DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 11# Kedatangan Mario Di Markas Javier


__ADS_3

_________________________________


Sementara di markas mendiang Jhonatan, tepatnya markas yang sekarang menjadi milik Javier, sang putra tunggal.


Javier menunggu kedatangan para orang-orangnya yang akan datang hari ini. Sesuai dengan perintahnya, para anak buah Javier yang masih berada di negara Belanda pun segera terbang ke tanah air.


"Nanti malam kita adakan rapat, beritahu yang lain agar semuanya berkumpul. Jangan sampai ada satu orang pun yang tidak hadir di sini,"


Di dalam ruangan yang biasa dia gunakan sebagai masker perkumpulan bersama orang-orangnya, Javier duduk dengan posisi kedua kaki diangkat keatas, menyilang lurus di atas mejanya. Sementara pundaknya, dia sandarkan di badan kursi kebesarannya.


Dia berbicara dengan raut wajahnya yang dingin dan datar kepada beberapa orang-orangnya. Tak ada satupun diantara mereka yang berani membantah ucapannya.


Javier sang pewaris semua harta kekayaan Jhonatan, kini bak seorang mafia yang paling disegani dan ditakuti. Dia meneruskan semua bisnis Jhon, yang ilegal maupun non ilegal.


Walaupun usianya masih terbilang cukup muda untuk menjadi seorang pemimpin, tapi karena sifat dan karakternya tidak jauh berbeda dengan sang ayah, tentu hal itu tidak membuatnya kesulitan dalam mengurusi semua aset perusahaan milik mendiang ayahnya, Jhonatan.


Javier berpegang teguh pada komitmennya untuk tetap berjuang dan mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi miliknya, termasuk kebahagian Adinda, sang Mama yang sangat dia cintai.


*****


Beberapa jam kemudian.


Saat yang di tunggu-tunggu pun tiba, beberapa buah mobil sport berwarna hitam datang beriringan memasuki pekarangan rumah mewah yang kini sudah menjadi milik Javier dan Dinda.


Mereka yang berada di dalam mobil itu pun satu persatu keluar lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Silahkan masuk, Tuan muda sudah menunggu kalian," ujar salah seorang anak buah Javier yang lain.


Mereka yang baru tiba pun segera menuju ruangan yang di maksudkan, tempat di mana Javier saat ini berada.


"Zack..!"


Adinda melangkah cepat menghampiri saat pandangannya mendapati sosok yang sangat dia kenali.


"Hai Din, bagaimana keadaan mu di sini?!" Zack menatap ke arah Dinda hingga wanita itu berdiri berhadapan dengannya.


Dinda mengulas senyum singkatnya. "Lebih baik kau temui putraku dulu, nanti saja kita bicara. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," Dinda memelankan nada suaranya.


Zack pun membalas senyum Dinda sesaat. "Oke, baiklah."


Setelah berkata seperti itu, Zack segera melanjutkan kembali langkahnya menuju ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan.

__ADS_1


Namun baru saja beberapa langkah dia meninggalkan Adinda, tiba-tiba Zack berbalik saat terdengar suara keributan di luar rumah.


"Apa yang terjadi?!" Zack kembali menghampiri Adinda dan lekas bertanya.


"Entahlah, sepertinya ada seseorang yang memaksa masuk," Dinda mengarahkan pandangannya ke sana kemari dari tempatnya berdiri, bermaksud ingin mengetahui lebih jelas apa yang terjadi di luar sana.


Mendengar itu Zack pun segera melangkahkan kakinya, menuju kearah sumber suara.


"Hei..!! Ada apa ini ribut-ribut..?!" Suara Zack terdengar keras dan lantang di telinga semua orang yang berada di pekarangan rumah.


Di sana, terlihat sebuah mobil sport berwarna putih terparkir tak jauh dari mobil yang di kendaraan oleh Zack tadi.


Zack menatap tajam kala tatapannya mendapati sosok Mario.


"Mario Hadinata.." ucapnya dengan sangat pelan, hingga tak terdengar oleh siapapun.


Para orang-orang Javier ternyata sedang menghadang Mario, mereka tidak mengizinkan Mario untuk masuk menemui Javier. Namun Mario tetap bersikeras, memaksa untuk bisa masuk ke dalam sana.


****


Mendengar suara keras Zack, Mario dan juga beberapa orang anak buah Javier pun mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


"Tuan.. Dia memaksa ingin masuk!" ujar salah satu dari mereka yang menghadang Mario.


Adinda meninggikan nada suaranya. Merasa Zack lama terdiam, wanita itupun menghampiri Zack. Dan ternyata pandangan matanya mendapati sosok Mario yang di hadang oleh beberapa orang anak buah putranya, Javier.


"Adinda.." Zack menoleh kearah Adinda yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


Adinda pun membalas tatapan mata Zack. "Apa kau juga akan melarangnya?! Dia tidak ada hubungannya dengan Anita, jadi untuk apa kalian melarangnya?!"


Zack menyeringai menanggapi ucapan Adinda. "Aku tidak punya hak untuk melarang, dia masa lalu mu bukan?! Tapi putramu.. Apa kau yakin putramu akan mengizinkannya untuk masuk ke dalam, hm?! Berdoalah, semoga dia bisa kembali pulang dengan utuh,"


Setelah mengatakan itu Zack pun memilir pergi. Dengan langkah cepat dia meninggalkan Adinda dan memilih untuk segera menemui Javier.


Adinda tidak membalas ucapan Zack. Setelah Zack pergi, dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah para anak buah Javier.


"Hei..!! Kenapa kalian diam saja..?! Aku bilang biarkan dia masuk..!!"


Dinda kembali berteriak keras seraya menatap mereka satu persatu.


Tanpa ada yang berani membantah, mereka pun akhirnya perlahan menyingkir dari Mario, dan membiarkan Mario begitu saja melangkahkan kakinya hingga mendekat ke arah Dinda yang berdiri di teras rumah.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mengizinkan ku masuk," Mario tersenyum menatap raut wajah Dinda. Wajah yang sangat dia rindukan tentunya.


"Tidak perlu berterimakasih. Maaf, jika sudah membuatmu tidak nyaman," Dinda melemahkan nada suaranya.


"Tidak apa-apa! Aku ke sini.. Justru ingin bertemu dengan putramu. Apa dia ada di dalam?!"


Deg


'Ingin bertemu Javier?!' Dinda seketika membatin. Detak jantungnya seakan berhenti berdetak saat mengetahui jika Mario ingin menemui putranya.


"U-untuk apa kau menemuinya?! A-apa.. Apa putraku ada masalah dengan mu?!" Dinda gelagapan. Terlintas di dalam pikirannya, apakah Mario ingin bertemu dengan Javier untuk membicarakan soal hubungan masa lalu mereka?!


Tidak dapat di bayangkan oleh Dinda, bagaimana dan seperti apa tanggapan Javier jika hal itu sampai terjadi.


"Dinda.. Hei, apa yang kau pikirkan?!" Mario melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Dinda.


Dinda yang saat itu sedang dalam pikiran yang kacau, sontak tersadar.


"Ah, iya maaf,"


"Kau sedang memikirkan apa?!"


"Ti-tidak ada, tidak ada yang aku pikirkan," Dinda menggeleng cepat, lalu berusaha untuk tenang, namun raut wajahnya seketika memucat.


"Kau sakit?! "


"Aku.. Aku baik-baik saja,"


Mendengar itu Mario menjadi sedikit lega, seraya mengulas senyumnya. "Syukurlah kalau begitu. Apa sekarang aku bisa bertemu dengan putramu?!"


Dinda mengangguk sedikit, sebagai jawaban jika dia mengizinkan Mario untuk bertemu dengan Javier. Tapi di balik itu, timbul perasaanya yang tidak menentu.


"Mario.. " Nada suara Dinda melemah, dia menahan lengan Mario, seraya menatap penuh tanya di benaknya.


Mario membalas tatapan mata Dinda, kemudian mengarahkannya kepada lengannya yang di pegang oleh Dinda.


"Apa kau tidak ingin aku bertemu dengan putramu?!" Mario kembali menatap Dinda.


"Ada keperluan apa Anda mencari ku, Tuan Mario Hadinata?!" Tiba-tiba saja suara Javier terdengar dingin dan datar.


Mario dan Adinda pun sontak menoleh secara bersamaan ke arah Javier yang berjalan menghampiri mereka. Dan dengan cepat Dinda melepaskan lengan Mario.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2