
Javier membawa paket tersebut masuk ke dalam rumah.
"Apa itu Jav?!"
Dinda yang semula penasaran dengan apa yang terjadi pada Javier dan Jelita, tiba-tiba lebih penasaran lagi pada apa yang di bawa oleh Javier.
"Ini, paket untuk Mama. Tapi tidak ada nama pengirimannya," Javier memberikan paket tersebut kepada Adinda, dan Adinda pun lekas meraihnya.
"Apa ini?!" Dinda membolak-balikkan bungkus paket tersebut seraya mengerutkan keningnya.
"Buka saja Ma..! Paling dari penggemar!" Javier memilir pergi begitu saja meninggalkan Adinda. Pemuda itu tidak ingin tau apa isi paket tersebut, dia malas jika terlalu mencampuri urusan pribadi Mamanya.
Sepeninggalan Javier, Dinda memilih untuk membuka paket tersebut di dalam kamarnya.
"Dari siapa sih.. Jangan-jangan dari Mario!" Karena sudah tidak sabar ingin mengetahui apa isinya, dengan cepat Dinda pun membukanya.
Deg
Seketika jantung Dinda terasa berhenti berdetak, diiringi dengan air mata yang mulai menggenang.
Saat paket tersebut di buka, tanpa di sangka-sangka ternyata isinya adalah beberapa gampar foto yang memperlihatkan kemesraan mendiang Jhon bersama dengan Anita.
Dinda tak mampu menahan air matanya yang mulai jatuh menetes, perasaannya sakit dan hancur berkeping.
Begitu kejam perbuatan Anita kepadanya, javier telah lama tiada, tapi wanita itu masih terus mengganggu Adinda.
"Apa yang diinginkan wanita itu.. Hikz.. Hikz.. Hikz.. " Adinda menggenggam kuat seraya meremas semua foto-foto di tangannya, hingga foto-foto tersebut membentuk gumpalan.
"Aku membencimu Anita...!! Aku membencimu...!! Aaaakh..!! Hikz.. Hikz.. Hikz.."
Adinda menangis lirih sejadi-jadinya, perasaannya hancur. Walaupun foto-foto tersebut sudah tidak berbentuk, namun isi kepalanya masih di penuhi oleh gambar-gambar mendiang Jhonatan dengan Anita.
Hal itu membuat Adinda semakin sakit hingga menangis pelan dan sesenggukan.
Paket itu sengaja di kirim oleh Anita, untuk membuat Adinda mengingat masa lalu Jhon bersama dengannya.
Bagi Anita, ini hanyalah sebuah awal karena akan ada kejutan berikutnya untuk Adinda.
****
Di dalam kamar, Dinda terus saja menangis pelan. Dia tidak ingin Javier mengetahuinya, apalagi jika melihat gambar sang ayah bersama wanita lain. Dinda tidak ingin membuat sang putra berpikiran negatif tentang mendiang Jhon.
__ADS_1
Sementara di ruangan lain. Javier yang sedang dalam suasana hati yang kacau, mendapat kabar tentang hasil penyelidikan terhadap Mario.
"Semua hasil yang ku dapat, tidak ada satupun yang menunjukkan bahwa dia seorang pecundang," Zack menyerahkan beberapa hasil penyelidikan dari orang kepercayaannya kepada Javier.
Javier menghela nafas lega, kemudian menjawab dengan nada suaranya yang lemah, seperti tidak bergairah. "Baguslah kalau begitu,"
Zack mengerutkan keningnya menatap Javier seraya lekas bertanya. "Tuan muda.. Apa yang terjadi dengan mu?!" Zack merasa ada yang berbeda.
Javier melirikkan sesaat matanya, setelah itu dia kembali ke posisi semula, bersandar di badan sofa seraya menatap langit-langit ruangan.
Zack yang tidak mendapati sahutan dari Javier pun mengulas senyumnya yang menyungging.
"Cinta memang sulit di tebak, karna kita tidak tau, kapan waktunya dia akan datang," Zack menyinggungnya. Pria itu yakin, jika cinta lah yang membuat perubahan terjadi pada sikap Javier.
Javier sama sekali tidak menghiraukan ucapan Zack, bahkan dia tidak mau menimpali ucapan pria itu. Dia tetap dalam posisi yang sama.
'Apa benar aku jatuh cinta dengan gadis itu?!' Javier hanya membatin. Pikirannya terus tertuju pada raut wajah gadis yang kini mengisi relung hatinya.
****
Di ruang pertemuan itu Zack terus berusaha untuk membuat Javier tidak terlalu memikirkan masalah pribadinya. Sebab masih ada masalah yang lebih penting dari itu, tentu yang di maksud Zack adalah fokus pada rencana mereka.
Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman mendiang kedua orang tua Mario.
"Vio.. Mau kemana kamu?!" Mario memergoki Viona saat dia tengah berjalan dengan mengendap-endap. Gadis itu hendak keluar dari rumah.
Viona pun terperanjat kaget di buatnya. "A-aku.. Aku.. Aku mau.." Dia gelagapan.
"Biarkan saja dia pergi, Yo! Dia juga butuh udara segar," tiba-tiba saja suara Karin menimpali. Karin yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, seketika mendengar suara Mario lalu segera menghampirinya.
Viona tersenyum samar. Dia lega saat Karin datang membelanya.
Mendengar ucapan Karin, Mario pun memilir pergi. Tapi entah kenapa dia sedikit heran pada Viona. Akhir-akhir ini gadis itu selalu keluar sendirian, bahkan gadis itu tidak memberikan laporan perusahaan pada Mario. Seolah gadis itu sedang asik dengan urusan pribadinya. Pikir Mario.
Mario memilih untuk bersantai di belakang rumah. Dia duduk sambil memikirkan sesuatu. "Apa yang dilakukannya akhir-akhir ini?! Sudah beberapa hari dia tidak memberikan laporan perusahaan pada ku, apa dia tidak memeriksanya?!" Mario terus saja membatin.
"Lagi mikirin apa sih?! Serius amat," Karin datang menghampirinya dengan membawa dua cangkir teh hangat lengkap dengan cemilannya di atas nampan.
Mario mengulas senyumnya seraya melihat ke arah Karin yang langsung duduk di kursi sebelahnya, setelah dia meletakkan nampan tersebut.
"Kak, apa Viona sering keluar rumah saat aku tidak ada?!" Mario mulai mencari tau tentang aktivitas gadis itu saat tinggal bersamanya.
__ADS_1
Karin tak langsung menjawabnya, dia berpikir sejenak. Namun detik berikutnya dia menjawabnya. "Hanya beberapa kali. Memangnya kenapa? Apa ada yang aneh?!"
Mario menghela nafasnya sesaat. "Semenjak berada di sini.. Dia sama sekali tidak memberi laporan perusahaan pada ku," nada suara Mario pun terdengar lemah di telinga Karin.
"Oya?! Kenapa tidak kau tegur saja dia?!"
"Hayo.. Lagi ngomongin kak Vio ya..?!" Tiba-tiba suara Tasya mengagetkan mereka. Gadis kecil itu tertawa renyah, lalu duduk di sebelah Karin.
"Kamu tuh ya.. Dasar, sukanya ngagetin orang tua," Karin menoel hidung mancung putrinya dengan telunjuknya.
"Anak kecil nggak boleh dengerin obrolan orang tua. Sana main.." Mario mengusirnya. Tidak nyaman jika pembicaraannya dengan Karin di dengar oleh Tasya.
"Ih, Om jahat banget ngusir aku," Tasya menampakkan raut wajahnya yang cemberut.
Karin dan Mario pun tertawa kecil melihat raut wajah Tasya yang menggemaskan itu. Namun detik kemudian Mario kembali bersuara. "Kalau dia sudah pulang, aku akan langsung menanyakannya,"
"Iya, sebaiknya begitu," Karin pun menyetujuinya.
"Kemarin, aku dengar kak Vio lagi telponan sama perempuan Ma.."
"Oya?! Tau darimana kalau itu perempuan?!" Karin menatap heran pada putrinya.
"Ya tau lah, soalnya kak Vio panggil Mama ke orang yang lagi telponan sama kak Vio.."
Mendengar itu seketika Mario terkejut. "Apa?! Mama..?!"
Tasya mengangguk dengan cepat, sebagai jawaban.
"Kenapa Yo?! Ada yang salah?!" Karin di buat bingung dengan reaksi Mario.
"Bukannya.. Viona bilang dia sudah tidak punya orang tua, lalu siapa yang di panggilnya Mama itu?!" Raut wajah Mario tampak semakin bingung. "Kalau dia masih punya orang tua, kenapa dia bilang orang tuanya sudah meninggal?! Untuk apa dia berbohong?!"
Mario seketika merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu, dan Karin yang mendengarnya pun ikut merasa heran.
"Aneh sekali.."
"Makanya tadi aku tanya, dia mau pergi kemana?! Dia pernah bilang kalau dia belum pernah pergi ke Indonesia, dan dia juga tidak punya siapa-siapa di sini,"
Hal itu membuat bingung keduanya. Siapa sebenarnya Viona, itulah yang memenuhi isi kepala Mario saat ini. Hingga tanpa sadar, dia pun mulai menaruh curiga pada gadis itu. Viona.
Bersambung...
__ADS_1