
"Loh, kok malah melotot gitu, sih," protes om Damar.
"Ish … habisnya … Tiara nanya apa, Om Damar jawabnya beda," kesalku.
“Lah, bukannya om sudah jawab." Pria itu tertawa lebar. "Kamu boleh kok, kalau mau jadi pacar om," ulangnya.
Hmm … sepertinya semakin aku malu-malu, maka dia semakin senang menggodaku. Mungkin seharusnya aku memberanikan diri untuk bersikap lebih berani supaya dia tidak terus menggodaku.
Aku tertawa lebar. "Ya ampun Om. Masa sih, Om Damar mau pacaran sama bocah SMA kayak Tiara," sahutku. Kurasa ini adalah sebuah jawaban yang tepat.
Namun sepertinya aku salah. Dia benar-benar pria yang tak dapat ditolak. Om Damar selalu mempunyai sejuta cara untuk membuatku tak berkutik.
Pria itu menatapku kali ini wajahnya memperlihatkan keseriusannya dan itu membuatku menghentikan tawaku dalam sekejap. Apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat setiap kali pandangan kami bertemu? Kenapa aku merasa begitu malu? Perasaan apa ini?
“Apa kamu merasa seperti itu?” tanyanya.
Kali ini jantungku seakan berhenti berdetak. Bahkan jarum jam seakan enggan berputar, waktu seakan berhenti bergerak.
“Dua spaghetti carbonara, satu cafe latte dan satu lemon tea,” ucap seorang waiters yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
“Terima kasih,” ucapku dengan seulas senyuman.
“Sama-sama,” balas sang waiters dengan senyumannya yang tak kalah manis.
Kedatangannya seperti seorang penyelamat bagiku. Tentu saja aku tak mempunyai jawaban atas pertanyaan itu, karena pernyataanku sebenarnya hanyalah sebuah alasan untuk menghindarinya.
“Huaah … kelihatannya enak,” ucapku sambil melihat pasta berlumur saus carbonara di atasnya itu.
Pria itu tersenyum lebar. “Tempat ini dekat dari rumahmu, tapi kenapa kamu bahkan belum pernah kemari?”
Aku mulai mengaduk pasta itu dengan saus di atasnya. “Nggak, Om. Tiara hanya makan masakan mama dan masakan ibu kantin di sekolah."
"Kalau gitu, berarti kita harus sering-sering makan berdua seperti ini, kan," ucap Om Damar.
Aku langsung tersedak. Pasta itu entah kenapa tidak masuk ke saluran yang benar. Kupukul dadaku sambil terbatuk. Astaga, ini sangat menyiksaku.
__ADS_1
Pria itu tampak panik. Dia berdiri dan aku dapat merasakan tepukan di punggungku. "Tiara … kamu nggak papa? Coba atur napasmu."
Perlahan rasa panas di rongga pernapasanku mulai mereda. Om Damar kembali duduk di hadapanku. "Kenapa tadi, kenapa kamu sampai tersedak seperti itu? Apa karena kamu tidak suka makan bersamaku?"
Aku mengangkat kedua tanganku dan mengayunkannya bersamaan. "Tidak … tidak, Om. Aku hanya kaget, karena Om bilang kita harus sering makan berdua di luar tadi. Om bercandanya keterlaluan sih."
"Tapi aku tidak sedang bercanda, Tiara. Aku butuh teman," sahut Om Damar. "Tak nyaman rasanya makan sendirian seperti selama ini. Apa kamu keberatan bahkan hanya makan berdua saja denganku?"
Nah … kan, sudah kuduga. Dia tak mungkin akan berhenti dan menyerah. Selalu ada cara untuk memaksaku mengikuti keinginannya. Tapi … sebenarnya nggak ada salahnya sih, kalau cuman sekedar nemani makan.
"Tapi Om, Tiara 'kan harus belajar," sahutku.
Kurasa hanya itu jalan pintas yang bisa kugunakan untuk menghindari om Damar. Nggak ada cara lain.
Om Damar meletakkan garpunya. Didorongnya piring spaghetti itu menjauh dari hadapannya. "Iya … aku nggak akan ganggu waktu belajar kamu, kok. Tenang aja."
Pria itu meletakkan cangkir minuman hangatnya kembali ke atas meja. Dia kembali menatapku seolah ada sesuatu yang menarik di wajahku. "Besok jam empat, kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Iya. Emang kenapa Om? Nggak berubah kan schedulenya?" sahutku. Sangat nggak lucu kalau tiba-tiba dia ganti jam pemotretannya cuman gara-gara acara makan siang.
Astaga, apa-apaan ini? Tapi … ya udahlah. Toh dia bilang sejalan. Bukan karena hal lainnya. Akan sangat aneh jika aku mempermasalahkan rencana ini.
"Siaplah sebelum jam empat," titahnya dengan tegas.
Mau tak mau, aku menganggukkan kepalaku. Aku harus benar-benar hati-hati, nih sama om Damar. Satu perkataannya, bisa berubah menjadi satu keharusan. Mau mundur, tapi kontrak sudah di depan mata. Ah … sudahlah.
Senja turun begitu cepat, hari berganti malam. Entah kenapa perasaanku begitu tak nyaman. Apalagi jika teringat kembali kejadian yang kulalui hari ini.
Semua kejadian terasa bagai sebuah mimpi. Tak pernah kupikirkan akan terjadi. Mulai dari Pak Seno, guru killer yang selama ini selalu terlihat bersih tanpa cela, tapi ternyata menyimpan suatu perasaan yang ah … sudahlah.
Lalu Om Damar. Sebenarnya apa sih, yang ada di dalam pikirannya? Seandainya saja aku bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Apa dia pria baik-baik? Atau mungkin dia sama seperti apa yang ada dalam sinetron yang sering dilihat mama, penuh intrik untuk mendapat sesuatu yang diinginkannya.
Ah … tidak, tidak! Untuk apa dia menginginkan bocah seperti aku? Bukannya di luar sana banyak yang lebih dari aku dengan penampilan sexy dan menantang. Tentunya juga lebih siap dari pada bocah kekanakan seperti aku.
Ehm, tapi … benar nggak sih, tadi dia cuman godain aku waktu bilang mau ngajak pacaran? Masa sih dia serius? Kalau beneran serius gimana dong?
__ADS_1
Perasaanku semakin gelisah tak menentu. Astaga .… Kuambil bantalku dan kututupkan ke wajahku. Kenapa aku nggak bisa berhenti memikirkan dia? Kenapa kini wajahnya bahkan seperti bermain dalam pikiranku?
Kuhentakkan badanku untuk duduk tegak di atas ranjang itu. "Tidak Tiara, jangan ke ge er an! Dia jauh lebih tua darimu! Dia adalah klien iklan produk yang akan kamu bintangi! Hubungan kamu cuman sebatas kerja!"
Kata hatiku masih saja mengingatkan posisiku berada. Ya … setidaknya aku harus sadar diri. Hubungan kami tidak mungkin terjadi. Dia seperti langit yang tinggi di atas, sedangkan aku hanyalah bumi.
Aku kembali menghempaskan tubuhku ke atas ranjangku. Ah … tapi kenapa jantungku berdetak kencang, bahkan hanya untuk memikirkan dia. Wajahnya terus melintas di pikiranku, senyumannya.
Kuketuk kepalaku dengan tanganku. "Hentikan bodoh! Seharusnya kamu nggak terus memikirkan dia. Gimana kalau rumus fisika yang tadi kamu pelajari menguap begitu saja?" kesalku dalam hati.
Kupejamkan mataku, berusaha terlelap dalam tidurku. Besok adalah hari yang sibuk. Aku harus segera beristirahat agar tenagaku terkumpul kembali.
***
"Maa … Tiara berangkat sekolah dulu," teriakku sambil memasang tas punggungku.
"Sarapanmu sudah selesai?" balas mamaku.
Seperti biasa, mama tak bisa meninggalkan dapur di pagi hari. Dia sedang sibuk mengemas rantang-rantang pesanan catering pelanggannya.
"Sudah ma," sahutku cepat.
"Hati-hati, Sayang!" teriak mama dari arah dapur.
Aku menghambur keluar dari rumah. Dua puluh menit menjelang terlambat. Sungguh membuatku gelisah, bayangan terkena sanksi tata tertib sekolah mulai terlintas di benakku. Di ping pong untuk sekedar tanda tangan dan selembar kertas agar bisa mengikuti pelajaran hari ini, hingga hukuman menulis berlembar rangkuman pelajaran yang terlewatkan. Ditambah lagi dengan poin minus yang kudapatkan. Ah … semua ini gara-gara aku nggak bisa tidur mikirin dia!
Kuhentikan langkahku tepat di depan pintu pagar rumahku.
Kenapa dia ada di sini?
"Naik!" titahnya singkat.
Buat kaka Acih, nih. Visual nya Tiara, kaka.
__ADS_1