Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Bila Aku Lenyap


__ADS_3

"Nggak, aku nggak papah, Ra," ucapnya dengan senyuman yang terlihat canggung. Sekali lagi Darren memetik senar-senar gitar yang sedang dipangkunya, menciptakan serangkaian nada yang terdengar indah dan harmonis di telingaku, walau lagu yang dimainkannya terasa begitu sendu dan penuh kesedihan.


"Ren, kamu beneran nggak papa? Apa kamu nggak bisa kasih aku lagu gembira daripada lagu yang bikin sedih gitu?" tanyaku kemudian, setengah protes.


"Ehm ... Lagu gembira? Lagu seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Dareen kemudian, layaknya seorang musisi di tengah konser tunggalnya.


"Seperti ...."


"Seperti lagu-lagu K-pop itu?" tanya Darren yang langsung diteruskan oleh kekeh tawanya sebelum aku sempat menjawab.


"Ish! Kenapa tertawa? Kamu tahu kan, mereka itu bertalenta," sahutku. "Aku yakin, kamu nggak bakalan mampu nyanyi sambil dance seperti mereka. Bisa-bisa kehabisan napas, kamu. Itu disebut multitalent. Kamu bisa lihat, betapa sempurnanya mereka, seperti tak ada lagi yang tak bisa mereka lakukan."


"Iya, iya ... Aku tahu, nggak usah sewot gitu, ih!" sahutnya. "Kamu bela mereka seperti ini juga, mereka nggak tau dan nggak akan berterima kasih sama kamu."


"Euh ... Iya sih." Kali ini aku tak bisa menyangkal. Semua itu benar, aku tidak mendapatkan apapun, bahkan mereka tak akan mengenalku.


"Hmm... Gimana kalau aku nyanyi langsung di hadapan kamu sekarang. Daripada live gini, bikin habis kuota aku," usulnya tiba-tiba.


"Hah! Tengah malam gini? Kamu mau ngamen di depan rumah aku tengah malem gini?" seruku karena terkejut.


"Yaa ... Nggak usah melotot gitu dong. Biasa aja." balasnya cepat.


"Heh! Kamu yang nggak biasa. Yang ada nanti kamu dimarahin sama Pak RT!"


"Cuman dimarahin doang, kecil. Dikawinin sekalian juga, nggak papa kalo itu sama kamu, Ra," sahutnya dengan seulas senyum tipis di bibirnya. "Aku nggak sanggup. Nggak sanggup buat nolak!"


"Ish! Ngaco ah," sahutku salah tingkah. "Sepertinya kamu ngantuk, Ren. Pulang ajalah, tidur di rumah jauh lebih baik daripada di sekolah. Lagian, kasihan mama kamu cariin kamu tuh."


"Makasih ya, Ra," sahutnya tiba-tiba.


"Buat apa?"


"Ehm ... Buat segalanya," sahut Darren. Kini lelaki muda itu mendekatkan diri dan meraih ponselnya, membuat wajahnya terlihat sangat besar di layarku. "Setidaknya aku tahu kalau, kamu mencemaskan aku. Saking cemasnya, kamu vidio call aku."


"Yee! Yang ada kamu yang pindahin panggilan biasa jadi panggilan vidio!" sahutku kemudian.


Kini aku bisa bernapas lega. "Tapi Ren, sebenarnya ... Buat aku, kamu adalah salah satu sahabat buat aku. Salah satu teman akrabku, tentu saja aku wajib mencemaskan kamu. Bukankah kamu juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku?"

__ADS_1


Sejenak lelaki itu terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang sedang direnungkannya.


"Tidak, aku rasa aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan," sahutnya kemudian.


"Heh! Jadi kamu nggak bakal cemas kalau aku ngilang? Dasar teman nggak ada akhlak!" balasku kesal. "Bisa-bisanya nggak cemasin aku."


Darren tertawa terkekeh. "Kamu tahu apa yang bakal aku lakukan?"


Aku mencebikkan bibirku dengan kesal. "Cuek? Pasti kamu bakal ngomong kalo kamu bakal cuek, kamu nggak bakal peduli. Dasar teman cowok nggak punya perasaan!"


"Apa aku ada bilang gitu?" tanyanya kemudian.


"Ya ... Enggak sih, cuma tebakanku aja. Memangnya kamu mau jawab apa?" tanyaku sedikit penasaran.


"Tentu saja aku bakal cari kamu," sahutnya dengan senyuman tipis di bibirnya. "Dan aku nggak akan pulang sebelum kamu ketemu."


Kali ini aku melihat wajahnya berubah serius, tanpa sebuah tawa yang biasa disematkannya saat bercanda denganku. Dan ini membuatku semakin merasa canggung.


"Euh ..."


Mau tak mau aku pun tersenyum. Tampan? Iya, dia memang tampan. Tapi sayang hatiku sudah ada yang memiliki dan aku tak bisa berpaling dari kekasihku.


"Cantik," gumamnya.


"Hah?" sahutku, pura-pura tidak mendengar ucapannya barusan.


"Eeh, enggak," sahutnya gugup. "Selamat tidur Tiara. Sampai ketemu besok."


Sesaat kemudian wajahnya menghilang dari layarku. Dia mengakhiri panggilan vidio kami secepat kilat. Mungkin dia merasa malu, karena perasaanku bergeming sekeras apapun dia mencoba merayu.


*


*


*


"Hah! Jadi akhirnya mama kamu beliin kamu apartemen, Ren?" Suara Raka terdengar mengalahkan keramaian kantin siang itu.

__ADS_1


Darren segera mengangkat tangannya dan menjadikannya sebagai alat penutup mulut Raka. "Ssst, jangan rame-rame!"


"Memang kenapa? Nggak ada yang salah dengan itu, kan?" protes Raka sembari menepis tangan kawan karibnya itu.


"Ya ... Nggak enak aja," sahutnya dengan sudut mata ke arahku. Mungkin saja dia ingin mendapatkan dukungan dariku dari Raka yang sedari tadi menggodanya.


"Kak Robin masih marah sama kamu?" tanyaku. Tentu saja hal ini membuatku merasa prihatin. Bagaimanapun aku tidak mau dianggap sebagai penyebab perpecahan di antara dua saudara.


"Nggak papah, Ra. Setidaknya dengan adanya apartemen itu, mama nggak khawatir aku bakalan tidur dimana," sahutnya dengan tenang.


"Ehem! Terus ... Kapan nih, selamatan pindah rumahnya?" goda Shinta dengan senyuman khasnya.


"Eh, iya. Harus ini. Makan besar, makan makan," sahut Raka menimpali ucapan Shinta, seolah tak mau kalah,


"Udah, nggak usah melotot gitu, Ra." Tiba-tiba Shinta menepuk punggungku. "Memangnya kamu terganggu kalau aku sama Raka ke apartemen Darren?"


"Heh? Kok aku?" sahutku yang terkejut karena tudingannya. "Kalian tuh ya, Darren pindah bukan karena dia kebanyakan duit. Itu karena dia bertengkar sama kakaknya. Kenapa malah kalian keliatan bahagia banget, terus jadiin dia target buat pesta."


"Dih ... Dih, kenapa kamu yang sewot, Ra?" sahut Shinta seperti sengaja menggodaku.


"Aaah! Udahlah... Nggak taulah." Entah kenapa aku merasa kesal dengan celotehan mereka siang ini. Tanpa basa-basi aku berdiri dan pergi meninggalkan kantin yang masih ramai di penuhi oleh siswa siswi kelaparan siang itu.


Tapi belum jauh aku melangkah, aku melihat seekor anak kucing di lantai dua gedung sekolah kami. Suara eongannya seolah memelas, meminta bantuan untuk sekedar turun. Entah bagaimana dia bisa berada di lantai atas gedung sekolah kami. Mungkin saja sang induk meninggalkannya di sana.


Hmm ... Mungkin akan lebih mudah baginya mencari makanan di bawah sana. Dia bisa ke dapur atau ke kantin sekolah untuk mendapatkan sekedar makanan sisa.


Entah kenapa anak kucing itu seakan sebuah magnet yang menarikku untuk membantunya. Aku meraihnya, mengusapnya pelan untuk menenangkannya sebelum menggendongnya dan membawanya turun.


"Ngapain kamu, Ra?" tanya Renny dengan sinis. Pertanyaan yang diucapkan dengan nada sinis itu bahkan sempat membuatku terkejut hingga hampir melompat.


"Eh! Kamu Ren. Nggak ngapa-ngapain. Cuman mau kasih anak kucing ini turun ke bawah sana," sahutku. "Kurasa dia bakal lebih mudah dapat makanan di bawah sana daripada di atas sini."


Renny mengernyitkan wajahnya. Aku hanya menghela napas, berusaha menjaga emosiku yang hari ini terasa tidak stabil. Perlahan aku memeluk anak kucing itu sembari menuruni satu demi satu anak tangga di depanku.


Namun tiba-tiba kurasakan seseorang mendorongku. Dan karena tanganku memeluk anak kucing itu, maka aku tak sempat meraih pegangan anak tangga. Tentu saja hal itu membuat tubuhku meluncur dari lantai dua gedung tanpa ada penghambat.


Aku memekik karena terkejut!

__ADS_1


__ADS_2