Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Si Tukang Onar


__ADS_3

"Lari!" Hanya itu yang terpikirkan olehku. Tapi rasa nyeri yang masih tersisa, membuat gerakanku tak secepat keinginanku. Hingga aku berhenti di sebuah belokan untuk bersembunyi. 


Jantungku berdebar dengan kencang. 


Astaga, bagaimana kalau dia berhasil menemukanku. Apa mungkin dia orang jahat? Untuk apa dia mengikutiku? Jangan-jangan dia seorang psikopat gila. 


“Tidak … tidak! Jangan berpikir yang aneh-aneh, Tiara!” batinku sembari mengetuk keningku. "Jangan sampai yang kamu pikirkan jadi kenyataan."


Aku mengintip dari balik tembok, kulihat seorang lelaki muda dengan seragam putih abu-abunya berhenti di depanku. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu yang hilang. 


Namun sesaat kemudian, lelaki muda itu menoleh ke belakang. 


"Aaargh!" 


Tentu saja aku terkejut, sepasang mata kami bertemu dan lelaki muda itu terlihat canggung dan mengalihkan pandangannya dariku. 


“Ke– kenapa?” tanyaku memberanikan diri. 


“Hmm?” Lelaki itu mengangkat wajahnya dan kembali menatapku.


“Kenapa kamu mengikutiku?” tanyaku.


Lelaki muda itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak mengikutimu. Rumahku di sana, dan … ketika kamu berteriak “lari!”, aku kira kamu juga memintaku untuk lari.”


"Tanpa tau kenapa harus lari?" tanyaku kemudian.


Aku tak bisa lagi menahan tawa. Ini benar-benar lucu. Jadi … dia hanya ikut-ikutan lari karena aku lari!


"Hey! Kenapa kamu tertawa? Seharusnya kamu katakan sekarang, kenapa harus lari?" tanyanya dengan nada suara meninggi. 


Karena tak mendapat jawaban dariku, lelaki muda itu diam dan hanya menatapku hingga aku berhenti tertawa. Lalu dia mengulurkan tangannya padaku. “Kevin,” ucapnya tanpa ragu


Mau tak mau aku meraih tangannya, menjabatnya dan balas menyebutkan namaku. "Tiara."


“Jadi … kamu tetangga baru itu?" tanyaku setelah menyadari bahwa dia tinggal di perumahan yang sama denganku.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui?" tanyanya.


Aku mengedikkan pundakku dan kembali melangkah. "Tidak," sahutku. "maaf … aku harus cepat. Aku tidak mau kena hukum pakai rompi hanya karena terlambat ke sekolah." 


Kulambaikan tanganku, untuk menghentikan sebuah kendaraan umum yang sedang melaju. 


"Tunggu!" serunya, "aku rasa kita searah." Lalu tanpa menunggu jawaban dariku, dia pun naik ke atas angkutan kota itu.


Kendaraan yang kami tumpangi itu penuh sesak pagi ini. Beberapa ibu-ibu dengan keranjang belanjaannya, membuat kendaraan yang memang tak begitu luas ini semakin sempit. Benar-benar jam pagi yang sibuk. 

__ADS_1


Tentu saja aku tak bisa protes, bagaimanapun ini adalah fasilitas umum. Siapapun berhak menggunakannya. Ditambah lagi karena Kevin mendesakku masuk, aku tak mungkin lagi keluar dan menunggu angkutan yang datang berikutnya.


"Karcis … karcis!" Sang kernet mulai menarik ongkos perjalanan. 


"Neng, itu pacarnya ya?" Tiba-tiba seorang ibu mencolek tanganku.


Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. "Heh? Nggak kok, bukan," sangkalku cepat sembari menggoyangkan kedua tanganku. 


Aku melirik canggung ke arah Kevin. Lelaki itu juga tampak canggung gara-gara mendengar percakapan kami. 


"Oh, ibu pikir dia pacar Neng. Jadi si Neng belum punya pacar, kan?" Penyelidikan ibu itu terus berlanjut. 


"Euh …." Tentu saja aku menjadi rikuh karena pertanyaan itu.


Tapi bukannya menghentikan penyelidikannya, ibu itu malah menatapku tanpa canggung. "Kalau belum punya, ibu pingin kenalin Neng sama anak ibu, boleh? Anak ibu sudah cukup dewasa, mapan dan sudah pasti cakep. Cocok sama Neng yang cantik."


Deg! 


"Eh, apa-apaan ini? Kenapa jadi jodoh-jodohin aku sama anak dia, sih. Astaga …. Jaman udah modern, masih aja ada Siti Nurbaya," batinku. 


Belum habis rasa terkejutku, tiba-tiba saja Kevin menggenggam tanganku, lalu mengangkatnya seolah sengaja memamerkannya pada sang ibu. 


"Dia memang bukan pacar aku, Bu. Tapi calon istri aku," ucapnya dengan penuh percaya diri.


Aku sengaja melotot protes padanya, tapi Kevin seperti  mengabaikanku dan memberikan tanda pada sang pengemudi bahwa dia akan turun. 


"Bau apa sih ini?" teriak seorang ibu-ibu di dalam angkot.


"Kamu bawa ****** tikus, ya?" 


"Heh! Siapa yang bawa ****** tikus!"


Aku masih mendengar nada protes lainnya dari dalam angkot itu sesaat sebelum angkutan umum itu kembali melaju. Kutarik tanganku dari genggaman Kevin. 


Tiba-tiba suara tawa Kevin meledak. Aku melotot karena kesal. Gara-gara dia, aku harus berjalan ke sekolah. Padahal jaraknya masih lumayan jauh. 


"Kenapa kamu ketawa?" tanyaku dengan kesal sembari menyilangkan sepasang tanganku, bersedekap di dada. 


"Yaa … harusnya kamu berterima kasih karena aku ajak kamu turun dari angkot itu," sahutnya dengan acuh.


"Ya elah, berterima kasih karena apa? Udah ngelolosin aku dari jodoh jodohan?" ketusku. "C'mon, itu cuman basa basi, omong kosong doang. Kenapa kamu ajak aku turun? Apa kamu tidak tahu, jarak ke sekolah kita masih jauh?" 


Kevin menggelengkan kepalanya, lalu lelaki muda itu mengedikkan pundaknya. "Tapi bukan itu yang aku maksud."


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku takut kamu pingsan. Aku tadi sakit perut dan .…" Lelaki muda itu meletakkan tangannya membentuk sebuah corong di depan mulutnya. "Aku kelepasan." Dia menatapku dengan tampang innocentnya sembari menganggukkan kepalanya, seakan mengatakan bahwa dia sedang tidak bergurau.


"Astaga! Jorok sekali," gumamku. 


Kevin menaik turunkan alisnya dengan menyebalkan, lalu dia tertawa terkekeh dan lari meninggalkan aku. "Ayo cepat! Nanti kamu terlambat!" teriaknya dari kejauhan. 


"Ish! Nggak setia kawan!" kesalku sembari menendang kerikil di depanku. 


Aku melirik arlojiku dan benarlah. Waktu yang tersisa hanya lima menit! Celaka, gara-gara dia aku bakal terlambat. 


***


"Kenapa terlambat?" Tanya Bu Siska. Guru bagian tatibsi (tata tertib kesiswaan) itu mencoret-coret buku tatib ku dan membubuhkan stempel di sebelahnya. 


"Jam tangan saya ketinggalan, Bu!" sahut Kevin cepat. 


"Kamu?" tanyanya padaku.


"Tadi saya naik angkot, tapi ada siswa ngeselin yang bikin saya terpaksa turun walau jarak masih jauh dari sekolah."


"Kenapa begitu?" 


"Nggak tau juga, Bu," sahutku yang masih kesal. 


"Euh … Ibu tahu Hiroshima dan Nagasaki, kan. Jika ibu ada di dua kota itu, apa ibu tidak akan mengungsi?" sambung Kevin.


"Maksudmu? Apa ada boom?" Bu Siska melotot saking terkejutnya. 


"Nggak ada, Bu," sahutku cepat. "Astaga, mimpi apa aku semalam, bisa bisanya ketemu sama dakocan ini."


"Ish, cakep gini dibilang dakocan," gerutunya. 


"Heh! Malah ribut. Boom apa maksudnya?" akhirnya Bu Siska mengulang pertanyaannya. "Kamu bawa bom rakitan, Kevin?"


"Itu, tadi Kevin kentut di angkot, Bu," sahutku cepat karena gemas. 


Bu Siska terlihat mulai kesal. Perempuan paruh baya itu mendorong buku tatib yang sudah dibubuhi stempel itu pada kami. "Sudah, sekarang kalian berdua ke ruang kepala sekolah untuk meminta surat ijin masuk kelas."


"Baik Bu! Terima kasih," ucapku sebelum pergi dari ruang kesiswaan. 


Kami berjalan ke ruang kepala sekolah. Ruangan beraroma jasmine itu sangat mencerminkan jiwa penghuninya. Bu Hartini bagiku sosok wanita tegas dengan hatinya yang lembut. 


Wanita itu mengangkat kepalanya sesaat setelah aku mengetuk pintu ruangannya. Wajah ramahnya tiba-tiba saja berubah saat melihat Kevin yang berada di belakangku.


"Apa kamu membuat masalah lagi?" tanyanya dengan wajah serius.

__ADS_1


Aku terkejut mendengar kalimat itu. Aku menoleh ke belakang, melihat wajah lelaki muda yang berdiri bergeming di tempatnya. 


Kenapa Bu Hartini mengatakan hal itu? Kenapa Bu Hartini menegur Kevin sebelum mengetahui permasalahannya dengan jelas? Apa mungkin semua ini karena Om Damar sudah mengancamnya supaya tak ada seorang pun yang berani menggangguku? 


__ADS_2