
Jelita benar-benar bingung dan tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Javier.
"Sudah ku katakan, aku akan memberitahu mu nanti." Javier menjeda sejenak ucapannya, tapi detik kemudian dia kembali bersuara. "Dua hari lagi kita akan mengetahuinya, Jelita. Berjanjilah padaku untuk tidak membahas masalah ini dengan siapapun."
"Kenapa?!" tanya Jelita dengan cepat, masih dengan tatapan bingung.
"Masih ada satu orang yang bebas berkeliaran di luar sana. Aku tidak ingin orang itu tau dan menghancurkan semuanya,"
"Si-Siapa yang kau maksud?! Ah, aku benar-benar tidak mengerti." Jelita merasa kesal. Pasalnya, ucapan Javier seperti sebuah teka-teki yang sulit untuk di pahami. Padahal yang di maksud oleh Javier sendiri siapa lagi kalau bukan Viona, putri kandung mendiang Anita yang wataknya hampir sama dengan Anita, salah satunya rakus akan harta, menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan agar bisa hidup bergelimang harta.
Javier tersenyum samar hingga hampir tak terlihat oleh pandangan mata Jelita.
"Sudahlah, nanti kau juga akan tau." Hanya itu yang mampu di jawabnya. Dia harus bisa berhati-hati untuk tetap merahasiakan tentang tes DNA itu dari siapapun, kecuali dokter dan perawat yang menangani Jelita.
Dua hari kemudian.
Tibalah saatnya Javier mengetahui hasil dari tes DNA-nya dengan Jelita.
Sesuai dengan yang di janjikan oleh dokter di rumah sakit tersebut, tepat jam 8 pagi dia keluar dari kamar inap Jelita, tentu dengan tujuan ingin menemui dokter di ruangannya.
Tok, tok, tok..
Baru saja Javier menurunkan tangannya dari daun pintu yang masih tertutup rapat, tiba-tiba saja seorang perawat datang menghampirinya.
Javier yang berdiri di depan pintu pun mengulas senyumnya saat tatapan matanya tertuju pada perawat itu.
"Maaf, Tuan. Anda ingin menemui dokter?!"
"Iya, Sus. Apakah dokter sudah datang?!" ujar Javier sekaligus bertanya.
Dia sudah tidak sabar ingin secepatnya mengetahui hasil tes DNA tersebut.
"Maaf, Tuan! Dokter belum tiba, sepertinya anda harus menunggu sekitar beberapa menit lagi. Mungkin beliau sedang dalam perjalanan," jawab perawat.
Sesaat Javier tertunduk lesu seiring dengan helaan nafasnya yang pelan, namun detik kemudian dia kembali mengangkat wajahnya, mengarahkan pandangannya pada perawat yang berdiri berhadapan dengannya.
"Baiklah, kalau begitu biar aku tunggu di ruangan istriku saja, Sus."
"Silahkan, Tuan! Kalau dokter sudah datang, nanti biar saya yang menyusul Anda ke sana," balas perawat itu.
Javier pun mengangguk dan tersenyum, kemudian lekas berbalik lalu melangkah meninggalkan perawat itu.
Namun saat jarak Javier belum terlalu jauh, tiba-tiba saja terdengar suara perawat tadi memanggilnya dengan nada sedikit meninggi.
Tentu saja dengan cepat Javier menghentikan langkahnya lalu berbalik arah, hingga seketika itu juga tatapannya tertuju pada dokter yang sudah berdiri di depan ruangannya.
"Dokter!" ujar Javier lalu melangkah mendekati dokter yang ingin dia temui itu.
"Maaf, Tuan! Sudah membuat Anda menunggu," ujar dokter sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, Dok! Kebetulan saya juga baru sampai di sini," jawab Javier.
"Baiklah, mari masuk! Sebaiknya kita bicara di dalam."
Dokter pun membuka pintu ruangannya, lalu melangkah masuk kedalam sana diikuti oleh Javier dan seorang perawat yang tadi.
Di dalam ruangan tersebut, sang dokter lekas meminta asistennya untuk memberikan hasil tes DNA milik Javier dan Jelita.
Tak lama kemudian asisten dokter pun memberikannya kepada dokter tersebut.
Javier yang sudah tidak sabaran pun lekas bertanya. "Bagaimana hasilnya, Dokter?!"
"Ini hasilnya, Tuan! Silahkan di lihat sendiri," ujar dokter sambil menyodorkan hasil tes DNA-nya pada Javier.
Javier pun meraihnya lalu membukanya.
Detik itu juga kedua bola mata Javier membulat setelah melihat dan membaca sendiri hasil tes tersebut.
"Jadi, aku dan Jelita tidak ada hubungan darah!" ujar Javier terkejut.
'Lalu, mengapa Anita mengatakan jika aku dan Jelita adalah saudara se'Ayah?! Apakah dia sengaja berbohong untuk menghancurkan rumah tangga ku dengan Jelita?!' gumamnya dalam hati dengan tatapan yang terus tertuju pada lembaran kertas dari hasil tes DNA tersebut.
Javier bergelut dalam pikirannya, sedangkan dokter dan asistennya yang berada di ruangan yang sama terheran-heran menatapnya dengan kening mereka yang mengerut.
Bagaimana tidak, di ketahui jika Javier dan Jelita adalah sepasang suami istri, tapi mengapa seolah Javier ingin lebih memastikan jika mereka adalah saudara. Seperti itulah yang ada didalam pikiran dokter maupun asistennya.
"Seseorang telah berbohong pada ku dan keluarga ku, Dok. Dia mengatakan jika sebenarnya istriku itu adalah adikku. Tapi sekarang, dengan hasil ini aku bisa tau jika orang itu hanya ingin mencari masalah dengan ku," jawab Javier dengan perasaan yang lega.
Sudah tidak dapat di pungkiri lagi, hasil tes DNA tersebut dengan jelas mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Dan itu berarti tidak ada alasan untuk mereka berpisah. Namun sayangnya, kehadiran buah hati yang sempat tumbuh di rahim Jelita kini sudah tidak ada.
Tapi bagaimana pun, Javier berkeinginan untuk segera memberitahu Mommy-nya dan juga yang lainnya.
Hingga 15 menit kemudian, Javier keluar dari ruangan dokter dan bergegas kembali ke kamar rawat inap Jelita.
Sementara didalam ruangan tersebut, Jelita yang di temani oleh Marni segera meminta wanita paruh baya itu untuk mengemasi semua pakaiannya yang masih tertinggal di kediaman Javier.
"Sebaiknya bibi pulang saja, ambil barang-barang kita di sana. Aku tidak ingin pulang kw rumah itu lagi, aku ingin langsung pulang ke Indonesia saja, Bi!" ujar Jelita sedikit memaksakan diri, padahal kondisi tubuhnya masih lemah.
"Jangan sekarang, Non! Keadaan Non belum sembuh total, Non harus banyak istirahat dulu! Setelah itu baru kita pikirkan lagi kapan waktunya kita akan kembali ke Indonesia," balas Marni menolak secara halus.
Baru saja Marni menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu di buka dari luar, hingga Marni pun menoleh kearah pintu, guna melihat siapa yang datang.
Detik kemudian tatapan Marni maupun Jelita langsung bertemu dengan pandangan mata Javier.
__ADS_1
Javier tersenyum smirk pada keduanya, sambil terus melangkah mendekati Jelita yang sedang berbaring di ranjang.
'Kenapa dia terlihat senang?' gumam Jelita, bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati.
Javier dengan santainya duduk di sisi ranjang, di samping Jelita lalu menatap lekat raut wajah Jelita.
"Kau darimana saja?!" tanya Jelita.
"Coba tebak, berita apa yang sedang ku bawa? Kau pasti akan terkejut mendengarnya, Jelita!" balas Javier yang sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu jika dia mengatakannya.
"Berita apa?!" sekilas Jelita dan Marni saling melempar pandangan, namun dengan cepat mereka kembali menatap Javier.
"Kau tau, sebelum kau di operasi, rumah sakit ini kehabisan stok darah. Tidak ada yang cocok untuk golongan darah mu, Jelita. Lalu aku pun berinisiatif untuk mendonorkan darahku untuk mu, karena ku pikir.. Darah kita sama." Javier menjeda sejenak ucapannya, tapi detik kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku terkejut setelah suster mengatakan jika golongan darah ku tidak cocok untuk mu, karena golongan darah kita berbeda. Saat itulah aku berpikir jika sebaiknya kau dan aku melakukan tes DNA. Aku ingin tau apakah benar kita sedarah atau tidak."
Jelita dan Marni yang mendengarnya pun sontak mengerutkan kening sembari saling melempar pandangan.
"Lalu, bagaimana hasilny? Apa hasilnya sudah keluar?!" tanya Jelita kemudian, setelah kembali menatap Javier.
"Sudah, dan ini hasilnya." Javier memberikan hasil tes DNA tersebut kepada Jelita, hingga dengan cepat Jelita pun membuka dan melihatnya.
"Astaga!"
Kedua bola mata Jelita membulat seiring dengan sebelah tangan yang di arahkan untuk menutupi mulutnya.
Sama halnya dengan reaksi Javier, bahkan Jelita pun sontak terkejut mengetahui hasil tes DNA tersebut.
"Ternyata Mama membohongi kita, tapi untuk apa dia berbohong soal ayahku?! Bisa-bisanya Mama mengatakan jika Tuan Jhonatan adalah ayahku, untuk apa?!" Jelita mengarahkan pandangannya menatap Marni yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.
"Ya Tuhan! Jadi apa yang di katakan Nyonya Anita pada Nyonya Adinda itu tidak benar?!" Marni pun ikut terkejut.
"Begitulah," sahut Javier. "Hah! Aku hampir saja mengambil keputusan yang salah. Maafkan aku, sayang!" sambungnya, beralih pada Jelita.
Netra indah Jelita pun mengembun, seiring dengan senyumnya yang gemetar menahan tangis.
"Tapi kita sudah kehilangan anak kita, Jav!" ujar Jelita lirih.
Ada banyak yang menjadi penyesalan dalam hati Jelita, perbuatan ibu kandungnya sekaligus penyebab hilangnya calon anak pertama mereka.
Javier membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan posisinya lebih dekat dengan posisi tubuh Jelita.
"Sudahlah, jangan sesali lagi apa yang sudah terjadi. Paling tidak, sekarang kita sudah tau jika kita berdua bukanlah saudara se-Ayah."
__ADS_1
Bersambung....