
“Cepetan naik!” perintah Darren. “Apa kamu mau terlambat”
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku dengan heran. Darren mengambil helm yang ada di belakangnya dan memakaikan benda bulat itu di atas kepalaku, hingga terdengar suara klik, tanda benda itu telah terpasang dengan baik.
“Iya … jemput kamu lah, apa lagi?” sahut Darren, sedikit tergagap.
“Ya udah, deh. Yuk … yuk … jalan!” perintahku. Kutepuk-tepuk punggung pria muda itu agar dia segera menjalankan kendaraannya. Walau bagaimanapun aku tidak ingin terlambat.
“Siang sekali sih? Kamu bisa terlambat kalau berangkat naik angkot.” Darren mulai mengemudikan kuda besinya. Kendaraan beroda dua itu melaju cepat membelah keramaian kota kami.
“Makanya … aku heran, kok kamu bisa ada di depan rumah. Bagaimana bisa tahu kalau aku bakal kesiangan,” sahutku masih keheranan.
“Aku seperti dengar suara kamu. Kamu panggil-panggil aku gitu,” ujarnya. “Darren, jemput aku … Ren, jemput aku.”
Aku bisa mendengar suara tawa dibalik helm teropongnya.
“Euuh … keliatan banget deh, bohongnya.” Aku mencubit pinggang pria muda itu. “Mana ada yang kayak gitu.”
“Ya udah, ya udah .… Itu artinya hati kamu sama hati aku sudah terkoneksi dengan kuat. Bener nggak sih?”
Heran banget deh, kenapa tiba-tiba Darren berubah jadi seberani ini sih. Kenapa dia tiba-tiba berani modus gini sama aku? Jangan-jangan ….
Aku menyentuh tengkuknya. “Kamu nggak lagi sakit, kan Ren?” tanyaku.
Pria muda itu menepis tanganku. “Enggak, aku emang udah nggak waras. Kenapa? Takut?” sahutnya dengan cepat.
Darren mempercepat laju motornya sesekali dia mempermainkan kopling tangannya, seperti dengan sengaja membuatku merosot dari tempatku duduk.
“Ren, memang kamu pingin aku jatuh, gitu? Kamu kenapa sih?” Akhirnya aku mengungkapkan kekesalanku, setelah cukup lama diam dan berusaha bertahan di atas boncengannya.
“Kalau nggak pengin jatuh, ya … pegangan dong,” sahutnya dengan santai.
Pria muda itu sama sekali tak memperlambat laju si kuda besi tunggangannya itu. Akhirnya aku mencengkeram kuat jaket hitam yang dipakainya hingga kami tiba tepat di depan gerbang sekolah.
Beberapa siswa tampak memperhatikan kami. Ya, mungkin saja kami berdua terlihat aneh atau bahkan mereka terusik karena kedatangan kami.
Aku melompat turun dari boncengannya. “Ish! Gila kamu ya. Kalau aku jatuh gimana, atau kamu emang sengaja mau celakain aku, gitu?”
__ADS_1
Dengan kesal aku meninggalkan Darren yang masih sibuk memarkirkan motornya.
“Ra … Tiara! Yaah … walaupun ngambek, helmnya nggak usah dipakai terus gitu, dong.” Suara teriakan Darren spontan menghentikan langkahku.
Wajahku terasa panas karena malu. Astaga, kenapa juga aku lupa melepaskan helm ini dan kenapa juga dia teriak-teriak. Nggak ngerti apa, kalau ini memalukan. Atau dia sengaja mempermalukan aku.
Aku segera berbalik sambil melepaskan pengait benda bulat itu. “Kamu dah bikin aku kesel hari ini.” Kusodorkan helm itu ke tangannya tepat setelah itu bel sekolah berbunyi.
“Dih, udah untung nggak terlambat,” gumam Darren. “Bukannya bilang, makasih Darren, kamu pahlawan aku.”
“Yang ada malah, kamu dah bikin kesel aku hari ini,” ucapnya sambil menirukan cara bicaraku.
Aku mengedikkan pundakku sambil mengerutkan keningku. “Ish, Ren. Kamu benar-benar aneh deh, hari ini.”
***
Suasana sangat ramai saat istirahat sekolah berlangsung. Seperti biasa aku dan Shinta menghabiskan waktu untuk bercengkrama di kantin dengan semangkuk bakso di hadapan kami masing-masing.
“Gimana? Kontrak kerjanya akhirnya bisa kamu dapatkan?” tanya Shinta.
“Aneh? Aneh gimana?” Shinta terlihat mulai serius mendengarkanku.
“Itu … kemarin dia tiba-tiba datang ke rumah, cuman buat balikin buku.” Aku mulai menceritakan keanehan yang kurasakan.
“Nggak ah, nggak aneh kalau menurut aku.” Shinta menepis anggapanku. “Bisa saja dia takut kamu memerlukan buku itu untuk belajar.”
Aku menghela napas. Untuk belajar? Andai saja kamu tahu buku apa yang tertinggal itu. Aku juga tak mungkin menceritakan aib Pak Seno padamu. Aku mengedikkan pundakku sebagai tanggapan atas pendapat Shinta.
"Hai girls!" Suara Raka terdengar di telingaku.
Dengan santai pria muda itu mengambil posisi di antara kami berdua. Aku segera bergeser, tentu saja rasanya tak nyaman duduk berdekatan seperti itu. Tapi seseorang telah terlebih dahulu menutup kesempatanku untuk bergeser lebih jauh. Dia duduk dengan tenangnya tepat di sampingku.
Aku menatap pria muda itu. "Darren!"
Pria muda itu tersenyum lebar. "Apa kamu masih marah sama aku?" tanyanya.
"Selama kamu masih menyebalkan," sahutku yang langsung berdiri dari kursiku dan mendorongnya mundur.
__ADS_1
"Aku kembali ke kelas duluan, Shin," ucapku yang langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban dari sahabatku itu.
Suara Darren masih terdengar mengikuti langkahku. "Ra … tunggu Ra. Jangan marah dong, plisss …."
Aku terus melangkah tanpa keinginan untuk memberikan respon apapun. Rasanya kapok, aku nggak akan sekali-kali lagi mau dibonceng dia.
"Tiaraa … dengerin aku! Beri aku kesempatan ngomong, Ra." Darren yang telah berada di sampingku, terus berusaha menyamakan langkah kakinya denganku.
"Kamu aneh, tahu! Aku ngerasa beberapa hari ini kamu berubah," ucapku. "Aku jadi nggak ngerti sama kamu."
Pria muda itu mengacak rambutnya. Aku menghentikan langkahku, menyilangkan kedua tanganku di dada, dan menatap tajam sepasang matanya.
Kulirik arloji di tanganku. "Kesempatan bicara. Oke. Satu menit."
Suara desah keluar dari bibirnya. "Aku .…"
Tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Hanya raut wajah gelisah yang berhasil kubaca dari dirinya. Bahkan tidak ada permintaan maaf.
Aku jadi nggak ngerti, apa mungkin dia akan menghancurkan hubungan persahabatan kami hanya karena egonya?
Kembali kulirik arloji di tanganku. "Satu menit sudah habis," ucapku. Aku kembali melangkah meninggalkannya.
"Tiara …." Suara Darren kembali terdengar di telingaku. "Kenapa kamu nggak bisa sedikit lebih peka? Tak bisakah kamu memahami aku?”
Aku menghentikan langkahku.
Apa maksud perkataannya itu? Apa dia menyalahkan aku atas semua ini? Jadi … dia yang berubah tapi aku yang bersalah atas semua hal ini.
Aku berbalik dan menatapnya dengan tajam. “Ya, aku memang tidak peka. Aku tidak bisa memahami kamu. Jelas bukan? Aku manusia biasa, bukan cenayang yang bisa menerawang pikiran kamu.”
Pria itu menghela napas panjang. Perlahan dianggukkannya kepalanya. “Baik. Aku akan mengatakannya apa yang ada di pikiran dan perasaanku sekarang,” ucapnya.
Sejenak pria muda itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. “Ra, aku nggak tahu, setelah aku mengatakan semua ini … apa hubungan antara aku dan kamu akan tetap seperti biasa, atau bahkan sebaliknya.”
Aku menyilangkan kedua tanganku di dada, dengan tenang menunggu kalimat yang keluar dari bibirnya. Kulihat wajah pria muda di hadapanku itu semakin gelisah, seperti hendak menyampaikan sesuatu yang akan mengakhiri hidupnya.
Sungguh mengherankan, sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia telah melakukan sesuatu yang fatal sehingga takut akan membuatku marah?
__ADS_1