Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Cinderella Kesiangan


__ADS_3

"Kamu terlihat … luar biasa." Pujian itu terdengar begitu indah di telingaku. 


Aih … bisa bayangin, 'kan, gimana rasanya. Jantungku rasanya "nyesss" banget. Setelah harap-harap cemas karena khawatir penampilanku nggak sesuai dengan harapannya, ternyata sebaliknya, dia malah menyukainya. 


Dan … benarlah, Om Damar benar-benar beli gaun semahal itu buat aku. Hmm … mungkin saja Om Damar memang berniat untuk mengubahku secara total. Aku yang, yah … selalu berpenampilan biasa-biasa saja ini diubah sepenuhnya menjadi layaknya seorang putri. 


Tapi …. Mungkin nggak sih aku sedang berhalusinasi menjadi seorang putri. Ah … layaknya cinderella kesiangan. 


Kalau memang itu yang terjadi, aku harap semua ini nyata. Aku nggak mau terbangun dari mimpi indah ini, sekalipun aku harus terlambat ke sekolah. 


Setelah berbelanja cukup banyak barang bagus, akhirnya Om Damar mengantarku pulang ke rumah. Saat itu hari sudah sangat siang. Dan aku cukup terkejut melihat sebuah motor terparkir di depan teras rumahku. Sepeda motor sport yang dengan jelas kukenali sebagai motor milik Darren!


Sepertinya karena aku meninggalkannya begitu saja, dia menyusulku dan mencariku sampai ke rumah. Dan jangan-jangan … mama jadi panik karena kemunculannya. Aih! Ngeselin banget sih! Jangan-jangan saking paniknya mama nelpon sekolah. Dan itu artinya besok aku harus berurusan dengan guru konseling dan juga mengurus pelanggaran tatib sekolah. 


Tapi … bagaimana bila gara-gara kabar itu mama jadi terkejut dan sakit seperti kejadian yang lalu. Astaga, kenapa pikiranku jadi semakin kacau. 


Dengan cepat aku segera membuka pintu rumah. 


Aroma wangi masakan tercium hingga ke ruang tamu kecil rumah kami. Tampak pria muda dengan seragam putih abu-abunya mendongakkan kepala, menatapku yang sedang berdiri di depan pintu. 


Darren meletakkan androidnya di atas meja. Tampak di layarnya sebuah game simulasi peperangan favoritnya. Dia berdiri dan  menatapku dengan pandangan aneh. 


"Kamu ninggalin aku di taman itu dan pergi shopping?" tanyanya dengan heran. 


Aku menghela napas dan berlalu darinya. Aku merasa pertanyaan itu tak wajib kujawab. Bisa saja jawabanku akan memperkeruh situasi yang sedang kacau antara kami berdua. 


"Ra, jawab aku." Darren mengikuti langkahku hingga ke depan pintu kamarku. Aku masih bisa mendengar suaranya dari balik pintu itu. 

__ADS_1


"Ra, please! Dengerin aku," ucapnya. "Aku tahu aku salah. Tapi itu bukan suatu kesalahan besar, kan? Kenapa kamu nggak biarin aku memperbaikinya? Kenapa kamu nggak kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya?" 


Suara ketukan di pintu kayu itu terdengar begitu berisik. Tapi aku berusaha mengabaikannya dengan menyibukkan diri membongkar semua tas belanjaanku. 


Bukan hanya gaun indah itu, Om Damar juga memberikan aku set perhiasan yang harus kupakai di acara malam nanti. Juga sebuah tas selempang putih dengan logo dua huruf C yang saling bertaut. 


Aku masih terpukau melihat keindahan barang-barang mewah itu ketika kudengar suara mama yang berusaha menghentikan kekacauan yang dibuat oleh Darren. 


"Sudah .… Sebaiknya kamu pulang dulu. Berikan waktu buat Tiara untuk menenangkan diri." 


"Tapi Tante …."


"Percaya sama tante, besok juga kalian sudah baikan lagi." Mama kembali menenangkan teman sekolahku itu. "Tante nggak tau apa yang terjadi sama kalian, tapi tante tau Tiara nggak akan menyimpan kepahitan terlalu lama dalam hatinya." 


Suara itu semakin melemah, sepertinya mama berhasil menggiringnya pergi dari depan pintu kamarku. Ah … syukurlah. 


***


Shinta menunjuk pernak pernik yang masih kuletakkan di atas rajangku. "Kamu yakin, dia nggak mengharapkan sesuatu dari kamu?" 


Aku mengangkat kedua alisku sambil mencebikkan bibir secara bersamaan. Yaa … memang sangat tidak masuk di akal jika ada seseorang yang tidak mengharapkan sesuatu dengan pemberiannya yang value-nya semahal ini. 


Tapi penilaianku terhadap Om Damar berbeda. Perasaanku mengatakan bahwa dia sama sekali berbeda dengan pria lain yang pernah kutemui. Dan entah kenapa aku sangat yakin dengan pemikiranku ini.


"Kalau emang dia mau yang aneh-aneh, dia bisa ngelakuin semuanya dari dulu kok. Nggak perlu banyak menghamburkan uang. Mulai dari pengobatan mama, mengungkapkan perasaannya dengan ini," ucapku sambil menggenggam kalung indah yang pernah diberikan Om Damar padaku malam itu. "Dia udah janji bakal nunggu aku, sampai aku cukup dewasa."


"Dan … apa kamu juga menyukainya?" tanya Shinta. Sepertinya dia semakin penasaran dengan semua kisah ini.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. "Dia berbeda Shin. Dia tak seperti semua pria yang pernah kukenal."


"Ish! Tentu saja. Dia jauh lebih dewasa, sementara pria yang kamu kenal semuanya adalah pelajar, teman sekolah kita saja." Shinta mencubit pinggangku dengan gemas. 


Aku tertawa sambil mengelak pada serangan cubitannya yang selanjutnya. Tentu saja itu terasa geli, bukan hanya sedikit rasa sakit. 


Shinta tiba-tiba menghentikan tawanya. "Lah, terus Darren gimana, Ra?" 


Aku mengangkat kedua pundakku dengan menggelengkan kepalaku. "Aku merasa nggak pernah kasih harapan sih, sama dia. Udah beberapa kali aku katakan bahwa aku nggak mau pacaran selama masih sekolah. Aku nggak mau pacaran dengan duit orang tua dia, Shin." 


"Ya udah … ya udah." Shinta mulai tampak tak nyaman. Mungkin saja dia merasa bahwa aku mulai kesal karena dia terlalu banyak ikut campur dengan urusanku. "Ra, aku nggak tahu pasti yang sedang kamu jalani. Tapi pesan aku, jangan terlalu percaya apa yang terlihat baik di depanmu. Bisa saja itu hanya sebuah topeng." 


"Iya … iya. Aku tahu kok," sahutku. 


"Ya udah, aku pulang," ucapnya sambil berdiri dan melambaikan tangannya. "Kamu tahu kemana untuk hubungi aku, kalau ada sesuatu yang …." 


Aku menganggukkan kepalaku dengan seulas senyuman di bibirku. "Aku tahu. Jangan khawatir." 


Sepasang mataku masih mengikuti kepergian Shinta hingga langkahnya keluar dari kamarku. Sebenarnya tak ada yang tahu apa yang terjadi pada acara reuni nanti. Tidak Shinta … tidak pula aku. 


Aku tidak pernah menyangka bahwa acara reuni sekolah Om Damar adalah awal yang mengubah semua cerita indah ala cinderella ini. Semua kisah masa lalu yang mulai terungkap dan membuat dadaku terasa sesak. 


***


Nah … sudah pada baca "Dikejar Om Om" season sebelumnya, 'kan? Kisah cinta segitiga antara Alfred - Tiara dan Damar ini akan sedikit banyak tertuang di dalam kisah ini. 


Aku yakin sudah pada baca kan? Ada di platform gratisan sebelah juga kok. Dengan judul yang sama. 

__ADS_1


Hmm… bagaimana ya, kehidupan Alfred dan Tiara setelah lima belas tahun kemudian? Kira-kira ada keributan lagi nggak ya? Apa Damar bakal berantem lagi sama Alfred? Atau bahkan kedua Tiara ini bakal nggak akur? Hihihi…. Yuk, aku tunggu komentar kalian. 


__ADS_2