
"Oh! Jadi kau sudah punya istri?! Ku pikir kau masih sendiri," ujar gadis yang mirip dengan Viona itu sambil tersipu malu.
"Ya, aku sudah mempunyai istri, bahkan istriku saat ini sedang mengandung anak kami. Jadi maaf, aku tidak bisa lama-lama meninggalkannya, permisi."
Javier tidak tertarik untuk berlama-lama berbicara dengan gadis di hadapannya itu. Dengan cepat dia lekas beranjak dari tempatnya berdiri.
Namun dengan cepat pula gadis itu menahan pergelangan tangan Javier.
"Ayolah, Tuan! Tidak baik menolak niat baik orang lain, apa lagi seorang wanita. Hanya sebentar saja, setelah itu kau boleh kembali ke kamar mu," gadis itu membujuknya dengan lembut.
Sejenak Javier menghela nafasnya, namun setelah itu dia kembali bersuara. "Baiklah, 5 menit, tidak lebih."
"Haha.. Kau yakin bisa menghabiskan minuman mu dalam waktu 5 menit?! Tapi baiklah, paling tidak, aku senang kau mau menerima niat baik ku. Ayo! Silahkan ikuti aku."
Gadis itupun lekas mengarahkan Javier menuju diskotik yang terdapat di salah satu lantai di hotel tersebut.
Sesampainya mereka di sana, gadis itu memilih salah satu meja khusus untuk mereka duduki sambil menikmati minuman tentunya.
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
Gadis itu meninggalkan Javier untuk beberapa saat, tapi tak lama kemudian dia kembali lagi.
Bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawakan sebotol minuman yang sudah di buka segelnya, lengkap dengan dua buah gelas kosong.
"Terimakasih," ujar gadis yang belum di ketahui namanya itu saat pelayan meletakkan botol minuman beserta gelas ke atas meja.
Setelah pelayan itu pergi, gadis itupun membuka penutup botol lalu menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas.
"Ayo, minumlah." Gadis itu memberikan segelas minuman tersebut pada Javier, dan segelas nya lagi untuk dirinya sendiri.
Javier tak banyak bicara, dan tak ada sedikitpun kecurigaan terhadap gadis itu. Dengan cepat dia meneguk minumannya hingga habis tak tersisa.
Javier memang sudah terbiasa dengan segala jenis minuman beralkohol. Hingga tanpa ragu dia menghabiskannya. Baginya, hanya dengan segelas saja itu tidak bisa membuatnya mabuk. Pikir Javier.
Melihat gelas milik Javier telah kosong, gadis itu tersenyum puas. Pasalnya, dia sendiri sama sekali tidak meneguk minumannya, melainkan hanya menyentuhkannya sedikit pada bibirnya saja.
"Tidak ku sangka, kau benar-benar lelaki hebat. Kau menghabiskannya hanya dalam waktu sekejap," seru gadis itu.
Javier menyunggingkan senyum tipisnya, seraya menjawab singkat. "Ini belum seberapa."
Merasa waktunya bersama gadis itu sudah lebih dari 5 menit, Javier pun segera beranjak berdiri. Bermaksud ingin segera kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Tapi entah kenapa, saat Javier baru saja berdiri dan ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Bersamaan dengan itu, suhu tubuhnya terasa panas dan tenggorokannya pun terasa kering.
Javier kembali duduk di sofa, karena pandangan matanya tiba-tiba buram. Bahkan dalam sekejam hasratnya memuncak, hingga sulit di kendalikan.
"Aaarrgh!" Javier mengerang, menahan gejolaknya yang memburu.
Bersamaan dengan itu, gadis yang duduk berseberangan dengannya pun lekas berdiri lalu mendekati Javier.
"Kau kenapa, Tuan?!" Dia berpura-pura panik. Padahal, dalam hatinya dia bersorak gembira.
Ternyata gadis itu telah menyuruh pelayanan diskotik tersebut untuk menambahkan sesuatu pada minuman mereka.
"Aaarrgh! Kenapa, rasanya seperti ini?!" Javier meremas kuat rambutnya. Dia semakin kesulitan menahan nafsunya, dan detik kemudian, saat dia menatap gadis itu, tiba-tiba dalam sekejap gadis itu berubah menjadi Jelita, istrinya.
Javier mengedip-ngedipkan sejenak matanya, memastikan agar penglihatannya tidak salah. Tapi sayangnya, wajah gadis itu tetap sama, hingga Javier mengira bahwa gadis itu benar-benar Jelita.
"Sayang, aku.. Aaarrgh!"
"Kau kenapa, sayang?! Ayo ku bantu, kita ke kamar saja."
Seolah mendapatkan keberuntungan yang besar, dengan semangat gadis itu memapah tubuh Javier, membawanya pergi dari sana.
Tapi sebelum itu, dia menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke bawah botol minuman terlebih dahulu, baru etelah itu dia pergi bersama dengan Javier.
Bersamaan dengan itu, suara deringan ponsel milik Javier yang berada didalam saku celananya terus berbunyi.
Dari kamar yang berbeda, saat Jelita terbangun dari tidurnya, tiba-tiba saja pandangan matanya tidak mendapati sosok suaminya berada didalam kamarnya tersebut.
Jelita mengamati seluruh ruang kamar yang luas dan besar itu. Suasananya sangat sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda kehadiran Javier.
Jelita bergegas turun dari ranjang, bermaksud mencari suaminya didalam kamar mandi yang ada di kamar itu.
Namun nihil, setelah dia membuka pintu kamar mandi, ternyata Javier tidak ada didalam sana.
"Kemana perginya dia?! Kenapa tidak membangunkan ku?!" Jelita menggumam sendirian, seraya melanjutkan langkahnya menuju tas kecil miliknya yang tergeletak di atas meja.
Jelita mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tersebut, kemudian mencari nomor kontak Javier yang tertera pada layar ponsel.
Begitu di dapatinya, dia pun segera mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah menggeser tombol berwarna hijau.
Detik bersamaan, sambungan telepon pun berdering, menandakan bahwa nomor kontak Javier sedang aktif. Tapi berkali-kali Jelita menghubunginya, tetap tidak ada sambutan dari nomor kontak Javier.
__ADS_1
Hal itu tentu membuat Jelita semakin gelisah.
Tapi belum lama dia menutup sambungan teleponnya, detik bersamaan sebuah notifikasi pesan masuk pun tertera pada layar ponsel.
Jelita segera membukanya, lalu membaca pesan itu.
DATANGLAH KE KAMAR NOMOR 112, SUAMIMU ADA BERSAMAKU.
Deg
Detak jantung Jelita seakan berhenti berdetak seiring dengan kedua bola matanya yang membulat, setelah membaca pesan tersebut.
Dengan gemetar dia bergegas keluar dari kamarnya, lalu melangkah dengan cepat menuju kamar yang telah diberitahukan.
Sementara didalam kamar dengan nomor 112, Javier dengan beringasnya mencumbu tubuh gadis itu yang sudah sama-sama dalam keadaan bertelan*ang dada.
Dia menc*um setiap inci tubuh gadis itu, mulai dari bibir, hingga turun ke leher serta bagian dada gadis itu yang bulat, besar dan kenyal, sampai meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Gadis itu menggeliat nikmat.
"Aakh! Sayang."
"Ssst! Ya, di situ."
"Uuh! Enak."
Suara desa*an lembut yang keluar dari mulut gadis itu terdengar hingga ke sisi telinga Jelita.
Saat Jelita mendapati kamar dengan nomor 112, dengan cepat dia mengarahkan tangannya menekan handle pintu. Bersamaan dengan itu, daun pintu itupun perlahan terbuka.
Gadis itu sengaja tidak mengunci pintu kamar tersebut, demi menjalankan rencananya untuk membuat Jelita dengan mudah memergoki mereka.
Alhasil, saat daun pintu sedikit terbuka, sontak saja kedua bola mata Jelita membulat, saat mendengar suara desa*an milik seorang wanita.
Dengan cepat Jelita membuka kasar daun pintu tersebut.
BRAKKK
Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Seorang istri yang sedang mengandung, mendapati suaminya dalam keadaan telan*ang dada bersama seorang wanita.
Hati Jelita hancur berkeping. Di depan matanya Javier mencumbu tubuh wanita lain, di atas ranjang yang sudah terlihat sangat berantakan.
__ADS_1
Bersambung...