
“Tiara!” sambut om Marcel yang segera berdiri dari kursinya.
Seperti biasa, om Marcel selalu berhasil menangkap kecanggunganku dan segera mencairkan kebekuan suasana di sekitarnya.
“Kemari … duduklah di sini,” panggilnya sambil menepuk kursi di sampingnya.
“Tiara?” tanya pria asing itu. Sementara om Marcel menganggukkan kepalanya sambil mengerling genit seperti kebiasaannya.
“Om Marcel, sepertinya aku bisa melakukan tawaran yang terakhir Om berikan padaku,” ucapku tanpa sebuah basa-basi. “Apa … Om sudah menemukan orang lain sebagai model iklannya?”
Om Marcel tampak saling berkomunikasi lewat pandangan matanya dengan sang tamu. Sungguh, rasanya aku hanyalah sesosok alien yang sedang berada di planet asing dan mereka berdua sedang menelitiku.
“Siapa namamu?” tanya pria asing itu.
“Tiara, Om,” sahutku dengan sopan.
Aku yakin dia adalah salah satu sponsor yang mungkin akan memberikan aku sebuah job iklan. Bahkan jika ditilik dari penampilannya, dia tidak tampak biasa saja. Pakaian yang dikenakannya dan gaya bicaranya sangat terlihat jika dia bukan orang sembarangan.
Entah kenapa jantungku berdebar sangat kencang. Bahkan aku tak sanggup menatap sepasang mata teduhnya yang sedalam telaga. Kutundukkan kepalaku karena tak kuasa melawan tatapan tajamnya itu.
Tiba-tiba tangan kekar itu terulur kepadaku. Aku menengadah menatap wajah pria asing itu. Kulihat seulas senyuman terlukis di sana. Mau tak mau, aku membalasnya. Kutarik sudut bibirku untuk memberinya seulas senyuman. Kuulurkan tanganku membalas uluran tangannya.
"Damara Dirgantara," ucapnya memperkenalkan diri. "Panggil saja Damar."
Dengan perasaan canggung, aku kembali memperkenalkan diriku dengan sebuah nama lengkap. "Mutiara Kahiyang."
Suara tepukan tangan terdengar di ruangan itu. Om Marcel berdiri dari kursinya. Di wajahnya terlihat sebuah senyum kelegaan, seperti terlepas dari perasaan tertekannya.
__ADS_1
Aku cepat-cepat menarik tanganku. Sungguh tak nyaman rasanya, ditambah lagi debaran jantungku tak juga mereda. Bagaimana jika dia dapat mendengar suara genderang di dalam dadaku? Pasti sangat memalukan.
"Jadi … Damar, apa kamu mau mengambilnya sebagai model iklan sport mu?" tanya Om Marcel pada pria yang baru saja memperkenalkan dirinya itu.
Pria itu masih menatapku dengan tajam. Seolah ada sesuatu yang salah di wajahku. Sungguh itu membuatku merasa risih, walau tak lama kemudian dia mulai menganggukkan kepalanya.
"Ah … syukurlah. Aku tak perlu lagi mencari bintang baru untuk menggantikannya." Om Marcel mengangkat kedua tangannya. "Aku sangat benci kehilangan banyak waktu untuk melakukan audisi."
"Tapi kamu tak pernah benci jika harus menerima amplop pembayaran, Om Marcel." Om Damar tertawa terkekeh. "Kurasa kamu harus segera pensiun dan mencari seorang pengganti yang up to date agar performa Big Star tidak menurun."
"Astaga … Damar, untuk apa aku harus pensiun jika hanya tinggal sendirian di rumah." Om Marcel kembali dengan celetuknya membantah kalimat om Damar.
"Itulah sebabnya, kamu harus segera menikah," sahutnya dengan cepat.
"Ah … sudahlah. Siapapun juga tahu, seleraku terlalu tinggi. Tidak ada yang pantas untuk kunikahi." Om Marcel menepiskan tangannya pada tamu di hadapannya dengan gayanya yang elegan. "Kecuali … kamu mau menjadi calon suamiku."
Om Marcel berdecak kesal. "Ah … lupakan saja dia. Saat dia sudah bahagia, kenapa kamu tidak berusaha untuk menjadi bahagia?"
Percakapan yang cukup membingungkan buatku. Tentu saja, karena aku hanya mengenal Om Marcel secara umum. Seorang pria baik yang … yah, masuk dalam kategori sedikit aneh untukku. Sedangkan tamunya, Om Damar … baru kali ini aku bertemu dengannya.
Tiba-tiba Om Marcel menepukkan kedua tangannya. Sepertinya dia sudah tidak ingin berada dalam pembahasan yang sama. Seulas senyuman terukir di bibirnya, saat dia memalingkan wajahnya padaku.
"Astaga … kita sudah membuat Tiara kebingungan," ucapan om Marcel membuatku gelagapan. Tentu saja rasa canggung kembali mengusikku. Rasanya tak nyaman dianggap mendengar percakapan orang lain, walau aku sepenuhnya tak dapat mengerti sebagian di antaranya.
"Jadi aku akan bertanya sekali lagi … apa kamu mau memakainya? Atau aku harus tetap mencari seseorang yang baru untukmu?" Om Marcel mengulang pertanyaannya. "Aku mempromosikan dia padamu, karena menurutku, dia adalah orang yang tepat untuk memerankan iklan itu. Postur dan ketegasan wajahnya …"
Om Damar tampak mengangguk anggukkan kepalanya. "Terlihat mirip dengan dia. Bintang iklan yang lama," gumaman itu masih terdengar di telingaku.
__ADS_1
Suara dehem terdengar menutupi kalimat yang diucapkan pemilik Big Star itu. "Karakteristik yang mirip, lebih tepatnya."
"De javu," ucap om Damar sekali lagi dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Baiklah … Tiara, datanglah kembali besok. Om akan buat surat kontrak yang perlu kamu tanda tangani untuk iklan produk sport itu. Jam empat sore. Oke!" ucap om Marcel dengan tegas.
Aku menganggukkan kepalaku menyetujui perintah yang diberikan oleh pria setengah baya di hadapanku. Tentu saja ada kelegaan dalam hatiku, mendapat sebuah job pemotretan berarti aku bisa sedikit meringankan biaya yang harus ditanggung sendiri oleh mamaku sekarang.
Kupakai kembali tas ranselku dan segera beranjak dari kursiku. Kukemas seulas senyuman sebelum aku menundukkan kepalaku. “Makasih Om, sampai ketemu besok,” ucapku.
Aku melangkah keluar dari ruangan kerja om Marcel. Sementara itu di luar kantor, masih begitu banyak gadis muda yang duduk dengan manisnya di ruang tunggu. Aku melalui mereka begitu saja hingga bertemu dengan Kak Elsy.
“Sudah selesai Tiara?” tanyanya yang terkejut melihat kehadiranku.
“Udah, Kak. Om bilang, besok aku harus kemari jam empat sore buat penandatanganan kontrak kerja,” sahutku dengan wajah berseri.
“O ya? Baguslah itu. Kita akan sering ketemu kembali,” ucap gadis manis berkulit gelap itu. “Tapi … kamu masih punya waktu kan, untuk belajar? Bukankah alasanmu berhenti waktu itu …”
Aku tersipu malu. “Sebenarnya aku tak ada masalah dengan pelajaran, Kak. Hanya … aku ingin menikmati waktu luang dengan lebih tenang saja.”
“Ah … Kakak ingin kamu tetap bertahan dengan prestasimu sekarang. Jangan sampe kendor hanya karena jadwal yang padat.” Kak Elsy menasihatiku.
Aku menyatukan jari telunjuk dengan ibu jariku ke depan wajahku. “Oke Kak!” ucapku dengan seulas senyuman lebar. “Tiara pulang dulu ya, Kak!”
Kulangkahkan kakiku keluar dari pintu studio dan hendak mencari angkot seperti biasanya untuk pulang ke rumah. Ketika seorang pemuda berjaket hitam dengan helm teropong hitamnya, menghentikan motornya di hadapanku.
“Heh!” teriakku karena terkejut.
__ADS_1
“Naik!” titah pria muda berjaket hitam itu.