DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)

DENDAM Dan CINTA Sang Pewaris Tunggal (Sang Penakluk Hati 2)
Epd 12# Kejujuran Mario


__ADS_3

Javier datang bersama dengan Zack, karena pada saat Zack menemuinya, Zack langsung memberitahukan kedatangan Mario pada Javier.


Tentu saja hal itu membuat Javier sedikit terkejut mendengarnya. Javier tidak menyangka bahwa Mario berani datang ke markasnya.


Lalu bagaimana dengan Adinda?!


Jangan di tanya lagi bagaimana perasaannya saat ini. Rasa takut seketika menyelimuti dirinya, takut jika Javier akan berbuat yang melampaui batas terhadap Mario, takut jika Javier mengusir Mario dengan kasar, dan takut jika Javier akan membenci dirinya. Seperti itulah yang di rasakan oleh Dinda, jika di lihat dari raut wajahnya yang mendadak pucat pasi.


"Ja-Javier.. Mario.. " Dinda gelagapan.


Tapi Javier tidak peduli dengan Mamanya, bahkan menoleh ke arah sang Mama pun tidak. Tatapan matanya terus tertuju pada Mario.


"Untuk apa Anda datang kemari?!" Javier berdiri berhadapan dengan Mario, bahkan kini mereka saling menatap.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu, Anak muda!"


Sedikitpun tidak ada rasa takut yang Mario rasakan saat bertatap muka dengan Javier. Mario tampak begitu tenang dan santai.


Detik kemudian Javier melirikkan sesaat matanya kearah Dinda, dan setelah itu dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Mario.


"Baiklah, kalau begitu ikut dengan ku,"


Setelah mengatakan itu, Javier pun berbalik badan lalu melangkah berjalan dengan santai menuju ke sebuah ruangan.


Sebelum mengikuti langkah Javier, Mario terlebih dahulu menatap pada Dinda. Dia tau jika saat ini Adinda sedang ketakutan.


"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa dengan ku atau pun putramu," Mario mencoba menenangkan hati Dinda seraya mengulas senyumnya sesaat, setelah itu dia pun meninggalkan Adinda, mengejar langkah Javier.


Dinda hanya bisa terdiam sambil terus memandangi punggung Mario hingga semakin menjauh, masuk ke dalam rumah besarnya itu.


"Dinda.."


Suara pelan Zack menyadarkan Dinda jika masih ada orang lain di dekatnya.


"Apa yang akan mereka bicarakan?!" Dinda menatap lemah kearah Zack.


"Aku tidak tau, harusnya kau yang lebih tau dariku,"


Mendengar jawaban Zack seperti itu, Dinda hanya mampu menghela nafasnya yang sejak tadi sudah terasa sesak.

__ADS_1


Dia memilih untuk pergi meninggalkan Zack. Tidak ada gunanya juga bertanya pada lelaki itu, hanya akan menambah beban pikirannya saja. Batin Dinda.


Sementara Zack, pria itu memilih untuk kembali ke ruang pertemuan tadi, menunggu Javier di sana.


******


Di ruangan lain.


Javier membawa Mario ke ruang pribadi milik mendiang Jhonatan yang kini menjadi ruang pribadi Javier. Di mana ruangan tersebut di gunakan Javier untuk berbicara 4 mata saja dengan lawan bicaranya.


Javier mempersilakan Mario untuk duduk di sofa. Di sana, dia juga menawari minuman beralkohol pada Mario, namun Mario menolaknya.


"Katakan, apa yang ingin Anda bicarakan dengan ku,"


Walaupun dia memperlakukan Mario dengan cukup baik, namun nada bicaranya masih terdengar datar serta raut wajahnya pun masih terlihat dingin.


"Ini tentang seorang wanita," ujar Mario tanpa basa-basi.


"Wanita?!" Javier mengerutkan keningnya.


Mario beranjak berdiri dari duduknya, lalu menundukkan sedikit wajahnya menatap Javier. "Iya. Wanita yang sudah membunuh ayahmu,"


"Tentu saja aku mengenalnya, aku ada saat ayahmu tertembak,"


Jdarrrr


Bagai di sambar petir di siang bolong, mendengar itu seketika raut wajah Javier memerah, emosinya mulai memuncak. Javier mengepalkan kedua telapak tangannya, serta gertakan gigi-giginya yang menggerutuk.


Deru nafasnya pun semakin kuat kala menahan emosi saat Mario mengingatkannya kembali pada kematian ayahnya, Jhonatan.


"Kalau begitu.. Katakan padaku sekarang juga!! Siapa saja yang terlibat selain wanita itu..?! Aku akan menghabisinya satu persatu,"


Suara Javier keras dan bergetar, dia juga menarik kerah kemeja Mario dengan sangat kuat.


Akhirnya Mario bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa sifat asli Javier di balik wajah dingin dan datarnya.


Mario menahan pergelangan tangan Javier, dan terus berusaha mengimbangi tubuhnya akibat kerah bajunya yang di tarik kuat oleh Javier.


"Lepaskan dulu tangan mu!! Aku akan menceritakannya jika kau bisa bersikap lebih tenang!!" Mario meninggikan sedikit suaranya.

__ADS_1


Detik berikutnya Javier pun melepas kasar tangannya dari kerah kemeja Mario serta mendorong pelan tubuh Mario, hingga tubuh pria yang sudah hampir paruh baya itu sedikit terhuyung ke belakang.


Javier menghela nafas kasar, kemudian mengusap gusar wajahnya hingga sampai menjambak rambutnya sendiri. Setelah itu dia kembali duduk di sofa, seraya menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan perlahan.


Pemuda itu berusaha meredam emosinya yang memuncak, agar kembali normal.


Demikian pula dengan Mario, dengan cepat dia merapikan kerah bajunya. Setelah itu dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. Dia juga kembali duduk, tak jauh dengan posisi Javier.


"Aku mencintai ibumu, bahkan sangat mencintainya," Mario melemahkan suaranya. Dia mulai bercerita dengan mengatakan tentang perasaannya pada Adinda di depan Javier.


Mario tidak peduli bagaimana Javier akan menanggapinya. Yang jelas, Javier harus tau seperti apa hubungannya dulu bersama Adinda. Karena bagi Mario, Javier bukanlah anak kecil. Tentu dia juga bisa mengerti apa yang Mario rasakan.


Sedangkan Javier sendiri, dia tertegun menatap Mario dan berusaha untuk menjadi pendengar setia tanpa mau menimpali ataupun menyela ucapan Mario.


Cukup lama, Javier memberi kesempatan kepada Mario untuk bercerita. Di mulai dari kisah asmaranya dengan Adinda, hingga tragedi kematian Jhon.


****


"Waktu itu.. Aku sudah pasrah menerima kenyataan, dan mencoba mengikhlaskannya untuk menikah dengan Ayahmu. Tapi ternyata.. Tuhan berkata lain." Sesaat Mario menghela nafasnya seraya memejamkan matanya.


"Ayahmu sangat mencintai ibumu, bahkan dia rela mengorbankan nyawanya demi ibumu." Mario tertunduk lemah, namun detik kemudian dia kembali mengangkat sedikit wajahnya.


"Saat itu.. Aku baru menyadari, bahwa ayahmu lah yang lebih pantas untuk ibumu."


Mendengar cerita Mario dari awal hingga akhir, tanpa sadar bola mata Javier berkaca-kaca. Apalagi saat mendengar seperti apa perjuangan ayahnya untuk ibunya, yang saat itu sedang mengandung dirinya.


Javier memang lelaki yang tangguh, kuat serta keras. Namun di balik itu, dia juga manusia biasa, tentu memiliki hati yang lemah dan lembut pula. Apalagi jika terhadap seorang wanita seperti ibunya.


Beberapa jam sudah mereka lewati waktu bersama di dalam ruangan tertutup itu, tanpa ada seorang pun yang mengganggu kebersamaan mereka.


Sementara di ruangan lain.


****


Kamar milik Adinda.


Di dalam ruangan yang besar dan luas itu, Adinda berjalan mondar mandir bak setrikaan. Sesekali dia mendudukkan bokongnya di atas kasur, sesekali dia kembali berjalan.


Hatinya merasa tak tenang, sebelum Javier keluar dari ruang pribadinya bersama dengan Mario.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2