
Raut wajah Jelita merona, dengan cepat dia memalingkan wajahnya hingga jari Javier yang menempel di bibirnya pun terlepas begitu saja.
Bersamaan dengan itu, Javier mengubah posisinya menjadi duduk di samping Jelita, lalu mengarahkan pandangan Jelita ke raut wajahnya dengan posisi tangan yang memegangi dagu Jelita.
"Aku baru sadar, jika sekarang kau terlihat berbeda." Javier mengamati raut wajah Jelita, seraya tersenyum samar.
Gadis itu benar-benar terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Raut wajahnya yang polos telah di beri polesan bedak tipis serta lipstik berwarna nude.
"Sudahlah, jangan menggodaku terus. Lebih baik kita pulang ke rumah. Aku takut Mama mencari ku." Dengan cepat Jelita mengelak. Dia benar-benar malu saat Javier terus menatapnya dengan begitu intens.
Jelita beranjak berdiri, namun dengan cepat pula Javier menahan pinggang ramping Jelita, sehingga membuat Jelita kembali duduk. Tapi kali ini justru Jelita terduduk di atas pangkuan Javier.
"Jav! Lepaskan aku! Aku mau pulang!"
"Lepaskan sendiri kalau bisa." Javier senang melihat raut wajah Jelita yang merona. Dia terus memeluk sambil menatap Jelita yang gelisah ingin segera berdiri.
"Jav..!" Jelita terus merengek minta di lepaskan.
"Apa, sayang?!"
Astaga.. Pemuda itu benar-benar membuat debaran jantung Jelita semakin berdebar kencang.
Dalam hitungan detik, dengan cepat Javier mendekatkan raut wajah Jelita ke wajahnya, seraya menahan tengkuk gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Emh!"
Tanpa di duga, ciu**n lembut pun mendarat di bibir Jelita, dengan durasi yang cukup lama.
Demi apapun, Jelita tak mampu berkutik. Dia hanya bisa diam saat Javier menarik bibirnya dengan mulutnya.
Sampai akhirnya Javier melepaskan sendiri ciu**nnya saat mereka sudah sama-sama kesulitan bernafas.
Setelah itu, mereka pun saling menatap lekat, untuk beberapa saat. Dalam hati, Javier sudah tidak bisa menahan hasratnya. Berdekatan seperti itu dengan Jelita, sungguh membuatnya tersiksa.
Tapi semua ada batasan, dia tidak akan melakukan yang lebih dari sekedar cui**an. Sebab, Javier bukanlah lelaki pada umumnya yang tidak bisa menghargai pasangan.
Justru dia mencoba menahan segala hasratnya karena dia benar-benar menghargai Jelita sebagai calon istrinya.
__ADS_1
________________________
Beberapa hari kemudian.
Dinda begitu sibuk mempersiapkan rencana pernikahan putranya. Mulai dari memesan undangan, catering makanan, dekorasi hingga fitting gaun pengantin.
"Jav! Kau mau kemana?!" Dinda mencegah langkah kaki Javier saat pemuda itu ingin keluar dari rumahnya.
"Ada urusan sebentar!" Javier terus melangkah. Bahkan, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Dinda.
"Jav! Jangan kemana-mana dulu! Kau dan Jelita harus fitting baju pengantin!" Dinda meninggikan nada suaranya, hingga mau tidak mau Javier menghentikan langkahnya seraya menoleh.
"Apa tidak bisa di tunda besok saja, Ma?! Aku ada urusan yang harus ku selesaikan,"
"Tidak bisa, Jav! Jangan membantah. Kau bisa suruh orang mu untuk menggantikan pekerjaan mu sementara waktu. Paling tidak, sampai pernikahan mu selesai."
Dinda tidak mau tau dengan alasan apapun. Setelah berkata seperti itu, dia langsung pergi begitu saja dari hadapan Javier.
Tentu saja hal itu sontak membuat Javier menghela nafas jengah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, seolah perintah sang Mama adalah suatu keharusan yang harus dia turuti dan tidak bisa di ganggu gugat.
_____________________
Sesuai dengan janji, Dinda membawa putra beserta calon menantunya menemui salah satu wedding organizer yang di percaya untuk melakukan fitting gaun pengantin.
Dengan antusias seorang pria yang lemah lembut menunjukkan beberapa koleksi gaun pengantin terbaik dan termahal miliknya.
"Coba yang ini, Nyonya! Ini pasti cocok dan pas di tubuhnya yang ramping," ujar pria itu dengan gayanya yang lemah gemulai saat mengarahkan sebuah gaun ke tubuh Jelita bagian belakang.
Dinda mengamati gaun itu, sebelum dia memastikan jika gaun tersebut benar-benar cocok untuk Jelita. Tapi tak lama setelah itu, dia pun menjawabnya. "Modelnya bagus! Tapi sayang, warnanya aku kurang suka, Sis!"
"Em! Bagaimana kalau yang ini?! Ini model terbaru, dan belum pernah di pakai oleh siapa pun,"
Tampaknya pilihan yang kedua sangat di setujui oleh Dinda, terlihat dari senyumnya yang lebar mengamati gaun yang kedua itu.
Tidak hanya itu saja, bahkan Dinda memilih tiga gaun sekaligus dengan model dan warna yang berbeda, yang akan di kenakan oleh Jelita saat di acara ijab qabul serta resepsi pernikahannya nanti.
Begitu juga dengan Javier. Dinda memilih tiga lembar tuxedo mewah, celana panjang, lengkap dengan dasi berbentuk kupu-kupu yang akan di pakai oleh Javier, tentu dengan warna senada dengan gaun yang akan di pakai oleh Jelita.
__ADS_1
Untuk acara ijab qabul, Dinda memilih gaun berwarna putih, yang melambangkan kebaikan, kesucian dan keperawanan seorang gadis.
Sedangkan untuk resepsi pernikahan pada sore harinya, Dinda memilih gaun berwarna biru cobalt, sebagai simbol dari keagungan dan femininitas.
Sementara pada malam harinya, kedua mempelai akan mengenakan pakaian pengantin berwarna hitam, agar terkesan lebih formal tentunya. Dan bukan hanya itu saja, Dinda memilih warna hitam karna itu adalah warna kesukaan Javier. Dapat diartikan sebagai simbol dari kekuatan, seksualitas, sofistikasi, dan kesejahteraan.
Beberapa jam kemudian, setelah selesai fitting baju pengantin, mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.
Sementara di tempat lain.
_________________________
EROPA
Di dalam ruangannya, Mario sibuk memeriksa beberapa laporan perusahaannya yang ternyata mengalami sedikit penurunan. Hal itu terjadi pada saat Viona masih menjabat sebagai sekretarisnya.
Tapi detik kemudian, tiba-tiba ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja berbunyi, menandakan seseorang telah menghubunginya melalu panggilan telpon.
Dengan cepat Mario meraih ponselnya, lalu menggeser tombol berwarna hijau, seraya mengarahkannya ke sisi telinganya.
"Halo, Din! Apa kabar?!"
"Halo juga! Kabar ku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?! Kapan rencana mu akan berkunjung kemari?!"
Raut wajah Mario yang sebelumnya tampak kusut dan kesal, seketika berubah cerah dengan senyum yang mengembang saat mendengar suara lembut Dinda yang berasal dari seberang telepon.
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga baik-baik saja. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk menghubungi ku." Mario meninggalkan sejenak urusan dokumennya, dia lebih fokus berbicara dengan Dinda.
"Oh iya, Din. Kapan rencana Jav akan menikah?! Justru aku menunggu kabar itu, baru aku bisa memutuskan untuk terbang ke Belanda,"
"Rencananya, pernikahan mereka akan di laksanakan minggu depan. Aku masih sibuk mengurus semua keperluan mereka,"
"Ya! Tentu. Maaf, aku tidak bisa membantu mu. Dan mungkin, aku akan ke sana dalam beberapa hari lagi, setelah pekerjaan ku selesai."
"Iya! Tidak apa-apa. Kau bisa datang saja aku sudah senang, Javier juga pasti senang kalau kau bisa datang,"
"Ya, beritahu Jav, aku pasti akan datang."
__ADS_1
Tak lama setelah mengobrol lewat sambungan telepon, Dinda pun memutus sambungan teleponnya setelah pembicaraan mereka selesai.
Bersambung...