
"Do! Kau dimana?"
Detik bersamaan Mario mengubah panggilan telponnya menjadi panggilan video, sehingga detik berikutnya terlihatlah raut sahabatnya Aldo dari layar ponselnya, begitu juga dengan Aldo.
"Seperti yang kau lihat sekarang, aku sedang bersama dia," Aldo mengarahkan ponsel genggamannya ke arah Yudha yang duduk di sebelahnya.
"Halo, Tuan! Apa kabar?!"
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu! Sudah berapa kali ku katakan, panggil aku dengan nama saja!" teriak Mario dari seberang sana.
"Hahaha..! Rasain kau, Yud!" ejek Aldo diiringi dengan tawa lepasnya.
Detik kemudian Aldo mengarahkan ponselnya sedikit lebih jauh, bermaksud tidak hanya raut wajahnya saja yang bisa di lihat oleh Mario, tapi raut wajah Yudha juga bisa terlihat.
"Sedang apa kalian berdua?!" tanya Mario, seraya mengamati keduanya dari layar ponsel.
"Baru saja kami membicarakan mu, kawan!" jawab Aldo.
"Membicarakan aku? Apa yang kalian bicarakan tentang ku?!" Mario menjadi penasaran.
"Kau duluan, ada apa kau menelpon ku?! Hal apa yang ingin kau sampaikan?!" Aldo malah balik bertanya.
"Aku hanya ingin tanya, apa kau dan Yudha juga di undang di acara pelelangan?!"
"Ya! Tentu saja! Kau juga di undang bukan?! Apa kau akan datang?!"
"Ya! Aku pasti akan datang,"
"Baguslah kalau begitu.Justru kehadiranmu yang kami tunggu. Benarkan Yud?" jawab Aldo senang, kemudian beralih pada Yudha.
"Benar, Tuan! Eh, maksudku.."
"Ah sudahlah, kau benar-benar payah," sela Mario dengan nada kesalnya.
Sangat sulit bagi Yudha untuk mengubah nama panggilannya pada Mario. Tentu saja hal itu membuat Mario merasa kesal karena Yudha sudah dianggapnya sebagai sahabat seperti Aldo, bukan lagi asisten pribadinya.
*****
"Aku merasa tidak nyaman kalau harus memanggilnya dengan sebutan nama, biar bagaimana pun aku pernah menjadi Asisten Tuan Mario," ujar Yudha setelah Mario memutus panggilan telponnya saat obrolan mereka berakhir.
"Ya! Aku paham. Tapi itu kan dulu..! Beda dengan sekarang," jawab Aldo.
"Tapi, Do!"
"Tidak ada tapi-tapi, Yudha! Kalau dulu kau menganggap Mario itu atasanmu, dan sekarang anggap saja dia sahabatmu juga, seperti aku," sela Aldo, seraya beranjak berdiri.
Yudha hanya bisa menghela nafasnya tanpa bisa menjawab.
"Ya sudah, aku balik ke kantor ku dulu. Kalau kau membutuhkan ku, telpon saja aku," ujar Aldo seraya melangkah perlahan menuju pintu.
"Iya, baiklah,"
Aldo pun meninggalkan ruangan Yudha dan kembali ke kantornya.
****
Di tempat lain.
__ADS_1
**Mantion Javier**
"Oh iya, Mama hampir lupa, minggu depan Mama akan pulang ke Indonesia," ujar Dinda setelah Javier tak lagi menggodanya.
Javier mengerutkan keningnya seraya memicingkan matanya menatap Dinda.
"Pulang? Ke Indonesia?!" tanya Javier.
Dinda pun mengangguk sambil tersenyum. "Iya! Rekan bisnis Papa mu mengundang kita untuk datang ke sana, apa kau belum tau?!" jawab Dinda kemudian bertanya.
"Mama..! Mama. Bagaimana aku tau?! Aku kan baru pulang," jawab Javier dengan menggeleng-gelengkan sejenak kepalanya.
"Aduh, Jav! Mama lupa." Dinda pun menepuk pelan keningnya sendiri saat menyadari itu, kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "Jadi bagaimana?! Apa kau mau ikut dengan Mama?!" tanya Dinda kemudian.
Javier berpikir sejenak, sebelum dia menjawabnya. Tapi detik berikutnya dia pun menjawab. "Ya, aku ikut,"
Dinda pun tersenyum senang. "Kau yakin?!"
"Ya! Tentu saja. Kebetulan.. Aku juga ada urusan di sana,"
"Baiklah, kalau begitu minggu depan kita berangkat sama-sama,"
"Oke! Go to Indonesia," ujar Javier semangat. "Kalau begitu aku istirahat dulu, Ma. Badanku lelah sekali," sambungnya.
"Iya! Ya sudah, istirahat sana,"
"Bye, Ma!"
Cup!!!
Javier memberi kecupan singkatnya terlebih dahulu di kening Dinda, setelah itu dia pun pergi dari hadapan Dinda.
"Jav!"
Javier pun dengan cepat menoleh, seraya berhenti melangkah lalu kembali berbalik berhadapan dengan Dinda.
"Bisa kita bicara sebentar?!" tanya Dinda ragu-ragu.
"Soal apa?! Apa Mama ada masalah saat aku pergi?!" tanya Javier curiga saat menatap raut wajah Dinda yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu hal.
Dinda melangkah berjalan mendekati Javier.
"Tidak ada, hanya saja.. Ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan padamu,"
"Soal apa?!" tanya Javier lagi sambil menatap serius pada Mamanya.
"Sebaiknya kita bicara di ruang baca mu saja,"
"Baiklah,"
Javier pun segera berjalan menuju ruang bacanya, diikuti oleh Adinda yang menjurus dari belakang.
Sesampainya di sana, Javier pun segera menutup pintu lalu menguncinya.
"Ada apa, Ma?! Ada masalah apa?!" tanyanya lagi dengan terheran-heran.
"Apa kau sudah mendengar kabar tentang pembunuh Papa mu?!"
__ADS_1
Deg
Seketika detak jantung Javier seperti berhenti berdetak. Dia tertegun sejenak menatap Adinda.
"Siapa yang memberitahu mu, Ma?!" tanyanya dengan nada pelan.
"Tidak ada yang memberitahu Mama, Jav! Mama hanya mendengar beberapa dari orang-orang mu yang membicarakannya," jawab Dinda, menjelaskan.
'Kurang ajar, berani-beraninya mereka bergosip di mantion ini," gumam Javier, membatin. Raut wajahnya seketika berubah memerah, menahan marah.
"Ya sudah, kalau kau tidak mau membahas itu, tidak masalah. Sebaiknya kau istirahat saja, jangan pikirkan soal itu lagi," ujar Dinda lemah.
"Bukannya aku tidak mau membahasnya, Ma! Aku hanya tidak mau Mama memikirkan hal itu. Percayakan semuanya padaku, aku putramu dari mendiang Jhonatan. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu, Ma! Apalagi menyakitimu," balas Javier panjang lebar.
"Tapi yang akan kau hadapi itu bukan perempuan biasa, Jav! Dia itu sangat licik," sela Dinda, cemas.
"Mama jangan khawatir, semua pasti baik-baik aja. Sekarang, Mama juga istirahat, jangan terlalu banyak pikiran. Beberapa hari lagi kita pulang ke Indonesia, oke?!" ujar Javier membujuk lalu mengulas senyumnya, kemudian dengan cepat dia membawa tubuh Dinda ke dalam pelukannya, seraya mengusap lembut punggung Dinda.
Dinda pun mengangkat wajahnya sedikit, menatap raut wajah tampan putranya. "Kau memang duplikat mendiang Papah mu, Mama dan Papa bangga punya anak sepertimu, Jav!" ujar Dinda, terharu.
Javier pun mengulas senyumnya, seraya menundukkan wajahnya sedikit membalas tatapan Dinda. "Ingat, Ma! Putra Jhonatan tidak akan takut dengan siapapun, apalagi hanya dengan seorang wanita seperti Anita itu," jawabnya kemudian.
Adinda membalas pelukan putranya dengan erat, sambil tersenyum.
Tapi Javier, di balik senyumnya, justru tersirat hasrat dendam yang harus dia tuntaskan, kepada wanita yang mereka maksudkan itu.
Bagi Javier, Adinda adalah segala-galanya. Jika ada yang berani mengusik ketenangan wanita paruh baya itu, maka bagi Javier, orang itu adalah orang yang pantas untuk di hancurkan.
******
Tidak terasa, tiga hari kemudian.
Sesuai dengan janjinya, Javier pun membawa Adinda pulang ke tanah air. Adinda sampai meneteskan air matanya saat mereka tiba di sana.
"Akhirnya kita bisa ziarah ke makam Papamu lagi, Jav!" ujarnya.
Sudah terlalu lama dia tidak pulang, terakhir kalinya saat Javier baru berumur 15 tahun.
"Iya, tapi kita harus kembali ke rumah lama dulu. Besok baru kita ke makam Papa, oke?! "
Dinda tersenyum. "Terserah kau saja!"
Javier dan Dinda pun masuk kedalam mobil yang sudah menjemput kedatangan mereka di bandara.
*****
Sementara di tempat yang berbeda.
"Nyonya! Aku mendapat laporan," ujar seorang pria kepada seorang wanita yang sedang berdiri menghadap ke arah luar jendela.
Wanita itu menoleh lalu berbalik badan menghadap ke arah pria tersebut. "Katakan, apa yang kau ketahui?" tanyanya dengan raut wajah dingin.
"Anak dan istri mendiang Jhonatan telah tiba hari ini,"
Deg
"Jhon.." Wanita itu memejam.
__ADS_1
Bersambung...