
"Hadiah? Euuuh … kenapa Om Damar nggak ngomong dari kemarin sih!" sahutku sedikit bingung. “Coba kalo bilang, ‘kan Tiara bisa siapin dari kemaren-kemaren.”
Astaga … sebenarnya bahkan aku tak terpikirkan hendak memberinya apa. Karena aku tak yakin dia membutuhkan sesuatu, atau … ada sesuatu yang diinginkan olehnya. Bukankah semuanya akan dengan mudah didapatkannya.
Pria itu tersenyum tipis. Kali ini dia melangkah mendekati sudut area rooftop yang terlihat indah dengan dekorasi bunga yang mempercantik sebuah bangku dengan latar berbentuk hati di bagian belakangnya.
"Kemarilah, biarkan aku mengambil hadiahku sendiri," ucapnya seolah aku sudah membawa hadiah untuknya. "Duduklah di sini. Temani aku, Tiara.”
Om Damar menepuk kursi di sampingnya, seperti memintaku agar aku duduk tepat di sisinya. Tapi … kalimat yang baru saja diucapkannya membuatku merasa ragu untuk datang mendekat padanya. Mengambil hadiahnya sendiri? Apa yang dimaksud hadiah olehnya?
"Kenapa? Apa aku terlihat seperti hantu?" tanya pria itu padaku.
Aku masih terpaku di tempatku berdiri. Lidahku terasa kelu, tak mampu berkata-kata. Hingga seulas senyuman itu kembali terlihat di wajahnya. "Apa aku harus kembali menjadi seorang model agar bisa memiliki bahkan sebuah foto denganmu? Ah … haruskah aku menggantikan posisi Darren."
Kalimat itu seakan membuat hatiku merasa lega. Tentu saja aku merasa sangat lega, setelah otakku sempat traveling ke hal-hal yang menakutkan karena kalimat yang diucapkannya. Entahlah, aku merasa cukup was was karena suasana yang terlalu sepi menurutku atau karena ucapan-ucapannya yang memicu sebuah praduga dalam otakku.
Sekali lagi aku merasa kesal dengan apa yang aku pikirkan. Seandainya dia ingin bertindak yang aneh-aneh, dia mempunyai banyak kesempatan bahkan sebelum ini.
Dengan membuang semua keraguan, aku pun menghampirinya. Duduk tepat di sampingnya. Om Damar mengeluarkan ponselnya dan segera mengambil beberapa gambar selfie kami berdua.
Dua orang waiters melangkah dengan mantap menuju meja kami. Diletakkannya beberapa menu makanan di atas meja, demikian pula beberapa minuman yang tampak begitu menarik dengan lapisan yang berwarna warni di dalam gelas kristal itu.
“Udahan yuk, Om. Tiara udah lapar nih,” ajakku untuk mengakhiri sesi foto selfie yang sudah cukup lama itu.
“Ya udah,” sahutnya sambil berdiri dan membimbingku kembali ke meja tempat hidangan kami tersaji.
Instrumen yang tersaji untuk memanjakan telinga kami masih mengalun dengan lembut. Kini sang violin sedang memperdengarkan vokalnya, bersenandung dengan suaranya yang merdu dalam iringan piano.
__ADS_1
Om Damar seperti biasa, membantuku mempersiapkan makanan yang hendak kusantap. Kali ini dia membantuku dengan memotong-motong daging steak yang terlihat begitu menggoda di atas meja makan.
Aku menatap pria di hadapanku. Memperhatikan garis-garis yang membentuk wajahnya yang tampan. Eh … seandainya dia menggeluti dunia model, aku yakin dia adalah model dengan bayaran termahal. Karena menurut pandanganku, dia adalah pria termacho yang pernah kulihat.
Mataku membola ketika tanpa sengaja kami berdua bersitatap. Aih … benar-benar memalukan. Rasanya seperti seorang pencuri yang kepergok.
Om Damar tersenyum. Tangannya terulur, meletakkan piring berisi daging steak yang telah terpotong dengan irisan yang rapi di hadapanku.
“Kenapa? Apa kamu baru menyadari ketampanan kekasihmu ini?” tanyanya. Kali ini tangannya mencubit pipi kiriku.
“Kekasih? Sejak kapan?” tanyaku.
Om Damar tersenyum misterius. Matanya menatapku dengan pandangan yang tak kupahami. “Sejak kamu memakai kalung itu. Bukankah kita berjanji akan saling mengingat dan saling memikirkan satu sama lain?”
Aku terperangah. “Jadi … Om Damar sedang memperdayaiku agar aku mau menjadi kekasih Om, gitu?” tanyaku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar.
Sekarang aku mulai paham arti dari senyum itu. Itu adalah senyum kemenangannya!
“Ish! Itu namanya curang,” ucapku sambil menyilangkan kedua tanganku ke depan dada.
“Kamu tahu, nggak kalau … seseorang yang sedang ulang tahun itu permohonannya wajib dikabulkan,” ucapnya sambil menancapkan garpunya pada daging steak di atas piring makannya.
“Euuh … tapi nggak permintaan macem gitu juga kali, Om,” sahutku dengan ragu.
“Jadi kamu mau nolak permintaan seseorang yang sedang berulang tahun ini?” desaknya.
“Ish … enggak gitu juga sih, Om,” sahutku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
__ADS_1
Jujur, dalam hati aku mengagumi dia. Sosok yang sempurna menurut pandanganku. Wajah tampan, penampilan yang diatas rata-rata. Bukan hanya itu, bahkan dia sudah mempunyai pekerjaan dan karir yang cemerlang. Ditambah lagi, dia begitu menyayangiku dan memperlakukan aku layaknya seorang putri. Hmm … dia berbuat seolah-olah aku adalah hal paling berharga yang dimilikinya.
Pria itu tersenyum. Iya, aku tahu itu adalah senyum kemenangan. Kini daging di ujung garpu itu mengarah tepat di depan mulutku.
“Sssh … sekarang diam dan nikmati makananmu. Tak perlu kamu beritahu, aku mengerti perasaanmu,” ucapnya.
Mulutku mulai mengunyah daging steak kualitas premium itu. Rasanya yang gurih dengan tekstur lembut itu bermain di lidahku. Rasanya begitu juicy sangat berbeda dengan steak yang pernah kumakan sebelumnya.
“Kamu menyukainya?” tanyanya saat melihatku menghentikan kunyahanku.
Aku menganggukkan kepalaku, menanggapi pertanyaan yang ditujukannya. “Om Damar, terus terang … aku menyukai Om Damar. Tapi ….” Aku menghentikan kalimatku dan mulai berpikir bagaimana cara agar aku bisa bersamanya tanpa harus ada seorang temanku yang tahu tentang kami berdua.
Pria itu meletakkan garpu dan pisau di tangannya. Sangat terlihat jelas bahwa dia sedang menunggu aku melanjutkan perkataanku.
“Aku tidak mau teman-temanku tahu tentang hubungan kita, setidaknya hingga aku menyelesaikan sekolahku,” lirihku. “Aku tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Aku hanya ingin belajar dengan tenang dan memperoleh nilai kelulusan dengan gemilang.”
“Tentu saja, kamu harus lulus secepat mungkin. Karena aku akan menunggumu hingga saat itu tiba, seperti yang pernah kujanjikan padamu,” ucap pria itu. “Jadi … apa kamu mau menjadi kekasihku?”
Kali ini aku menganggukkan kepalaku dan dapat tersenyum dengan lega.
Ya … mulai saat itu kami berdua adalah sepasang kekasih.
Setelah makan malam itu, Om Damar tidak segera mengantarku pulang. Kami berdua berhenti sejenak di depan sebuah taman. Sebuah tempat yang sepi, walau biasanya ramai di siang hari.
“Kau tahu bagaimana rasanya jika sebuah perasaan cinta itu tidak mendapatkan balasannya?” tanyanya tiba-tiba. “Aku mempunyai sebuah ketakutan tersendiri jika perasaan itu kembali menyerangku.”
Pria itu menghela napas dan mengajakku duduk di sebuah bangku panjang. Dengan patuh, aku mengikuti ajakannya.
__ADS_1
Namun aku terkejut ketika tiba-tiba saja pria itu meletakkan kepalanya di pangkuanku. Tatapan matanya terlihat begitu mesra dan mendamba.
“Jangan pernah pergi dari hidupku, Tiara.”