
" Bund, buka matanya, gw di sini sayang "
aku mengengam tangan istri ku dengan erat.
" Bund..."
" Bund..." aku memanggil nya lagi.
aku mendekat kan wajahku di telinga nya.
" Bunda, ini gw, sayang " aku berbisik lembut di telinga nya lagi.
Tidak ada jawaban!! wajah nya terlihat lelah, kulit putih bersih nya lebih pucat saat ini.
" Bund " aku mengusap rambut nya, dengan gaya sedikit membungkukkan badan, aku terus berbisik, bahkan aku mencium kening dan pipinya.
" Bund " aku memanggil nya lagi. Dan istri ku masih dengan posisi yang sama.
" Dokter...."
Aku memanggil nya, " Dokter, tolong! istri nya dia tidur atau....
" Dokter " ucap ku sambil terus menggenggam tangan istriku.
Dokter Dokter itu begitu sibuk, bahkan dokter Agnes yang biasa nya menjawab pertanyaan pertanyaan ku, kali ini hanya menatap ku tajam. dia dan team nya begitu fokus, dan aku
" God Help Me Please " mata ku mulai panas.
Aku lihat kedatangan Dokter Haris, dia sempat menyapa ku, aku hanya bisa tersenyum, bingung, dan dokter Haris langsung berdekatan dengan Dokter Agnes, entah apa yang mereka kerjakan.
Suara tangisan bayi mulai terdengar, memecah perhatian ku pada istri ku. aku begitu bahagia saat ini. " 1 sukses Bro, laki, bentar satu lagi, dapet bro, laki dua dua nya "
__ADS_1
" Dokt " aku memanggil nya lagi.
" Sebentar ya Pak " dokter Agnes meminta aku untuk bersabar, sementara Dokter Haris sudah pergi membawa 2 bayi ku di bantu seorang perawat perempuan.
Aku hanya bisa menunggu, dalam diam aku hanya bisa berdoa. sambil terus mengusap dan memanggil nya " Bund !". lamunan ku bekerja, bekerja dengan saat cepat saat ini.
Aku teringat cerita mimpi nya Jasmine tadi malam, teringat cerita dari istri ku, tentang ibu nya Hanny, yang meninggal pada saat melahirkan dan aku belum sanggup.
" Kenapa Pak ?" tanya dokter Agnes, memecah lamunanku
" Istri saya Dokt !"
" Ga apa apa pak, Istri bapak hanya sedang istirahat " Jawab Dokter Agnes
" Tapi Dokt !"
" Begini cara Banguninnya " Dokter Agnes tersenyum melihat ku. Dokter Agnes menepuk pipi Istri ku, Istriku Diam, tubuh ku lemas, Dokter menepuk pipi nya Lagi.
" Bu Desi, Bu Desi, liat saya Bu " ucap Dokter Agnes.
" Operasi nya sudah selesai Bu, 2 bayi Laki Laki " ucap Dokter Agnes pada istri ku, aku melihat nya tersenyum.
" Sudah yah pak! Operasi sudah selesai, setelah ini akan pindah ke ruangan observasi dulu, baru nanti pindah ke ruangan " ucap Dokter
" Selamat, untuk 2 Jagoan " ucap dokter Agnes, dia mengulurkan tangannya nya dan aku langsung meraihnya.
" Thanks you so Much Dokter Agnes " aku memeluk nya tanpa malu. Dokter Agnes tertawa kecil sambil menepuk bahu ku.
Dokter Agnes pergi, aku tersenyum manis pada istri ku, dia membalas nyinyir padaku. ingin rasanya segera mencium bibir nya yang sedang tersenyum nyinyir kepada ku.
Aku mencium pipi nya. " 2 jagoan Bund, Hebat!! " ucap ku lalu mencium nya pipi nya lagi.
__ADS_1
Dia membalas sentuhan ku, mengusap kening ku. " Gw ngantuk Dad, Dingin! " ucap nya. setelah itu perawat membawa nya ke ruang observasi.
Di ruangan ini aku masih menemaninya, dia tertidur dengan senyum nya. " Cantik " ucap ku dalam diam, dengan terus menatap wajah nya aku cium tangan nya, menyatukan jari jari kami yang tidak di balas nya.
Perawat dan dokter beberapa kali datang, lalu pergi hanya untuk memeriksa kondisi nya.
" Dad " Dia memanggil aku.
Aku langsung mendekatkan wajah ku.
" Ada apa Bund ?" aku bertanya pada istri ku.
" Udah liat baby nya ?" dia berbicara dengan pelan.
" Belom Bund " jawab ku jujur.
" Haadduuhhh dad, ngapain aja dari tadi " suara nya begitu kesal pada ku.
Aku tertawa, tertawa melihat dia dengan wajah nya yang kesal pada ku.
Melihat nya marah, bahkan lebih baik untuk ku, dari pada melihat nya diam tak berdaya.
" I love you Bunda " aku cium kening nya.
" Liat bayi nya, jangan i love you, i love you aja Dad " ucap nya begitu ketus dan menolak dengan tangan nya ketika aku hendak mencium pipi nya lagi.
Lagi lagi aku tertawa.
Beberapa orang perawat datang, setelah berbincang dengan istri ku, mereka mulai mendorong kasurnya.
" Pindah ruangan, Pak " ucap perawat.
__ADS_1
aku membantu mendorong kasur nya. dan kini tibalah kami, di ruangan perawatan yang sudah aku Reserv sebelumnya.
Kamar paling terbaik di Rumah Sakit ini. Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk nya, seperti dia, yang selalu memberikan terbaik untuk ku.