DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd#62 Berat Untuk Berpisah


__ADS_3

"Tuan! Nona Jelita sudah tiba," ujar Leon menghampirinya di markas.


"Iya,"


Javier menghela nafasnya sesaat setelah dia menjawab singkat, kemudian kembali menatap pada layar laptopnya yang menyala.


Javier menampakkan sikapnya yang seolah tak peduli dengan kedatangan Jelita di rumahnya. Tapi jauh didalam lubuk hatinya tersimpan kerinduan yang sangat mendalam.


Namun apa yang bisa dia lakukan? Kenyataan lebih pahit dari sekedar perasaan. Biar bagaimana pun, diketahui bahwa mereka adalah saudara se'ayah.


Seberat apapun perasaan Javier pada Jelita, dia sudah mengambil keputusan yang bulat dan tak bisa di ganggu gugat untuk berpisah.


*******


Sementara di kediamannya, Jelita menceritakan hal yang terjadi padanya dengan Javier.


"Seandainya sejak awal aku tau siapa ayahku, anakku ini tidak akan menjadi korban, Bi!" ujar Jelita dengan lirihnya sambil mengusap lembut perutnya yang sudah tampak membusung ke depan.


Marni terdiam mendengarkan setiap perkataan Jelita, hingga diapun sudah tidak bisa menahan tangisnya.


"Maafkan bibi, Non! Bibi yang salah,"


"Tidak, bi! Bibi tidak bersalah. Ini adalah takdir ku dan calon anakku,"


Jelita menerima keadaan dengan lapang dada. Sekalipun dia dan Javier harus tetap berpisah, tapi mereka akan tetap terhubung melalui buah hati mereka yang tidak berdosa.


"Lalu, apa rencana Non selanjutnya?!" tanya Marni sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.


"Kemasi barang-barang kita, Bi! Kita pulang saja ke Indonesia. Aku juga sudah meminta izin sama Mama Dinda dan Papa Mario."


"Iya, Non! Bibi akan tetap ikut bersama Non, kemanapun Non pergi."


Tak lama setelah berbincang dengan Marni, Jelita pun memutuskan untuk segera mengemasi barang-barangnya yang ada didalam kamar yang dia tempati bersama Javier.


Dengan lemah dia menyusun semua pakaiannya ke dalam koper, dan tak lupa juga dia memasukkan bingkai foto pengantinnya sebagai kenang-kenangan.


Namu saat Jelita sedang sibuk dengan barang-barangnya, tiba-tiba saja Javier datang dan langsung menemui Jelita didalam kamar mereka.


**KRIETT**


Dengan perlahan Javier membuka pintu kamar, hingga tatapannya tertuju pada Jelita yang sedang duduk di tepian ranjang.


Sesaat Jelita tertegun saat mendengar langkah kaki mendekatinya, tapi detik kemudian dia kembali fokus pada beberapa pakaian yang tersusun di atas kasur. Bahkan, Jelita pun enggan untuk menoleh kearah Javier.


Javier menghela nafasnya sesaat, namun detik kemudian dia mengeluarkan suaranya dengan nada pelan.


"Bagaimana keadaan mu?!" tanyanya hingga membuat Jelita menghentikan gerakan tangannya.


"Baik,"


Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Jelita, tanpa mau mengangkat wajahnya, kemudian kembali merapikan pakaian-pakaiannya.


"Apa.. Mama sudah memberitahu mu?!" tanya Javier lagi, dengan berat.


Jelita pun kembali tertegun, seiring dengan gerakan tangannya yang kembali terhenti.


"Sudah," sahutnya kemudian.


Suasana didalam kamar itu begitu canggung, terbukti dari sikap mereka yang sepertinya memang sedang menjaga jarak diantara keduanya.


"Baiklah. Kalau begitu.. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi, mengapa aku tidak pernah menemui mu."


Setelah mengatakan itu Javier pun memutar tubuhnya, dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu.


Tapi baru saja dia berjalan beberapa langkah, dengan cepat suara Jelita menghentikannya.

__ADS_1


"Jav!"


Javier menoleh, hingga kembali memutar tubuhnya, menghadap kearah Jelita.


"Ya," sahut Javier dengan sangat singkat, seiring dengan Jelita yang langsung mengangkat wajahnya menatap Javier dengan tatapan sendu.


Dengan perlahan Jelita berdiri, sambil terus menatap Javier didepannya.


"Aku minta maaf atas semua perbuatan Mama ku. Seandainya.. Aku tau siapa ayahku jauh sebelum aku mengenalmu, aku tidak akan pernah mau mencintaimu seperti ini!"


Jelita tertunduk, bahkan nada suaranya pun sangat lirih, diiringi dengan tangisannya yang pelan.


Gadis itu sudah tidak sanggup menahan beban di hatinya. Bahkan ingin sekali dia memeluk erat tubuh Javier detik itu juga.


Sama halnya dengan Javier, pemuda itupun tak kuasa menahan air matanya yang mulai menetes di pipi.


"Aku tidak pernah membencimu, karena kau.. Kau adalah adikku, sekaligus ibu dari anakku."


Hati Jelita semakin sakit mendengarnya, hingga tangisnya pun semakin pilu dan sesenggukan.


"Kenapa kita harus mengalami hal seperti ini, Jav?! Kenapa kita harus terlahir dari ayah yang sama..?! Kenapa..?!"


Jelita menangis kuat menatap Javier dengan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya. Hingga detik bersamaan Javier pun melangkah mendekatinya.


Dengan cepat Javier menarik tubuh Jelita, membawanya masuk kedalam pelukannya. Tidak hanya itu, bahkan Javier pun mengusap lembut punggung Jelita, dan sesekali dia mencium puncak kepala Jelita.


Kedua insan itu saling berpelukan disertai dengan suara tangisan Jelita yang semakin menjadi.


"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, Jav! Aku mencintaimu..!!" ujar Jelita, lirih.


Javier semakin memeluknya dengan erat, seraya memejamkan matanya dengan lemah. Dia merasa serba salah, dengan keputusan yang telah dia ambil.


Tapi detik kemudian, tiba-tiba saja Jelita mengerang kesakitan.


"SAKIT..!!"


Bersamaan dengan itu Javier pun dengan cepat mengurai pelukannya lalu menatap pada Jelita yang sudah memegangi perutnya dengan kuat.


"Hah!! Darah.."


Javier terkejut saat pandangan matanya mendapati darah segar yang mengalir di bagian kaki jenjang Jelita, seiring dengan tubuh Jelita yang semakin melemah hingga terhuyung.


Beruntung Javier masih berada dihadapannya, hingga dengan cepat Javier menahan tubuh Jelita agar tidak sampai jatuh ke lantai.


"Jelita.. Jelita bangun..!" ujar Javier sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh Jelita.


"Paman Zack..!! Paman..!! Bibi Marni..!!" teriak Javier sambil mengangkat lalu menggendong Jelita yang semakin kesakitan.


"AAAKH..!! Perutku.. Sakit..!!"


"Tenang sayang, aku akan membawamu ke rumah sakit," ujar Javier cemas, sambil melangkah dengan tergesa-gesa.


Beberapa detik kemudian Zack pun datang menghampirinya, bersamaan dengan Marni.


"Tuan muda, apa yang terjadi?!" tanya Zack panik dan langsung di sambung oleh Marni.


"Non.. Non kenapa, Tuan!"


"Dia mengalami pendarahan. Ayo cepat, kita harus membawanya ke rumah sakit,"


Zack pun bergegas mengikuti Javier, begitu juga dengan Marni yang menjurus di belakang.


******


Zack mengemudikan kendaraannya dengan sangat cepat, hingga beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai pun sampai di rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Para perawat yang melihatnya pun bergegas menghampiri mereka dengan mendorong sebuah hospital bad.


"Suster! Tolong istri saya, Suster!"


"Iya, sebaiknya kalian tunggu di luar, kami akan memeriksa kondisinya."


Jelita pun segera dilarikan ke ruang UGD untuk segera di tangani.


*****


Beberapa menit kemudian.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Hingga dengan cepat Javier, Zack maupun Marni menghampirinya.


"Dokter! Bagaimana dengan istriku?! Apa kandungannya.. "


"Maaf, Tuan! Kami harus mengatakan yang sebenarnya. Kondisi janinnya sangat lemah, dan kondisi ibunya juga tidak stabil. Untuk itu.... Anda harus memilih salah satu diantara mereka, siapa yang akan Anda selamatkan."


"A_ Apa?!"


Javier terkejut mendengar hal itu. Bagaimana bisa dia memberi keputusan untuk memilih salah satu diantara Jelita dan bayinya. Pikir Javier.


"Tuan! Anda harus cepat memberi keputusan, jika tidak.."


"Jika tidak kenapa, Dokter?! Apa yang akan terjadi?!" sela Javier dengan cepat.


"Jika tidak, maka kami tidak bisa menjamin keselamatan ibu dan janin di dalam kandungannya."


Detak jantung Javier seakan berhenti berdetak setelah mendengarnya, tapi tak lama kemudian dengan berat hati diapun memberi jawaban kepada sang dokter.


"Kalau begitu selamatkan ibunya, Dok!" ujar Javier lemah.


Entah apakah keputusannya sudah tepat atau malah sebaliknya. Tapi keputusan itu justru muncul begitu saja di dalam pikirannya.


Javier berpikir, jika dia lebih memilih janinnya daripada Jelita, itu sama saja dengan membunuh keduanya. Pasalnya, janin itu masih sangat muda dan sudah pasti tidak akan bisa bertahan tanpa tubuh Jelita.


"Baiklah, kalau begitu.. Anda harus melakukan penandatanganan terlebih dahulu sebelum kami melakukan tindakan operasi," ujar dokter.


"Baik, Dok."


"Mari ikut ke ruangan saya, Tuan!"


Javier pun melangkah mengikuti arah sang dokter. Sedangkan Marni dan Zack tetap menunggu di depan ruang UGD.


******


Setelah Javier berada di ruangan dokter, tiba-tiba seorang perawat masuk dengan membawa sebuah laporan untuk dokter tersebut.


"Maaf, Dok! Rumah sakit kita kehabisan stok golongan darah yang sesuai untuk Nyonya Javier,"


"Kalau begitu ambil darahku saja," ujar Javier dengan cepat beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Dokter bersama perawatnya pun saling melempar pandangan satu sama lainnya, kemudian kembali menatap Javier.


"Golongan darah Anda apa, Tuan!" tanya dokter kemudian.


"O+,"


"Maaf, Tuan! Tapi yang istri Anda perlukan adalah golongan darah A+. Itu berarti, golongan darah Anda tidak cocok dengan golongan darah istri Anda," ujar perawat itu dengan cepat.


Daniel pun sontak terperangah mendengarnya, diiringi dengan kedua bola matanya yang membulat serta mulut yang sedikit terbuka.


******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2