DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 32# Perasaan Tumbuh Begitu Cepat


__ADS_3

Detik berikutnya Mario pun bersuara. "Ada apa dengan sekretaris ku?!"


"Sebelum aku mengatakannya, aku ingin bertanya. Dimana kau menemukan gadis itu?! Sudah berapa lama dia bekerja sebagai sekretaris mu?!"


"Tentu saja di Eropa! Belum lama juga dia menjadi sekretaris ku, terhitung baru beberapa tahun saja. Memangnya kenapa?!"


"Di Eropa?!" Javier mengerutkan keningnya. "Kau tau siapa dia?! Dan dari mana asalnya?!"


"Setahu ku.. Dia berasal dari Eropa, dan baru kali ini dia datang ke Indonesia. Itu juga karna aku yang membawanya,"


Topik kali ini menarik perhatian Mario, hingga dengan antusias dia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Javier.


Tapi Javier malah kebingungan. Sebab, jawaban Mario sangat berbeda dengan apa yang dia ketahui dari Jelita. Apa lagi Marni juga sempat menceritakan tentang saudara kandung Jelita, yaitu gadis yang dia maksudkan.


"Kenapa kau diam?!" Mario mengerutkan keningnya dan malah balik bertanya, karna Javier tidak lagi mengajukan pertanyaannya yang lain.


Javier menghela nafas kasar, kemudian lekas menjawab. "Jawabanmu jauh berbeda dengan apa yang ku dengar,"


"Memangnya apa yang kau ketahui tentang sekretaris ku itu?!"


"Dia warga negara Indonesia, dan dia adalah adik dari gadis yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk Mama,"


Deg


Detak jantung Mario seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan Javier. Ada banyak yang tidak dia ketahui tentang Viona. Dan ternyata gadis itu sudah berbohong padanya, dengan mengatakan jika dirinya hanya tinggal sebatang kara. Sungguh di luar dugaan. Pikir Mario.


Di ruangan itu Javier terus membongkar kedok Viona, berdasarkan dengan apa yang sudah dia ketahui dari Marni.


Sementara di arah yang berbeda, lebih tepatnya di kamar milik Javier.


________________________________


Sebenarnya Jelita masih belum diizinkan untuk bergerak, tapi gadis itu memaksakan dirinya untuk bisa berjalan dengan perlahan.


Dia merasa suntuk jika harus berbaring terus menerus di atas tempat tidur.


Jelita melangkah berjalan dengan sangat berhati-hati, sambil memegangi perutnya yang masih dibalut dengan perban.


Dia mengitari ruang kamar Javier, mengarahkan pandangannya ke sekeliling.


Kamar Javier yang dia tempati itu sangat bagus, besar, nyaman dan bersih tentunya, hingga membuat Jelita betah saat berada di dalam sana.


Detik kemudian, tepat saat arah pandangan mata Jelita mendapati beberapa gambar diri Javier yang terpajang di dinding, Jelita pun menghentikan langkahnya, lalu berdiri mengamati gambar tersebut dari jarak yang cukup dekat.


Jelita tersenyum, seraya menggigit sedikit bibir bawahnya. Dia baru menyadari jika perasaannya tumbuh begitu cepat pada Javier.


Dalam hati dia menggumam. Sungguh, cinta memang luar biasa. Dia datang secara tiba-tiba, namun mampu menumbuhkan segala rasa. Rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Kehadiran Javier dalam hidupnya, bagai cerita sebuah dongeng yang bertemakan romansa. Seperti sinderella dan pangeran tampan. Jelita pun tertawa kecil menyadarinya.


Tapi memang benar, Jelita yang selalu di perlakukan seperti anak tiri, akhirnya mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pemuda kaya dan cukup berkuasa.


Saat dia sedang asik memandangi gambar tersebut, tanpa sadar pintu kamar Javier dibuka, hingga detik kemudian Adinda masuk, lalu berdiri menatap kearahnya.


"Dia sangat tampan, bukan?!"

__ADS_1


Jelita terkejut hingga refleks menoleh kearah sumber suara. "Tante! Sejak kapan Tante berdiri di situ?!" Jelita gelagapan menahan malu.


Dinda pun mengulas senyumnya, seraya melangkah mendekati. "Kau menyukainya?!"


Bukannya menjawab, Dinda malah balik bertanya, sambil memposisikan sebelah tangannya merangkul pundak Jelita.


Jelita pun tersipu malu, seraya menunduk. Tapi Adinda, dia malah tersenyum lebar, lalu mengarahkan pandangannya menatap gambar sang putra.


"Kau tau?! Dia sangat mirip dengan mendiang Papanya. Bukan hanya wajah mereka saja yang serupa, bahkan sifatnya pun juga sama."


Adinda mulai menceritakan seperti apa sifat Javier, yang mewarisi sifat ayahnya, Jhonatan. Tegas dan keras, namun lembut dan penyayang kepada seorang wanita. Apalagi wanita yang benar-benar dia sayangi.


Adinda pun larut dalam kisah masa lalunya, hingga dia menceritakan seperti apa saat Jhonatan memperlakukan dirinya, tentu dengan sangat baik.


Mendengar cerita Dinda, Jelita pun mulai menyamakan Javier dengan mendiang ayahnya Jhonatan. Sebab, menurut Jelita, Javier juga memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan manis.


Benar kata Dinda, ternyata sifat Javier itu sangat mirip dengan ayahnya. Sungguh Jelita merasa beruntung, karena telah di pertemukan dengan Javier, pemuda yang baik, tampan dan yang lebih penting, dia sangat peduli dengan Jelita dan juga Marni tentunya.


Saat Adinda asik berbincang dengan Jelita di dalam kamar, ternyata dari lantai utama Javier yang baru saja keluar dari ruang pribadinya bersama dengan Mario, langsung saja mencari keberadaan Adinda, hingga ke dapur.


"Bibi Marni?! Apa yang kau lakukan disini?! Dimana Mama?!" Javier melangkah mendekatinya.


"Eh, Tuan! Nyonya ada di_"


"Tidak usah memanggil ku Tuan, panggil saja aku dengan nama ku, Jav." Javier melebarkan senyumnya.


"I-iya, Nak Jav!"


"Nah, begitu lebih baik," Javier mengacungkan sesaat jari jempolnya ke arah Marni, tapi setelah itu dia memilir pergi meninggalkan Marni.


_______________________________


Javier terus berjalan hingga menapaki tangga menuju lantai dua. Sementara Mario, pria itu menunggunya dengan memilih untuk duduk di ruang tamu.


Sesampainya di lantai dua, Javier menghentikan langkah kakinya, setelah dia berada di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.


Namun detik kemudian, dengan langkah yang sangat pelan Javier masuk kedalam, dengan alasan agar bisa mengetahui secara diam-diam apa saja yang di lakukan oleh Mamanya bersama dengan calon menantunya tersebut, sekaligus menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana kalau.. Nanti sore kita pergi ke butik langganan Mama?! Kebetulan butik itu milik temen Mama sendiri! Lagi pula.. Mama juga sudah lama tidak bertemu dengannya,"


"Kenapa kita harus ke butik segala?! Mama mau beli pakaian?! Aku lihat, pakaian Mama bagus-bagus semua! Kenapa harus beli lagi?!" Jelita mengamati baju yang di pakai oleh Dinda, dia mengarahkan pandangannya dari atas hingga turun ke bawah, dan sebaliknya.


"Haha.. Jelita..! Jelita. Kau ini polos sekali! Tentu saja Mama ingin membelikannya untuk mu,"


"Baju untuk ku?!" Jelita beralih mengamati penampilannya sendiri, namun detik kemudian dia kembali menatap pada Dinda, lalu lekas bertanya. "Memangnya penampilanku terlihat jelek, ya Ma?!"


"Tidak juga! Tapi akan lebih bagus jika diberi sedikit perubahan," Dinda mengulas senyum lebarnya.


Dari balik pintu, Javier tak lepas dari senyumnya yang menawan, saat mengintip seraya menguping pembicaraan Adinda dengan Jelita. Terlebih lagi saat mendengar Jelita memanggil Adinda dengan sebutan Mama, hati Javier pasti sangat senang mendengarnya.


Adinda memang sengaja menyuruh Jelita memanggilnya dengan sebutan Mama. Karena dia pikir, tidak lama lagi Jelita akan resmi menjadi menantunya. Walaupun itu baru harapannya semata.


Javier terus menguping sebelum dia memutuskan untuk masuk menghampiri keduanya.


"Apakah Jav lebih suka dengan gadis yang berpenampilan menarik, dari pada yang berpenampilan sepertiku ini?!"

__ADS_1


"Bukan, sayang! Bukan seperti itu! Jav bukan pria seperti yang kau pikirkan. Dia tidak memandang seseorang hanya dengan penampilannya saja! Tapi dari sini, dari ketulusan hati," Dinda menyentuh pelan bagian dada atas Jelita dengan telunjuknya.


Jelita pun tersenyum mendengarnya. Ada rasa lega saat mendengar itu. Karena sebenarnya, Jelita sendiri merasa sangat tidak cocok jika bersanding dengan Javier, akan terlihat seperti langit dan bumi. Sangat jauh berbeda dalam segi apapun.


Dalam waktu yang bersamaan, akhirnya Javier memilih untuk segera menghampiri mereka.


"Ekhm!" Javier memberi kode dengan suaranya, bermaksud mengalihkan perhatian mereka berdua padanya.


Tentu saja dengan cepat Dinda dan Jelita menoleh kearahnya.


'Huaaaa.. Kenapa dia ada di sini..?!' Jelita berteriak dalam hatinya, seraya membuang tatapannya ke arah lain.


Kehadiran Javier yang secara tiba-tiba tentu membuat Jelita sangat malu.


Adinda yang menyadari justru tersenyum kearah Javier, yang berjalan mendekati mereka.


Javier bersikap santai, seolah-olah dia tidak mendengar apa yang di bicarakan oleh Adinda dengan Jelita.


Tapi saat dia melangkah semakin dekat, Javier melirikkan matanya sesaat melihat Jelita. Setelah itu dia mengarahkan pandangannya kepada Dinda.


"Ternyata Mama di sini,"


"Kau mencari Mama?! Ada apa?!"


"Ada seseorang yang menunggumu di bawah,"


"Siapa?!" Dinda mengerutkan keningnya.


"Mantan kekasih mu, Tuan Hadinata," Javier berbisik ke sisi telinga Dinda.


"Jav! Jangan menggodaku!!" Raut wajah Dinda merona, menahan malu.


Javier pun tertawa kecil mendengarnya dan melihat rona wajah Mamanya. Pemuda itu senang jika mengerjai Dinda.


Sementara Jelita, gadis itu pun ikut mengarahkan pandangannya kepada Dinda, walaupun dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh mereka.


"Cepatlah temui dia, kasihan, dia sudah lama menunggu,"


"Ah! Kau ini bisa saja menggodaku. Kalau begitu Mama tinggal dulu sebentar," Sesaat Adinda tersenyum saat mengarahkan pandangannya kepada Jelita, tapi setelah itu dia bergegas keluar dari kamar tersebut.


Kini, hanya tinggal Javier dan Jelita yang masih berada di sana.


"Siapa yang datang?!" Akhirnya Jelita mengeluarkan suaranya.


"Tuan Mario Hadinata,"


"Siapa dia?!"


Javier melangkah maju semakin dekat dengan Jelita, membuat gadis itu melangkah mundur, dengan maksud memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Javier.


"Dia calon ayah tiriku. Itu berarti.. dia juga calon mertua mu," Javier menghimpit tubuh mungil Jelita ke dinding.


"Jav..!! Jangan seperti ini..!! Perutku sakit..!!" Sontak saja Jelita berteriak. Padahal perutnya sama sekali tidak terasa sakit, sebab Javier tidak menghimpitnya terlalu kuat. Tapi yang jelas, justru posisi yang seperti itulah yang membuat Jelita merasa tidak nyaman.


Menyadari itu, dengan cepat Javier pun menjauhkan sedikit tubuhnya dari tubuh Jelita.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2