakaian kalian dengan pakaian yang baru. Aku akan segera meluncur,"


Dengan cepat Zack beranjak dari duduknya setelah memutus panggilan telepon begitu saja, lalu keluar dari ruangan tempat biasa mereka berkumpul.


Zack melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, hingga melewati ruang tengah. Dinda yang masih berada di sana pun terheran-heran di buatnya.


"Zack! Kau mau kemana?!"


Tak ada sahutan dari Zack. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Dinda.


Tentu saja hal itu membuat Dinda semakin heran. 'Mau kemana dia?! Kenapa jalannya cepat sekali?!' Dinda membatin, sambil terus menatap hingga tampak punggung Zack yang semakin menjauh.


____________________________


Sesampainya Zack di tempat kejadian, terlihat kobaran api yang sudah hampir padam. Zack bergegas turun dari mobilnya lalu berlari masuk kedalam kerumunan orang-orang yang datang melihat.


Kepulan asap masih menyelimuti area itu, hingga membuat Zack kesulitan untuk mendekat.


"Tuan!"


Seorang lelaki berlari menghampirinya. Zack pun mengalihkan pandangannya dengan cepat kepada lelaki tersebut.


"Dimana Leon?!" Zack benar-benar panik. Dia tidak tau, bagaimana caranya mendekati bangunan yang sudah runtuh itu.


"Leon terluka, dia sedang di larikan ke rumah sakit,"


"Astaga..!" Zack sudah seperti orang linglung, hingga dia tidak bisa berpikir lebih tenang.


Di satu sisi dia memikirkan tentang Javier, di sisi lain dia memikirkan bagaimana caranya memberitahu Adinda, ditambah lagi dengan satu korban, yaitu Leon.


Para rekan-rekan Javier yang selamat, sudah melepas seragam mereka, dan hanya menyisakan celana panjang serta kaos dalam saja. Jauh sebelum orang-orang bahkan para awak media berdatangan. Lebih tepatnya saat Zack memerintahkan mereka untuk mengganti pakaian mereka.


"Bantu aku untuk menghalangi awak media. Yakinkan mereka bahwa semua ini adalah kecelakaan. Aku harus bisa menemukan jasad Jav,"

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Lelaki itupun segera pergi dari tempatnya berdiri. Sedang Zack, dia memilih melangkah mendekat kearah puing-puing bangunan, lebih dekat.


"Hei, Tuan! Tolong, jangan mendekat!! Asapnya terlalu tebal dan panas!! Kau bisa membahayakan dirimu sendiri!!" Seorang petugas pemadam kebakaran meneriakinya.


Dan benar saja, saat posisi Zack sudah sangat dekat, tiba-tiba dengan gerakan cepat dia mundur beberapa langkah dari sana.


Jika dilihat dari reruntuhan bangunan tersebut, serta kepulan asap yang sangat tebal dan panas, kemungkinan besar Javier tidak akan bisa selamat. Pikir Zack dalam diamnya.


'Pantas saja aku mengkhawatirkannya saat dia akan pergi, ternyata ini jawabannya..' Zack membatin lemah.


___________________________________


Beberapa jam kemudian, kabut asam di tempat kejadian itu masih saja mengepul dengan kentalnya. Area itu benar-benar sulit di dekati. Selain hawanya yang panas, bangunan yang masih tersisa pun bisa kapan saja ambruk, hingga takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Zack berjongkok di tanah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat dari kejauhan, saat para petugas masih berusaha memadamkan api yang masih menyala.


Tidak hanya itu saja, bahkan petugas keamanan pun sengaja datang untuk mengamankan lokasi tersebut.


Detik berikutnya, tiba-tiba suara deringan ponsel dari dalam saku celana Zack pun terdengar. Dia bergegas mengeluarkan benda pipih tersebut, lalu lekas menatap layar ponselnya.


Zack tak sanggup mengangkat panggilan telpon itu, saat terlihat nama kontak Dinda yang telah menghubunginya.


Dia menghela nafas berat, seraya menggenggam saja ponselnya tanpa mau menyentuh tombol berwarna hijau yang terdapat pada layar ponsel.


Deringan ponsel terus saja berbunyi, tapi Zack tetap tak menghiraukannya. Apa yang harus dia katakan pada Dinda, dan jika Dinda tau, apa yang akan terjadi pada wanita itu. Pikir Zack membatin.


Berkali-kali Zack menghela nafas berat, namun di menit kemudian akhirnya dengan berat hati dia memutuskan untuk pulang menemui Dinda. Paling tidak, sambil menunggu para petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api, barulah dia kembali lagi ke lokasi.


_____________________


Di kediaman Javier.


Dinda berdecak kesal. Berkali-kali dia menghubungi Zack, tapi lelaki itu sama sekali tidak mengangkat panggilan telepon darinya.


"Kenapa, Ma?!" Jelita menatapnya dengan mengerutkan kening, saat Dinda begitu tampak gelisah.


Setelah kepergian Zack dari rumahnya, perasaan Adinda jadi tidak menentu, apa lagi saat dia bertanya, Zack bahkan tidak menjawabnya.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya!" Dinda merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Zack. Tidak biasanya lelaki itu tidak menyahut saat dia bertanya, apa lagi tidak mengangkat panggilan teleponnya. Hal itu terus berputar-putar di kepalanya.


Dia menatap cemas pada Jelita berganti dengan Marni.


"Lebih baik, saya buatkan teh hangat buat Nyonya, biar perasaan Nyonya bisa lebih santai," Marni dengan cepat beranjak dari duduknya, kemudian melangkah berjalan menuju dapur.


Sementara Jelita, gadis itu ikut berdiri lalu beralih duduk di samping Dinda.


"Mama sudah menghubungi, Jav?!" Jelita memelankan nada suaranya.

__ADS_1


Dengan cepat Dinda menggeleng, kemudian lekas menjawab. "Ponselnya tidak aktif, makanya Mama menghubungi Zack."


Belum lama dia menjawab ucapan Jelita, Zack pun datang dan langsung menghampirinya.


"Adinda.." Zack memanggilnya dengan suara yang pelan dan lemah. Raut wajahnya pun terlihat sendu.


Sontak saja Dinda dengan cepat mengarahkan pandangannya ke arah Zack, seraya beranjak berdiri. Begitu pula dengan Jelita.


Mereka berdua menatap heran pada Zack, namun dengan cepat pula Dinda mengeluarkan suaranya.


"Apa yang terjadi?! Mana putraku?!"


Jelas saja Dinda curiga, jika di lihat dari raut wajah dan tatapan mata sayup Zack. Pasti ada sesuatu hal yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya. Pikir Dinda dalam diamnya menatap Zack.


Zack menghela nafasnya yang berat, akibat tenggorokannya yang terasa tercekat. Dia tak sanggup berbicara, untuk menyampaikan berita duka itu pada Dinda.


"Zack!! Aku bertanya padamu!! Dimana putraku?!" Dinda meninggalkan nada suaranya.


Zack malah menundukkan wajahnya sesaat setelah itu dia kembali mengangkat wajahnya. "Javier.." Zack memejam lemah.


Sungguh sulit baginya untuk mengatakan apa yang terjadi pada Javier. Adinda pasti tidak bisa menerima kenyataan itu. Pikir Zack.


"Zack...!!" Dinda memekik.


"Adinda! Tenangkan dirimu!"


"Apa maksudmu?! Aku bertanya dimana putraku..?!" Dengan cepat Dinda melangkah mendekatinya, lalu berdiri berhadapan dengan Zack. Dia mendongak sedikit, menatap tajam pada lelaki itu.


Jelita yang berdiri di belakang Dinda pun tidak sabaran menunggu Zack mengatakannya.


"Javier.. Putramu.. Dia.. Dia mengalami kecelakaan."


"A_apa?! Coba ulangi sekali lagi?! Katakan dengan jelas," Dinda berusaha menahan tangisnya. Tapi debaran jantungnya semakin berdebar kencang.


Dengan berat hati, Zack pun terpaksa mengulangi lagi ucapnya. "Javier.. Mengalami kecelakaan. Dia sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Tubuhnya terbakar,"


***JDARRR***


"TIDAK...."


Bagai di sambar petir di siang bolong, seketika Dinda dan Jelita menjerit, hingga menangis secara bersamaan.


"Javier..." Tubuh Jelita pun lemas, hingga dia terduduk di lantai.


"Kau bohong..!! Katakan itu bohong..!! Anakku tidak mati..!! Anakku masih hidup..!!" Dinda menangis histeris. Dia memekik hingga menarik-narik kuat baju yang di pakai oleh Zack, serta memukul-mukul tubuh Zack.


Ibu mana yang tidak hancur hatinya saat mendengar kabar jika putra satu-satunya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2