Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Mantan Model


__ADS_3

Sekilas Om Damar memalingkan wajahnya dari jalanan untuk menatapku. "Ya … karena memang harus ditutup. itu mulutnya memang harus ditutup. Karena kalau yang ditutup matanya, bisa salah sasaran tuh pengobatannya."


Astaga …. Apa yang kubilang. Beneran kan, dia kasih jawaban ngaco lagi. Benar-benar jawaban yang asal bunyi! Asbun!


Aku mencebik kesal. "Ish! Ngaco lagi kan. Udah ah, aku nggak mau jawab lagi."


Om Damar tertawa terkekeh. Pria itu memarkirkan mobilnya di halaman parkir Big Star Entertainment kemudian dia menatapku dengan seulas senyumnya yang khas. Telunjuknya mengarah ke pipinya. 


"Mana hadiahnya? Kamu kalah, bukan?" 


Mataku membulat. Hadiah apa?


"Apa maksudnya dengan .…"  Aku mengulang gerakan tangannya, menunjuk ke arah pipiku. 


Pria itu menarik sudut bibirnya, memamerkan kembali sederetan gigi putihnya. "Aku tagih hadiahku," ucapnya sekali lagi sambil menunjuk ke arah pipinya. 


Aku terbelalak. "Gila aja nih orang, baru juga kenal sehari udah minta disosor. Emang dikiranya aku cewek apaan gitu?" batinku. "Ngeselin banget sih! Tapi … hmm, aku tahu harus gimana."


Kulambaikan tanganku memintanya mendekat. Aku menarik sudut bibirku, menahan tawa yang seolah ingin melompat keluar dari mulutku. Tepat ketika wajah itu hanya berjarak beberapa senti saja dariku, kujepit pipinya dengan kedua jariku. 


"Udah, Om. Ini hadiah buat Om Damar," ucapku tanpa bisa menahan lagi derai tawa yang keluar dari mulutku. "Ih, Om lucu sekali, bikin gemes deh. Turun, yuk!" 


Tanpa menunggu persetujuannya, aku segera membuka pintu mobil dan turun dari sana. Sementara om Damar masih menggosok pipinya yang mungkin saja masih terasa panas karena cubitanku. 


Pria itu menurunkan kaca mobilnya. "Tiara! Apa kamu bener-bener nggak mau kasih hadiah buat aku?"


Aku mengangkat tinggi satu alisku. "Apa Om Damar ingin hadiah itu di pipi Om yang lain juga?" tanyaku dengan senyum yang merekah. 


Menghadapi cowok seperti dia memang gampang-gampang susah. Mau ditolak itu, kontrak kerja akan melayang. Tapi jika dibiarkan, maka dia akan terus meminta lebih. Dan itu sangat berbahaya.


Satu hal yang pasti, aku harus selalu lebih pintar untuk menghindar dari segala keinginan “si tuan tak bisa ditolak” ini. 

__ADS_1


Aku melangkah dengan tenang, masuk ke dalam kantor Big Star Entertainment. Tentu saja om Damar tak membutuhkan waktu lama untuk menyusul untuk berjalan di belakangku. 


“Pak Marcel masih ada tamu, anda bisa menunggu di ruangan tamu.” Kak Elsy dengan cepat berdiri menyambut kami dan mengantar kami ke ruang tamu yang dimaksudnya, sebuah ruangan yang berada tepat di samping ruang kerja om Marcel.


Tentu saja seandainya tak ada om Damar, aku bisa menunggu sambil bercengkrama dengan gadis manis itu, tapi sekarang ….


Aku duduk di sebuah kursi panjang dan mulai menyalakan televisi di dengan sebuah remote di tanganku. Beberapa acara tampak di layarnya. Mulai dari kumpulan berita terkini hingga sinetron bergenre “Ku Menangis”. Aku menghentikan pergantian acara, tepat di stasiun televisi yang menyajikan film kartun. 


Om Damar duduk dengan tenang di sampingku. Sementara aku melihat adegan si kucing yang sedang diusili oleh seekor tikus kecil. Si kucing berlari ketakutan saat melihat bayangan seekor tikus raksasa di dinding.


“Kamu suka film seperti ini?” tanya pria itu tiba-tiba.


“Kenapa Om? Ada masalah?” tanyaku.


Aneh saja kalau kontrak ini juga bakal mencakup film yang disukai oleh modelnya. Astaga … perlukah aku membaca setiap detil kontrak yang nanti akan kutandatangani? Sungguh, sepertinya dia tak sama dengan klien lain yang asal disuguhkan gambar-gambar yang oke saja sudah cukup.


“Nggak … nggak masalah. Cuman … agak aneh saja sih, gadis seusiamu suka liat kartun beginian,” sahutnya seperti salah tingkah. 


“Memang seharusnya aku lihat film seperti apa?” tanyaku.


“Ada film bagus yang harus aku tunjukkan sama kamu. Setelah acara penandatanganan kita akan ke sana,” ucapnya. Kali ini dia langsung memutuskan tanpa menunggu sebuah persetujuan dariku.


“Memang ada film apaan sih?” tanyaku.


Pria itu tersenyum lebar. “Film premiere. Tayang perdana. Bahkan tiketnya sudah susah didapat. Full book! Jangan tolak aku kali ini, atau kamu akan benar-benar rugi.”


“Ish! Kok bisa aku yang rugi sih, Om?” tanyaku.


“Film ini bahkan dipesan oleh banyak orang untuk tayangan perdananya. Sementara kita telah mendapat sepasang kursi di tempat ternyaman.” Pria itu terlihat dengan begitu percaya dirinya. Ditopangkannya salah satu kakinya bertumpu dengan kaki yang lain.


“Gimana kalo aku bilang aku nggak bisa ikut, Om?” tanyaku kemudian.

__ADS_1


“Kamu harus ikut," ucapnya mulai memaksakan keinginannya. "Masa sih kamu tega biarin aku nonton sendirian."


"Euuuh …. Tapi Om," sahutku mulai berpikir sebuah cara untuk menolaknya. "Tiara ada tugas yang belum dikerjakan."


"Nonton itu nggak lama, kok. Paling juga 2 jam."


Om Damar duduk dengan santainya. Tangannya direntangkan, tepat di sandaran sofa belakangku. Aku mulai merasa risih dan tak dapat menemukan sebuah cara untuk menolak ajakan itu.


"Apa ada yang aku lewatkan?" Suara seseorang terdengar di belakangku. 


"Euuh …. Om Marcel ngagetin aja." 


Pria setengah baya itu tertawa terkekeh. "Om bikin kaget,  apa ganggu, nih?" godanya.


Om Damar tertawa terkekeh. "Jelas Om Marcel tahu, kok kalau udah ganggu." 


Pria setengah baya itu menepiskan tangannya. “Ih, dasar kamu … kacang lupa kulitnya. Inget tuh, gimana dulu kamu merengek minta posisi jadi model.”


Om Damar berdehem, seolah sebuah kode keras bagi pemilik Big Star Entertainment itu untuk menghentikan obrolan mereka. Tapi … mendengar bahwa Om Damar dulu adalah salah satu model Big Star, membuatku merasa semakin penasaran.


“Sebentar … sebentar ….” Aku menatap kedua pria itu secara bergantian. “Katakan sekali lagi, Om Damar adalah mantan model Om Marcel?”


“Ah … ssh,” desis Om Damar. Wajahnya terlihat kesal. Sementara om Marcel menganggukkan kepalanya dengan seulas senyuman tipis di bibirnya


Aku menatap wajah pria yang duduk di sampingku itu. Entah apa alasannya, dia sepertinya ingin menyembunyikan kenyataan itu. Mungkin sesuatu pernah terjadi dan dia ingin melupakannya.


Hmm … ternyata wajah tampan itu pernah terpampang di beberapa tabloid dengan iklan yang dibintanginya. Ah … kenapa aku jadi begitu penasaran, bagaimana wajahnya di masa mudanya.


Tanpa kusadari aku telah menatap wajah itu dengan begitu lama. Menatap sepasang matanya yang terlihat tegas, dengan hidungnya yang runcing, rahangnya yang tegas dihiasi dengan bulu halus yang semakin memperjelas ketampanannya.


“Gimana? Dia memang cakep, ‘kan?” 

__ADS_1


Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku.


“Tiara ….” panggil Om Marcel sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. 


__ADS_2