
Menyesal sudah tidak ada gunanya lagi, dengan cepat Javier menatap ke arah Leon. Benar juga apa yang di katakan oleh Leon, dengan begitu mereka bisa mengetahui siapa yang sudah membawa pergi Jelita. Apakah benar ibunya, atau orang lain. Pikir Javier.
Detik kemudian Javier beranjak berdiri lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut, bersama dengan Leon. Sedangkan Viona, gadis itu semakin gelagapan. Dia takut jika perbuatannya di ketahui oleh kedua pemuda tadi.
Dengan cepat Viona mengambil langkah menghubungi Mamanya, Anita. Dia mengeluarkan ponsel genggamannya yang tersimpan di dalam tas kecilnya.
Setelah di dapatinya, dia pun mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah panggilan terhubung ke nomor kontak Anita yang tertera.
"Ma! Mama dimana?!"
"Cepatlah kembali ke rumah, jangan biarkan Marni dan Jelita keluar dari rumah untuk beberapa hari. Orang-orang Javier pasti akan mencari mereka,"
Setelah mengatakan itu, Viona pun memutus sambungan teleponnya dengan cepat. Kemudian kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas kecilnya semula.
Di tempat yang berada, Javier meminta seorang petugas untuk memeriksa rekaman cctv yang mengarah kepada ruangan tempat Jelita berada.
Dengan cepat petugas itupun memutar kembali rekaman tepat pada waktu terakhir kali Javier meninggalkan ruangan tersebut.
Dalam durasi 15 menit setelah kepergian Javier dan Leon, dari layar monitor itu terlihat seorang wanita paruh baya datang dan masuk ke sana. Namun tak lama, di menit berikutnya tampak pintu ruangan kembali di buka dari dalam. Bersamaan dengan itu terlihat pula Viona yang keluar lalu berdiri untuk beberapa detik. Setelah itu wanita yang tadi masuk pun keluar dengan membawa serta Jelita yang di dorong dengan menggunakan kursi roda.
Sesaat Javier dan Leon saling menatap, ada sedikit kecurigaan mereka kepada Viona. Bisa saja Viona bersekongkol dengan wanita yang sudah membawa Jelita. Pikir Javier dan Leon dalam benak mereka.
"Coba zoom, aku ingin melihat raut wajah perempuan itu lebih jelas,"
Dengan cepat petugas itu melakukan apa yang di perintahkan oleh Javier, hingga detik kemudian raut wajah Marni pun terlihat jelas oleh mereka yang ada di depan layar monitor.
Leon pun bertindak cepat, dia mengambil gambar wajah Marni dengan menggunakan kamera ponsel genggamannya.
"Kirim kepada yang lain, sebarkan gambarnya dan temukan wanita itu segera,"
Setelah mengatakan itu, Javier pun keluar dari ruang monitor tersebut, diikuti oleh Leon.
"Tuan! Durasinya belum terlalu lama, itu berarti mereka belum jauh,"
Javier menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah Leon yang berada di belakangnya. "Kalau begitu cepat hubungi yang lain, cari mereka sampai dapat,"
Javier berlari hingga keluar dari rumah sakit, begitu juga dengan Leon. Sambil mengarahkan ponsel genggamannya, Leon mengikuti langkah Javier hingga menuju tempat parkiran.
Leon masuk kedalam mobil bersamaan dengan Javier, setelah itu Leon pun menjalankan kendaraannya. Mereka mulai mencari jejak Marni, di mulai dari mengitari area rumah sakit hingga ke jalan yang mengarah ke rumah sakit tersebut.
Lalu, apa yang terjadi dengan Marni?!
Begitu keluar dari area rumah sakit, Marni dan Jelita sudah di jemput oleh taksi yang sebelumnya sudah di pesan oleh Viona melalui aplikasi online. Sehingga tak butuh waktu tertentu lama untuk membawa Jelita pergi dari sana.
Di jalan, Javier mengerahkan orang-orangnya untuk mencari jejak Marni. Namun di sisi lain, Marni dan Jelita yang sudah berada di dalam taksi hanya tinggal menunggu mereka tiba di rumah saja.
__ADS_1
Marni memeluk erat tubuh Jelita yang melemah. "Sabar ya, Non! Sebentar lagi kita sampai," Marni mengelus lembut lengan Jelita dengan posisi duduk seraya menyenderkan kepalanya ke pundak Marni.
"Bi! Dingin sekali..!" Raut wajah Jelita semakin pusat. Itu akibat dia terus menahan rasa sakit di bagian perutnya yang baru saja di operasi.
"Ya Tuhan.. Apa yang aku lakukan ini benar?!" Marni ketakutan saat tubuh Jelita semakin lemah dan dingin.
"Pak! Berhenti sebentar,"
Supir taksi itupun mengangguk, lalu segera mengerem dan menghentikan laju kendaraannya.
"Aku harus bagaimana?! Apa aku harus kembali ke rumah sakit saja!" Marni bergelut dengan perasaannya yang campur aduk. Di satu sisi dia merasa kasihan pada Jelita, tapi di sisi lain dia takut akan kemurkaan Anita, sang majikan.
Di zaman sekarang, mencari pekerjaan tidaklah mudah bagi Marni, apa lagi dia hanya hidup sebatang kara. Tidak ada tempat lain baginya untuk mengadu nasib, berhubung usianya juga sudah tidak muda lagi.
Saat taksi yang di tumpangi oleh Marni dan Jelita berhenti cukup lama di pinggir jalan, dari arah belakang, mobil yang di kendarai oleh Javier dan Leon menatapnya curiga.
Seketika Javier dan Leon saling melempar pandang. Dalam diam ternyata mereka mempunyai feeling yang sama. Merasa jika Jelita ada di dalam taksi tersebut.
Tanpa aba-aba dari Javier, Leon pun menghentikan kendaraannya, dengan menyalip dan menghadang taksi tersebut di bagian depan.
Marni dan supir taksi seketika gelagapan, saat melihat kedua lelaki bertubuh tinggi besar keluar dari mobil mewah di depan mereka.
"Siapa mereka?!" Raut wajah Marni memucat.
"Tidak tau, Nyonya!"
Dengan gemetar sang supir pun membuka pintu, lalu keluar dan berdiri di sisi mobilnya.
"Siapa yang kau bawa?!" Javier menatap tajam diiringi dengan ciri khas suaranya yang berat dan keras.
"Se-seorang ibu dan anak perempuannya, Tuan!" Bersusah payah supir taksi itu mengeluarkan suaranya, hingga beberapa kali dia menelan ludah sebelum menjawab.
Javier mengintip dari balik kaca, begitu juga dengan Leon. Hingga detik berikutnya dengan cepat Javier membuka pintu bagian penumpang.
Sungguh terkejut, saat pintu taksi terbuka, tampaklah Jelita yang terkulai lemah dalam pelukan seorang wanita, yaitu Marni.
"Jelita.." Dengan cepat Javier mengambil alih tubuh Jelita dari pelukan Marni. Dia mengangkat dan menggendong tubuh Jelita ala bridal, membawanya keluar dari taksi tersebut.
Jelita sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, raut wajahnya memucat serta suhu tubuh yang terasa dingin.
"Keluar..!!" Leon membentak Marni yang ketakutan, hingga detik berikutnya Marni pun ikut turun dari taksi tersebut.
"Tuan! Saya.."
"Masuk ke mobil!!" Leon tidak memberi kesempatan pada Marni untuk menjelaskan apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
Dengan gelagapan Marni pun ikut masuk kedalam mobil milik Javier.
Supir taksi itu hanya bisa terdiam mengamati kedua penumpangnya yang di paksa pindah ke mobil lain. Dia bahkan tidak berani untuk membela Marni.
Setelah Leon masuk kedalam mobil, dia pun segera menyalakan kembali mesin mobilnya lalu melajukan kendaraannya dengan cepat.
Di dalam mobil, Marni hanya bisa diam membeku. Bahkan mengangkat raut wajahnya saja dia tidak berani.
"Kita kembali ke rumah sakit atau ke rumah, Tuan!"
"Ke rumah saja. Aku ingin dia di rawat di rumah,"
"Baik, Tuan!"
Leon pun tidak bertanya lagi, dengan cepat dia melajukan kendaraannya menuju kediaman Javier.
____________________________
Setelah sampai, Leon terlebih dahulu turun dari mobil. Setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Javier. Javier turun seraya membawa Jelita dalam gendongannya. Sementara Marni, dengan kasar Leon menarik lengannya dan membawanya ikut masuk kedalam rumah.
Adinda sangat terkejut saat melihat Javier datang dengan membawa Jelita dalam keadaan lemah tak berdaya, di sertai dengan Leon yang membawa seorang wanita paruh baya yaitu Marni.
"Ada apa ini?!" Dinda menatap dengan terheran-heran.
"Wanita ini membawa Jelita pergi dari rumah sakit, Ma!" Javier terus melangkahkan kakinya, membawa Jelita hingga naik ke lantai atas, tepatnya kamar Javier yang tak jauh dari kamar Adinda.
"Lalu, siapa dia?!" Dinda mengarahkan pandangannya menatap Marni.
"Aaahh!" Leon mendorong keras tubuh Marni hingga dia tersungkur ke lantai.
"Ma-maafkan saya, Nyonya!" Marni menangis ketakutan. Dia bersimpuh di lantai, memohon belas kasihan dari Dinda.
"Kau siap! Apa hubungan mu dengan gadis itu?! Kenapa kau membawanya pergi?! Kau tidak lihat, bagaimana kondisinya?!" Adinda mendekat, lalu berdiri di hadapan Marni.
"Saya.. Saya pembantu di rumahnya Non Jelita, Nyonya! Saya di suruh untuk membawa Non Jelita pulang!!" Suara Marni bergetar. Dia ketakutan saat menjelaskannya pada Adinda.
Di waktu yang bersamaan, Javier turun dari lantai atas. "Leon! Bawa dia ke gudang," suara Javier terdengar datar dan dingin. Dia menatap tajam kearah Marni yang duduk bersimpuh di lantai.
"Biarkan Leon yang menginterogasinya, Ma! Mama temani Jelita saja,"
Dengan cepat Leon pun memaksa Marni untuk segera berdiri, lalu membawanya pergi menuju ruang bawah tanah.
Hanya isak tangis yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.
"Wanita itu pembantu Jelita. Biarkan dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ibunya Jelita memaksa pembantu itu mengeluarkan Jelita dari rumah sakit. Tidak mungkin jika tidak ada hal lain," Setelah mengatakan itu, Adinda pun melangkah meninggalkan Javier. Dia naik ke lantai dua, menemui Jelita yang berada di kamar Javier.
__ADS_1
Sejenak Javier tertegun. Dia berpikir bahwa apa yang di ucapkan oleh Mamanya ada benarnya juga. Tidak mungkin seorang ibu ingin mencelakai putrinya sendiri jika tidak ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Bersambung...