DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 47# Perubahan Sikap Jelita


__ADS_3

"Sayang! Dengarkan aku. Aku sama sekali tidak menyembunyikan perempuan lain di belakang mu! Jangankan menyembunyikan, berhubungan dengan perempuan lain saja aku tidak pernah!"


Javier mendekati Jelita, namun dengan cepat Jelita melangkah mundur, menjauhi Javier. Emosinya benar-benar sulit di kendalikan.


"Bohong! Buktinya, perempuan itu merindukan mu!! Dan kau tau itu!!"


"Tidak, Jelita! Kau salah! Aku tidak ada hubungannya dengan perempuan itu! Dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita!!" sela Javier dengan nada yang sama tingginya.


"Hah!" Javier menghela nafasnya setelah itu, tapi detik kemudian dia kembali bersuara.


"Jika kau lebih percaya dengan isi surat itu, terserah."


Akhirnya Javier menyerah. Pikirnya, emosi Jelita tidak akan mereda jika dia terus berada di kamarnya. Untuk itu dia lebih memilih meninggalkan Jelita, keluar dari kamar tersebut.


____________________________


2 Minggu kemudian.


Dalam minggu-minggu terakhir, Hubungan Javier dan Jelita masih belum membaik. Sejak awal pertengkaran mereka, Jelita jadi lebih banyak diam, bahkan dia sama sekali tidak mau di sentuh oleh Javier.


Hal itu tentu membuat Javier semakin frustasi di buatnya, walaupun pada saat ini semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara susulan, yaitu acara pernikahan Dinda dengan Mario yang hanya akan di hadiri oleh beberapa kerabat dekat dan juga teman dekat Mario maupun Dinda.


Javier sesekali mencuri pandang kearah istrinya, saat mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah.


2 pekan sudah Jelita tidak mau tidur dengannya, dia bahkan lebih memilih tidur di kamar yang di tempati oleh Marni.


Javier pun benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap diam Jelita, sampai akhirnya dia beranjak berdiri lalu memilir pergi begitu saja meninggalkan yang lainnya.


Javier keluar dari rumahnya, dia mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi, menuju markasnya.


______________________


Sesampainya di sana, dengan raut wajah kusut, dia melangkah masuk ke markasnya tersebut.


"Sialan..!"


BRAAKK


Javier mengumpat seraya membuang asal barang-barangnya yang tersusun di atas mejanya.


Para anak buahnya yang berada di sana hanya bisa melihat dengan terheran-heran, tanpa berani mengeluarkan suara mereka untuk sekedar bertanya hal apa yang membuat sang JJ mengamuk.


Bersamaan dengan itu, dengan cepat Leon yang juga berada di sana segera meminta yang lain untuk segera meninggalkan Javier berdua dengannya.


Bersamaan dengan itu, Javier pun beranjak dari tempatnya berdiri, lalu melangkah mendekati sofa.


Dia menghempaskan pelan bokongnya, duduk di sofa seraya menghela nafas lelahnya.


"Diamnya membuatku gila. Aku benar-benar gila di buatnya!! Ini semua ulah gadis itu. Jika aku tau siapa dia, akan ku patahkan lehernya," sesal Javier seraya menyandarkan punggungnya sambil mendongak sedikit, menatap langit-langit ruangan.


Leon pun ikut menghela nafas jengah. "Kalau begitu, biarkan aku mencari gadis itu, Tuan. Jika aku menemukannya, akan ku seret dia ke hadapan istrimu,"


Dengan cepat Javier mengarahkan pandangannya, menatap datar pada Leon sambil mengubah posisinya menjadi duduk tegak.


"Ide bagus. Setelah acara pernikahan Mama ku, segera temukan gadis itu, hidup atau mati." Javier menyunggingkan seringainya.

__ADS_1


Sementara di ruang tengah, tiba-tiba Jelita merasakan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.


"Huk_Huek!" Dengan cepat Jelita menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Dia bergegas berdiri dan langsung berlari menuju dapur.


Marni yang saat itu sedang mengawasi seorang pelayan membuat sesuatu hidangan untuk di jadikan cemilan, seketika terkejut saat mendapati Jelita yang langsung memuntahkan isi perutnya di wastafel.


"Hueekk!! Hueekk!!"


"Non! Non kenapa?!" Marni bergegas menghampirinya, kemudian mengarahkan kedua tangannya memijat-mijat bagian tengkuk Jelita.


"Hueekk!! Aaahh!!" Jelita tidak bisa menjawabnya, perutnya terasa sangat mual, hingga membuatnya ingin terus muntah.


"Non! Non sakit?!" Tentu saja Marni semakin cemas, apalagi ditambah dengan raut wajah Jelita yang seketika memucat.


"Bibi.. Tolong aku..!"


BRUKK!!!


"Non..!!"


Seketika Marni berteriak dengan suara yang cukup keras saat tubuh Jelita ambruk di lantai.


Marni mencoba menahan tubuh Jelita, namun karena usianya yang sudah cukup tua, sehingga dia tidak mampu menahannya. Sampai akhirnya, dia juga ikut terduduk di lantai bersamaan dengan tubuh Jelita yang terjatuh.


Pelayan tadi pun bergegas menyudahi aktivitasnya, lalu berlari menghampiri yang lainnya di ruang tengah.


"Nyonya..! Tuan..! Tolong..!"


Dengan refleks pula Dinda berdiri, kemudian bertanya. "Ada apa?!"


Dia dan yang lainnya terheran-heran menatap pelayan itu yang terlihat seperti ketakutan.


"Nyonya! Non, Non Jelita pingsan di dapur."


"Apa?!"


Mendengar itu Dinda pun bergegas menuju dapur, diikuti oleh Mario dan yang lainnya.


Seketika kedua bola mata Dinda membulat, saat dia sudah berada di dapur, ternyata dia mendapati sang menantu terkulai lemah dengan posisi kepala berada di pangkuan Marni.


"Marni! Jelita kenapa?!" Dinda mendekatinya.


"Saya tidak tau, Nyonya! Tadi dia muntah-muntah terus pingsan,"


"Ya sudah, cepat kita pindahkan dia ke sofa." Mario pun lekas mengangkat tubuh Jelita, lalu menggendongnya ala bridal.


Mario membawa Jelita menuju ruang tengah, kemudian meletakkan tubuh Jelita, berbaring di atas sofa.


"Dimana, Jav?!" Sesaat Dinda mengarahkan pandangannya pada yang lain, seraya duduk di sisi sofa.


"Tadi, Tuan muda keluar, Nyonya!"


"Keluar?! Kemana anak itu?!" Dinda mengerutkan keningnya, kemudian mengarahkan pandangannya menatap Jelita, sambil mengelus lembut puncak kepala Jelita.

__ADS_1


"Telpon saja, suruh dia cepat kembali," ujar Mario.


"Iya, bisakah kau menghubunginya?!"


"Tentu sayang, aku akan menghubungi Jav."


Dengan cepat Mario pun mengeluarkan ponselnya yang tersimpan didalam saku celananya.


_____________________


Sementara di tempat Javier berada, Javier yang masih dalam posisi yang sama dengan Leon yang masih setia menemaninya, seketika menghentikan ucapannya saat ponselnya berdering.


Javier segera mengeluarkan benda pipih tersenyum dari dalam saku celananya.


Sejenak dia mengerutkan keningnya, saat menatap layar ponsel hingga terlihat nomor kontak Mario yang tertera.


Javier pun mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah dia menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo!" Javier menyambutnya dengan nada datar.


"Jav! Kau dimana?! Cepatlah kembali ke rumahmu!"


"Aku di markas. Memangnya ada apa?!"


"Istrimu pingsan."


"A-Apa..?!"


Javier terkejut, hingga detik itu juga dia memutus sambungan teleponnya begitu saja, lalu bergegas keluar dari markas.


"Tuan muda.. Ada apa?! Apa yang terjadi?!" Leon mengejar langkah cepat Javier.


"Istriku pingsan."


Javier masuk begitu saja kedalam mobilnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan Leon yang mengejarnya.


Detik kemudian Javier pun melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, menuju ke kediamannya.


_______________________


Setelah sampai, Javier bergegas turun dari mobilnya lalu berlari menuju rumah, kemudian masuk ke sana.


Tatapan mata Javier pun mendapati Jelita yang sedang di kelilingi oleh anggota keluarganya.


Tidak hanya itu, bahkan terlihat juga seorang dokter yang memeriksa keadaan Jelita, yang masih dengan posisi terbaring di sofa.


Javier menghampiri mereka, lalu berjongkok mendekati Jelita.


"Sayang.. Kau kenapa?!" Javier mengusap lembut puncak kepala Jelita, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Dinda, seraya bertanya.


"Istriku kenapa, Ma?!"


Dokter yang memeriksa Jelita tersenyum, setelah dia dapat memastikan kondisi Jelita.


"Tuan! Istri anda..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2