
"Ish … apaan sih?" kesalku. "Pake acara ngancem segala. Berangkat aja sendiri!"
"Ra, please! Aku nggak mungkin datang ke acara itu sendirian." Shinta mendecak, seperti mengekspresikan rasa putus asanya. "Aku … suka sama abangnya si Darren. Please … nggak perlu muluk-muluk, aku cuman pingin ketemu terus liat wajah abangnya yang macho itu."
Sepanjang hari itu Shinta terus merengek minta ditemani pergi ke acara ulang tahun si Darren. Kesel sih. Tapi … aku kasihan juga. Bagaimanapun kami berdua adalah teman dekat. Bukankah sahabat harus saling berbagi dalam suka dan duka? Mau tak mau, aku pun menyerah dan mengikuti kegigihannya.
Bagaimana dengan hubunganku dengan Darren di sekolah? Haruskah aku kembali melunak dan membiarkan dia kembali mengakrabkan diri? Entahlah, yang pasti dia duduk jauh dibelakangku. Aku tidak tau pasti apa dia masih merasa kesal atas penolakanku. Yang pasti, aku memang membuat sebuah jarak di antara kami berdua sejak saat itu.
Siang itu, sepulang sekolah, Shinta terlihat begitu berseri. Tangannya menggamit tanganku dengan langkah cepatnya, dia bahkan berjalan setengah berlari. Hmm ... Seperti merasa tak sabar akan waktu yang terus berjalan.
"Kita pulang ganti baju dulu. Nanti aku jemput satu jam lagi. Kita mesti beli kado dulu buat si Darren." Shinta mulai mengatur strategi agar rencananya berhasil. Tentu saja aku hanya bisa pasrah, walau dalam hati ingin berontak.
"Nah … itu Pak Togar!" teriaknya menunjuk sebuah mobil station putih milik keluarganya.
Nggak banyak yang kami obrolkan saat berada dalam mobilnya. Mungkin sebenarnya kami berdua sudah terlalu lelah, otak kami sudah merasa jenuh menerima materi yang berat selama berjam-jam di sekolah tadi. Yang aku pikirkan saat ini hanya sejenak meletakkan tubuhku, di ranjangku yang nyaman.
"Jangan lupa, satu jam lagi aku jemput kamu. Jadi bersiap-siaplah!" perintah gadis itu saat mobil yang kami tumpangi tiba dan berhenti di depan pagar rumahku.
“Oke lah, kita ketemu satu jam lagi,” sahutku sebelum turun dari mobil. Kulambaikan tanganku sesaat sebelum mobil itu kembali meluncur di jalanan beraspal.
Setelah membersihkan diri dan makan siang, aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Rasanya begitu nyaman, apalagi terkena hembusan air conditioner yang sejuk. Hmm … membuat mataku seolah ingin terpejam.
Namun suara ponsel seolah menyadarkan aku bahwa ini bukan saatnya untuk bersantai. Dengan malas, aku meraih benda pipih itu menatap layar yang berkedip dengan sebuah nama di atasnya. Kuseret tombol berwarna hijau untuk menjawabnya.
“Hai Tiara …”
“Om Marcel, ada apa Om? Apa tanggal pemotretan sudah ditetapkan?” tanyaku masih dengan nada malas.
“Besok, pulang sekolah. Bisa kan?” tanyanya meminta kepastianku.
__ADS_1
“Bisa, Om. Jam berapa?” tanyaku.
“Kita start jam empat, lah. Aku pingin kamu istirahat dulu, supaya wajahmu fresh saat pemotretan,” lanjutnya. “Nanti kamu bakal ada rekan untuk sesi foto itu.”
“M-maksud Om? Aku nggak sendirian? Produsen pakai dua model gitu?” tanyaku.
“Gini …. Produk ini bisa dipakai secara universal. Dengan kata lain, bukan kalangan wanita saja, tapi kalangan pria pun bisa memakainya,” terangnya.
“Oh … jadi, Om Marcel akhirnya pake dua model. Cewek sama cowok. Gitu kan, Om?” tegasku.
“Benar.” Om Marcel mengiyakan ucapanku. “Kamu nggak keberatan, kan kalau nanti fotonya couple gitu?”
“I-iya nggak papa sih, asal itu model Om nggak aneh-aneh aja.”
“Kamu kenal Robin, kan?” tanya Om Marcel.
“Robin? Model yang kemarin diminta membintangi sebuah sinetron itu?” tanyaku mencari tahu lebih dalam tentang Robin mana yang dimaksud oleh manajer Big Star itu.
Aku langsung bangkit dari ranjangku. Buset! Om Marcel mau masangin aku sama Kak Robin? Mimpi apa aku semalam? Mungkin Om Marcel sedang baik hati, ingin mendongkrak popularitasku dengan cara ini.
“Oke deh, Om. Tiara akan datang tepat waktu.”
Astaga … kenapa aku langsung bersemangat gini ya ….
Baru saja kututup panggilan itu, terdengar lagi sebuah nada panggil pada benda pipih itu. Layar yang berkedip itu memperlihatkan sebuah nama di atasnya.
Kuseret tanda hijau di layar, untuk menerima panggilan itu.
"Tiaraa … aku dah sampe depan, nih." Suara cempreng itu terdengar dari dalam benda pipih yang kupegang.
__ADS_1
Aku menjauhkan benda pipih itu dari telingaku.
"Astaga, Shintaaa … bisa pelan nggak sih, suara kamu. Bikin sakit telinga, tau."
"Yaelah … gitu aja marah. Ayo, buruan. Keburu abis waktunya. Ntar kita nggak sempat cuci mata dulu, di mall," lanjut Shinta.
Aku segera menyambar lip gloss ku untuk memoles tipis bibirku. Lalu kuambil tas panjangku dan memasangnya menyilang di badanku. Aku sudah siap!
Ah! Om Marcel benar-benar membuatku bersemangat. Aku tersenyum mematut diri di depan cermin.
TIN! TIN!
Suara klakson mobil kembali terdengar. Sepertinya Shinta juga sedang bersemangat. Entahlah, seperti apa sih kakak si Darren, bagaimana bisa Shinta sampai begitu menyukainya.
Aku segera keluar dari rumah itu. Bisa kulihat Shinta melambaikan tangannya dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Kita langsung yuk," katanya saat aku sudah berada dalam mobil itu. "Pak Togar, jalan yuk."
"Baik Non," sahut pria setengah tua itu dengan patuhnya.
Jalanan kota cukup padat siang itu, saat keempat roda kendaraan itu menggelinding di jalan beraspal kota kami.
"Untung aja aku belum mulai pemotretan, Shin. Kalau seandainya acara diadakan besok, sudah pasti aku tidak bisa menemanimu." Aku menarik sudut bibirku.
"Ish …. Seandainya kamu tahu tampang kakak si Darren, kamu nggak akan pernah nolak aku ajak, nggak sampe seperti ini." Shinta menjawabku dengan penuh percaya diri.
"Apa kamu yakin, selera kita bakal sama?" tanyaku, sambil tertawa terkekeh.
Aku tahu beberapa siswa yang termasuk dalam kategori cakep versi Shinta, dan hampir sebagian besar diantaranya tidak sesuai dengan kriteriaku. Tapi … mungkin itu sebabnya kami berdua adalah teman yang cocok, karena kami tak mungkin saling menyabotase pasangan satu sama lain. Walaupun sebenarnya kami berdua belum pernah mempunyai kekasih.
__ADS_1
Kami berdua berjalan menelusuri deretan toko-toko di dalam mall. Tentu saja mall tempat yang sama, tempat aku dan Om Damar nonton premier kemarin.
Eh … bukannya itu Om Damar? Ngapain dia di toko perhiasan? Hmm … sepertinya dia benar-benar sudah mempunyai kekasih. Aku bisa melihat betapa cerianya wanita penjaga toko perhiasan itu. Mungkin saja dia adalah kekasih Om Damar.