Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Trio Barbar


__ADS_3

Pagi itu aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Tentu saja dengan alasan agar aku tak perlu bertemu dengan Darren. Jangan tanya kenapa, karena tentu saja aku tak ingin dia membujukku untuk membolos lagi. 


Sepanjang perjalanan aku masih berpikir tentang kejadian semalam. Tentang wanita cantik dengan suami bulenya itu. Ada kisah apa dalam sejarah perjalanan hidup Om Damar. Semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang singgah di otakku. Hmm … mungkin lebih baik aku menanyakan pada Om Marcel. Aku rasa sedikit banyak, dia tahu sesuatu tentang kisah mereka.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Tanpa perasaan curiga, aku berbalik untuk mencari tahu siapa yang sedang menyapaku. Tentu saja tanpa rasa curiga, bagaimanapun tak mungkin seseorang akan menyakitiku di lingkungan sekolah ini. 


"Akhirnya gue bisa ketemu lo, tanpa pengganggu di sekitar lo," ucapnya gadis berekor kuda itu. 


Mataku membulat menyadari kehadiran ketiga gadis anggota cheerleader di sekolahku itu. Ketiga gadis yang terkenal dengan tingkah barbarnya itu menatapku dengan sinis. Sepasang tangannya bersilang di depan dadanya, memperlihatkan sebuah posisi siaga untuk melakukan sebuah penindasan. 


"Ada perlu apa kalian bertiga denganku?" tanyaku. 


Kucoba untuk menyingkirkan segala pikiran negatif yang hinggap di kepalaku. Mungkin saja mereka memang sedang butuh bantuanku, hanya saja  mereka memang tak mampu berbicara dengan baik karena sudah terbiasa dengan sikap arogansinya.


Gadis berekor kuda itu tersenyum sinis. Diturunkannya sepasang tangannya lalu mendekat sambil berbisik di telingaku. "Ikutin gue!" titahnya. 


Aku melihat gadis itu melangkahkan kakinya menyusuri lorong koridor sekolah. Sementara kedua temannya menatapku dengan tajam, kepalanya sedikit terangkat seolah memberiku kode agar mengikuti perintah gadis berekor kuda itu.


Sepi … sekolah masih terlalu sepi. Bahkan beberapa siswa yang datang pagi ini tidak terlalu memperdulikan kami. Mereka yang berpapasan denganku hanya menatap sekilas dan berlalu dengan acuh. Tentu saja, mereka ogah ikut campur dalam masalah ketiga gadis barbar ini.


Mau tidak mau aku mengikuti langkah gadis itu. Ada masalah apa dengan mereka. Aku rasa ini sangat aneh. Bahkan aku tidak merasa pernah merugikan siapapun di sekolah ini. Aneh sekali jika tanpa alasan jelas, mereka tiba-tiba menyerangku. 


Brak! 


Gadis itu membuka sebuah ruangan dengan paksa. Ruangan penyimpanan barang yang sudah tak terpakai itu memperlihatkan banyak debu dan jaring laba-laba di mana-mana. Ruangan yang jarang sekali dikunjungi bahkan oleh bagian kebersihan sekolah kami. Tapi, kenapa mereka mengajakku kemari?


Gadis berkuncir ekor kuda itu berbalik dan kembali menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini aku membaca name tag di dadanya dan tentu saja tak akan kulupakan begitu saja. Syeni, Nadya dan Wina. Aku yang biasanya mengenali mereka dari kejauhan, tanpa tahu namanya, kini akan selalu mengingat nama-nama mereka dengan benar.

__ADS_1


"Lo tahu kenapa gue benci sama lo?" tanya gadis bernama Syeni. Gadis itu berjalan mendekatiku, mendesakku hingga punggungku menempel ke tembok. 


Hah! Apa aku nggak salah dengar? Dia benci aku? Kenapa? Apa aku pernah menyakiti mereka? 


Sepasang mataku membulat, menatap wajah garang pemimpin regu cheerleader sekolah kami itu. "Ke–kenapa kamu membenciku?"


Gadis itu tertawa. "Yakin lo pingin tahu?" Gadis itu mendorongku hingga jatuh terduduk di atas sebuah bangku kayu yang berdebu. 


"Pertama, lo suka kecentilan, sok kecakepan. Dan gue jijik liat lo, tau!" 


Aku menelan kasar salivaku. Astaga, kecentilan? Apa itu pandangan mereka terhadapku? Tapi aku tahu, mengatakan apapun juga percuma ketika mereka sedang menikmati semua perlakuan mereka ini.


"Kedua, gara-gara lo Ricky nolak gue!" ucapnya kemudian. "Lo biang kerok atas semua kesialan yang gue alami!"


Ah … jadi ini semua gara-gara Ricky. Kenapa juga Ricky yang nolak dia, tapi aku yang disalahkan? Semua ini nggak ada hubungannya sama aku, kan?


Kali ini Syeni tanpa ragu menendang kursi yang sedang kududuki. Kursi kayu itu pun goyah, saat salah satu kakinya patah. Dan tanpa sebuah persiapan, aku pun terjatuh. 


"Sok kecentilan!" 


"Jangan pernah muncul di hadapan kami! Aku peringatkan sekali lagi," ucapnya dengan nada mengancam. 


Mereka bertiga meninggalkan aku dalam ruangan penuh debu. Suara debaman pintu, menyadarkan aku bahwa mereka tidak hanya meninggalkan aku begitu saja, tapi mereka juga mengurungku di tempat itu.


Tapi … bukankah pintu ini sudah dibuka paksa sebelumnya. Jadi mereka tak mungkin bisa menguncinya. 


Aku mencoba membuka pintu itu. Memutar handlenya berulang kali. Tapi tak ada hasil. Pintu itu bergeming. Pintu itu tak menampakkan sebuah pergerakan yang berarti. Jadi … kurasa mereka sengaja memasang sesuatu di handle kunci bagian luar untuk menahanku.

__ADS_1


Cara yang licik! Mereka menjebakku dengan cara yang licik!


Tapi … bukankah aku bisa menghubungi seseorang dengan ponselku. Aku bisa meminta bantuan pada Shinta! 


Kukeluarkan ponselku dari dalam sakuku. Kucoba menghubungi Shinta, tapi … bahkan sebuah nada sambung pun tak terdengar. Kucoba menghubungi Raka, tapi sekali lagi aku tak mendengar sebuah nada sambung sedikitpun. 


Ish! Sinyal. Tak ada sinyal sedikitpun di tempat ini. Bagaimana ini? Tak ada cara bagiku untuk bisa keluar dari tempat ini. Bahkan ruangan ini tak pernah dilewati oleh siapapun karena lokasinya yang berada di tempat paling sudut di sekolah ini, tempat yang terabaikan!


Dengan rasa putus asa, kucoba mengangkat ponselku tinggi-tinggi. Aku berharap dengan melakukan cara aneh ini, sinyal itu akan muncul di ponselku. Hanya ini cara yang terpikirkan olehku untuk keluar dari tempat ini. 


Ada! Ada sedikit sinyal saat aku mengangkat ponselku tinggi-tinggi. Namun sinyal itu kembali lenyap saat tanganku kuturunkan untuk melakukan sebuah panggilan. 


"Haish! Aku bisa gila!" teriakku dengan gusar. 


Kuambil sebuah kursi dan naik ke atasnya. Dapat! Aku memperoleh dua garis sinyal di ponselku. Lemah, tapi cukup bagiku untuk melakukan sebuah panggilan telepon. 


Aku mencoba menghubungi Shinta. Tapi gadis itu tak merespon. Demikian pula dengan Raka. Hmm … bisa jadi mereka sedang di jalan. Darren? Tidak … aku tak akan mencari masalah baru dengan menghubunginya.


Dengan putus asa, kali ini aku menghubungi Om Damar! Dia satu-satunya harapanku, karena aku tak ingin menghubungi mama dan membuatnya datang ke sekolah dengan perasaan cemas. 


Namun … baru saja aku berhasil menghubungi Om Damar, kaki kursi itu goyah. Kayu-kayu kursi ini ternyata sudah rapuh, mungkin karena sudah tua. 


Dan celakanya karena posisiku kali ini berdiri di atasnya, aku pun jatuh terpelanting. 


"Aaargh!" 


Badanku terasa sakit dan kakiku sepertinya terkilir, sementara ponselku pecah dan mati begitu saja karena posisi jatuhku. Astaga, aku harus bagaimana sekarang? Tak akan ada yang bisa membantuku. 

__ADS_1


__ADS_2