Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Sebenarnya Kamu Di Pihak Siapa?


__ADS_3

"Tiara! Cepet masuk!" teriak pria dalam mobil mewah itu. 


Mataku membulat. "Astaga, Om Damar!" teriakku tak percaya. "Ngapain di sini sepagi ini?" 


"Sengaja mampir, mau antar kamu ke sekolah." Pria itu mengumbar senyumannya, seperti sengaja menebarkan pesonanya. "Cepet naik, yuk. Nanti kamu telat, lagi!"


Kebetulan yang aneh nggak sih? Aku melihat sekelilingku, kemarin Darren yang jemput aku. Hmm … tapi hari ini nggak muncul. Dan sekarang om Damar. Seperti sesuatu yang tak mungkin. Tapi …. Ya udahlah. Lagipula hubungan di antara kami berdua sedang tak nyaman. 


Aku segera masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam mengkilat itu. Hanya satu hal yang penting, jangan sampai aku terlambat masuk sekolah.


"Om nggak ngantor hari ini?" tanyaku sekedar basa basi.


"Nanti, setelah antar kamu ke sekolah. Yang penting hari ini, aku bisa lihat kamu, Tiara," sahut pria itu dengan senyum manis di bibirnya.


Hmm … kemarin aku melihatnya dengan pakaian santai. Tapi hari ini … dia terlihat bahkan lebih gagah dengan pakaian setelan ini. Dasi kuning cerahnya terkesan mempermewah penampilannya. 


"Kenapa? Ada yang nggak bener dari penampilanku?" tanya Om Damar yang memergoki aku sedang memandangnya. "Benerin dong, biar nanti aku nggak malu." 


"Euuh … nggak ada Om. Nggak papa. Cuman … ituu ... dasi Om sedikit miring." Aku mencari alasan agar dia tak mencurigaiku. 


Pria itu tersenyum tipis. "Makasih, ya," ucapnya sambil meluruskan dasi yang sebenarnya sudah lurus itu. 


Astaga, kenapa jantungku berdebar begitu kencang, padahal hanya melihat seulas senyumnya saja.


Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Tentu saja aku merasa canggung setelah apa yang telah kami berdua lalui kemarin. Aku bahkan masih teringat saat bibirnya mendarat di bibirku.


"Nanti pulang jam berapa? Aku jemput, ya?" tawarnya. 


Sepasang mataku membulat. Astaga, kalau dia sampai datang ke sekolahku, bagaimana aku harus menjawab jika teman-temanku pada nanya? Masa sih aku harus jawab dia saudaraku dari … euuh …. Aku paling benci berbohong. Karena aku harus memikirkan banyak hal untuk menutupinya setelah itu.


Kuangkat kedua tanganku dan kuayunkan ke kiri dan kanan secara bergantian. "Nggak … nggak usah, Om. Jangan repot-repot." 


Pria itu mengerutkan keningnya. "Memang kenapa? Tiara sudah ada yang jemput, ya?" 

__ADS_1


"Enggak, eh … i–iya, Om. Ntar aku ada acara sama Shinta. Mau jalan-jalan, gitu deh," sahutku. Sepertinya hanya ini satu-satunya cara agar dia tidak menjemputku.


Om Damar menghela napas panjang, sepertinya dia tidak menyukai penolakan ini. Tapi entah kenapa bibir itu masih memperlihatkan seulas senyuman. "Baiklah, kita akan bertemu lagi besok."


Mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolahku. 


"Berikan padaku ponselmu!" perintahnya, sementara tangannya ditadahkan di hadapanku. 


Mau tak mau, kuberikan benda pipih yang berada di dalam saku tas ranselku. Pria itu mengetikkan sesuatu ke dalamnya dan tak lama kemudian, terdengar suara dering ponselnya. 


"Aku sudah menyimpan nomor ponselku di dalamnya. Hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuan," ucapnya sambil mengulurkan kembali benda pipih itu padaku.


"Ish … memangnya kalau Tiara butuh bantuan, Om akan langsung datang gitu?" tanyaku sambil tertawa terkekeh. Aku bisa membayangkan sosok Om Damar terbang layaknya Superman untuk menyelamatkan aku. Ish, kenapa jadi superman, sih. Kenapa yang terbayang sosok pahlawan super dengan kostum aneh celana terbaliknya.


Pria itu tersenyum tipis. "Buktikan saja." 


Aku membuka pintu mobilnya dan melambaikan tanganku padanya. "Tentu saja aku akan membuktikannya. Bye, Om Superman," ucapku menggodanya sambil tertawa terkekeh.


"Siapa dia? Kerabat kamu?" tanya Shinta yang sempat melihatku turun dari mobil mewah berwarna hitam itu. "Kerabat dari mana? Papa kamu atau mama kamu?"


"Euuh … dia, ee … dia teman dari studio Om Marcel," sahutku dengan gugup. Aku bahkan sama sekali belum terpikirkan jawaban untuk pertanyaan ini, walaupun sebenarnya sudah dapat kutebak sebelumnya.


Gadis itu menatapku penuh selidik. "Dia om-om?" tanyanya lagi. 


"Memangnya kenapa kalau om-om? Astaga, Shin. Seriusan nih? Kamu mau interogasi aku hanya karena ada yang memberikan aku tumpangan?" sahutku. "Gimana kalau misal aku naik sarana akomodasi online, apa aku juga harus menghadapi interogasi macam ini?"


"Ra, nggak mungkin mobil semewah itu digunakan untuk taxi online," sahutnya. "Coba kamu pikir."


"Tapi nggak perlu nanyain aku kayak detektif polisi gitu juga, kali. Aku kok berasa kriminal sih? Apa aku sudah merugikan masyarakat, ya?" Aku merengut kesal.


"Ya udah … ya udah. Apapun deh. Terserah kamu," sahutnya menyerah.


"Ish … kamu marah?" tanyaku melihat mimik wajahnya. Bukannya seharusnya aku yang marah karena di bombardir pertanyaan seperti itu?

__ADS_1


"Abisnyaa …. Kamu nggak tahu apa, kalo udah bikin aku cemas," dalihnya.


"Aku dah besar, juga." Aku menggelengkan kepalaku menunjukkan bahwa kalimat yang diucapkannya barusan sama sekali tidak masuk dalam logikaku.


"Gimana kalau tiba-tiba kamu diculik. Pasti semua orang nanya ke aku, kan. Karena aku teman kamu yang terdekat di sekolah. Mama kamu, si Darren juga. Aaah … bisa runyam." Gadis itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangannya. 


Aku merengut kesal. "Loh, kok Darren dibawa-bawa sih?" 


"Bukannya dia udah jadian sama kamu, Ra?" tanya Shinta dengan nada ragu. 


Aku mendecak kesal. "Shin, aku mau nanya nih. Sebenarnya kamu ini teman aku atau teman Darren, sih?" 


"Yaa … teman kamu, lah," jawabnya sambil tertawa pelan. "Masa aku teman Darren, sih."


"Nah, kalo teman aku, ya udah. Harusnya kamu lebih percaya dan bela aku. Bukan si Darren." 


"Memang dia nggak nembak kamu? Beneran Ra?" tanyanya masih tak percaya. 


"Aku udah bilang sama dia, aku masih belum punya niat untuk pacaran. Sekolah aja dulu yang benar." Aku mempercepat langkahku menuju ke kelas kami.


"Ra, Tiara! Tunggu …." Shinta berlari-lari di belakangku. Gadis itu berusaha menyelaraskan langkahku dengan langkah kakinya. "Jangan lupa, sepulang sekolah nanti … kita ada acara. Cari kado buat Darren sebelum pergi ke pesta ulang tahunnya." 


Aku menghentikan langkahku. Astaga, bahkan aku telah menolak Darren, kenapa pula harus datang ke acara itu. Bukankah aku akan semakin terlihat seperti seorang pemberi harapan palsu? 


Namun Shinta tak menghentikan langkahnya. Dia terus melangkah cepat meninggalkan aku. 


"Tapi Shin …." 


Ah … kenapa malah aku sekarang yang harus mengejar langkah Shinta. Aku mempercepat langkahku hingga langkah kami hampir selaras. 


"Aku baru saja menolaknya. Kalau aku datang ke acara itu, bukankah terlihat seperti tukang PHP? Nggak ah, kamu aja yang datang sendiri." Sedikit terengah, aku meletakkan tasku di atas meja. Tepat saat itu, bel sekolah berbunyi.


"Datang! Kalau nggak, kita nggak usah berteman lagi!" ucapnya dengan nada datar. Kalimat ancamannya membuatku sangat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2