
Rumah kontrakan Reyhan dan Rania saling berhadapan. Namun mereka tak tahu karena tak pernah ketemu secara kasar mata.
Seperti biasa Reyhan selalu memberikan sebagian hasil setorannya kepada sang Bunda untuk di kelola sebagai uang dapur.
Tanpa sengaja Reyhan melihat sang Bunda yang sibuk di dapur dengan aroma harum pekat yang sangat berbeda, Reyhan mengendus arah sumber lalu Ia melihat sang Bunda sedang membungkus roti-roti mini ke dalam sebuah plastik kecil dan memasukannya ke dalam keranjang
Reyhan pun mulai melangkahkan kakinya menuju sumber aroma yang harum tersebut.
"Bunda, sini aku bantu memasukan roti itu ke dalam keranjang." Ucap Reyhan
"Tidak usah, Nak. Ini sudah menjadi tugas Bunda. Kamu kan sudah bantu untuk memasukan barang dagang Bunda ke dalam pasar." Ucap Farida
"Bunda, Jangan capek-capek ya. Bunda kan sudah lansia. Biarkan ini menjadi tugas Rey saja untuk mencukupi kebutuhan, Bunda dan Ayah." Ucap Reyhan
"Kami tidak mau merepotkan kamu terus-menerus. Nak! Bunda dan Ayah sudah memutuskan untuk berjualan kembali seperti dulu." Ucap Farida
"Baiklah, Reyhan mengerti. Tapi biarkan Rey yang memasarkannya." Ucap Reyhan
"Iya, Nak. Bunda setuju. Bunda yakin kalau kamu yang memasarkannya pasti akan banyak yang membeli roti." Ucap Farida
__ADS_1
"Amin, Insyaallah laku banyak." Ucap Reyhan
"Amin, Nak! Bunda juga yakin Roti ini akan memberi rasa yang berbeda bagi penikmatnya karena Roti buatan tangan Bunda ini resepnya dari turun-temurun." Ucap Farida
"Bunda dapatkan resep roti itu dari mana?" tanya Reyhan
"Bunda temukan ini di dalam gudang ada sebuah kotak tua peninggalan Almarhum mama Bunda, Nak." Ucap Farida
"Oh, syukurlah. Bunda. Jika ini memang amanah dari Oma. Rey yakin banget kalau Roti ini akan jadi berkah tersendiri untuk meraih rezeki." Ucap Reyhan
"Ayah juga yakin dan berdoa agar resep roti itu akan membuat rejeki baru untuk keluarga kita karena Ayah nggak mau Rey terus-menerus menjadi preman pasar seperti ini." Ucap Dery
"Eh, Ayah dari mana? kok baru datang?" tanya Reyhan
"Hah? bukankah Ayah sudah pensiun menjadi petani? kenapa Ayah jadi membajak sawah kembali?" tanya Reyhan
"Karena Ayah nggak mau kamu terus-menerus menjadi preman pasar. Ayah ingin kamu melanjutkan kuliah." Ucap Dery
"Ayah ini kan sedang sakit keras, jadi Reyhan mohon jangan membajak sawah lagi." Pinta Reyhan
__ADS_1
"Ayah akan berhenti untuk membajak sawah jika kamu juga berhenti menjadi preman pasar, gimana?" tanya Dery
"Nggak bisa dong! Ayah tahu sendiri penghasilan aku ini dari hasil uang setoran keamanan di pasar." Ucap Reyhan
"Sama saja kamu itu malakin mereka yang berjualan! itu nggak baik, Nak! Ayah selalu memperingati kamu agar hidup kamu lurus kembali." Ucap Dery
"Aku melakukan ini demi kalian. Aku nggak mau melihat kalian bekerja banting tulang di hari tua yang harusnya Rey yang bekerja." Ucap Reyhan
"Bunda terharu mendengar perkataan kamu, Nak! Tapi kami juga sebagai orang tua tidak mau melihat kamu terus-menerus banting tulang demi membiayai hidup kami berdua." Ucap Farida
"Benar, Nak! Ayah tidak sanggup melihat kamu menjadi preman di pasar hanya demi menafkahi kami yang lansia." Ucap Dery
"Berikan aku waktu berpikir pekerjaan apa yang dapat menghasilkan uang banyak selain dari setoran pasar dan juga kuli bangunan." Ucap Reyhan
"Ayah ingin kamu bekerja kantoran setelah lulus kuliah nanti pokoknya kamu harus berhenti jadi preman di pasar, mengerti" Titah Dery
"Oke, Ayah. Rey berjanji akan menuruti perkataan Ayah." Ucap Reyhan
Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk memberikan like di setiap episode, vote sebanyak mungkin dan tambahkan di rak buku sebagai favorite/subscribe...
...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...