DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 19# Curiga


__ADS_3

__________________________


Beberapa jam kemudian, Mario sengaja menunggu kedatangan Viona. Dia duduk bersantai di teras rumah seraya mengamati layar ponselnya yang menyala.


"Mengapa anak itu tidak menghubungiku?!" Mario tiba-tiba teringat dengan Javier. Pemuda itu sama sekali belum menghubunginya via telpon.


Baru saja dia menggumam seperti itu, sosok yang dia tunggu pun tiba. Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumahnya, dan detik berikutnya tampak Viona yang turun dari taksi tersebut.


Mario pun bergegas masuk kedalam rumah. Dia mengumpat di balik tirai jendela, seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.


Jelas saja Viona tidak akan melihatnya, Viona terus saja melangkah hingga memasuki rumah.


Saat langkah kaki Viona sudah melewati pintu, suara dingin Mario pun mengagetkannya. "Darimana kau, hm?!"


Viona refleks menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung tanpa berbalik badan, tidak berani menghadap ke sumber suara.


"Vio..!! Aku bertanya padamu..!! Kenapa kau diam saja..?! Darimana kau, hah?!" Mario meninggikan nada suaranya, hingga membuat raut wajah Viona memucat.


Gadis itupun berbalik, mengarahkan pandangannya ke arah Mario.


Tatapan Mario begitu tajam dan menakutkan, membuat Viona seketika menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya Pak, saya.."


"Aku bertanya, kau darimana..?!" Mario kembali membentaknya.


Baru kali ini Mario berbicara dengan nada yang tinggi kepada Viona. Jauh sebelum itu, dia tidak pernah melakukannya. Itupun karena Viona sudah jelas-jelas membohongi dirinya, jadi wajar saja jika emosi Mario memuncak.


Dari kejauhan, Karin berdiri tak jauh dari pintu dapur, memandangi mereka seraya menguping. Wanita itu tidak mau ikut campur urusan adiknya dengan Viona, walaupun dia memberi saran agar Mario menegur gadis itu.


"Maaf Pak, saya suntuk terus-terusan mengurung diri di rumah. Saya bukan boneka.. Saya juga manusia, sama seperti Bapak, saya juga butuh refreshing," nada suara Viona terdengar ketus membalas ucapan Mario.


Mario pun terkejut, karena Viona sudah berani berbicara lancang kepadanya. Tak terkecuali Karin yang ikut mendengarnya, wanita itupun terperangah tak percaya.


"Ya, aku tau itu. Dan asal kau tau, aku tidak pernah melarang mu untuk bepergian kemanapun kau suka. Tapi kau juga harus tau..!! Beberapa hari ini kau sudah melalaikan tugasmu. Kau pikir dirimu siapa, hah?! Pulang pergi seenaknya, tanpa pamit. Di rumah ini tidak hanya ada kau..!! Tapi ada aku, ada kakak ku juga..!!" Sesaat Mario mengatur nafasnya yang memburu akibat emosi yang berlebih. Tapi detik kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku beri kau waktu 1 kali 24 jam, jika kau tidak memberikan laporan mu.. Maka ku anggap kau mengundurkan diri,"


Setelah berkata seperti itu, Mario pun memilir pergi, masih dengan emosinya yang memuncak.

__ADS_1


Sementara Viona, gadis itu hanya bisa diam tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.


Ancaman Mario tidak bisa di abaikan begitu saja oleh Viona, dia berpikir sejenak, mencari sebuah ide untuk membuat Mario takluk hingga tidak bisa membuatnya keluar dari perusahaan yang ada di Eropa.


Detik kemudian Viona pun tersenyum licik, entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Namun jika di lihat dari senyumannya, sepertinya dia sudah mendapatkan rencana yang akan dimainkannya.


Viona pun beranjak dari tempatnya berdiri. Dengan langkah santai dia berjalan menuju kamar yang dia tempati.


Dari kejauhan, ternyata Karin masih memperhatikannya. 'Sepertinya Mario harus berhati-hati dengan gadis itu. Aku curiga, pasti ada sesuatu yang dirahasiakannya.'


Setelah menggumam dalam hatinya, Karin pun beranjak dari pintu dapur. Mulai sekarang dia juga harus berhati-hati, dan tidak bisa bersikap acuh setelah melihat sendiri sifat asli Viona.


****


Malam harinya.


Javier dan Adinda serta Zack makan malam bersama, namun Adinda tampak tak berselera dengan makanannya. Dia termenung sambil mengaduk-aduk makanan di dalam piringnya sendiri.


Javier yang melihatnya pun segera menegurnya dengan nada lembut. "Ma.. Kenapa makanannya cuma di aduk-aduk saja..?!"


Adinda menghela nafas lelah. "Mama nggak selera," cuma itu yang keluar dari mulut Dinda, seraya melepaskan sendoknya di atas piring. Setelah itu dia pun pergi, beranjak meninggalkan meja makan.


"Tadi siang, dia masih baik-baik saja," Javier terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat hal apa yang membuat sang Mama berubah murung.


Namun detik kemudian dia kembali bersuara. "Paket," seketika dia tersadar seraya menatap kepada Zack.


"Paket?! Paket apa yang Tuan muda maksud?!" Zack mengerutkan keningnya. Dia tidak tau apa yang di maksud oleh Javier.


"Paman, tadi siang aku menerima kiriman paket dari seseorang. Paket itu di tujukan untuk Mama, tapi tidak ada nama pengirimnya.."


"Kenapa tidak di buka dulu..?!" Zack yang mendengarnya pun seketika menjadi kesal.


Javier lekas beranjak dari duduknya, dia pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Sementara Zack, pria itu tertegun menatapnya, seraya menghentikan aktivitas makan malamnya.


****


Di dalam kamar, Adinda berbaring dengan posisi miring. Dia menyembunyikan tangisnya dengan menutupi wajahnya dengan bantal guling.


Tok tok tok.. "Ma..!"

__ADS_1


Javier datang mengetuk pintu, lalu memanggilnya dengan nada lembut.


Semula Adinda tidak menghiraukannya, namun karena Javier berkali-kali mengetuk pintu dan memanggilnya, akhirnya dia pun beranjak turun dari ranjangnya.


Namun sebelum dia membukakan pintu untuk Javier, Dinda terlebih dahulu menghapus jejak air matanya yang membasahi pipinya.


CEKLEK


Perlahan, daun pintu kamar pun terbuka hingga menampakkan Adinda yang menatap sendu putranya.


"Mama kenapa?!"


Javier seketika cemas, dia menangkap tubuh mungil Adinda lalu memeluknya, seraya membawanya masuk kedalam kamar tersebut.


"Mama kurang enak badan aja, Jav.. Mama mau istirahat," nada suara Dinda terdengar lemah di telinga Javier.


"Aku pikir Mama sedang ada masalah," Javier membantu Adinda berbaring di atas ranjang.


"Mama nggak ada masalah.. Cuma ngerasa kurang sehat," Dinda sengaja berbohong, agar Javier tidak bertanya tentang isi paket yang dia terima tadi siang.


Dan benar saja, mengetahui Dinda sedang sakit, Javier pun mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang isi paket tersebut.


"Ya sudah, kalo gitu Mama istirahat saja. Nanti kalo ada apa-apa panggil saja aku ya Ma!"


Javier malah membiarkan Dinda beristirahat. Dia mengecup singkat kening Dinda, kemudian menutupi separuh tubuh Dinda dengan selimut tebal milik Dinda.


Dinda tersenyum samar, lalu lekas memejamkan matanya. Saat Dinda tampak sudah terlelap, Javier pun beranjak keluar dari kamar tersebut.


Namun saat kakinya ingin melangkah keluar dari pintu, tiba-tiba pandangan matanya menangkap bingkisan paket yang sudah di buang ke tempat sampah, yang letaknya tak jauh dari pintu kamar.


Sesaat Javier menoleh ke arah Dinda, tapi detik kemudian dengan cepat dia meraih bingkisan tersebut, yang ternyata di dalamnya terdapat gumpalan kertas.


Javier membawanya keluar dari kamar, kemudian dia menutup kembali pintu kamar tersebut.


Dia melanjutkan langkahnya hingga turun ke lantai utama. Di sana, sudah ada Zack yang menunggunya, sambil duduk bersantai di ruang tengah.


Javier duduk, tak jauh dari posisi Zack. Dengan cepat dia mengeluarkan gumpalan kertas tersebut dan membuang bingkisannya dengan asal, ke lantai.


"Apa ini?!" Dengan perlahan dia membuka gumpalan kertas di tangannya. Dan saat matanya menatap kertas tersebut, betapa terkejutnya dia, tenyata isinya adalah gambar seorang lelaki bersama dengan seorang wanita yang sedang bermesraan. Lelaki yang ada di dalam gambar tersebut tak lain adalah mendiang ayahnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2