
_______________________
Di tempat lain, ada Anita yang sedang duduk bersama dua orang teman laki-lakinya di ruang tengah rumahnya.
Mereka berbincang seraya menikmati minuman beralkohol dan beberapa cemilan yang sudah tersedia di atas meja.
"Anita, sebenarnya apa lagi yang kau tunggu?! Wanita itu sudah ada di sini bersama putranya, bukankah itu lebih mudah bagimu untuk segera menghabisinya?!"
"Jangan bertindak gegabah, Alex! Aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya, semua harus di rencanakan dengan baik," Anita bersikap tenang dan santai, sesekali mulutnya menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya secara perlahan.
"Ya, aku setuju dengan Anita. Aku dengar dari beberapa sumber, putra mendiang Jhon sangat mewarisi sifat ayahnya, bahkan lebih ganas. Jadi ku sarankan untuk lebih berhati-hati dengannya," lelaki yang satunya lagi menimpali.
"Hahh.. " Anita menghela nafas lelahnya seraya menyandarkan punggungnya di badan kursi. "Andai saja waktu itu aku lebih dulu menghabisinya sebelum Jhon datang, mungkin saat ini Jhon masih hidup," suara Anita melemah.
"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?!" Dengan cepat Alex mengalihkan Anita pada topik utama. Lelaki itu tidak suka mendengar Anita menyebut nama Jhon, apa lagi jika Anita mengingat masa lalunya. Dia sudah sejak lama mencintai Anita, namun karena waktu itu Anita masih berhubungan dengan Jhon, maka Alex hanya bisa menahan perasaanya saja.
Anita menatap datar raut wajah Alex seraya mengulas senyum liciknya. "Kau lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan, Alex!" Tampaknya Anita benar-benar yakin jika rencananya kali ini akan berjalan dengan sempurna.
Namun sayangnya Anita belum mengenal seperti apa Javier, sang putra tunggal Jhonatan. Karena tanpa sepengetahuan Anita atau yang lainnya, Javier sudah lebih dulu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, termasuk menghabisi nyawa Anita dengan tangannya sendiri.
Rencana itu sudah di susun oleh Javier bersama dengan orang-orang kepercayaan mendiang ayahnya Jhon, jauh sebelum Anita di nyatakan bebas dari penjara.
_______________________
Beberapa jam kemudian.
Di dalam hotel berbintang itu, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan makan malam sambil menikmati hiburan sebelum acaranya berakhir.
Para pelayan pun tampak sibuk menghidangkan beberapa jenis makanan, minuman serta hidangan penutup di atas meja yang berbentuk bulat.
"Pak Mario, saya tinggal sebentar ke toilet Pak," Viona sang sekretaris itu beranjak berdiri dari tempat duduknya yang berada di sebelah Mario.
Mario pun menoleh kearah gadis itu. "Iya silahkan,"
Setelah mendapat izin, Viona pun bergegas meninggalkan mejanya lalu keluar dari ruangan itu.
"Yo, bagaimana pertemuan mu tadi dengan Adinda?" Aldo beranjak berdiri kemudian beralih duduk di sebelah Mario. Lebih tepatnya dia menduduki kursi yang tadi di duduki oleh Viona.
"Ya..! Seperti yang kau lihat," Mario mengulas senyumnya. Jangan di tanya lagi seperti apa suasana hatinya saat ini, tentu saja dia sedang berbunga-bunga.
"Jadi?! Apa kau akan mendekatinya lagi?!" Bukan Aldo namanya kalau tidak mau tau dengan urusan orang lain, apalagi jika menyangkut urusan sahabat-sahabatnya.
Mario menghela nafas pelannya. "Aku belum yakin, apakah kali ini aku akan berhasil," nada suara Mario terdengar lemah di telinga Aldo.
"Hei kawan..! Ayolah. Jangan putus asa begitu..! Bukankah seorang pemimpin harus berjuang untuk mendapatkan tendernya?!" Aldo memberikan dukungannya pada Mario.
__ADS_1
"Kau pikir Adinda itu proyek besar.. Hem?!" Kedua bola mata Mario membulat lebar menatap Aldo.
"Anggap saja begitu.."
"Aish! Kau ini.." Mario mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang sudah siap di atas meja, seraya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.
Yudha yang berada tak jauh dari mereka pun menyunggingkan senyum tipisnya mendengar itu, sambil menikmati hidangan. Sesekali dia melirikkan matanya ke arah Mario dan Aldo.
______________________
Di tempat lain, Anita yang sedang duduk di sofa tiba-tiba saja bergegas meninggalkan kedua rekannya saat mendapati seseorang melakukan panggilan telepon melalui ponselnya.
Dia berjalan menuju kamarnya dan masuk ke sana. Setelah itu Anita menggeser tombol berwarna hijau lalu mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya.
"Halo, sayang! Apa kau baik-baik saja?!" Anita memelankan nada suaranya.
"Aku baik-baik aja, Ma!"
"Syukurlah," Anita tersenyum, dia merasa lega mendengar jawaban itu dari balik telepon genggamnya.
"Lalu, ada apa kau menelpon, Mama?! Apa kau membutuhkan bantuan?!"
"Tidak, Ma! Aku hanya ingin menanyakan sesuatu, "
"Apa itu?! Cepat katakan,"
Mendengar itu Anita terdiam sejenak. "Apa kau melihatnya?! Seperti apa dia?!" Anita ingin mengetahui ciri-cirinya terlebih dahulu sebelum dia memastikan bahwa orang tersebut adalah benar-benar Adinda yang dia maksudkan.
"Dia sangat cantik, berkulit putih, hidung mancung, bibir mungil, kira-kira usianya tak jauh beda dengan Mama, "
"Hanya itu?! Apa tidak ada yang lain, yang lebih detail?! "
"Tidak ada, Ma! Aku kan belum pernah mengenalnya.."
Anita menghela nafas jengah. "Baiklah. Sebaiknya kau berhati-hati, jangan sampai identitas mu terbongkar, "
"Baik Ma! Kalau begitu aku tutup dulu telponnya,"
"Iya sayang, bye."
Anita tersenyum menyeringai dengan tatapan matanya yang licik, setelah sambungan teleponnya terputus. Diam-diam ternyata Anita sudah mengutus seseorang untuk menjadi mata-matanya.
Tak ingin kedua rekannya menunggu terlalu lama, akhirnya Anita memutuskan untuk segera menghampiri mereka.
_______________________
__ADS_1
Hotel berbintang
"Jika kau ingin menemuinya, dia masih tinggal di tempat yang lama. Rumah mendiang Jhonatan, kau masih ingat 'kan?!" Aldo masih belum beranjak dari kursi milik Viona.
Mario yang mendengar itu pun segera menoleh. "Kau yakin?! Kau tau dari mana?! Kau membuntutinya?!" Mario cukup terkejut mengetahui jika Aldo lebih tahu dibanding dirinya.
"Haha.. Siapa dulu dong, Aldo..!" Aldo menepuk-nepuk pelan dadanya yang bidang, dengan sombongnya dia membanggakan dirinya sendiri di depan Mario.
"Kita bertemu di tempat lain, setelah pulang dari sini," Mario menatap serius.
"Oke, " Aldo pun mengacungkan jari jempolnya ke arah Mario.
"Eh, ngomong-ngomong kemana sekretaris mu itu?! Kenapa lama sekali perginya?! " Sesaat Aldo mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang menuju ke belakang ruangan, setelah itu dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Mario.
Menyadari itu Mario pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah hampir setengah jam. Apa yang terjadi dengan gadis itu?!" Mario mulai merasa khawatir dengan Viona yang masih belum kembali.
Namun baru saja mereka membicarakannya, tampak dari kejauhan Viona masuk melalui pintu belakang tersebut.
Gadis itu tersenyum saat Mario dan Aldo menatapnya dari kejauhan.
"Nah, itu dia orangnya, baru aja di omongin." Dengan cepat Aldo beranjak berdiri dan berpindah tempat, kembali ke kursinya yang semula ia duduki.
"Kau kenapa, Viona?!" Mario menatap khawatir setelah gadis itu kembali ke tempat duduknya.
"Maaf, Pak! Perut saya sakit," Viona memegangi perutnya dengan sebelah tangannya.
"Sekarang masih sakit?!"
Viona menggeleng cepat. "Udah mendingan kok, Pak!"
"Ya sudah, sekarang makanlah. Mungkin kau tadi masuk angin, makanya perutmu sakit,"
"Iya, Pak." Viona mengulas senyum singkatnya, setelah itu dia pun bergegas mengambil beberapa menu makanan dan meletakkannya di atas piring yang sudah tersedia di meja, tepat di hadapannya.
Mereka semua menikmati makan malam mereka, begitu juga dengan para tamu undangan yang lainnya.
****
Di tempat Adinda duduk, Javier tampak tidak fokus menikmati makan malamnya. Dia lebih fokus menatap layar ponselnya yang ia pegang.
"Jav..! Dimakan dulu makanannya..!" Adinda merasa sedikit kesal dengan putranya itu, mengabaikan makanannya yang sudah di sediakan oleh Dinda didalam piringnya.
Akan tetapi, Javier masih tetap fokus pada layar ponselnya. Pemuda itu sampai mengerutkan keningnya saat membaca sebuah pesan masuk.
'Mario Hadinata.. '
__ADS_1
Bersambung....