
"Iya, Jav! Anita adalah ibu dari Jelita," jawab Dinda meyakinkan.
Javier tak menjawabnya, pemuda itu dengan cepat melangkah keluar dari kamar tersebut. Bahkan tanpa meninggalkan sepatah katapun dia langsung memilir pergi begitu saja.
Dinda dan Mario dengan cepat mengejarnya, hingga ikut keluar dari kamar mereka.
"Jav..!!" teriak Dinda, namun Javier dengan cepat masuk kedalam sebuah taxi yang berhenti tepat di depan rumah itu.
"Sayang, ayo cepat ikuti dia," ujar Dinda pada Mario kemudian.
Mario pun dengan cepat pula berjalan menuju mobilnya, diikuti oleh Dinda.
"Tambah lagi kecepatan mu!" sergah Javier pada supir.
"Ini sudah lebih cepat, Tuan! Aku tidak bisa mengambil resiko," balas lelaki itu dengan raut wajah yang ketahuan.
Tatapan mata Javier sangat tajam, bahkan terlihat seperti mata elang yang ingin menerkam mangsanya. Terlihat dari pantulan kaca spion.
"Turuti saja perintah ku!! Jika kau masih ingin hidup," bentaknya lagi.
"I_ Iya, baik, Tuan."
Lelaki itu pun segera menambah laju kendaraannya, dengan sangat cepat. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki yang duduk di kursi kemudi itupun menghentikan laju kendaraannya tepat di depan kediaman Mike, sesuai dengan arahan dari Javier.
Javier pun memberikan sejumlah uang yang cukup banyak kepada supir taxi tersebut.
"Ini bagianmu, cara menyetir mu cukup bagus," ujar Javier seraya menepuk pundak lelaki itu. "Lain kali usahakan lebih cepat lagi," lanjutnya kemudian, lalu lekas membuka pintu dan turun dari taxi tersebut.
Setelah taxi itu pergi, Javier pun melangkah berjalan menuju rumah Mike.
Bersamaan dengan itu, mobil yang di kendarai oleh Mario pun tiba, dan berhenti tepat didepan gerbang.
Sejenak Javier menoleh kearah mobil milik Mario, tapi detik kemudian dia kembali melangkah, masuk kedalam rumah.
Saat langkah kakinya sudah berada didalam rumah, dia pun sudah di sambut hangat oleh Mike dan beberapa orang-orang anak buahnya.
"Selamat datang, Mr. Jav!" ujar Mike.
"Dimana kedua wanita tidak berguna itu?!" balas Javier yang langsung bertanya.
"Haha, kau sudah tidak sabar rupanya," ujar Mike di sela tawa kecilnya.
"Bawa kedua wanita itu kemari!" titahnya pada para orang-orangnya dengan suaranya yang lantang.
__ADS_1
Beberapa dari mereka yang berada di sana pun lekas melaksanakan perintah dari bos mereka.
Bersamaan dengan itu, Mario dan Dinda pun masuk.
"Jav!"
Dinda menghampiri Javier lalu berdiri di samping pemuda itu.
"Untuk apa kalian mengikuti ku?!" tanya Javier tanpa menoleh. Bersamaan dengan itu Mike pun menyapa Mario dengan ramah.
"Wah! Kebetulan sekali kau datang, Mr. Mario!" ujar Mike.
"Bagaimana dengan wanita itu?!" balas Mario dengan cepat.
"Sebentar lagi kalian akan melihatnya sendiri."
Baru saja Mike berkata seperti itu, beberapa orang lelaki yang bertubuh tinggi besar pun keluar dengan membawa serta kedua wanita yang mereka maksud, yaitu Rebecca dan Anita.
"Lepaskan aku, brengsek!!" ujar Anita meronta.
Tapi detik kemudian Anita dan Dinda sama-sama terperangah saat tatapan mata mereka saling tertuju.
"Anita.."
"Kau, memang wanita sialan, Adinda!! Kau wanita pembawa sial!! Kau merebut Jhon dari ku!! Dan sekarang, kau merebut putriku!!" cecar Anita dengan suara kerasnya.
"Hahahahaa... " Anita malah tertawa lebar, hingga tubuhnya bergetar, dengan posisi tangan tangan yang terikat ke belakang.
Tidak ada ketakutan sedikitpun yang terlihat dari raut wajah hingga tatapan matanya, walaupun Javier sudah membentaknya dengan keras.
"Aku sudah menunggu kesempatan ini sejak lama." Javier menyunggingkan seringainya seraya menatap tajam saat posisinya lebih dekat, berhadapan dengan Anita.
Sementara yang lain, mereka semua terdiam mengamati keduanya.
"Seperti ini kah caramu menyambut ibu mertuamu, menantuku?!" ujar Anita menggoda, diiringi dengan tawa liciknya.
"Cih! Betapa mirisnya Jelita mempunyai ibu seperti mu!! Kau tidak pantas di sebut sebagai ibu!! balas Javier setelah membuang ludah.
Javier benar-benar geram melihat sikap Anita yang tidak tau malu, bahkan mendengar Anita menyebut dirinya sebagai ibu mertua saja sudah membuat Javier muak.
"Mike!" panggil Javier dengan suara keras, sambil merentangkan telapak tangan kanannya.
Mike yang mengerti pun lekas mengeluarkan senjata apinya yang dia selipkan di pinggang, lalu dengan cepat pula dia memberikan senjatanya kepada Javier.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat siapa saja yang melihatnya akan terkejut hingga bola mata mereka membulat, terkecuali Mike dan orang-orangnya.
Dengan cepat Javier mengarahkan senjata api yang dia pegang itu tepat ke kening Anita, hingga berhasil membuat Anita ketakutan dengan raut wajah memucat.
"Tidak!! Kau tidak bisa membunuh ku!!" teriak Anita dengan suaranya yang bergetar.
"Kau yakin?!" balas Javier seraya menaikkan sebelah alis tebalnya diiringi dengan senyum miring.
"Jav!" suara Dinda pun terdengar, tapi itu sama sekali tak merubah keputusan Javier untuk tidak menurunkan senjatanya.
"Kau harus membayar nyawa ayahku dengan nyawa mu!" ujar Javier.
Sesuatu dengan janjinya pada mendiang Jhonatan, Javier akan menghabisi nyawa Anita dengan tangannya sendiri.
"Tidak! Jhon bukan hanya ayah mu! Tapi dia juga ayah Jelita!" jerit Anita dengan cepat.
Dan seketika itu juga Javier, Dinda maupun Mario terkejut mendengarnya.
"Anita! Apa maksudmu?!" teriak Dinda dari tempatnya berdiri.
Anita tertawa keras, kemudian lekas menjawab. "Itulah bodohnya dirimu, Adinda! Kau bahkan tidak mengetahui siapa orang tua dari gadis yang akan di nikahi oleh putramu!" jawab Anita, kemudian menjeda sejenak ucapannya. Tapi setelah itu dia pun kembali bersuara.
"Asal kalian tau, Jelita.. Adalah putriku dengan Jhon."
DORRR!!!
"Aaaaaa!!!"
Seketika itu juga suara tembakan pun menggema di seluruh ruangan, seiring dengan tubuh Anita yang tergeletak di lantai dengan darah segar yang mengucur dari keningnya, di susul dengan suara jeritan Rebecca yang ketakutan.
"Jav..." Dinda melemah dan hampir saja terjatuh ke lantai, seiring dengan tangisnya yang pecah. Namun dengan cepat Mario menopang tubuhnya, membawanya untuk kembali berdiri.
Rebecca yang tak jauh dari posisi Anita pun memejamkan matanya, tak ingin melihat tubuh Anita yang sudah menjadi mayat.
Sumpah demi apapun, wanita itu sangat ketakutan, hingga dia menangis tanpa suara seiring dengan tubuhnya yang gemetar.
Javier merasa puas. Dendamnya pada pembunuh ayahnya sudah terbalas. Tapi di samping itu, satu hal yang akan menjadi masalah baginya, setelah mengetahui jika Jelita adalah putri Anita bersama ayahnya. Itu berarti, Jelita adalah saudara satu ayah dengan Javier.
Javier membuang senjata api di tangannya ke lantai, tepat mengenai tubuh dingin Anita.
Setelah itu, Mike yang masih berada di sana pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk membereskan mayat Anita yang masih tergeletak di lantai dengan darah yang terus mengalir hingga membasahi lantai.
Lalu, bagaimanakah hubungan Javier dengan Jelita selanjutnya?
__ADS_1
*****
Bersambung...