DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 46# Kemarahan Jelita


__ADS_3

_______________________


Keesokan paginya.


Jelita bangun lebih awal, karena ingin membuatkan sarapan spesial untuk suaminya tercinta.


Ditatapnya sejenak Javier yang masih tertidur pulas, seraya mengulas senyumnya yang manis.


Detik kemudian Jelita mendekatkan raut wajahnya, lalu membisikkan sesuatu ke sisi telinga Javier.


"Selamat pagi, sayang!"


CUP!!!


Setelah memberikan kecupan singkat di pipi Javier, diapun segera beranjak turun dari ranjangnya.


Dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di kamar mandi pribadi yang ada di kamar itu, dan setelah selesai mandi dan berganti pakaian, barulah dia keluar dari kamar tersebut.


Jelita turun menapaki anak tangga, menuju lantai utama dengan raut wajah senang.


Dia mulai membiasakan diri untuk pertama kali melakukan tugasnya sebagai seorang menantu di rumah itu, di mulai dari hal kecil, yaitu menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami, ibu mertua dan juga yang lainnya.


Sebelum memulai aktivitasnya, hal yang terlebih dahulu dia lakukan adalah peralatan memasak hingga menyiapkan bahan makanan.


Hari ini, Jelita ingin membuat sarapan pagi khas orang Belanda, yang sempat dipelajarinya lewat YouTube.


Dia berkeinginan membuat Groninger keok atau sejenis roti jahe yang terlihat seperti perpaduan antara dari bread dan cake, dengan rasa manis yang mendominasi.


Jelita pun mulai mengolah beberapa bahan, diantaranya, tepung terigu, tepung rye, gula, garam, kayu manis, cengkeh, pala dan jahe.


Setelah semua bahan dicampur menjadi satu adonan, hal yang terakhir dilakukannya adalah memanggang.


20 menit kemudian.


"Yey! Berhasil..!"


Jelita berseru kegirangan, karena Groninger keok yang dibuatnya sendiri telah matang dan siap di hidangkan.


Detik kemudian, dia pun menyajikan Groninger keok tersebut di atas meja. Tak lupa juga dia menata piring-piring kecil di sana, beserta gelas-gelas yang sudah dituangkan susu sebagai pelengkapnya.


Detik kemudian, Jelita pun pergi meninggalkan meja makan. Dia beranjak dari sana bermaksud ingin melihat apakah Javier sudah bangun atau belum.


Tapi saat langkahnya melewati sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka, dengan cepat Jelita mundur beberapa langkah, lalu berdiri tepat di depan pintu ruangan tersebut.


Jelita menjulurkan sedikit kepalanya, mengarahkan pandangannya ke arah dalam.


Tak ada siapa-siapa di sana, namun karena desain ruangan itu terlihat begitu mewah dan unik, Jelita memutuskan untuk masuk kedalam sana, sekedar ingin melihat-lihat.


"Wah! Cantik sekali ruangan ini!" ujarnya terkagum-kagum seraya mengamati isi ruangan.


Dia berjalan ke sana kemari, sampai akhirnya langkahnya berhenti saat tatapannya tertuju pada sesuatu yang di buang di lantai.


Dengan cepat Jelita berjongkok, lalu meraih segumpal kertas seraya membukanya sambil kembali berdiri.


"Apa ini?!" Dia pun membacanya dalam hati sambil mengerutkan kening.


'Javier ku sayang. Aku menunggumu pulang ke Indonesia, cepatlah kembali. Aku sudah sangat rindu.

__ADS_1


By. Orang yang mencintai mu, V.'


Deg


Seketika detak jantung Jelita terasa berhenti berdetak saat dia mengetahui isi dari gumpalan kertas tersebut.


Hatinya terasa sakit, bahkan sangat sakit. Baru beberapa hari saja dia menyandang status sebagai istri sah Javier, tapi dalam sekejap pula hatinya di buat terluka.


Istri mana yang tidak sakit, sedih dan marah saat mengetahui jika ada wanita lain di luar sana yang merindukan suaminya.


"Kenapa kau tega..?! Kenapa..?!" Jelita menggumam lirih, seraya menangis pelan.


Dia meremas kuat lembaran kertas yang masih dia pegang, hingga kembali menjadi gumpalan kertas seperti semula.


Setelah puas menangis di sana, diapun bergegas mengusap air matanya lalu keluar dari ruangan itu saat terdengar suara Dinda.


"Sayang, ternyata kau ada di sini." Dinda menghampiri Jelita yang baru saja keluar.


Jelita berusaha untuk tersenyum pada ibu mertuanya itu, walaupun hati sakit.


"Mama cari aku?! Ada apa, Ma?!"


"Itu.. Siapa yang membuat Groninger keok?! Kau yang membuatnya?!"


"Iya, Ma. Aku yang membuatnya tadi, sebelum aku masuk ke sini,"


Dinda pun terperangah dengan hati yang senang. "Ternyata kau pintar membuat makanan khas Belanda juga ya! Javier sangat beruntung mempunyai istri seperti mu, sayang!" puji Dinda.


"Oh iya, suamimu mana?! Sudah bangun?! Ajak dia sarapan sama-sama. Mama tunggu di meja makan, ya!"


"Iya, Ma."


Setelah dia sampai di depan pintu kamar, dengan perlahan dia membuka pintu, lalu melangkah masuk kedalam kamarnya.


Di tempat tidur yang mewah itu sudah tidak terlihat sosok Javier yang sedang tidur.


Kemana perginya lelaki itu?!


Samar-samar Jelita mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi. Jelita pun bergegas menyembunyikan gumpalan kertas tersebut kedalam laci mejanya.


Setelah itu, dia bergegas keluar tanpa menunggu Javier selesai mandi.


Jelita memilih untuk segera bergabung di ruang makan, bersama dengan yang lain. Walaupun sebenarnya nafsu makannya sudah hilang, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya itu.


"Jelita! Suami mu sudah bangun?!" Dinda kembali bertanya. Pasalnya, dia tidak melihat Javier turun bersama Jelita.


"Sudah, Ma. Dia sedang mandi, mungkin sebentar lagi turun,"


Dinda pun tersenyum. "Oh! Ya sudah kalau begitu,"


Tak lama kemudian, Javier pun keluar dari kamarnya, lalu turun menghampiri mereka.


Di meja makan sudah ada Dinda, Mario, Jelita dan juga Marni yang sedang menunggunya untuk bersama-sama menikmati sarapan pagi.


"Selamat pagi semuanya! Selamat pagi, sayang!"


CUP!!!

__ADS_1


Javier memberikan kecupan singkat di puncak kepala Jelita, kemudian dia menarik kursi yang berdampingan dengan Jelita lalu mendudukinya.


"Pagi juga, sayang!" sahut Dinda setelah Javier duduk.


Jelita sama sekali tak menyahut. Dia hanya diam dan tak memperdulikan Javier, bahkan berusaha tak menganggap kehadiran Javier di sampingnya.


"Waw! Groninger keok, tumben?! Siapa yang membuatnya?!"


"Tebak, siapa yang membuatnya?!" Dinda tersenyum lebar seraya melirikkan matanya sedikit kearah Jelita.


Melihat lirikan mata Dinda, Javier pun mengetahuinya bahwa yang membuat Groninger keok itu pasti istrinya. Pikir Javier.


"Wah! Jadi, istriku yang cantik ini membuatnya?! Kalau begitu, aku ingin mencobanya dulu." Dengan cepat Javier mengambil seiris Groninger yang sudah diiris dengan bentuk memanjang.


Aaamm!!


Javier melahapnya, dan seketika kedua bola matanya membulat saat lidahnya merasakan kenikmatan dari Groninger buatan Jelita.


"Ini benar-benar enak," pujiannya kemudian.


Sayangnya, saat semua tersenyum senang, Jelita justru menanggapinya dengan raut wajah datar. Tak ada senyum sedikitpun dari bibir Jelita. Suasana hatinya benar-benar sulit di ungkapkan, hingga saat orang lain menikmati makanan yang dia buat, justru Jelita sama sekali tak menyentuhnya.


"Maaf, aku permisi dulu." Dengan cepat Jelita beranjak lalu berjalan santai meninggalkan meja makan. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya, yang menatapnya dengan terheran-heran.


"Apa yang kau lakukan pada istrimu, Jav?!" tanya Dinda dengan cepat, setelah Jelita pergi, naik ke lantai dua.


Dinda menatap tajam pada putranya. Sedangkan Mario, dia menatap sambil mengerutkan kening. Begitu juga dengan Marni. Mereka menunggu jawaban dari Javier.


"Hei! Kenapa kalian semua menatap ku seperti itu?! Aku tidak tau ada apa dengannya," Javier merasa terpojokkan.


Dinda, Mario dan juga Marni saling melempar pandangan satu sama lainnya.


"Maaf, aku tinggal dulu." Dengan cepat Javier bergegas menyusul istrinya ke kamar mereka.


_____________________________


Didalam kamar, Javier sudah mendapati istrinya yang sedang menangis pelan dengan posisi terbaring telungkup di atas kasur empuk mereka.


"Sayang! Kau kenapa?! Kenapa menangis?! Apa aku berbuat salah padamu?!" Javier melemahkan nada suaranya, seraya mendudukkan bokongnya tepat di samping tubuh Jelita berbaring.


"Jangan ganggu aku!! Tinggalkan aku, biarkan aku sendiri!!" Jelita meninggikan nada suaranya, sambil terus terisak.


"Hei! Ada apa dengan mu?! Aku salah apa?!" Javier benar-benar tidak mengerti dengan sikap Jelita yang tiba-tiba saja membentaknya.


"Salah?!" Dengan cepat Jelita mengubah posisinya, duduk berhadapan dengan Javier.


"Kau bilang salah mu apa?!" Jelita bergegas turun dari ranjang, dengan nafas yang memburu akibat emosinya yang sudah tidak bisa di tahan.


Dia berjalan cepat menuju mejanya, kemudian dia membuka laci lalu mengeluarkan gumpalan kertas yang ada didalamnya.


"Ini, kau menyembunyikan perempuan lain di belakang ku!!"


Jelita melempar begitu saja gumpalan kertas tersebut kearah wajah Javier.


Javier memejam, namun detik kemudian dia membuka matanya lalu mengarahkan pandangannya kearah gumpalan kertas yang tergeletak di lantai, tepat di bawah kakinya.


Seketika itu juga dia menyadari, jika kemarahan istrinya berhubungan dengan isi surat misterius itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2