DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 44# Malam Pertama


__ADS_3

Akhirnya Javier dan Jelita pun sah menjadi sepasang suami istri. Suara isak tangis haru pun mengiringi doa-doa yang di panjatkan khusus untuk mereka berdua, memulai hidup yang baru.


______________________


Sore harinya, acara berlanjut dengan resepsi pernikahan yang diadakan di hotel tersebut, hingga malam harinya.


Dan pada malam harinya itu, Javier dan Jelita sangat serasi memakai gaun yang berwarna hitam, sehingga tak luput dari mata kamera yang terus menyoroti mereka.


Beberapa dari para awak media pun menyiarkannya secara live, berhubung Javier adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan terkenal di kotanya.


Tapi di samping itu, selama acara berlangsung, semua tidak luput dari pantauan para orang-orang Javier untuk mengamankan jalannya resepsi pernikahan hingga selesai.


Cukup lama duduk bersanding di pelaminan, tentu membuat Jelita sedikit kelelahan. Para tamu yang terus berdatangan, seolah tak memberi jeda pada kedua mempelai untuk duduk lebih lama. Pasalnya, mereka harus kembali berdiri saat para tamu bergantian memberi ucapan selamat kepada mereka.


Sampai akhirnya, tiba-tiba raut wajah Jelita memucat, seiring dengan kepalanya yang mulai terasa pusing.


"Sayang, aku.." Jelita memejam, seraya menggenggam erat tangan kiri Javier, sehingga membuat Javier sontak menoleh padanya.


"Sayang, kau kenapa?!" Javier menjadi cemas.


"Aku.."


BRUKK


Dalam hitungan detik tubuh Jelita ambruk. Beruntung Javier menangkapnya dengan gerakan cepat, sehingga tubuh Jelita tak sampai jatuh kelantai.


"Jav! Jelita kenapa?! Apa yang terjadi?!"


Dinda pun ikut panik, mendapati menantunya yang sudah dalam keadaan pingsan.


"Aku tidak tau, Ma."


"Cepat bawa dia masuk. Biar Mama yang menggantikan mu di sini,"


"Iya, Ma."


Mario dan yang lainnya pun dengan cepat membantu Javier untuk mengangkat tubuh Jelita. Dikarenakan gaun yang di pakai oleh Jelita cukup tebal dan berat, sehingga Javier agak kesulitan untuk menggendongnya sendirian.


Para tamu undangan yang masih berada di sana pun terperangah, melihat pengantin wanita yang sedang di larikan dari kursi pelaminan tersebut.


___________________________


Sesampainya di kamar pengantin. Tubuh Jelita pun di letakkan di atas tempat tidur pengantin yang sudah di taburi dengan banyaknya bunga mawar putih di atasnya.


"Sebaiknya kau tetap di sini. Biarkan dia istirahat sejenak, mungkin dia kelelahan." Mario ingin segera beranjak, meninggalkan pasangan pengantin itu di kamar mereka.


"Iya, terimakasih."


"Sama-sama. Kalau ada apa-apa, cepat beritahu kami,"


"Baik,"


Mario pun akhirnya meninggal mereka, dan kembali menemani Dinda yang masih duduk di tempat yang sama.


Selang beberapa detik kemudian, tepatnya setelah Mario keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Dengan perlahan Jelita sadar lalu membuka pelupuk matanya, mengarahkan pandangannya menatap langit-langit kamar.


Javier yang duduk di samping tubuh Jelita pun segera membuka suaranya. "Sayang, kau kenapa?! Apa yang kau rasakan?!"


Jelita meringis, sambil memposisikan sebelah tangannya memijit pelan keningnya.


"Ssst! Kepala ku pusing,"


"Kau kelelahan. Sebaiknya kita istirahat saja di sini, tidak perlu keluar lagi. Sudah ada Mama yang menemani para tamu,"


Jelita mengarahkan pandangannya menatap raut wajah Javier yang kini sudah menjadi suaminya, lalu mengangguk lemah sambil mengulas senyum samar.


Detik kemudian Javier beranjak turun dari ranjangnya, lalu berjalan menuju meja kecil yang letaknya tak jauh dari posisi ranjang. Dia mengambil segelas air lalu lekas memberikannya pada Jelita.


"Minum dulu."


Javier mengangkat sedikit kepala Jelita, membantunya untuk minum dengan mengarahkan gelas ke sisi bibir Jelita.


Dengan cepat Jelita pun meneguknya secara perlahan.


Setelah itu, Javier kembali meletakkan gelas itu ke tempat semula, lalu kembali duduk di samping istrinya.


"Kepalamu masih terasa pusing?!" Javier melemahkan nada suaranya, sambil mengelus lembut puncak kepala Jelita.


"Sudah agak mendingan," jawab Jelita yang langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan posisi yang saling berhadapan.


Javier pun tersenyum, tapi tatapan matanya justru berbeda. Dia memandang lekat raut wajah Jelita hingga tatapannya turun kebawah.


Gluk!!


Jelita yang menyadari itupun dengan cepat mengarahkan kedua tangannya menutupi bagian dadanya tersebut.


Gaun yang Jelita kenakan menampakkan bagian dada yang terbuka lebar. Sehingga tak khayal membuat hasrat Javier sebagai laki-laki pun seketika memuncak.


Oh astaga! Detak jantung Jelita berdetak kencang, seiring dengan desiran darahnya yang berdesir hebat. Dia tertunduk, menyembunyikan rasa malunya.


Javier kembali mengarahkan pandangannya, menatap Jelita sambil tersenyum mengangkat sedikit sebelah alis tebalnya.


"Malam ini adalah malam pertama kita, aku tidak ingin mendengar alasan apapun."


Seolah tak ingin mendapat penolakan dari sang istri, maka dia lebih dulu mengatakan hal itu.


Walaupun dia mengerti jika ini adalah hal yang baru bagi mereka berdua. Tapi itu tidak bisa di jadikan alasan untuk menunda momen tersebut. Pikir Javier.


Dia akan melakukannya dengan perlahan, dan berusaha untuk tidak menyakiti istrinya, Jelita.


Detik kemudian, Javier beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri sambil melepaskan tuxedo yang masih menutupi kemeja yang dia pakai, serta melepas dasi kupu-kupu nya yang masih terpasang pada kerah kemejanya.


Jelita duduk diam tak berkutik. Gadis yang kini sudah menjadi seorang istri itu bergidik takut. Sekilas dia membayangkan apa yang akan di lakukan oleh suaminya setelah melucuti semua pakaiannya.


Dan benar saja, detik berikutnya Javier sudah tampak dengan tubuhnya yang hanya tinggal mengenakan celana boxer saja.


Jelita memejam saat sang suami mendekatinya dengan senyum menyeringai.


"Tunggu apa lagi?! Sini, aku bantu melepaskan gaun mu," Javier berbisik ke sisi telinga Jelita, namun tangannya mengarahkan pada bagian belakang Jelita.

__ADS_1


Dengan perlahan, dia menurunkan resleting gaun yang masih menutupi tubuh Jelita, hingga benar-benar turun dan gaun itu pun terbuka lebar.


Seketika kedua bola mata Jelita membulat, saat tubuh bagian atasnya terpampang jelas di depan mata Javier.


Jangan di tanya lagi seperti apa perasaan Jelita detik itu juga. Apalagi saat wajah mereka saling berdekatan, dan hampir tidak berjarak.


Javier sudah tidak bisa menahan nafsunya lebih lama lagi, dengan cepat dia menuntun tubuh Jelita berbaring telentang, setelah gaun yang di pakai Jelita berhasil di lepas seluruhnya dan di buang begitu saja ke lantai.


Jelita hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Javier terhadap dirinya, layaknya seorang istri yang harus melakukan kewajibannya pada suaminya.


Sebuah kamar hotel yang sudah di hiasi dengan begitu indah, seakan menjadi saksi bahwa Javier telah berhasil memiliki Jelita seutuhnya.


Hingga beberapa jam lamanya, suara erangan serta desa*an-desa*an kecil pun menggema memenuhi setiap sudut kamar hotel, mengiringi setiap gerakan Javier hingga mencapai puncaknya.


keduanya pun ambruk dan lemah di atas tempat tidur, dengan keringat yang mengucur membasahi tubuh mereka masing-masing. Sampai akhirnya, mereka pun terlelap dengan posisi yang saling berpelukan, di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


___________________________


Setelah acara resepsi pernikahan itu selesai, Dinda dan Mario kembali ke rumah, bersama dengan Marni dan yang lainnya.


Hingga keesokan paginya.


Sinar mentari masuk memantulkan sinarnya melalui celah jendela kaca, membuat Jelita seketika mengernyit.


"Emh!" Dia menggeliat, tapi detik kemudian dia merasakan ada sesuatu yang berat menimpa pahanya.


Dengan cepat dia membuka perlahan pelupuk matanya, lalu membuka selimut yang masih menutupi tubuh polosnya.


Ternyata ada kaki Javier yang dia lihat. Lelaki itu memeluknya seperti bantal guling, sehingga membuat Jelita kesulitan untuk bergerak.


Jelita mengalihkan pandangannya menatap raut wajah Javier, yang kini sudah menjadi suaminya yang sah.


Dia tersenyum, seraya mengarahkan tangannya mengusap lembut hidup runcing hingga bibir Javier.


Dalam hati dia menggumam. "Suamiku memang sangat tampan. Saat dia tidur seperti ini saja..Terlihat tampan, apa lagi kalau dia sudah bangun!" Jelita tersenyum mengembang.


Tanpa sadar, Javier yang terlihat masih tertidur pulas, ternyata hanya berpura-pura saja. Padahal, dia sudah bangun lebih dulu dari Jelita.


Javier membuka sedikit pelupuk matanya, tapi hampir tak terlihat oleh Jelita, saking sipitnya dia membuka matanya itu.


Javier pun tersenyum samar. Dalam hati dia senang saat tau jika istrinya sedang memandanginya dengan lekat.


Perlahan Jelita mendekatkan wajahnya, lebih dekat. Bermaksud ingin memberi kecupan lembut di bibir Javier. Tapi ternyata, dalam waktu yang bersamaan dengan cepat Javier membuka pelupuk matanya.


"Pagi, sayang!"


CUP!!


Javier mengecup lembut namun singkat ke bibir Jelita, sehingga membuat Jelita seketika terkejut dengan kedua bola matanya yang membulat.


"Kau sudah bangun?!" ujar Jelita yang langsung menjauhkan sedikit wajahnya.


"Ya! Dan aku tau sejak tadi kau terus menatapku. Kenapa, hm?! Kau terpesona dengan ketampanan suami mu ini, bukan?!"


BLUSH...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2