Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Terlalu Egois


__ADS_3

Aku tak mau lagi terpengaruh dengan ucapannya. Secara naluriah, aku sangat yakin ini adalah tujuan akhir dari semua drama ini. Dan aku sangat menantikan pintu ini.


Segera kuputar kenopnya sambil berharap cahaya matahari akan menerpa wajahku, sambil berharap dapat menghirup udara beraroma manis cotton candy di luar sana. 


Aku segera bernapas lega ketika semua yang kupikirkan menjadi kenyataan. Akhirnya kulepas genggaman tanganku. 


Kulihat jam yang melingkar di tanganku. Astaga, kenapa jarum jam ini bergerak begitu lambat. Bahkan aku ingin segera pulang. 


"Kita ke sana, yuk!" ajak Darren. Tanpa ragu, dia kembali menggenggam tanganku dan menyeretku begitu saja. 


"Hentikan Darren!" 


Kali ini aku menarik tanganku dan menghempaskan tangannya. Kugelengkan kepalaku perlahan untuk menunjukkan ketidaksukaanku akan semua perlakuannya ini.


"Cukup, Ren," ucapku sambil melangkah mundur. "Aku nggak tahu kalau kamu ternyata adalah sosok yang egois, dominan dan tak bisa menghargai keinginan orang lain. Kamu nggak mau peduli aku suka atau nggak suka, asal kamu mencapai keinginanmu." 


Pria muda itu tampak terkejut melihat reaksiku. Dia mengangkat tangannya hingga menggantung di udara. Telapak tangan yang semula mengembang itu perlahan ditutup dan turun ke tempatnya semula. 


"Maafkan aku, Ra. Aku terlalu excited karena ada kamu di sampingku," ucapnya terdengar penuh nada penyesalan. "Aku tidak bermaksud untuk …." 


Aku mendecih menunjukkan kekesalanku. Seenak itu dia bicara, bagaimana kalau jantungku copot di dalam sana? Apa kira-kira dia mau bertanggung jawab? 


"Sudah … nggak usah kamu jelasin. Tapi aku yakin, kamu bakal ngelakuin hal yang sama dan kembali minta maaf dengan dalih yang sama," ucapku dengan nada kesal. "Cukup, sekarang aku mau pulang."


Aku segera pergi dari tempat itu, tapi Darren mengejarku. Sekali lagi pria muda itu menghalangi dan menahan langkahku.


"Ra, kasih aku waktu buat buktikan kalau semua yang kamu tuduhkan itu nggak benar," ucapnya. 


Aku menarik tanganku dan melipatnya di depan dadaku. Kutatap sepasang mata yang tampak panik dalam kebingungannya itu.


"Sepuluh detik, dimulai dari sekarang," ucapku masih dengan perasaan kesal. "Satu …"


"Tapi nggak gini juga, Ra," sahutnya.


"Dua …" lanjutku tetap menghitung.


"Astaga," ucapnya. 

__ADS_1


"Tiga …" 


"Iya, aku memang salah. Aku egois, aku …" akunya.


"Empat …"


"Aku hanya ingin semua yang kumau terwujud." 


"Lima …" 


"Semua yang kamu katakan itu benar, tapi …"


"Enam …" 


"... semua yang aku lakukan itu semata-mata untuk …" 


"Tujuh …"


" … membuatmu bahagia, Ra." 


"Baiklah … baiklah, sekarang apa yang kamu …"


"Sembilan …" 


" … mau? Kita main apapun yang kamu mau."


"Sepuluh!" ucapku mengakhiri perhitungan waktu untuknya. "Waktu sudah habis, dan kamu nggak membuktikan apapun, Ren." 


Aku menarik kedua tali tas punggungku, membuatnya mengetat di belakangku. Lalu dengan tenang aku pergi meninggalkannya. 


Sebenarnya aku sudah cukup bersabar hari ini. Bahkan aku telah berkali-kali mengalah hanya karena menuruti keinginannya. Mulai dari rencananya yang kurasa memang sudah disusun rapi, hingga semua hal yang terjadi di taman hiburan ini. 


Tapi …. Harus kuakui juga sih, seandainya saja aku tidak terlambat bangun, semua hal ini tidak akan pernah terjadi. Suara Darren masih terdengar memanggil namaku, tapi aku sudah memutuskan untuk keluar dari tempat ini. 


Aku berjalan di sepanjang trotoar, menuju sebuah tempat perhentian kendaraan umum. Panas matahari yang menyengat  benar-benar membuatku merasa sangat haus. Tetesan keringat bahkan kurasakan mengalir di balik kaos yang kupakai. Mungkin saja bagian belakang kaos ini sudah terlihat basah di beberapa bagian. 


Ditambah lagi arus kendaraan di jam-jam sibuk seperti ini membuat asap dan debu jalanan semakin menjadi. Ah … mungkin sebaiknya aku memesan dari aplikasi akomodasi online daripada harus menunggu tanpa sebuah kepastian.

__ADS_1


Kukeluarkan ponselku dan mulai menekan beberapa tombol yang ada di atas layar. Hmm … lumayan juga sih, jarak dari tempat ini ke rumah. Lumayan jauh! Tapi …. Daripada aku harus terus merasa dimanipulasi oleh Darren, mending aku pulang saja. Aku mulai menyeting lokasi penjemputan dan hampir saja menekan tombol pesan sekarang, ketika tiba-tiba sesuatu mengejutkanku. 


Tin! Tin! 


Sebuah mobil yang kukenali tiba-tiba saja berhenti tepat di hadapanku. Kaca gelapnya turun menampilkan sebuah wajah yang semalam menari di dalam pikiranku. 


"Sesuai aplikasi, Non?" godanya dengan seulas senyuman yang mengembang di bibirnya.


Tanpa menunggu lama, aku segera masuk ke dalam mobil itu. 


"Om Damar! Kenapa ada di sini?" tanyaku karena terkejut akan pertemuan yang tak kuduga ini.


Aku mengamati pria yang kembali asik dengan kemudinya itu. Wajah tampan yang khas dengan tekstur kerasnya itu kini hanya berjarak tak lebih dari setengah meter saja dariku.


"Eh … eh … eh, harusnya aku yang nanya, kenapa kamu ada di sini, bukannya sekolah," balasnya tepat pada sasaran. 


"Euuh …. Anu Om. Tiara kesiangan sekolahnya," ucapku dengan perasaan tak nyaman.


"Terus sama sekolahnya disuruh pindah sekolah kemari, gitu?" Om Damar sepertinya sengaja menggodaku. 


"Yaaa …. Nggak gitu juga sih." Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali nggak gatal. 


"Lah …. Terus kenapa kamu jadi keliaran macam anak kucing liar di sini?" Aku melihat ada senyuman tipis di bibirnya.


"Diajakin bolos sama teman." Aku menghela napas panjang. Rasanya nggak nyaman banget setelah melakukan semua ini. Apalagi tatapan dan ucapan bernada menyindir yang terucap dari bibir Om Damar. 


"Ah … jadi kalau kesiangan, terlambat sekolah itu solusinya bolos ya?" tanyanya lagi. 


"Ish! Kok jadi seperti maling ayam gini sih, aku diinterogasi nih, ceritanya?" sahutku mulai kesal. 


"Enggak, aku cuman ingin tahu apa kamu sering ngebolos seperti ini," dalihnya. 


Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada dengan mulut mencebik kesal. "Om tahu nggak, semua ini gara-gara Om! Semua ini salah Om Damar! Bukan salahku." 


"Leh …. Kok bisa aku sih yang disalahin?" tanyanya dengan sebuah tawa yang pecah. Satu tangannya menggapai kepalaku dan mulai mengacak rambutku. 


"Iya …. Emang semua ini gara-gara Om Damar. Kalau saja Om Damar nggak aneh-aneh kemarin, aku nggak akan … ew …." Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku. 

__ADS_1


__ADS_2