Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kilas Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Aku mengerjap cepat dan memutar badanku. 


Aih … sungguh memalukan! Nggak seharusnya aku berpikiran aneh seperti ini. Bagaimana jika dia tahu .... Ah, apa yang kira-kira ada di dalam pikirannya saat ini. Aku aneh? Atau lebih parah dari itu.


Dengan tergesa aku membuka pintu dan kabur meninggalkan ruangan itu. Ah … seharusnya kubiarkan saja tadi Om Marcel yang mengantar baju ganti itu.


Aku masuk ke dalam pantry agensi itu. Kulihat Kak Elsy masih berada di sana. Sepertinya dia baru saja selesai membersihkan lantai ruangan Om Marcel. 


Kuambil segelas air dari dispenser dan segera meneguknya dengan cepat. Jantungku masih berdebar dengan kencang.


“Ra,” panggil Kak Elsy. 


Aku yang masih sulit untuk fokus pun terkejut. Cairan yang seharusnya masuk ke dalam tenggorokanku, meluncur begitu saja saluran pernapasanku. Aku tersedak dan terbatuk. 


“Kamu kenapa? Kok seperti abis liat hantu gitu, sih?” tegur Kak Elsy. 


‘Eeuuh …. Ha–hantu, beneran. Di ruang ganti,” ucapku tergagap. Dia benar-benar seperti hantu, muncul begitu aja tanpa kuundang dan mengambil hatiku. 


“Hantunya di ruang ganti?” Kak Elsy terbelalak. 


Gadis manis itu meraih kembali tongkat pelnya. “Tunjukkan padaku, akan kuusir itu hantu dari tempat ini!” 


Aku meletakkan gelas itu ke atas meja dan meraih tangannya. “Nggak, nggak usah Kak,” sahutku menghalanginya. Aku bisa membayangkan bagaimana ricuhnya jika Kak Elsy dan Om Damar kembali berseteru. Ah … sebaiknya tidak yang kedua kalinya. 


“Kenapa? Kok nggak usah?” tanya gadis manis berlesung pipi itu. 


“Hantunya sudah kabur, kok Kak,” sahutku sambil tersenyum lebar. 


Gadis itu menghela napas lega. “Ah … syukurlah. Kakak juga takut kok sama hantu,” ucapnya sambil tertawa terkekeh.


“Tiara! Tiara!” Kudengar suara yang memanggil namaku. 

__ADS_1


“Sepertinya Om Marcel, Kak. Aku pergi duluan.”


“Emph … Tiara,” panggilnya. “Yang tadi … makasih ya, udah belain aku.”


Aku menarik sudut bibirku untuk memberinya seulas senyuman. 


***


“Ayo … cepat, cepat, cepat ….” Om Marcel menepukkan kedua tangannya dengan ritme yang teratur. Seperti yang biasa dilakukannya agar semua krunya bekerja lebih cepat. 


Aku hanya meliriknya dari sebuah cermin di hadapanku. Ah … tentu saja itu karena aku sedang tak boleh banyak bergerak atau semua akan jadi lebih lama karena Kak Merry harus mengulang polesannya dari awal. 


“No … no, no!” Om Marcel mendekatiku. “Merry, Merry … ganti warna lipstiknya. Lebih ke arah kesan natural.” 


Kak Merry tampak mengerucutkan bibirnya. "Kau merusak karya masterpiece ku, Marcel. Lihat, betapa cantiknya dia."


Om Marcel menepuk keningnya. "Astaga! Merry … Merry. Kita akan membuat iklan sport. Bukan busana pengantin."


"Oh iya, Om. Darren gimana?" tanyaku. 


Kak Merry mengambil selembar tisu dan menuang cairan dari dalam botolnya. Tangannya mulai menghapus dengan lembut beberapa tempat di wajahku. 


"Ssst …. Tiara, buka mulutnya bentar. Aaa…" perintah pria setengah wanita itu sembari mengusap kapas yang sudah ditetesi cairan ajaibnya untuk membersihkan sisa lipstik menyala di bibirku.


"Oke kok. Semoga saja Damar nggak keberatan Robin digantikan olehnya." Om Marcel menggigit ujung jarinya, seperti kebiasaannya saat sedang memikirkan sesuatu, lalu dia berlalu meninggalkan aku dan Kak Merry.


Aku melihat Darren dengan canggung berdiri di pojok ruangan yang dipenuhi oleh lampu sorot itu. Kulambaikan tanganku padanya. Tentu rasanya tak akan nyaman, jika berada di sebuah tempat asing, sendirian, tanpa ada seseorang yang kita kenal. Dan aku sudah mengalami semua ini setahun yang lalu.


"Aku mencarimu kemana-mana," ucap pria muda itu sesampainya di dekatku. 


"Semuanya baik-baik saja, 'kan?" tanyaku memastikan keadaannya. 

__ADS_1


"Ya, mereka memintaku memakai baju ini," ucapnya sambil memamerkan pakaian sport yang menempel ketat dengan kesan gagah di tubuhnya. 


Aku dapat melihat sudut mata Kak Merry menatap Darren dari pantulan cermin di hadapanku. 


"Eh … samaan deh. Modelnya aja yang beda," sahutku.


"Iyalah, cowo sama cewe beda, gitu," celetuk Kak Merry tiba-tiba. Pria dengan dandanan wanita itu tersenyum manis sambil memoles ulang bibirku dengan lipstik berwarna nude. "Baju cewek walaupun sport tetep harus punya kesan manis. Kalo sama aja dengan punya cowok, bisa-bisa nggak laku di pasaran." 


"Siapa yang bilang nggak bakal laku di pasaran?" 


Suara bariton itu terdengar di belakangku. Kak Merry mendongakkan kepalanya, menatap seseorang yang berdiri di belakangku. Dan tentu saja, aku tak perlu repot, karena cermin di depanku tak akan pernah bohong.


"Eh, Damar. Kamu ngagetin eike aja, ih!" ucap Kak Merry sambil tersipu. "Lama nggak ketemu, gimana caranya bisa tambah ganteng gitu sih?"


Aku masih mengamati wajah pria di belakangku itu. Om Damar tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang putih terawat. "Mana ada … yang ada tambah tua," ucapnya menanggapi pujian penata riasku.


Om Damar berjalan menjauh, sepertinya dia ikut mengamati proses pemotretan untuk iklan hari ini. Aku bisa melihatnya bercakap serius dengan Om Marcel, seperti sesuatu yang sangat penting.


"Kak Merry, kenal sama Om Damar udah lama, gimana caranya?" tanyaku penasaran. 


"Dia dulu juga pernah jadi model produk ini," ucap Kak Merry setengah berbisik. "Ayahnya memaksa Om Marcel menjadikannya pasangan model saat itu. Kalau tidak … pesanan iklan akan dibatalkan."


"Eh … emang bisa gitu?" 


Kak Merry mengedikkan pundaknya. "Tiara, liat ke atas," perintahnya sebelum memasang eyeliner di mataku. "Dia naksir sama modelnya. Teman sekolahnya." 


"Oh …," lirihku menanggapi kisah yang tanpa sengaja diceritakan penata riasku itu.


"Tapi dia sebenarnya baik, sih. Ganteng, tajir pula," ucap Kak Merry. "Aku aja naksir." Pria setengah wanita itu tertawa terkekeh menanggapi perkataannya sendiri. 


Aku tersenyum lebar mendengar tawa itu. Astaga, tawa Kak Merry sangat khas, dan satu hal yang pasti. Bisa membuat yang mendengarnya ikut tertawa.

__ADS_1


"Eit … eit! Buset dah, kamu jangan ketawa!" Sepasang mata pria setengah wanita itu membulat. Wajahnya tampak kesal karena aku ikut tertawa. 


__ADS_2