
Baru saja Dinda berencana untuk menikahkan putranya. Tapi sang putra malah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya, bahkan calon istrinya, Jelita.
Marni yang ikut mendengar berita duka itu pun, sontak menangis seraya mendekati Jelita lalu memeluk erat tubuh gadis itu.
Sementara Zack, dia sibuk mengurusi Dinda yang sudah tidak sadarkan diri. Zack mengangkat tubuh Dinda dan membaringkannya di atas sofa.
______________________________
Beberapa jam kemudian.
Untuk sementara waktu Zack terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah itu, dia harus dapat memastikan keadaan Dinda terlebih dahulu. Karena wanita itu masih terbaring lemah tak berdaya, dengan terus-menerus menangisi putranya.
"Jav..!! Kenapa secepat ini kau meninggalkan Mama..?! Kembalilah, Jav..!! Putraku!! kembalilah..!! Jangan tinggalkan, Mama..!!"
Sebenarnya, Dinda ingin sekali pergi ke lokasi kecelakaan itu, tapi Zack melarangnya. Tentu Zack tidak mau jika Dinda mengetahui bahwa apa yang menimpa Javier, adalah akibat dari sebuah ledakan yang terjadi secara tiba-tiba.
Sama halnya dengan Jelita yang berada didalam kamar Javier. Gadis itu terus menangis pilu seraya meringkuk di lantai, dengan posisi bertekuk lutut sambil memeluk potret Javier yang di ambilnya dari pajangan dinding.
"Tuhan! Tolong kembalikan dia!!" Nada suaranya sangat lirih dan lemah. Dan jika ada orang lain yang mendengarnya di sana, pasti akan ikut menangis juga.
_______________________
Di ruang tengah, Zack terus mencoba menghubungi orang-orang Javier yang masih berada di lokasi kejadian, sekedar untuk mengetahui apakah jasad Javier sudah bisa di evakuasi atau belum.
Zack, Dinda, Jelita maupun Marni sama sekali tidak bisa tidur. Dan berkali-kali juga terdengar suara jeritan Dinda yang berada di dalam kamarnya.
"Javier....!! Putraku...!!"
Merasa keadaan Dinda lebih terpuruk dari Jelita, maka Marni memutuskan untuk menemani Dinda terlebih dahulu. Wanita itu lebih membutuhkan dirinya. Pikir Marni.
Memang benar, Jelita memang terlihat lebih tegar dari Dinda, tapi bukan berarti dia tidak merasa kehilangan. Justru gadis itu lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya, dan menangis sepuas-puasnya di sana.
Sementara di tempat kejadian itu.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Javier?!
_____________________
Waktu semakin berlalu, seiring dengan jarum jam yang terus berputar menunjukkan jika waktu sudah lewat dari tengah malam.
__ADS_1
Proses evakuasi korban ledakan itu tidak bisa di lakukan dengan cepat, butuh waktu beberapa jam untuk bisa menyelesaikannya.
Seiring dengan asap yang berangsur-angsur menghilang, di sebuah lorong kecil yang mengarah ke ruang bawah tanah, jauh di bawah reruntuhan bangunan, tubuh seorang pemuda tergeletak dalam keadaan pingsan.
Namun beberapa menit kemudian, pemuda itupun perlahan tersadar. Pemuda itu tak lain adalah Javier.
"Aaarrgghh.." Javier merintih akibat menahan rasa sakit di tubuhnya yang terasa remuk redam.
Beruntung tak ada luka yang serius pada tubuhnya, hanya terdapat luka memar saja pada beberapa bagian tubuhnya, salah satunya adalah pundak kanannya yang terkilir akibat menahan beban tubuhnya, hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bangun dari posisinya berbaring.
Beberapa menit dia mengumpulkan seluruh energinya untuk beranjak bangun, sambil mengedip-ngedipkan pelupuk matanya sesaat, lalu menggerakkan kepalanya dengan perlahan, diiringi dengan tatapan yang tertuju ke sekeliling arah.
"Aaarrgghh! Tempat apa ini?!" Tatapannya tertuju pada pipa saluran pembuangan air. Ternyata Javier terjatuh ke lorong saluran pembuangan. Pantas saja di sekitar tubuhnya ada banyak air. Pikirnya membatin.
Detik berlalu, Javier berusaha bangkit dari posisinya dengan sangat pelan dan berhati-hati. Saat dia berdiri, tubuhnya masih terasa lemah, sehingga membuatnya sempoyongan.
Javier berjalan dengan sedikit membungkuk. Pasalnya, ruangan itu tidak cukup tinggi untuk dia berdiri dengan tegak.
Dia mengarahkan pandangannya lagi, ke sekeliling. Bermaksud untuk mencari jalan keluar. Lorong yang tadi dia terobos untuk menyelamatkan dirinya, sudah tampak tertutup rapat oleh reruntuhan bangunan.
Dari jarak beberapa meter darinya, terlihat ada pantulan cahaya, entah cahaya dari mana cahaya itu berasal, Javier sendiri tidak bisa memastikannya. Dia mengikuti saja arah pantulan cahaya tersebut.
Javier pun keluar dari lorong sempit itu, lorong yang hanya cukup untuk dirinya seorang. Ternyata rumah lama Anita memiliki banyak lorong rahasia, tapi kenapa wanita itu meninggalkan rumahnya dan menghancurkannya begitu saja. Pikir Javier sambil melangkah keluar.
Seketika Javier bisa menghirup udara segar, setelah sebelumnya udara di dalam telah berbaur dengan debu dan asap, membuatnya terasa sesak.
Javier mengarahkan pandangannya ke sana kemari, bermaksud mencari apakan ada jalan yang menuju ke luar dari tempat itu.
Detik kemudian dia pun menapaki jalan kecil yang telah diliputi oleh semak belukar. Bersusah payah dia menyingkirkan semak belukar itu dengan tangannya, sambil terus berjalan.
Sampai akhirnya dia keluar dari rerumputan yang tinggi menjulang. Dia keluar hingga sampai di sisi jalan besar.
Dengan cepat Javier mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu mengarahkan benda pipih tersebut ke depan wajahnya.
Dia lekas mencari nomor kontak Leon yang tertera di layar ponselnya, lalu mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinga setelah menggeser tombol berwarna hijau.
Tut.. Tut.. Tut..!
Detik berikutnya sambungan telepon pun terhubung, diiringi dengan suara seorang laki-laki yang menyahut dari seberang telepon.
__ADS_1
"Halo!"
"Dimana, Leon?!"
"Bos! Kau kah ini?!"
Di dengar dari nada suaranya, seperti nya lelaki yang berada di seberang telepon itu cukup terkejut mengetahui Javier masih hidup.
"Tentu saja?! Kau pikir aku ini siapa?! Baru beberapa jam saja kau sudah lupa dengan suara ku." Javier sedikit kesal.
"Bu_Bukan begitu, Bos! Semua orang menganggap mu sudah mati! Karna bangun itu sudah ambruk sebagian,"
"Aku tau. Sekarang di mana, Leon?!"
"Leon di larikan ke rumah sakit, dia terkena serpihan kaca dan beberapa serpihan bangunan yang runtuh."
Javier menghela nafas beratnya sesaat, seraya memejam. Tapi setelah itu dia kembali bersuara. "Kalau begitu kau saja yang kemari, jemput aku di pinggir jalan, tak jauh dari lokasi rumah target kita."
"Baik, Bos. Aku segera ke sana."
Lelaki yang di maksud pun dengan cepat mengambil kendaraannya, setelah Javier memutus sambungan teleponnya, lalu lekas menuju tempat dimana Javier menunggunya.
___________________________
Selang beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh lelaki itupun sampai dan berhenti di depan posisi Javier berdiri.
Dengan cepat Javier masuk kedalam mobilnya. "Kita pulang ke rumah," titahnya seraya duduk di kursi bagian tengah.
Lelaki yang duduk di bagian kursi kemudi itupun mengangguk singkat, lalu lekas menjalankan laju kendaraannya dengan cepat.
Hampir 2 jam menempuh perjalanan, sampai akhirnya mereka tiba di rumah Javier. Pemuda itu turun dengan langkah cepat menuju masuk kedalam rumahnya tersebut.
Di dalam sana, pandangan mata Javier mendapati Zack yang sedang duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya di badan sofa, seraya memejam.
"Paman!" Javier memelankan suaranya. Dia berdiri tepat di depan Zack.
Zack yang masih dalam posisi yang sama pun perlahan membuka pelupuk matanya, saat indera pendengarannya mendapati suara Javier memanggil.
"Tuan muda..!"
__ADS_1
Bersambung...