DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 31# Salah Paham


__ADS_3

Setelah mengetahui Viona adalah adik Jelita, Javier justru menyunggingkan senyum tipisnya. 'Ternyata gadis sialan itu adiknya,'


Javier menertawai dirinya sendiri dalam hati. Ingin membalas perbuatan gadis yang di maksud, tapi justru gadis yang di maksud itu adalah adik dari gadis yang dia sayangi. Benar-benar suatu hal yang membuatnya merasa jadi serba salah.


"Tuan! Seperti yang Bibi ceritakan tadi malam. Viona itu memang adiknya Non Jelita, tapi mereka sama sekali bukan seperti saudara," Marni menimpali. Wanita paruh baya itu mencoba untuk mengingatkan kembali pada Javier, dengan tujuan agar Javier bisa memaklumi sikap Jelita.


"Ya, aku mengerti." Javier kembali mendudukkan bokongnya di sofa.


"Bibi bicara apa dengannya?!" Jelita menatap heran pada Marni, namun detik kemudian Adinda mengeluarkan suaranya sehingga Jelita kembali menoleh.


"Jelita! Kamu sudah salah paham pada Jav. Jav tidak pernah bertunangan dengan perempuan mana pun! Jangankan bertunangan, membawa gadis lain ke rumah ini saja tidak pernah. Justru kaulah satu-satunya gadis yang pernah dia bawa kemari!"


Jelita terdiam, raut wajahnya seketika merona mendengar penjelasan dari Dinda. Sementara Javier, pemuda itu mengulum senyumnya, seraya mengarahkan pandangannya ke arah lain.


'Tapi.. Jelas-jelas tadi malam Viona bilang seperti itu padaku. Kenapa dia membohongi ku!?! Apa maksudnya?!' pikir Jelita dalam renungan nya.


"Ya sudah! Sekarang, lebih baik kalian selesaikan sendiri masalah kalian. Mama juga sudah menjelaskan pada mu, Jelita! Sekarang tinggal bagaimana kalian saja. Yuk Marni, lebih baik kita ke dapur saja. Ngurusin anak muda cuma bikin repot!" Adinda lekas mengajak Marni beranjak dari sana.


Sambil tertawa kecil, Marni lekas mengikuti langkah Dinda. Mereka berdua beranjak pergi dari sana meninggalkan Javier dan Jelita.


Kini, di ruang tengah hanya ada Javier dan Jelita saja yang masih tetap dalam posisi yang sama, duduk di sofa dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


Perlahan, Javier menggeser posisinya, lebih dekat ke posisi Jelita. "Kau cemburu?!" Javier memelankan nada suaranya, menggoda Jelita.


"Cemburu?! Untuk apa aku cemburu?!"


Jelas saja Jelita mengelaknya, mana mungkin dia mau berkata jujur kalau dia menyimpan rasa cemburu di hatinya. Apa lagi saat Viona dengan jelas menyebutkan bahwa Javier adalah calon suaminya.


Walaupun akhirnya Jelita tau jika itu hanyalah bualan Viona saja, namun rasa cemburu yang dia rasakan tetap tidak bisa terelakkan.


Jelita membuang muka, mengarahkan pandangannya kearah samping. Dia tidak ingin menatap raut wajah Javier yang menyebalkan baginya.


"Hahh!" Javier menghela nafasnya sesaat, namun detik berikutnya dia kembali bersuara. "Kalau cemburu! Bilang saja cemburu! Tidak perlu di tutup-tutupi. Atau.. Kau lebih suka jika aku menikahi adikmu, hem?! Kalau kau suka, aku bisa melakukannya untukmu,"


Bukannya berhenti menggoda, Javier malah semakin senang menggoda gadisnya. Tentu saja hal itu membuat Jelita semakin panas mendengarnya, hingga refleks kembali mengarahkan pandangannya kepada Javier.


"Kau..!! Iih! Lakukan saja sesukamu! Aku tidak peduli!!" Jelita merajuk, sambil berusaha untuk berdiri.


Tapi sayang, gerakan Jelita kalah cepat. Javier lebih dulu menahannya dengan memeluk tubuh Jelita dari belakang.


"Aku 'kan cuma bercanda! Kenapa cepat sekali kau marah?!" Javier memelankan nada suaranya, berbicara ke sisi telinga Jelita.

__ADS_1


Bayangkan saja, seperti apa perasaan Jelita saat di peluk oleh Javier, diiringi dengan hembusan nafasnya yang beraroma mint.


Hm! benar-benar memabukkan.


Di ruang tengah itu Javier sibuk merayu gadis yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Anita.


______________________________


Sejak tadi malam, tepatnya saat terakhir kali dia mendapat telpon dari Viona. Gadis itu mengatakan jika Marni membawa Jelita pulang ke rumah mereka. Dan saat itu juga Anita memutuskan untuk kembali ke rumah lamanya.


Namun, hingga pagi menjelang, justru Marni dan Jelita masih belum menampakkan batang hidung mereka.


"Kemana perginya mereka?!" Anita sama sekali tidak dapat tidur. Dia gelisah dan gusar hingga sesekali dia berjalan mondar mandir bak setrikaan baju, sesekali dia mendudukkan bokongnya di sofa.


Raut wajah Anita sudah tampak lusuh. Andai saja Marni dan Jelita ada di hadapannya, dia pasti akan menerkam kedua orang tersebut.


Tapi, detik kemudian tiba-tiba saja dia memikirkan sesuatu hal yang bisa saja terjadi, menurutnya. "Jangan-jangan.. Marni dan Jelita sudah di tangkap oleh orang-orangnya Adinda! Ah, apa yang harus aku lakukan?! Jika kedua orang itu memberitahukan keberadaan ku di sini, mereka pasti akan langsung membunuhku. Lalu bagaimana aku bisa mengambil alih semua harta benda milik Adinda dan putranya?! Aku tidak sudi, jika Viona yang mendapatkannya," Anita bergelut dengan perasaan dan pikirannya yang kacau.


Sinar mentari pagi sudah semakin meninggi, hingga Anita terlelap dengan posisi terbaring di atas sofa. Wanita itu di buat kelelahan menunggu pembantu dan anak gadisnya yang tak kunjung tiba.


_____________________________


Di tempat lain (Hadinata grup)


"Sombong sekali kau ini! Justru kau harus bersyukur setiap hari aku datang kemari. Kau 'kan bisa ada teman ngobrol! Kita ini sudah tua, Yud! Jangan terlalu fokus pada kerjaan! Dibawa santai sajalah," dengan enteng Aldo menyela ucapan Yudha panjang lebar.


Yudha yang sedang merapikan berkas-berkasnya di atas meja, mengangkat sedikit alis tebalnya, mengarahkan pandangannya ke arah Aldo yang duduk berseberangan dengannya.


"Suka-suka hatimu lah. Percuma aku ngomong," Yudha sudah merasa jengah. Sebenarnya kerjaannya banyak, tapi karena Aldo selalu datang untuk mengajaknya mengobrol, maka pekerjaan Yudha pun jadi sedikit tertunda.


"Aku hanya ingin memberitahu mu! Kau sudah dengar belum, berita terbaru tentang Adinda," seketika Aldo menjelma seperti awak media di mata Yudha.


"CK. Mana ku tau! Berita mu belum update mungkin,"


"Ya salam! Kau ini ketinggalan zaman. Khikikik.." Aldo malah tertawa geli mendengar sahutan dari Yudha.


Yudha tertegun menatap Aldo. Dia melepaskan semua berkas yang dia pegang ke atas mejanya, lalu menatap datar kepada Aldo.


"Aku serius, Yud! Kau sudah dengar belum?! Berita penusukan di sebuah Mall. Korbannya seorang gadis, dan ternyata gadis itu kekasih dari putranya Adinda. Itu berarti.. Dia calon menantu Adinda," Begitu hebohnya Aldo menceritakan kejadian itu kepada Yudha.


"Ish.. Ish.. Iish! Kau benar-benar mantap kalau jadi wartawan, Do! Mulai besok, lebih baik kau ubah perusahaan mu menjadi Aldo Communications Entertainment," Yudha melebarkan senyumnya, hingga menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.

__ADS_1


Sementara Aldo, dia menghela nafas jengah saat Yudha menanggapi ucapannya dengan candaan.


Di ruangan itu, Aldo dan Yudha saling melempar candaan. Yudha tidak terlalu serius dalam menanggapi ucapan sahabatnya itu, sehingga berkali-kali Aldo merasa kesal padanya.


______________________________


Di tempat yang berbeda (Kediaman Mario)


Mario yang sedang duduk bersantai bersama dengan kakak dan keponakannya, bergegas meninggalkan mereka. Dia masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya di sana, setelah Javier menghubunginya dan memintanya untuk segera bertemu.


Tak lama setelah itu, Mario pun pergi dengan menyetir sendiri kendaraannya, menuju ke kediaman Adinda.


2 jam kemudian, mobil yang di kendarai oleh Mario pun akhirnya tiba di tempat tujuan.


Dengan santai Mario turun dari mobilnya kemudian melangkah berjalan menghampiri Javier yang sudah menunggunya di depan pintu.


"Bagaimana kabarmu?!" Mario menyapanya dengan ramah.


"Seperti yang kau lihat! Mari masuk,"


Javier pun menggiring Mario untuk masuk bersama dengannya kedalam rumah.


Sebelum Javier menghubungi Mario dan memintanya untuk bertemu, Javier terlebih dahulu membawa Jelita kembali beristirahat di kamarnya. Berhubung kondisi Jelita masih dalam masa pemulihan.


"Kenapa kau ada di sini?! Siapa yang menemani gadis itu di rumah sakit?!" Mario sedikit merasa heran.


"Dia sudah keluar dari rumah sakit. Aku pikir.. Lebih baik jika dia beristirahat di sini, lebih aman," Javier terus melangkahkan kakinya.


"Oya?!" Hanya itu yang keluar dari mulut Mario, diiringi dengan angguk-anggukan pelan kepalanya. Tidak ada yang perlu dia tanyakan lagi, masalah Jelita, tentu Javier lebih tau darinya. Pikir Mario dalam benaknya.


Setelah mereka sampai di ruang pribadi Javier, barulah Mario kembali bersuara, tepatnya setelah Javier mempersilahkannya untuk duduk di sofa.


"Bagaimana dengan rencanamu tempo hari?! Apa kau akan tetap menyuruhku untuk membawa Mama mu pergi?!"


"Untuk itu aku pikirkan lagi. Tapi yang jelas.. Aku masih membutuhkan bantuan mu," Javier mengambil sebotol minuman lengkap dengan 2 buah gelas kosong, lalu diletakkannya di atas meja.


"Ya! Tentu. Lagi pula.. Sekarang ada gadis yang harus kau rawat. Tidak mungkin kau meninggalkannya di sini, bukan?!"


"Kau benar, Tuan! Justru itulah yang aku pikirkan." Javier menuangkan minuman kedalam gelas-gelas kosong tersebut, setelah itu dia kembali bersuara.


"Sebenarnya.. Aku menyuruhmu datang kemari untuk membicarakan tentang asisten mu,"

__ADS_1


Mario mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Viona?! Apa yang gadis itu lakukan sehingga Javier memanggilnya untuk datang menemuinya?! Pikir Mario dalam diamnya.


Bersambung...


__ADS_2