
"Aku menyukaimu. Sejak pertama kali kita bertemu aku jatuh cinta padamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menunjukkan perasaanku padamu."
Mataku membulat. Apa yang baru saja dia katakan? Apa telingaku tidak salah dengar? Astaga, tentu saja dia sedang bercanda. Nggak mungkin yang dikatakannya tadi itu benar. Mana mungkin pria dewasa seperti dia menyukai gadis SMA sepertiku, yang masih sangat kekanak-kanakan ini.
Aku tertawa terkekeh. Ini pasti sebuah jebakan lain, sama seperti tebakan-tebakan yang diberikannya padaku tadi. Ternyata dia bukan hanya pintar merusak penampilan orang, tapi juga suka memberikan jebakan. Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
“Udah … udah. Om Damar jangan terus godain Tiara,” tegurku setelah tawaku mereda. “Sungguh, Om. Ini sama sekali nggak lucu. Masa sih Tiara pacaran sama Om Damar.”
Tapi tawaku lenyap dalam seketika saat aku tak melihat wajah seriusnya. Tak ada seulas senyum di wajahnya, apalagi tawa. Heh! Apa dia serius dengan kalimatnya tadi? Apa dia benar-benar menginginkan aku jadi kekasihnya?
Aneh aja sih, kenapa harus cari yang kekanakan seperti aku. Bukankah banyak gadis cantik yang juga matang dengan penampilan menarik di luar sana.
“Memangnya gimana sih kriteria cowok idaman Tiara?” tanyanya kemudian.
“Yang pasti bukan om-om,” batinku.
Tapi … nggak mungkin aku jawab gitu. Dia pasti tersinggung. Aku nggak mau nyakitin perasaan siapapun.
“Euuh … Tiara nggak pernah mikir itu, Om. Tiara belum mikir mau pacaran sebelum lulus sekolah.” Aku mengangkat dua jariku membentuk huruf V. “Swear!”
Pria itu menganggukkan kepalanya seolah memahami keputusanku. “Baguslah kalau memang begitu.”
Tentu saja aku merasa lega karena tak perlu membuatnya tersinggung dengan memberikan sebuah penolakan yang menyakitkan.
“Kalau begitu, kita berteman saja. Aku akan tunggu kamu hingga kamu siap dengan sebuah hubungan,” ucapnya kemudian.
“T-tapi Om ….”
“Cukup berada di sisiku, supaya aku dapat menjagamu dengan baik.” Om Damar menarik sudut bibirnya, sementara tangannya kembali terulur dan mengacak rambutku.
“Ish, berhenti lakukan itu. Rambutku jadi berantakan, nih ….” Aku menyisir kembali rambutku dengan kelima jari tanganku.
__ADS_1
Aih … kesel deh. Tapi … seandainya aku tetap berada di sisinya, sebagai teman saja, bukankah seharusnya itu sebuah keuntungan besar buatku? Asal benar hanya sebagai seorang teman.
Kuulurkan jari kelingkingku padanya. “Janji … cuman teman ya.”
“Iya janji,” ucapnya sambil lalu.
***
Bioskop yang ditujunya adalah sebuah bioskop yang ada di lantai tertinggi pusat perbelanjaan di kota kami. Pada jam seperti ini, seperti biasa pusat perbelanjaan selalu ramai. Tentu saja para remaja seusiaku-lah yang mendominasi.
Satu hal yang aku takutkan saat ini, bagaimana bila ada teman sekolahku yang melihatku bersama om Damar? Bagaimana bila mereka menganggapku yang tidak seharusnya?
Om Damar melangkah dengan santai seperti tanpa beban. Sementara aku berusaha selebar dan secepat mungkin mengayunkan langkahku. Lebih cepat sampai ke tempat tujuan akan jauh lebih baik, karena itu akan memperkecil kemungkinan aku bertemu dengan salah satu teman sekolahku.
“Pelan-pelan dong, Tiara. Film nya masih akan berlangsung satu jam lagi. Nggak perlu buru-buru.” Om Damar menarik lenganku agar tetap berada di sampingnya.
Aku bisa melihat beberapa orang menatap kami dengan pandangan yang sangat membuatku tak nyaman. Entah kenapa pikiranku langsung berspekulasi tentang apa yang mereka pikirkan tentang kami berdua.
Ah … pasti mereka berfikir yang tidak – tidak.
“Om Damar, sebenarnya usia Om berapa sih?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
“Tiga puluh dua. Kenapa Tiara?” tanyanya kemudian.
“Euuh … eng … itu Om. Kalau seadainya nanti kita bertemu teman Tiara, terus mereka nanya siapa Om, aku jawab apa,” ucapku dengan kepala tertunduk.
Om Damar kembali mengacak puncak kepalaku. “Kenapa? Kamu malu dekat sama aku?”
“Eeeng … euuuh … iya eh enggak kok Om. Makanya cepetan.” Kali ini aku meraih tangannya dan menariknya agar berjalan lebih cepat. “Kita naik lift aja deh.”
__ADS_1
Pria itu sepertinya tidak keberatan saat aku menariknya agar berjalan lebih cepat. Bahkan sekilas aku melihat senyuman di bibirnya.
Kami berdiri di depan lift dan menunggu pintu ruangan kecil itu terbuka bagi kami.
“Sebenarnya mudah saja, kenapa kamu tidak mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa kamu dan aku adalah teman?”
Ah … benar juga yang dikatakan oleh om Damar. Tapi … apa mungkin mereka akan percaya? Aku tak ingin ada gosip baru yang menyebar. Bahkan berita keluarnya Pak Seno saja belum juga berhenti menjadi topik utama gosip sekolah kami.
Memang sih, aku hanya siswa biasa yang tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan atau organisasi sekolah apapun. Tapi tentu saja, menciptakan sebuah rumor adalah bukan cara yang pantas untuk memperoleh ketenaran. Hmm … apa istilah yang biasa mereka sebut. Ah ya, pencitraan!
“Nggak Om. Tiara takut tenar,” ucapku langsung.
Om Damar tertawa terkekeh. “Jadi gimana dong. Kalau kamu nggak mau memperkenalkan aku sebagai temanmu … bagaimana jika kamu memperkenalkan aku sebagai kekasihmu?”
Sepasang mataku membola. Mana mungkin aku melakukan itu? Mungkin aku sudah gila jika benar itu terjadi.
Pintu ruangan kecil itu terbuka di hadapan kami. Beberapa pengunjung mall di dalamnya segera keluar dari ruangan berukuran kecil itu. Dan kami pun masuk ke dalamnya.
Terlihat beberapa yang ada di dalamnya, memperhatikan kami berdua dengan seksama. Benar-benar tak nyaman. Aku hanya menundukkan kepalaku, berharap orang-orang di dalam sana tidak mengingat wajahku dan menyerangku di kemudian harinya.
Perjalanan ke lantai teratas ternyata memang butuh banyak cobaan dan rintangan. Pintu lift kembali terbuka. Kali ini terlihat banyak manusia berbondong-bondong mendekat dan masuk ke dalam lift.
Saking banyaknya orang yang masuk ke dalam ruangan sempit itu, aku pun terdorong, terhimpit hingga tubuhku menempel pada tubuh seseorang.
Sungguh, rasanya canggung sekali. Om Damar hanya diam saat tubuh kami saling berhimpitan. Aroma maskulin di tubuhnya tercium di hidungku. Aroma yang elegan, tegas, dan menyegarkan khas parfum berkelas.
Kenapa jantungku berdebar gini, sih. Bener-bener bikin malu. Gimana kalau Om Damar mendengarnya. Atau lebih parah lagi jika semua yang ada di dalam lift ini mendengarnya.
Perlahan aku mendongak, menatap pria yang memiliki tubuh yang lebih jangkung dariku. Pria itu sedang menatapku. Pandangan mata kami bertemu dan tentu saja aku merasa sangat malu. Mungkin saja dia berhasil mendengar detakan jantungku yang bagai genderang peperangan itu.
Seulas senyuman tersungging di bibirnya. “Seandainya bisa, aku ingin waktu berhenti sejenak saat ini, Tiara. Karena aku ingin dapat lebih lama bersamamu. Seperti saat ini.”
__ADS_1