
Beberapa menit kemudian, seseorang pun datang menghampiri Javier lalu mengantarnya ke sebuah kamar yang telah di persiapkan.
Setelah orang itu pergi, dengan cepat Javier mengunci pintu kamar tersebut.
"Sayang, hei! Bangun!" Javier menepuk-nepuk pelan pipi Jelita setelah dia mengendong lalu meletakkan tubuh Jelita ke atas kasur.
"Aaakh! Tubuhku_ Lemah sekali. Kepala ku_ Juga sakit!"
Dengan lemah Jelita berusaha untuk duduk di atas kasur, seraya memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
"Apa yang mereka lakukan padamu?!" Javier merasa geram, namun dengan cepat dia meraih pakaian yang tergeletak di lantai, kemudian melucuti pakaian yang di kenakan Jelita.
Dengan perlahan Javier membantu Jelita mengenakan kembali pakaiannya. Setelah itu dia pun duduk di sisi ranjang seraya menatap lekat raut wajah Jelita sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah Jelita.
"Sayang, dengarkan aku. Bagaimana pun caranya, aku harus membawamu keluar dari tempat ini." Javier memelankan nada suaranya.
Detik bersamaan dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, kemudian mencari nama kontak salah satu temannya, dengan nama kontak Mike yang tertera pada layar ponsel.
Javier mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya, setelah dia menggeser tombol berwarna hijau, hingga detik kemudian terdengar suara Mike menyambutnya dari seberang telepon.
"Halo, Mr. Jav! Bantuan apa lagi yang kau inginkan dariku?!"
"Aku dan istriku di sekap. Aku butuh anak buah mu. Tapi kali ini.. Aku butuh lebih banyak."
"Hahaha.. Tidak masalah. Sebut saja, berapa orang yang kau inginkan."
"Sebanyak-banyaknya, lebih dari sepuluh orang. Cepat kirimkan mereka sekarang juga."
"Oke, aku akan segera mengirim mereka ke lokasi mu. Beritahu saja dimana tempatnya."
"Aku akan mengirimkan lokasinya. Jangan lupa, berikan mereka senjata api, karena tempat ini telah di jaga ketat."
"Oke, siap Mr. Jav!"
Javier pun dengan cepat memutus sambungan teleponnya begitu selesai berbicara.
Tapi detik kemudian dia mengetik sebuah pesan, lalu mengirimkannya ke nomor kontak Mario yang tertera.
________________________
Selang 1 jam kemudian.
Ponsel milik Javier berbunyi, bersamaan dengan itu Jelita pun benar-benar sadar dari pengaruh obat bius.
"Jav! Kenapa.. Kau bisa ada di sini?!" Jelita menatapnya dengan terheran-heran.
"Tunggu sebentar, sayang. Aku terima telpon dulu."
Javier lekas mengangkat panggilan telpon tersebut, dengan mengarahkan benda pipih tersebut ke sisi telinganya.
__ADS_1
"Aku dan anak buah ku sudah berada di lokasi."
"Ada teman ku tak jauh dari rumah ini, temui dia. Dia yang akan menuntun kalian masuk kemari."
"Oke, 10 menit lagi kami akan masuk ke sana."
"Baik."
Orang yang berada di seberang telepon pun dengan cepat memutus sambungan teleponnya.
"Jav!"
"Ssst! Sebentar lagi kita akan pergi dari sini."
"Bagaimana bisa?! Rumah ini banyak penjaganya!"
"Tenanglah, sayang! Semua akan baik-baik saja."
Javier berusaha untuk menenangkan hati Jelita, yang terlihat sangat ketakutan.
Dan benar saja, tak lama setelah itu, terdengar suara satu kali tembakan yang di lepaskan.
DORRR!!!
Seketika itu juga Jelita terperanjat kaget, hingga dengan cepat dia masuk kedalam pelukan Javier.
Sejenak Javier mengusap lembut punggung Jelita dalam pelukannya, namun detik kemudian dia kembali bersuara.
"Ayo, sayang. Kita harus cepat keluar dari sini."
Dengan cepat Javier membawa Jelita turun dari ranjang, kemudian lekas melangkah menuju pintu kamar tersebut.
Jelita yang sangat ketakutan, sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya. Dia berjalan sambil memeluk tubuh Javier.
Di luar kamar, semua orang berlarian, seraya berteriak.
"AAAAA... "
Jelita semakin ketakutan hingga tubuhnya bergetar, diiringi dengan keringat dingin yang keluar membasahi sisi wajahnya.
"Jav! Aku takut.."
"Jangan takut, tetaplah bersama ku."
Javier terus melangkah hingga pandangan matanya tertuju pada semua orang yang berkumpul di ruang utama.
Semua yang berkumpul di sana tak berani berkutik. Pasalnya, sekelompok orang yang datang secara tiba-tiba, langsung mengarahkan senjata api mereka ke arah para penghuni rumah bordil tersebut, serta memaksa mereka untuk berada dalam posisi berjongkok dengan tangan yang di angkat ke tengkuk.
Sekelompok orang yang menggunakan senjata api itu memakai pakaian lengkap serba hitam, di lengkapi dengan penutup kepala, hingga raut wajah mereka sulit di kenali. Bahkan, diantara mereka juga ada Mario yang berdiri memandangi para penghuni rumah bordil tersebut.
__ADS_1
"Tolong.. Jangan bunuh kami.." ujar beberapa diantara mereka yang berjongkok.
"Jav, cepat bawa Jelita pergi dari sini." Dengan cepat Mario mendekati Javier dan Jelita saat tatapannya tertuju pada keduanya.
Sontak saja hal itu membuat Rebecca meradang. "Hei! Kurang ajar..! Kau menipuku..!" teriaknya pada Javier.
Javier pun melepas pelan pelukan Jelita detik itu juga, lalu mendekatinya dan berdiri tepat di depan Rebecca yang ikut berjongkok.
Javier menyunggingkan seringainya sesaat, tapi detik kemudian dia pun bersuara. "Kau pikir dia itu siapa, hah?! Dia itu istriku!!" bentak Javier dengan sangat keras.
Rebecca cukup terkejut mendengarnya, tapi detik kemudian, dengan cepat Javier mencengkeram leher Rebecca dengan sebelah tangannya. Cukup kuat, hingga tak ada kesempatan bagi Rebecca untuk bersuara.
"Katakan, siapa yang sudah berani menjual istriku padamu?!" tanya Javier dengan nada yang sama kerasnya, seraya mendorong kuat Rebecca hingga posisi wanita itu terbaring telentang di lantai.
Detik kemudian dengan cepat Javier mengeluarkan senjata api yang di sembunyikannya di dalam kaos kakinya, lalu menodongkan senjata itu ke arah Rebecca, seraya membenarkan posisinya, berdiri tegak di hadapan Rebecca.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Rebecca terbatuk, kemudian bangkit dengan perlahan ke posisi semula sambil memegangi lehernya yang terasa tercekik, hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk menelan ludah.
Tapi detik kemudian, dia mencoba untuk menjawabnya dengan bersusah payah dan terbata-bata, akibat rasa takut saat melihat senjata api yang diarahkan Javier ke kepalanya. "A_ A_ Ani_"
"AAAKH!!! Darah..!!"
Detik bersamaan suara jeritan Jelita pun membuat ucapan Rebecca terpotong, bersamaan dengan keterkejutan Javier yang langsung refleks menoleh ke belakangnya.
Mario yang berada di samping Jelita pun dengan cepat menoleh lalu mengarahkan pandangannya kearah bawah, sesuai arah pandangan mata Jelita yang terkejut melihat darah segar yang mengalir di kaki jenjangnya.
Jelita yang saat itu hanya mengenakan celana pendek sebatas lutut, tentu saja terkejut ketika merasakan seraya menunduk melihat betisnya yang sudah di penuhi darah yang mengalir.
Dengan cepat Javier mengejarnya, bersamaan dengan Mario yang langsung menahan tubuh Jelita yang melemah.
Tidak hanya mereka saja yang terkejut, bahkan semua orang yang berada di sana pun mengarahkan pandangan mereka kearah Jelita yang mengalami pendarahan.
"Sayang, kau kenapa?! Oh tidak.. Anakku," ujar Javier panik.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit," titah Mario yang tak kalah panik.
"Tidak, kau harus tetap di sini, biar aku saja yang membawanya," tahan Javier saat Mario ingin segera melangkah. Bermaksud ingin menemani Javier.
"Ambil ini, cari tau siapa yang sudah membawa istriku kemari," sambung Javier seraya memberikan senjata api kepada Mario.
"Baiklah, aku akan menyusul mu nanti."
Javier pun bergegas menggendong tubuh Jelita ala bridal, kemudian melangkah berjalan.
"Mr. Jav! Biar anak buah ku yang membantumu membawa istrimu ke rumah sakit. Aku akan tetap di sini membereskannya," ujar Mike menahan langkah kaki Javier saat hendak melewatinya.
"Baik. Ku serahkan masalah ini pada kalian. Buat dia mengakuinya,"
Bersambung...
__ADS_1