
Malam itu terlihat begitu sunyi. Tak ada satu pun orang yang berlalu. Bahkan angin berhembus dengan sangat pelan, seakan tak ingin kehadirannya mengganggu kami.
Aku mengangkat tanganku dan untuk pertama kalinya aku menyentuh rambutnya. Rambut hitam dengan belahan samping itu terasa kaku di telapak tanganku.
Tak ada kalimat yang terucap dari dalam mulutku. Hanya sepasang mata kami yang saling berbicara mengatakan secara jujur semua perasaan kami. Tanpa sebuah kepalsuan.
"Selamat ulang tahun, Om," lirihku
***
Malam itu aku kembali kesulitan memejamkan mataku. Semua bayangan kejadian sepanjang hari ini seakan berputar kembali. Tentang makan malam romantis dan bagaimana kami berpelukan sepanjang malam.
Juga tentang benda yang melingkar di leherku ini. Sebuah kalung yang merupakan pengikat hubungan di antara kami. Sepasang kekasih.
Kenapa aku secepat ini berubah pikiran? Bagaimana bisa aku menerima seorang om-om menjadi kekasihku? Jarak usia belasan tahun ini … pantaskah aku bersama dia?
Aku menghela napas dan membalikkan badanku. Pandanganku lurus menatap langit-langit kamar yang berwarna putih di atas sana, tapi pikiranku tetap melayang pada saat itu.
Ah! Mungkinkah ini kutukan kalung pemberiannya? Dia benar-benar membuatku tak bisa tidur karena terus memikirkannya.
Suara ponsel tiba-tiba terdengar.
Astaga, ini sudah pukul sebelas malam. Siapa juga yang nelpon di malam seperti ini. Bisa-bisa aku makin nggak bisa tidur dan terlambat ke sekolah.
Eh … Om Damar! Kenapa dia nelpon selarut ini?
"Sayang, kamu belum tidur?" tanyanya seperti sebuah basa basi.
"Ish, kalo Tiara angkat, itu berarti belum tidur. Emangnya Tiara sleepwalker, gitu?" sahutku sedikit kesal.
"Kenapa, kok manyun gitu? Nggak seneng ya, aku telpon?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Tiara lagi coba tidur, takut terlambat sekolah besok. Tapi …." Aku tak melanjutkan kalimatku. Tentu saja aku gengsi kalau harus mengatakan aku tak bisa tidur karena mikirin dia.
"Tapi kenapa?" tanyanya.
"Om … Om. Tiara mau nanya, emangnya kalung ini ada kutukannya apa ya?" tanyaku.
"Kutukan? Kenapa? Ada sesuatu yang salah?" tanyanya dengan nada seakan panik.
"Euuh … nggak tau ah, tapi Tiara kok jadi nggak bisa tidur gini," sahutku.
__ADS_1
Aih … bodoh amat sih pertanyaanku. Bisa-bisa Om Damar nanya kenapa kok nggak bisa tidur. Dan lagi-lagi aku nggak mungkin cerita jawabannya.
"Kenapa kok nggak bisa tidur? Apa kamu sedang ada pikiran atau masalah? Barangkali aku bisa bantu."
Nah kan …. Tepat dugaanku. Dan aku nggak mungkin bilang kalau dia itu biang kerok permasalahanku. Aaah!
"Nggak, sih. Nggak tau kenapa, nih. Nggak biasanya," sahutku mencari alasan yang tak beralasan. "Nyanyi dong, biar aku bisa tidur."
"Tapi … aku nggak pinter nyanyi," sahutnya sambil tertawa terkekeh.
"Yah … alamat deh, nggak tidur malam ini. Besok terlambat sekolah dan kena skors karena tidur di kelas," ucapku sedikit memaksa.
Entah kenapa tiba-tiba timbul keusilanku. Tidak mungkin ada pria dengan standar sempurna seperti dia. Aku yakin, dia juga punya sebuah kekurangan. Mungkin saja dia nggak bisa nyanyi!
Suara ******* napasnya terdengar dari dalam telepon. Tak lama kemudian terdengar suara lirih dari dalam ponselku. Sangat pelan hingga perlu menempelkan benda pipih itu lekat-lekat ke telinga untuk sekedar mendengarkannya.
Dia menyanyi! Benarkah dia sedang bernyanyi untukku?
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Deg!
Jantungku berdebar semakin kencang. Om Damar! Dia selalu bisa membuatku merasa sangat berharga. Dia selalu bisa membuat hatiku melayang.
Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Jam sudah semakin mendekati angka dua belas. Sudah dua lagu yang dinyanyikannya untukku.
"Sayang … apa kamu sudah tidur?" tanyanya.
"Hmm … not yet. Kenapa? Apa Om sudah capek bernyanyi untukku?" sahutku.
__ADS_1
"Bukan suatu masalah buatku. Satu lagu lagi ya," lanjutnya. "tapi berjanjilah untuk tidak menahan rasa kantukmu."
"Baiklah …" sahutku.
Hmm … akhirnya aku tetap tak menemukan sebuah celah. Bagaimana bisa pria sempurna seperti dia, memilih hidup melajang hingga sekian lama. Apa ada sesuatu yang buruk padanya yang tak kuketahui? Mungkinkah karena dia terlalu rapi menyimpan semuanya? Atau aku terlalu dibutakan oleh perasaanku?
Hoam! Ah … sudahlah, seharusnya aku berhenti berpikir yang tidak-tidak. Bukankah seharusnya aku mempercayai apa yang aku lihat, selama ini Om Damar selalu baik padaku.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh saat aku terjaga dari tidurku. Tentu saja aku melompat dari ranjangku. Jika dalam hitungan menit aku tidak juga selesai bersiap, maka aku harus siap berkeliling sekolah mencari beberapa orang guru untuk sebuah koleksi tanda tangan. Bukan hanya itu, poin minus otomatis tercatat di buku pelanggaranku.
Tidak! Tidak untuk yang kedua kalinya semester ini! Bisa-bisa bukan lagi rompi kuning yang kupakai. Tapi rompi merah!
Peraturan di sekolahku memang begitu ketat, tapi entah kenapa sekolah itu menjadi sekolah favorit di kota kami. Dan tentu saja menjadi pilihanku.
Suara denting spatula berpadu dengan benda logam lainnya terdengar dari arah dapur. Kebisingan yang setiap hari kudengar saat pagi hari itu seolah suara musik yang penuh semangat untuk mengawali hariku.
"Sarapan dulu, Sayang!" teriak mamaku dari dapur.
Aku melirik jam di dinding. Hanya tersisa sepuluh menit saja!
"Nggak keburu, Ma!" sahutku juga dengan suara keras. "Tiara berangkat sekarang!"
"Hati-hati di jalan."
Suara itu yang terakhir kudengar sebelum aku menutup pintu. Haish! Sekarang aku harus berlari ke halte. Kulangkahkan sepasang kakiku dengan cepat. Setengah berlari, karena tasku hari ini terlalu berat untuk kuajak berlari.
Tin! Tin!
Aih … siapa lagi sih? Kulirik jam di tanganku. Astaga, hanya tersisa lima menit! Aku nggak mungkin selamat. Kuhentikan langkahku dan berbalik menatap kesal seseorang yang seolah dengan sengaja menggangguku itu.
Pria muda itu membuka kaca hitam helm teropongnya. Kulihat sebuah senyum yang lebih tampak menyeringai itu di bibirnya. Senyuman lebar yang tampak aneh.
"Tiara! Kamu kesiangan lagi," ucapnya setengah mengejek. "Sekarang kamu punya dua pilihan."
Mataku membulat. "Apa maksudmu dengan dua pilihan?" tanyaku tak mengerti maksud ucapannya.
"Pilihan pertama, poin minus dan tugas sosial menanti. Atau .…" Aku melihat sekilas cahaya di matanya. "Pilihan kedua, kita berdua membolos. Tidak ada poin minus, tidak ada kerja sosial. Dan bersenang-senang hari ini?"
"Heh! Apa kamu sudah gila? Bisa-bisa kita nggak lulus gara-gara bolos!" sahutku menanggapi pilihan kedua yang diutarakannya.
__ADS_1
Pria muda itu tertawa terkekeh. "Lebih gila kalau kamu memutuskan pilihan pertama," ucapnya sambil melambaikan dua helai kertas surat ijin dokter.