Di Senggol Cinta Preman Pasar

Di Senggol Cinta Preman Pasar
38. Mulai mencari Rania kembali


__ADS_3

Semua perlengkapan tenda kini mulai di susun untuk di rapihkan kembali masuk dalam tas ukuran yang besar.


Mereka pun memakai kembali Ransel-ransel berwarna merah, biru, dan kuning itu dalam dekapan punggung mereka untuk bergegas pergi.


"Duh, kok berasa berat ya! apa karena baju kita pada basah semua kemarin." Ucap Jerry


"Bisa jadi, gw juga tasnya makin berat ini." Gerutu Leon


"Bukan hanya tas saja yang berat! isi perut lu juga berat kan." Ucap Jerry


"Sialan lu!" Ucap Leon


"Sudahlah, kalian ini berantem terus seperti kucing dan anjing saja! sekarang kita mandi dulu di tempat kemarin." Ucap Reyhan


"Siap Bang Bos! sekalian ya gw nangka lagi ikan di sana untuk mengisi perut." Ucap Leon


"Gentong! dari kemarin gw yang menangkap ikan! lu mana bisa sih menangkap ikan yang banyak


"Setidaknya gw membantu untuk menangkap ikan untuk makan sendiri." Ucap Leon


"Cepat jalan! kalian hanya bisanya mengomel dan mengobrol saja. ingat ini hutan bukan Mall!" Ucap Reyhan


"Iya, Bang Bos. Kami paham" Ucap Leon


"Paham melulu! tapi di lakuin nggak ngerti! pie toh!" Ucap Reyhan

__ADS_1


*****


Sementara itu, Kedua orang tua Rania bersih kukuh untuk tetap menerjang kawasan hutan yang rindang akan pohon-pohon yang tinggi .


"Dad, tunggu bisa pelan sedikit nggak jalannya?" tanya Sintia dengan tertatih-tatih


"Mom! ini hutan kenapa pakai high heels!" Ucap Charles


" Lupa ganti, Dad!"Ucap Sintia


"Astaga! masa kita harus balik lagi hanya untuk mengambil sepatu sport." Ucap Charles


"Nggak usah, Mom kuat kok pakai ini saja asalkan pelan-pelan." Ucap sintia


"Yakin?" tanya Charles


"Oke, kalau gitu! Mom. Semangat ya! kalau nggak kuat lambaikan bendera putih ke Daddy! nanti Daddy akan gendong saja, Mommy." ucap Charles


"Jangan lebai deh, Daddy! Aku tahu Daddy sangat mencintai, Mom! tapi Mommy juga tahu kalau Daddy tidak semuda dulu! mana mungkin bisa gendong mommy yang beratnya melebihi orang normal." Ucap Sintia


"Jangan merendahkan, Daddy!" Geram Charles


"Bukan merendahkan. Tapi Mommy hanya melihat kenyataan kalau memang Daddy sudah sangat tua untuk bisa menggendong, Mommy" Ucap Sintia


"Daddy masih kuat kali, Mom! Daddy ini meskipun umur bertambah tapi tetap awet muda." Ucap Charles

__ADS_1


"Akh, males debat sama Daddy! nggak mau ngalah. Sekarang mending Daddy bantu memapah Mommy deh dari pada ngomong terus." Ucap Sintia


"Iya-iya, Daddy papah deh." Ucap Charles


"Nah gitu dong! suami yang baik untuk keluarga."Ucap Sintia


"Daddy kan memang suami yang baik, Mom." Ucap Charles.


"Terbang pasti hidung lama-lama!" Ucap Sintia


"Nggak akh...." Ucap Charles


*


*


*


Terik mentari sekarang sudah muncul di permukaan alam semesta, meskipun hutan itu sangat rindang akan dedaunan yang lebat. Namun masih bisa sedikit merasakan pantulan dari sebuah cahaya


Seorang gadis tomboi berbaju kotor dan robek-robek di sisi kanan dan kiri celana berbahan katun berwarna biru itu masih saja terlihat tertatih-tatih berjalan dengan di bantu oleh tongkat panjang yang tak menentu arah dan tujuannya


"Aduh, Aku lapar banget. Bisa-bisa aku mati karena kelaparan." Ucap Rania dengan menghela napas.


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk memberikan dukungan berupa like setiap episode, voting sebanyak-banyaknya, dan menambahkannya ke rak buku kamu sebagai favorit/subscribe...


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga...


__ADS_2