DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 25# Jelita Siuman


__ADS_3

Javier mematahkan tangan pemuda itu dengan keras, hingga suara erangan pemuda itupun menggema di seluruh ruang bawah tanah.


Pemuda itu menangis, merasakan sakit yang teramat sakit pada pergelangannya yang patah.


Di saat yang bersamaan, tepatnya pada saat Javier menyebut Jelita adalah kekasihnya, seketika membuat yang lainnya menaikkan sebelah alis mereka.


'Ternyata gadis itu kekasih Tuan muda Jav.' Seseorang menggumam dalam benaknya.


Tak lama setelah itu, suara Javier yang keras terdengar kembali. "Siapa yang menyuruhmu?! Katakan..!! Siapa yang menyuruhmu...?!" Javier membentaknya.


"Aku.. Aku.." Pemuda itu gelagapan, sehingga membuat Javier semakin memanas.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu untuk mencelakai Mama ku, hah..?!"


***BUKKK!!! BUKKK!!! BUKKK!!!***


**AAARGH!!!***


Pemuda itu kembali mengerang saat Javier memberi bogeman mentah ke wajah hingga daerah bagian perutnya.


Pemuda itu pasrah, tidak ada kekuatan untuk mengelak, apa lagi melawan.


Javier masih belum puas dengan hanya menghajarnya saja. Dia berputar melangkah kearah belakang pemuda itu, lalu dengan cepat dia mengarahkan kedua tangannya menekan bagian leher.


"Tolong.. Jangan bunuh aku.."


**KRAAKKK**


"AAAAKHH!!"


Dalam hitungan detik pemuda itupun terkulai tak bernyawa. Javier menghabisinya dengan mematahkan leher pemuda tersebut.


Sesaat, Javier menatapnya dengan puas, hingga senyum seringainya pun terukir dari sudut bibirnya.


Para anak buahnya yang berada di sana saling melempar pandangan, begitu juga dengan Zack. Di mata Zack dan yang lainnya, Javier memang lebih ganas dari mendiang Jhon, dia menghabisi nyawa musuhnya tanpa ampun.


Bagi Javier, tak ada belas kasihan pada orang yang sudah membahayakan nyawa orang-orang yang dicintainya.


"Bereskan mayatnya. Buang dia ke penangkaran anjing-anjing lapar," Dia memilir pergi, melangkah dengan santai keluar dari ruangan itu.


Orang-orangnya pun bertindak cepat, mereka segera membersihkan tempat itu dan membuang mayat pemuda tersebut sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Javier.


_____________________________


Di rumah sakit.


Saat Dinda dan Mario sedang mengobrol bersama dengan Aldo, bersamaan dengan itu beberapa orang perawat tampak sibuk keluar masuk ke ruang ICU. Tak lama, seorang dokter pun datang dan masuk ke sana.


Dinda menjadi cemas, seraya beranjak berdiri dari duduknya. "Ada apa ini?!"


Mario dan Aldo pun ikut berdiri. "Apa yang terjadi dengan gadis itu?!" Mario melangkah mendekati kaca, melihat Jelita dari luar ruangan, begitu juga dengan Aldo dan Dinda yang ikut melihatnya dari balik kaca.


Di sana, tampak Jelita yang sedang di tangani oleh dokter dan beberapa orang perawat. Namun setelah beberapa menit kemudian, dokter dan satu orang perawat keluar dari ruangan itu.


"Dokter.. Apa yang terjadi?!" Dinda dengan cepat menghadang dokter tersebut.


Dokter itu tersenyum singkat, kemudian lekas menjawab. "Pasien sudah melewati masa kritisnya,"


"Hahh..!! Syukurlah kalau begitu," Dinda menghela nafas, merasa lega setelah mendengar ucapan dokter, begitu juga dengan Mario dan Aldo.


"Apakah saya boleh masuk ke dalam, Dok?!"


"Tentu Nyonya! Tapi jangan lama-lama, karena pasien harus istirahat, sebelum dia di pindahkan ke kamar inap,"


"Iya Dokter, terimakasih!"


Setelah dokter dan perawatnya pergi, Dinda terlebih dahulu mengarahkan pandangannya kepada Mario, bergantian kepada Aldo.

__ADS_1


"Masuklah," ujar Mario seraya mengulas senyum singkatnya.


Dinda mengangguk, kemudian dia pun segera masuk ke ruang ICU. Sementara Mario dan Aldo, mereka tetap menunggunya di luar ruangan.


Di dalam sana, terlihat Jelita yang sudah bisa membuka matanya. Dua orang perawat juga masih berada di sana sambil memeriksa alat-alat medis yang masih terpasang di bagian-bagian tubuh Jelita.


Dinda melangkah perlahan mendekatinya, seraya tersenyum lebar. "Hai.. Syukurlah kau sudah sadar," Dinda mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita, kemudian mengecup lembut kening gadis itu.


"Terimakasih kau sudah menyelamatkan ku, Nak! Aku berhutang budi padamu,"


Jelita hanya bisa tersenyum samar seraya mengangguk sedikit sebagai jawaban.


"Nyonya! Maaf, pasien jangan di ajak bicara terlalu banyak. Kondisinya masih belum stabil,"


"Iya, maaf Sus!" Dinda menjauhkan sedikit wajahnya, namun detik kemudian dia kembali mendekatkan wajahnya, seraya berbisik ke sisi telinga Jelita.


"Sayang, Tante keluar dulu ya..! Kau istirahat saja, jangan terlalu banyak berpikir. Tante akan segera menghubungi Jav," Dia kembali mengecup lembut kening Jelita. Setelah itu dia pun keluar dari ruangan tersebut.


Saat Dinda keluar, dia sudah di sambut oleh Mario yang langsung bertanya padanya. "Bagaimana kondisinya?!"


"Kondisinya sudah lebih baik, tapi dia masih harus beristirahat, tidak boleh terlalu banyak di ajak bicara,"


"Iya, benar kata dokter tadi. Paling tidak.. Kita harus menunggu sampai dia di pindahkan,"


Dinda mengangguk seraya tersenyum kecil. "Aku ingin menghubungi Jav," Dinda melangkah mendekati kursi yang tadi dia duduki. Kemudian dia membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan ponselnya di sana.


Dinda bergegas menghubungi Javier untuk memberitahukan berita baik tentang kondisi Jelita saat ini.


"Halo, Ma!" Suara lembut Javier terdengar dari seberang telepon.


"Sayang, kau dimana?! Cepatlah datang kemari, Jelita.."


"Jelita kenapa?!"


Belum sempat Dinda melanjutkan ucapannya, Javier lebih dulu menyela dengan penuh kekhawatiran.


"Dia sudah siuman,"


"Apa?! Baiklah, aku akan segera ke sana,"


Javier sangat senang mendengarnya, hingga dengan cepat dia memutus panggilan telepon begitu saja. Tentu dia sudah tidak sabar ingin menemui Jelita.


_______________________________


Di kediamannya, Javier terlihat begitu semangat. Seolah lupa dengan apa yang sudah terjadi, dengan cepat dia melangkah berjalan keluar dari rumah.


"Kau mau kemana Tuan muda?!" Zack mengejar langkahnya.


"Ke rumah sakit, Jelita sudah sadar," Javier melangkah masuk kedalam mobilnya, diikuti oleh Zack.


Namun saat Zack ikut masuk, Javier malah melarangnya. "Paman, sebaiknya kau tetap di sini. Awasi mereka yang mengurusi mayat itu. Aku tidak mau mereka meninggalkan jejak sedikitpun,"


"Ya.. Baiklah kalau begitu," dengan berat hati Zack kembali turun dari mobil.


Setelah itu Javier pun menjalankan mobilnya. Dia menyetir sendiri dan melajukan kendaraannya dengan cepat, menuju rumah sakit tempat Jelita di rawat.


Sesampainya dia di sana, Javier bergegas turun dari mobilnya lalu berjalan dengan cepat menuju ruang ICU.


Bersamaan dengan itu, merasa kondisi Jelita semakin membaik, para perawat pun mengeluarkannya dari ruang ICU, lalu memindahkannya ke kamar inap.


Saat Javier tiba, sudah tampak di depan matanya para perawat mendorong Hospital Bad yang di gunakan Jelita, bersama dengan Adinda, Mario dan juga Aldo yang ikut mengantarnya.


Dinda berjalan tepat di samping hospital bad, seraya memegangi lengan Jelita.


Javier perlahan mendekat, seraya menatap lekat raut wajah Jelita. "Mau di bawa kemana Ma?!" Dia mengalihkan pandangannya kepada Adinda.


"Di pindahkan ke kamar inap. Mama sudah memesan kamar FIF untuknya,"

__ADS_1


"Baguslah,"


Javier terus melangkah mengiringi Jelita, begitu juga dengan yang lainnya.


Setelah sampai di kamar inap yang sudah di siapkan untuk Jelita, gadis itupun di pindahkan ke tempat tidur yang terdapat di ruangan itu.


"Nyonya! Ini resep obatnya, tolong di tebus.Sebentar lagi waktunya Nona Jelita minum obat," Dokter memberikan resep obat pada Dinda.


"Baik dokter!" Dinda pun meraihnya.


"Sini Ma, biar aku saja," dengan cepat pula Javier mengambilnya dari tangan Adinda.


Dari arah lain, Mario menaikkan sebelah alisnya mengamati gerak-gerik Javier. Di mata Mario, ternyata pemuda itu mempunyai sifat dan kepribadian ganda. Kasar dan dingin pada orang yang sengaja berbuat masalah dengannya, namun dia juga bisa lembut dan penyayang pada orang yang dia sayangi.


Saat Javier keluar dari ruangan itu, Mario dan Aldo pun berpamitan pada Dinda. Merasa keadaan Jelita sudah membaik, maka mereka memutuskan untuk segera pulang.


"Kalau ada apa-apa, hubungi aku,"


"Iya, terimakasih kau sudah mau menemani ku di sini. Maaf sudah merepotkan mu," Dinda mengantar Mario dan Aldo keluar dari kamar inap tersebut.


"Tidak perlu sungkan.. santai saja dengan ku," sesaat Mario mengulas senyumnya, tapi detik kemudian dia kembali bersuara. "Sebenarnya.. Malam ini aku ingin mengajakmu makan malam. Tapi.. berhubung kau lagi ada masalah seperti ini.. Jadi ku putuskan lain kali saja,"


Dinda mengulum senyumnya sesaat mendengar itu. "Kau ingin mengajakku diner?!"


Mario mengangguk seraya menjawab kemudian bertanya. "Ya.. Begitulah. Kau mau 'kan, jika nanti kita makan malam berdua?!"


Lagi-lagi Mario membuat Dinda tersenyum. "Ya.. Tentu!"


"Ehm!" Aldo memberi kode dengan suaranya, membuat Mario dan Dinda tersadar jika ada Aldo yang mendengar pembicaraan mereka.


Dinda pun tersenyum seraya melirikkan sesaat matanya kearah Aldo.


"Ya sudah, Din.. Aku permisi dulu ya!"


"Iya.. Hati-hati di jalan.." Dinda kembali menatap Mario.


"Aku juga Din, sampai ketemu lagi,"


"Iya, makasih ya.. Pak Aldo,"


"Masih aja panggil bapak, Aldo ajalah," sela Aldo.


Dinda tertawa kecil saat Aldo menolak di panggil dengan sebutan bapak. Mungkin bagi Aldo, wajar jika dulu Dinda memanggilnya dengan sebutan bapak, tapi sekarang Adinda sudah bukan bawahannya lagi, melainkan rekan bisnisnya juga.


Tak ingin mengulur waktu, Mario dan Aldo pun segera pergi meninggalkan Adinda di sana. Sedangkan Adinda, dia memutuskan untuk kembali masuk menemani Jelita.


Berhubung dokter dan para perawat sudah keluar dari ruangan itu, maka hanya ada Dinda seorang yang menemani Jelita.


"Nyonya..! Sekarang sudah jam berapa..?!" Suara Jelita terdengar pelan dan lemah.


"Sekarang sudah hampir jam 8 malam. Kenapa?! Apa kau ingin sesuatu?!" Dinda mendekatinya.


"Aaakh.. Aku.. Aku harus pulang.." Jelita ingin beranjak bangun, namun dia sedikit kesulitan akibat lukanya di bagian perut.


"Eh, jangan.. Kondisi mu masih belum sembuh total. Kau masih harus di rawat untuk beberapa hari.." Dengan cepat Dinda melarangnya untuk bergerak.


"Tapi, Nyonya.."


Jelita yang baru sadar jika dirinya sudah lama meninggalkan rumah, seketika dia merasa takut Mamanya pasti akan memarahinya jika dia pulang nanti. Pikir Jelita.


Bersamaan dengan itu, Javier datang. Dia masuk begitu saja setelah mendapatkan obat-obatan untuk Jelita.


"Ada apa?!" Dengan cepat Javier bertanya saat mendengar suara Jelita.


"Jav! Dia ingin pulang,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2