
"Apa kamu masih tak mengakui semua kesalahanmu? Kau tahu … aku bisa menuntutmu kapan saja atas tuduhan pencemaran nama baik!" gertak Om Damar. "Semua bukti sudah ada di tangan kami."
Darren masih terlihat kebingungan. Dia menatapku seperti mencari sebuah jawaban atas pertanyaannya. Aku sedikit mengerutkan keningku, memberikan tanda padanya, yang aku sendiri tak jelas artinya. Satu hal yang pasti, aku tak bisa menjelaskan semuanya sekarang juga. Dihadapan dia, dan Robin yang sepertinya juga sedang merasa sakit hati itu.
Mendengar ancaman itu, Robin sepertinya semakin meradang. Tangannya terkepal di sampingnya.
"Tidak … tidak," ucap Om Marcel kemudian. "Kami tidak akan menuntutmu apapun jika kamu juga tidak berkeras untuk …."
Om Damar mengangkat tangannya. "Tidak. Biarkan dia mengajukan gugat atas kontrak itu. Bukankah kamu akan mendapatkan dispensasi besar atas kelalaiannya melakukan kewajibannya dalam perjanjian kontrak itu, Om Marcel."
Om Damar sepertinya tidak memberikan sebuah peluang sama sekali pada Robin, model yang sedang booming itu untuk memamerkan taringnya di hadapan kami. Sepertinya Om Damar hendak memberikan kesan, bahwa dia tak ada bedanya dengan model lainnya, bahkan model kelas teri seperti kami.
"Om Marcel, coba cek … dalam surat kontrak itu, berapa kerugian yang harus dibayar oleh pihak kedua jika tidak melakukan kewajibannya?" lanjut Om Damar.
Om Marcel segera membuka laci meja kerjanya dan mencari dalam tumpukan mapnya. Aku sedikit heran, kenapa Om Marcel bahkan tak bisa mengatakan jawaban setegas Om Damar. Bukankah hal itu adalah hal dasar, dan seharusnya dia yang membuat kontrak kerja itu juga menyadari semuanya.
Ish! Bikin kesal aja. Seandainya dia mengatakan hal itu dari awal, bisa jadi Robin tidak meradang hingga permasalahan merembet pada aku yang sama sekali tidak tahu menahu tentang persaudaraan mereka.
Robin terlihat kesal, sepasang tangannya terkepal. Dihentakkannya kakinya sebelum meninggalkan ruangan kantor itu.
Om Marcel meletakkan semua map di tangannya sambil menghela napas lega. Didorongnya laci itu hingga tertutup dan menguncinya.
"Astaga … dia benar-benar membuat jantungku hampir copot," ucap Om Marcel sambil memegang dadanya sendiri.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Darren yang masih tak paham apa yang baru saja terjadi.
"A–aku benar-benar tak tahu kalau dia adalah kakakmu," jelasku tanpa diminta. Aku tidak mau ada kesalahpahaman yang semuanya dikarenakan olehku.
"Saat Om Marcel kebingungan karena Robin masih menyelesaikan acaranya di Bali, sementara acara pemotretan harus segera berjalan karena waktu sudah mendesak, aku mengajukan Darren. Karena aku sama sekali tak mempunyai bayangan untuk mengajak seseorang yang lain," lanjutku.
Darren menganggukkan kepalanya. Aku rasa dia mulai memahami apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Pantas saja dia terkejut ketika aku membahas acara ini semalam," sahut Darren. "Tapi … kalau Om mau pakai koko aku, nggak papa kok … aku akan mundur. Aku cukup tau diri kalau dia lebih …."
"Kamu mau mundur hanya karena gertakan model yang kurang memahami profesionalisme itu?" Om Damar menegur Darren. "Apa kamu bisa membayar kompensasi kontrak akibat dari meninggalkan kewajibanmu sebagai model?"
"Euuh … tapi, Darren nggak bermaksud untuk .…"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat pembelaanku terhadap Darren, Om Damar segera menyela dengan kalimat tegas lainnya.
"Aku berharap iklan ini segera selesai! Aku tidak mau membayar model-model yang dengan sengaja berbuat semaunya sendiri! Bukankah semua sudah tertulis pada kontrak yang kalian tandatangani?"
Aku menggigit bibirku. Ah …. Semuanya jadi kacau berantakan gara-gara si Robin, termasuk moodku. Ya … moodku langsung hancur berantakan setelah teguran yang kurasa bukan hanya ditujukan untuk Darren, tapi juga untukku.
"Tiara … polesan ini memang akan menutupi jerawatmu dari sorotan kamera. Tapi …. Semua akan percuma kalau kamu cemberut gitu," tegur Kak Merry sambil menambahkan blush on di pipiku.
"Nggak taulah, Kak. Aku bete banget, kena semprot juga gara-gara si Robin konyol itu," lirihku sedikit mengadu pada perias Big Star yang legendaris itu.
"Siapa? Om Marcel?" tanyanya. "Udah … nggak usah ditanggapin, kalau yang satu itu cuman di bibir saja. Yang harus kamu ketahui, hatinya lembut."
Kak Merry mengangkat tangannya hendak memoles pewarna bibir untukku, ketika tiba-tiba terdengar suara seorang pria di belakangku.
"Kamu marah padaku?" tanya pria itu.
Aku dapat melihat wajah sang pemilik suara dari pantulan cermin di depanku. "Tidak. Om benar, semua yang Om katakan tidak satu pun yang salah. Aku hanya sedang beradaptasi dengan kenyataan itu."
Pria itu menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Kak Merry, bisa aku bicara berdua dengan dia, sebentar."
Pria setengah wanita itu menatap Om Damar. "Jangan buat mood dia berantakan. Atau kamu tak akan mendapatkan gambar terbaik untuk iklanmu."
"Tiara, mari kita bicara sebentar!"
Pria itu melangkah keluar dari ruangan yang mulai ramai itu. Aku mengikuti langkahnya tepat di belakangnya. Entah apa lagi kata-kata sadis yang akan diucapkannya padaku.
__ADS_1
Jantungku semakin berdebar keras ketika pria itu mulai membuka pintu ruang tamu, yang biasa dipakai khusus untuk menemui tamu penting saja oleh Om Marcel.
Aku masih berusaha tenang, meredam perasaan gelisahku dan mengikuti langkahnya memasuki ruangan yang tak terlalu luas itu. Kuteguk salivaku dengan cepat, ketika pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.
Sekali lagi kulihat dada pria itu mengembang, karena menghela napas. Lalu melangkah mendekat padaku dengan cepat.
Tiba-tiba saja pria itu melebarkan kedua tangannya dan memelukku dengan erat. Hangat tubuhnya terasa sangat nyaman, membuat perasaanku kembali tenang. Suara debaran jantung itu … ah, apa itu suara jantungnya, atau … sebaliknya itu suara jantungku? Kenapa debaran itu begitu kencang?
"Apa kamu marah padaku?" lirihnya di telingaku. "Tiara, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa … aku tidak suka jika kamu membelanya. Aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya."
Apa ini? Jadi … dia melarangku ada di dekat Darren. Tapi bagaimana bisa? Dia adalah temanku. Teman sekolah … bukan hanya itu, dia adalah teman dekatku.
"Tapi … " ucapku ingin membantahnya dengan mengatakan bahwa hubungan kami hanya sebatas teman saja.
"Aku sudah cukup menderita melihat kalian berdua begitu mesra dalam sebuah pemotretan," ucapnya.
Aku menatap sepasang mata itu. Sepasang mata yang menatapku dengan lembut dan memancarkan kesedihan. Sepasang mata yang berbeda dengan yang kulihat sebelumnya. Tak ada lagi sorot mata tegas penuh wibawa itu.
"Aku mencintaimu, Tiara," ucapnya seolah sebuah ucapan tulus dari dalam hatinya. "Aku mencintaimu."
Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya kepadaku. Jantungku berdebar semakin cepat. Bahkan rasanya waktu berjalan begitu lambat. Ketika bibir lembut itu menyentuh bibirku.
***
Selamat Tahun Baru buat pembaca tercinta ....
Hari ini author sengaja update pagi karena harus menempuh perjalanan pulang ke pulau Jawa. Liburan telah usai, besok mulai update rutin seperti sedia kala.
Terima kasih telah mengikuti perjalanan Tiara sampai sejauh ini
Arigatou - Kamshamida - Xiexie - Thank You - Terima Kasih
__ADS_1