Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Calon Istri


__ADS_3

Aku masih diam tanpa bisa berkata-kata, bahkan saat Om Damar kembali membopongku keluar dari gedung bangunan sekolahku. Semua yang baru saja terjadi masih seperti sebuah kejutan bagiku. Seperti sebuah mimpi dan aku baru saja tersadar dari tidurku. 


Akhirnya dia membawaku masuk ke dalam mobilnya. Namun kali ini Om Damar tidak duduk di balik kemudinya. Seorang pria berseragam dengan perawakan tegap duduk di balik kemudi, di bangku depan, siap untuk mengemudikan kendaraan mewah dengan warnanya yang kelam.


"Antar aku ke rumah!" titahnya pada pria yang duduk dibalik kemudi.


"Baik Tuan!" sahut pria berseragam itu dengan patuh. Tanpa banyak berkata-kata, dia segera memutar kemudinya, dan mobil mewah itu pun membawa kami, meluncur dan menjauh dari area gedung sekolah. 


***


"Aaargh!" teriakku ketika pria berpakaian putih khas pekerja medis itu menyentuh kaki kananku. "Jangan sentuh kakiku! Kamu hanya akan membuatnya bertambah sakit!" tolakku saat pria itu hendak menyentuh kembali kaki kananku.


Dengan sabar pria muda itu menarik napas dan memberikan aku seulas senyuman. Dia menatapku saat mengambil posisi duduk di samping sofa.


"Hanya sedikit sakit. Sedikit saja …. Tahanlah sebentar. Bukankah kamu ingin cepat bisa berjalan sendiri?" rayunya.


"Tak apa … tidak apa kalau kamu tidak mau menjalani terapimu," ucap Om Damar yang tiba-tiba muncul dengan segelas susu hangat di tangannya. "Kalau kamu nggak mau diterapi, aku bersedia kok, gendong kamu tiap hari." 


Mataku langsung membulat. Hah! Digendong tiap hari?  Buset! Apa dia nggak tau betapa memalukannya hal itu? Apalagi mengingat semua tatapan orang sepanjang hari ini. Saat di sekolah dan juga … saat dia menggendongku masuk ke dalam rumah ini. 

__ADS_1


Aku ingat tatapan sang penjaga rumah dan beberapa asisten rumah tangga yang sedang membersihkan rumah, tadi. Bagaimana mereka berhenti melakukan pekerjaannya dan berbisik seperti membicarakan aku. 


"Nggak … nggak. Aku yang ogah! Dih … malu lah! Emangnya Tiara anak kecil?" protesku dengan kesal. 


"Memang kamu anak kecil. Cuman disentuh terapis saja udah merengek, merajuk seperti balita," ucap Om Damar mengejekku. 


Aku mencebikkan bibirku dengan kesal.  Jelas aja dia ngomong seenak itu karena dia nggak tau bagaimana rasanya. "Siapa yang merajuk? Nggak … aku nggak merajuk, kok," sahutku.


"Nih, minum dulu. Jangan cengeng. Masa cuman terkilir dikit aja sudah teriak-teriak macem kena tembak." Om Damar menyodorkan gelas di tangannya. 


Segera kuteguk habis susu hangat di dalam gelas itu. Bagaimanapun semua yang dikatakannya itu benar. Aku nggak boleh nolak terapi ini jika ingin segera sembuh. Mama bisa panik jika tahu kejadian di sekolah hari ini. Aku harus sembuh agar tidak menjadi beban pikiran mama. Kasihan jika dia harus terbebani oleh masalah baru. 


Aku tak lagi menolak menjalani sesi terapi itu. Walau ahh … tentu saja aku telah menjadikan rumah Om Damar sangat berisik dengan teriakanku. Namun terapis itu sangat telaten. Hmm … kurasa mungkin telinganya sudah terlatih dengan berbagai macam tinggi rendahnya warna suara teriakan pasiennya. 


Pria yang baru saja mengantar tamu terapisnya hingga ke depan pintu itu berjalan mendekatiku, tentunya setelah menutup pintu ruang tamu. Kali ini wajahnya tidak sedatar saat berhadapan dengan Bu Hartini. Kesan angkuh dan arogan yang tadi jelas terlukis di wajahnya telah berganti dengan keramahan dan tatapan hangat penuh cinta. 


"Apa kamu sudah bisa menggerakkan kakimu?" Pilihan kata yang pertama diucapkan Om Damar untuk menyapaku. 


"Ew … bisa sih. Makasih Om, udah datang dan selamatkan Tiara dari gudang itu," ucapku. Aku nggak nyangka, Om Damar benar-benar bisa kuandalkan dalam situasi seperti itu. Dia bukan hanya menyelamatkan aku, tapi juga mengatasi semuanya dengan sangat baik.

__ADS_1


Pria itu menarik sudut bibirnya. "Tentu saja, semua akan kulakukan untuk menjaga milikku. Bukankah kamu adalah calon istriku."


Kali ini aku kembali mencebikkan bibirku. "Dih … mulai deh nge gombalnya."


Om Damar tertawa mendengar cibiranku. "Kamu bisa mengatakan bahwa itu gombal, jika aku tidak melakukan apapun. Apa kamu mau menyangkal bahwa semua masalah ini berhasil ku selesaikan dengan baik?"


Eh … benar sih. Dia menyelesaikan semuanya hingga tuntas. Mungkin besok aku sudah mendengar berita gosip, bukan saja tentang aku dan om om penyelamatku, tapi juga tentang ketiga gadis barbar itu. Entah apa yang bakal menjadi hukuman mereka. Sekedar menggunakan rompi merah pelanggaran terberat atau bahkan …  dikeluarkan dari sekolah. 


"O iya Om, tentang ancaman Om tadi. Masa sih Om Damar serius ingin memperkarakan masalah ini hingga ke ranah hukum? Terus … tentang kerugian itu … benarkah mereka harus menanggung semua itu?" tanyaku kemudian.


Wajah Om Damar berubah menjadi sangat serius. "Jika aku tak mengancam serius kepala sekolahmu, apa kamu yakin ketiga siswa yang kamu ceritakan di mobil tadi akan jera? Apa kamu yakin tidak akan menjadi bahan bulan-bulanan mereka di kemudian hari?"


Ew … bener sih. Semua yang dikatakannya nggak ada yang salah. Mereka nggak mungkin jera. Bahkan semua siswa tunduk seolah mereka gangster di sekolah kami. 


"Tapi … tentang menutup sekolah. Benarkah Om bisa melakukan semua itu?" tanyaku kemudian. 


"Tentu saja. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Bagaimanapun, aku harus melindungimu. Masalah ini tak akan ku ijinkan terjadi untuk yang kedua kalinya," ucapnya dengan sungguh-sungguh.


"Lalu … kalau sekolah itu ditutup, Tiara jadi nggak lulus dong, sekolahnya," sahutku. 

__ADS_1


Mau tidak mau, aku harus membela almamaterku. Seandainya sekolahku tutup, pasti akan semakin susah bagiku. Mencari sekolah baru di semester yang hampir berakhir, menjelang kelulusanku pula. Aih … kegilaan apa lagi ini, nggak mungkin semua orang harus menanggung semua kesalahan ketiga gadis barbar itu. 


"Om Damar nggak boleh melakukan itu!" ucapku dengan tegas. 


__ADS_2