DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 48# Puasa Tiga Bulan, Menguji Kesabaran


__ADS_3

Dokter itu menjeda sejenak ucapannya, namun tak lama kemudian dia kembali bersuara.


"Istri anda sedang hamil,"


"A-Apa?! Hamil?!"


Semua orang yang mendengarnya sontak terkejut, tidak terkecuali Jelita yang sedang berbaring lemah.


Bagaimana tidak? Pasalnya, Jelita dan Javier baru saja menikah dan pernikahan mereka baru memasuki minggu ke 3.


Dokter pun kembali mengulas senyum melihat reaksi Javier dan yang lainnya, tapi setelah itu dia pun segera memberikan penjelasan untuk rasa kebingungan di antara semua yang mengetahui hal tersebut.


"Begini, Tuan dan Nyonya! Tidak sedikit dari pasangan yang belum lama menikah, tapi begitu cepat di beri momongan. Memang, mayoritas pasangan akan hamil dalam waktu 6 bulan. Tapi jika kurang dari itu, tidak ada alasan untuk panik." Dokter menjeda sesaat ucapannya, namun detik kemudian dia kembali menjelaskan.


"Perlu diketahui, sp**ma hanya membutuhkan waktu antara 2 sampai 10 menit untuk melakukan perjalanan dari serviks ke tuba falopi, tempatnya untuk bertemu sel telur. Sp**ma dapat bertahan hidup didalam sistem reproduksi perempuan hingga 5 hari. Jadi intinya.. Meskipun lebih mungkin hamil jika berhubungan intim 2 hingga 3 hari sebelum ovulasi, Mom's bisa hamil dari hubungan intim yang terjadi hingga 6 hari sebelum sel telur di lepaskan dari ovarium."


Javier maupun yang lainnya mengangguk-angguk paham saat dokter itu menjelaskan secara detail.


"Bagaimana?! Apakah anda semua sudah paham dengan penjelasan saya?!" Dokter mengarahkan pandangannya kepada Javier bergantian mengarah ke yang lainnya.


"Jadi, istri saya benaran hamil, Dok?!" Senyum sumringah dan pancaran kebahagiaan terlihat dari raut wajah Javier.


Bukan hanya dia saja yang senang mendengar hal itu, bahkan semua yang ada di sana ikut merasa senang atas kehamilan Jelita.


"Bisa jadi, Tuan! Tapi ini hanya prediksi sementara saja. Untuk mengetahui lebih jelasnya, silahkan bawa Nyonya ke klinik. Kita akan melakukan pemeriksaan yang lebih akurat lagi,"


"Baik, Dokter!"


"Oke, saya tunggu kedatangan Tuan dan Nyonya. Kalau begitu.. Saya permisi dulu,"


"Iya, Dok! Terimakasih."


Tak lama kemudian, Dokter itupun pergi setelah memberi vitamin serta obat penghilang rasa mual untuk Jelita.


Dinda pun duduk di samping Jelita yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk di sofa.


"Terimakasih, kau sudah memberiku cucu secepat ini," Dinda menatap haru, dengan netra yang sudah tampak berkaca-kaca, sambil mengelus perut Jelita yang masih rata.


Begitu juga dengan Javier. Lelaki itu langsung memeluk tubuh istrinya dari samping, seraya berkata. "Sayang, sebentar lagi kita akan punya bayi. Aku sangat bahagia."


Jelita sendiri terdiam tanpa bisa mengeluarkan suaranya. Dalam hati, dia sangat bahagia mengetahui kehamilannya. Tapi di sisi lain, dia juga sedih karena rumah tangganya mulai terusik saat calon buah hati mereka mulai tumbuh didalam rahimnya.


Jelita tersenyum kecil menanggapi seruan dari ibu mertuanya, setelah itu dia mengarahkan pandangannya lagi pada Javier.


"Terimakasih."


CUP!!!


"Besok, kita cek ke dokter lagi, ya!" ujar Javier setelah mengecup singkat kening Jelita.


Jelita hanya mengangguk lemah, tanpa mau menjawab.

__ADS_1


Dua kebahagiaan sekaligus yang kini di rasakan oleh keluarga kecil Dinda. Bukan hanya kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan menyandang status sebagai istri dari Mario Hadinata, tetapi bersamaan dengan itu, tentu karena penerus Javier telah hadir di rahim menantunya, Jelita.


Namun tanpa diketahui, di tempat yang jauh di sana, Anita beserta putri bungsunya Viona kembali menjalankan rencana mereka, untuk menghancurkan Dinda beserta keturunannya.


Dilihat dari beberapa media yang sudah meliput tentang resepsi pernikahan Javier dan Jelita, hal itu justru menimbulkan rasa iri dan dengki pada Anita, dan juga Viona.


___________________________


Satu bulan kemudian.


Tak terasa, setelah melakukan tes ulang di klinik, Jelita benar-benar dinyatakan positif hamil.


Hal tersebut menambah rasa bahagia bagi pasangan pengantin baru itu, begitu juga dengan Dinda dan yang lainnya.


Semula Jelita yang bersikap dingin, akhirnya bisa luluh dan bahkan cenderung lebih manja dari biasanya.


Tepat pada acara ijab qobul Mario dan Dinda yang di laksanakan pada malam harinya di kediaman Javier.


Semua keluarga berkumpul di sana, tak lupa juga sahabat-sahabat Mario yang juga ikut hadir.


Yudha dan Aldo tentu tidak akan ketinggian untuk menyaksikan Mario melepas masa lajangnya.


"Yo, apa kau butuh jamu atau obat kuat untuk nanti malam?! Kalau perlu, biar aku yang mencarikannya. Aku tau nama obat itu," bisik Aldo ke sisi telinga Mario saat acara telah selesai.


"Nggak perlu. Kau pikir aku ini sudah tua renta?!" jawab Mario dengan nada kesal.


"Yah! Paling tidak, kau tidak akan encok setelah unboxing. Xixixixi..." Aldo tertawa geli setelah menggoda Mario.


Dengan cepat Mario memutar bola mata malasnya lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


Dari arah yang tak jauh dari tempat berdiri Mario dan Dinda, sepasang suami istri Javier dan Jelita menatap mereka dengan senyum bahagia.


"Sayang, apakah nantinya Mama akan ikut bersama suami barunya?!" Jelita bergelayut manja dengan memeluk lengan Javier.


"Entahlah. Sepertinya begitu," jawab Javier tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kalau begitu kita ikut ya! Aku ingin sekali liburan ke sana!"


Mendengar ucapan sang istri yang masih dengan nada manjanya, membuat Javier seketika menoleh ke samping.


Javier mengulas senyumnya sesaat, sambil memposisikan lengannya merangkul pundak Jelita.


"Iya, sayang! Kalau pria itu membawa Mama, maka kita yang akan mengantar mereka,"


"Huaa.. Terimakasih! Aku sayang banget sama kamu."


CUP!!!


Jelita pun memberikan kecupan lembut di pipi Javier, sebagai bentuk rasa terimakasihnya.


"Hm! Kalau ada maunya aja, pasti langsung nyium. Coba kalau nggak ada maunya, aku di cuekin."

__ADS_1


"Iih.. Sayang! Kok gitu sih ngomongnya!" Jelita memajukan bibirnya beberapa centi, membuat Javier semakin gemas melihatnya dan langsung mengeluarkan jurus rayuannya.


"Hehe.. Aku kan cuma bercanda, sayang! Jangan ngambek dong! Nanti debay nya ikutan ngambek juga. Bisa repot aku, yang!" Javier mengusap lembut perut Jelita yang masih rata.


Sesaat, Jelita mengerutkan keningnya, menatap bingung pada Javier. "Repot gimana maksudnya?!"


"Ya repot lah, bisa-bisa dia nolak kalau aku menjenguknya. Aku kangen, sayang! Pengen jenguk debay, boleh ya!" Javier memasang raut wajah memelas.


Saat Jelita dinyatakan positif hamil oleh dokter yang memeriksanya, saat itu juga dokter menyarankan agar Javier tidak menyentuh Jelita hingga batas waktu yang di tentukan. Pasalnya, kandungan Jelita cukup lemah, apalagi usia kandungnya masih sangat muda, sangat rentan dengan gangguan yang akan membahayakan nyawa janin itu sendiri.


Seketika itu juga Jelita baru paham dengan maksud suaminya, lalu lekas menjawab.


"No.. Sayang! Tunggu sampai usia kandunganku genap 3 bulan, baru kamu bisa menyentuhku lagi. Sabar ya! Xixixi.. " Jelita langsung tertawa setelah mengatakan itu, sambil melepas lengan Javier dari pundaknya lalu bergegas meninggalkan Javier.


"Apakah tidak bisa di percepat waktunya?! Huhh! Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Javier menggumam sendirian dengan nada pelan, seraya menghela nafas berat. Dia menatap lemah sang istri yang pergi menjauhinya.


Javier sungguh frustasi dengan larangan dokter. Puasa 3 bulan benar-benar menguji kesabarannya. Pikirnya membatin.


_____________________


Seminggu kemudian.


Javier dan Jelita memutuskan untuk pergi berlibur ke Eropa, lebih tepatnya ke Swiss. Sekaligus bermaksud untuk mengantar sang Mama ke rumah barunya, yaitu kediaman Mario.


Begitu tiba di bandara, tampak Karin yang sudah menunggu mereka dengan senyum yang mengembang.


"Hai, Din!" sapa Karin ramah, dan langsung memeluk serta mencium pipi kiri dan kanan Dinda.


"Kak Karin, apa kabar?? Kenapa nggak datang di pernikahan kami?!"


"Aduh maaf ya, Din! Kakak harus mempersiapkan penyambutan kalian di sini. Makanya kakak menyuruh Mas Hendra datang untuk mewakili Kakak,"


Dinda tersenyum seraya lekas menjawab. "Iya, tidak apa-apa, Kak! Kakak ataupun Mas Hendra 'kan sama aja."


Karin pun membalas senyuman Dinda, kemudian dia mengarahkan pandangannya menatap Javier bergantian menatap Jelita.


"Ini anak dan menantu mu 'kan?!"


"Iya, Kak. Ini Javier, putraku. Dan ini istrinya, namanya Jelita."


"Halo! Selamat datang ya! Kenalkan, saya Karin, Kakak Mario." Karin mengulurkan tangannya kepada Javier, bergantian kepada Jelita.


Javier dan Jelita pun menanggapinya dengan senyum, seraya lekas berjabatan tangan.


Keluarga kecil itu di sambut dengan sangat baik oleh pihak keluarga Mario. Mereka pun berjalan beriringan menuju kendaraan yang sudah terparkir di luar bandara.


Tapi tiba-tiba, tanpa sengaja tubuh Javier bertabrakan dengan seorang wanita yang berjalan dari arah berbeda.


BRUKK


"AAAHH!!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2