
"Aku suka kamu apa adanya, Tiara."
Ucapan itu terus terngiang di telingaku, membuatku merasa begitu gelisah malam itu. Bahkan hingga malam semakin larut, aku tak dapat memejamkan mataku.
Ting!
Ting! Ting!
Suara pesan masuk terdengar beruntun, seperti seseorang memberikan sebuah pesan penting yang harus segera kulihat. Tapi siapa yang memberikan pesan semalam ini?
[Tiara]
[Apa kamu sudah pulang?]
[Apa kamu sudah tidur?]
Pesan masuk dari Shinta. Tidak biasanya dia menghubungi aku semalam ini. Ada apa sebenarnya hingga dia tidak bisa menundanya hingga besok pagi?
"Belum. Kenapa Shin?" balasku.
"Tumben malem-malem gini, kamu belum tidur." ketikku kemudian.
Kutunggu jawaban chatnya. Namun bukannya sebuah jawaban tertulis yang aku terima, melainkan sebuah panggilan masuk.
Aku segera mengangkat panggilannya.
"Kenapa Shin? Capek mau ngetik jawabannya, ya ... sampai nelpon langsung."
"Gawat! Gawat Ra!" sahut gadis di ujung sana.
"Gawat kenapa?" tanyaku.
"Darren! Eng ..."
"Kenapa? Kenapa dengan Darren?" tanyaku penasaran.
"Dia belum juga pulang, Ra! Mamanya baru saja nelpon aku."
"Bukannya bukan kali ini saja, Shin? Kapan hari juga dia kabur dari rumah. Dan nyatanya dia ikutan part time kan?" sahutku mengingatkan. "Jangan panik, dia akan baik-baik saja."
"Ra! Kali ini aku nggak yakin," sahut Shinta. "Kak Robin usir dia dari rumah. Mamanya bilang, mereka bertengkar sebelum itu. Dan itu ... menyangkut job yang kemarin dia gantikan. Dia merasa namanya dicemarkan karena munculnya Darren. Seperti ... memdomplang popularitasnya."
"Astaga!"
"Apa kamu tahu, dimana kira-kira dia sekarang?"
"Shin. Hubungan aku sama dia, sama dengan hubungan kamu sama dia. Kami nggak ada ...."
"Sama gimana? Dia suka sama kamu. Dia selalu ikuti kemana pun kamu berada layaknya bayanganmu."
"Heh! Mana ada yang seperti itu."
"Astaga, kamu aja yang nggak peka. Seharian ini dia ngikutin kamu, Ra!"
Glek!
__ADS_1
"Se-- seharian ini? Bagaimana kamu tahu?"
Shinta menghela napas panjang. "Dia mengatakan padaku bahwa dia melihat kamu naik mobil seseorang siang tadi. Dia kecewa karena kamu menolak tumpangan dari dia."
"Shin, aku cuman nggak mau buat dia terlalu berharap sama aku."
"Ah ... Sudahlah. Sekarang kamu pikirkan, dimana kira-kira dia berada."
"Apa kamu sudah coba menghubunginya?"
"Sudah, tapi ... Tak ada jawaban."
"Baik, aku coba hubungi dia sekarang," sahutku.
Kumatikan panggilan dari Shinta dan mulai berpikir, mungkin semua ini memang kesalahanku karena memaksanya menjadi pengganti Robin Morgan. Tapi ... Seharusnya dia tahu kalau aku sebelumnya tidak pernah tahu kalau dia adalah adiknya.
Konyol sekali, bahkan karena Darren menggantikannya, dia marah seperti ini. Heh! Memangnya ada masalah apa? Tidak mungkin hanya karena satu pemotretan saja akan menurunkan kepopuleran Robin.
Aku menghela napas, berusaha melupakan semua pikiran buruk yang muncul secara tiba-tiba itu. Kupilih sebuah nama di dalam daftar kontak panggilanku dan segera menghubunginya. Namun tidak ada jawaban! Bahkan aku mencoba lagi dan lagi, hingga ketiga kalinya.
Kuletakkan dengan perasaan putus asa. Mungkin saja dia sedang ingin sendiri, dia tidak ingin diganggu!
Namun demikian, perasaanku tetap gelisah. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya? Bukannya banyak berita begal dimana-mana? Sementara dia berada di jalanan hingga selarut ini.
Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar. Segera aku menyambar benda pipih yang sengaja kuletakkan di atas nakas itu.
"Halo." Suara parau terdengar dari seberang sana.
"Ren? Kamu ... baik-baik kan? Kamu dimana?"
"Syukurlah."
"Kenapa?"
"Eng ... Aku dengar, kamu bertengkar dengan kak Robin," sahutku ragu.
Rasanya tidak etis untuk mencampuri urusan pribadi keluarganya, sementara aku hanyalah teman biasa.
"Ra ..."
"Ti ... Tidak usah cerita, kalau kamu tidak ingin. Aku hanya ingin tahu kamu dimana dan apa kamu baik-baik saja," sahutku kemudian.
Tiba-tiba saja Darren mengganti panggilan suaranya menjadi panggilan vidio. Walau ada perasaan canggung, karena ini adalah kali pertama dia meminta panggilan vidio, tapi aku tetap mengangkatnya. Bagaimanapun aku perlu melihat sendiri kalau dia baik-baik saja.
Seulas senyuman lebar terlihat di dalam layar pipih ponselku. Deretan giginya yang putih tertata rapi, diperlihatkan padaku. Mungkin saja dia berusaha menyembunyikan segalanya dan membuatku lega.
"Kamu tahu aku ada di mana?" tanyanya kemudian.
"Kamu di sekolah? Malam-malam begini?"
Lelaki muda itu tertawa, membuat sepasang matanya hanya tersisa separuh dari semestinya. "Jangan khawatir. Aku tidak mempunyai tempat lain yang seaman dan senyaman di sini."
"Ish! Kenapa kamu nggak di rumah Raka saja?"
Darren menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak. Terlalu mudah bagi mereka untuk menemukan aku."
__ADS_1
"ck! Jadi ... Kamu sengaja membuat keluargamu panik?"
"Kamu akan tahu rasanya, jika kamu mempunyai kakak. Seseorang yang melulu dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilanmu. Kamu akan tahu rasanya bagaimana saat kamu lebih unggul, dan dia membencimu. Dan aku rasa, dia bahkan ingin menyingkirkan aku."
"Ren, aku memang nggak tahu. Tapi ..."
Darren mengarahkan tampilan ponselnya ke alat-alat musik yang ada di belakangnya.
"Kamu mau tidur di ruang musik sekolah kita? Apa kamu nggak takut ...."
"Aku sudah ijin pada penjaga sekolah kita. Dan karena aku tak punya tempat tujuan lain, dia mengijinkan."
Darren meletakkan ponselnya dan melangkah menjauh. Tangannya menggapai sebuah gitar dan meletakkannya di pangkuannya.
"Kamu ingin dengar aku menyanyi?" tawarnya dan langsung memetik senar gitar itu dengan nada random.
"Ren ...."
"Kamu mau dengar lagu apa?" tanyanya, seakan tak ingin mendengar nada penolakan dariku.
Aku bisa melihat jari jemarinya mulai menari di atas senar-senar itu, membentuk nada indah sebuah lagu yang tak asing di telingaku.
"Mm, aku terlalu muda, terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku seharusnya membelikanmu bunga, dan menggenggam tanganmu.
Seharusnya memberimu semua waktuku, saat aku punya kesempatan.
Membawamu ke setiap pesta karena yang ingin kamu lakukan hanyalah menari.
Sekarang kamu bahkan menari tapi kamu menari dengan pria lain...."
Aku bertepuk tangan saat ia selesai membawakan lagu itu. Lagu yang terdengar menyentuh hati, seolah dia benar-benar terluka dan patah hati.
"Kamu menyukainya?" tanyanya kemudian.
"Aku suka suaramu, Ren. Unik dengan warna vibrasi yang jarang ditemui," pujiku. "Suatu saat nanti seorang produser rekaman akan melirikmu dan menarikmu ke dunia musik."
Darren hanya menarik sudut bibirnya, seperti memaksakan sebuah senyuman dengan kesan getir.
"Tapi ... Kenapa lagu itu?" tanyaku. "Lagu itu sama sekali nggak pantas buat kamu nyanyikan."
"Kenapa? Kenapa aku nggak pantas nyanyi lagu itu?" Sebuah serangan balik yang ditujukan padaku. "Lalu lagu apa yang pantas untuk dinyanyikan oleh seorang yang sedang patah hati seperti aku?"
"Ren?" lirihku. "Patah hati? Apa maksudmu?"
*
*
*
Halooo pembaca ....
Author lagi ikutan even anak genius nih. Mampir dan dukung aku ya. Judulnya Putra Cacat Sang Mafia. Siapa tahu ceritanya cocok di hati.
Terima kasih semuanyaa....
__ADS_1
Lopiyu sekebon