Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Bukan Seorang Chef


__ADS_3

Pria itu menarik sudut bibirnya memperlihatkan seulas senyumannya yang indah. Senyuman yang membuat wajahnya semarak dengan ketampanan khasnya yang maskulin.


"Jika itu keputusanmu, aku sangat menghargainya." Om Damar mengecup puncak kepalaku, sebuah hal yang mulai terbiasa kuterima setelah semakin akrab dengannya. "Walaupun sebenarnya aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku."


Mataku membulat mendengar kalimat yang diucapkannya. Heh! Tidak bersungguh-sungguh? Sebuah kalimat yang terkesan ambigu. Apa maksudnya? Apa dia dengan sengaja sedang mempermainkan perasaanku? Tidak bersungguh-sungguh tentang apa?


"Tidak bersungguh-sungguh? Maksud Om?" tanyaku menyampaikan rasa penasaranku.


Aku sungguh tidak ingin berpikir negatif, walaupun kalimat itu benar-benar terdengar seolah memicu pikiran negatif itu sendiri. Oleh karena itu, aku tak ingin meredam pertanyaan itu dan memelihara pikiran negatif yang menyesakkan itu terlalu lama.


"Semua yang kukatakan pada kepala sekolahmu hanyalah sebuah gertakan. Aku hanya tidak ingin dia menyepelekan masalah ini," ucap Om Damar. "Aku ingin dia segera menindak tegas pelakunya. Lagi pula tidak mungkin aku memperlambat kelulusanmu. Justru sebaliknya, aku berharap kamu segera lulus supaya aku dapat segera melamarmu."


Ew … dasar. Ujung-ujungnya jadi ngegombal lagi, deh. Heran aja … dia sepandai ini ngerayu, tapi kenapa belum juga menikah sampai saat ini. Mungkinkah dia benar-benar nggak bisa move on dari wanita semalam, atau memang kami berjodoh hingga Tuhan membuatnya melajang untukku, atau bahkan sebaliknya … aku yang terlalu naif hingga begitu mudah jatuh ke dalam pelukannya.


Kruuuk … kruuuk!


"Astaga, bunyi apa itu?" tanya Om Damar tiba-tiba.


Ew … emang perut nggak tau malu, ih. Kenapa juga tiba-tiba bunyi. Malu-maluin aja. Aduh … mana Om Damar denger pula!


"Apa kamu sudah lapar?" tanya Om Damar. Dapat kulihat senyuman lebar di bibirnya, seolah sedang menertawakan kekonyolan yang tak bisa kusembunyikan itu. Tentu saja, siapa pula yang bisa menghentikan bunyi protes ususnya yang menuntut untuk diisi.


"Ish! Malah nanya. Udah jam segini, siapa juga yang belum lapar?" omelku untuk menutupi rasa malu. "Dasar … cowok nggak peka!"

__ADS_1


Om Damar tertawa sambil mengacak rambutku. "Ya udah … ya udah. Tuan putri mau makan apa siang ini?"


"Apa aja," ucapku sekenanya. Aku sedikit melirik, mencari tahu reaksi Om Damar.


Pria itu tampak mengerutkan keningnya saat mendengar jawabanku. Sesaat kemudian dia mengangkat tangannya, sepertinya hendak memberikan perintah pada para asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sesuatu.


Aku segera menghentikannya. "Ew … apa aja, asal Om Damar yang bikin buat aku, bukan orang lain," ucapku sebelum pria itu sempat memanggil para pelayan rumah itu.


Sepasang mata dengan alis tebal itu membulat. Jari telunjuknya menunjuk dadanya sendiri. "Aku?" ucapnya dengan nada meninggi, seperti tidak yakin mendengar permintaanku tadi. "Kamu yakin mau makan masakan yang aku buat?"


Aku mengangguk dengan tegas. Kapan lagi aku bisa ngerjain Om Damar? Bukankah ini saat yang tepat, saat dimana dia sedang berusaha memanjakan aku.


"Tapi … masalahnya aku nggak bisa masak, Tiara," jawab Om Damar. Suaranya terdengar frustasi saat menjawab permintaanku.


Pria itu tampak menggaruk kepalanya dengan kebingungan. Mungkin mendengar kalimat yang kuucapkan, akhirnya membunuh rasa egonya. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah dan menuruti keinginanku.


"Baiklah …. Tapi, jangan menyesal jika rasanya tak seperti yang kamu bayangkan," ucapnya memperingatkan aku. "Aku belum pernah masak sekali pun. Jadi pasti tak akan senikmat masakan normal."


Aku mengerutkan keningku sambil memasang wajah memelas, agar dia segera menghentikan perdebatan kami dan menyiapkan makan siang kami. Tentu saja karena aku sudah lapar dan dia tak bergegas mengolah sesuatu untuk kami makan, melainkan terus mencari alasan agar bisa meloloskan diri dari tugasnya.


"Nggak papa … nggak papa. Pasti aku makan, kok," ucapku segera. "Cepatlah, aku sudah sangat lapar, nih." Kupegang perutku yang kembali mengeluarkan suara protesnya untuk segera diisi.


Akhirnya Om Damar pun pergi meninggalkan aku di ruang tamu itu. Senang? Tentu saja. Bagaimana tidak, aku berhasil membuat seorang CEO perusahaan kostum olah raga untuk membuatkan aku makan siang! Mungkin saja semua orang di dunia ini iri padaku.

__ADS_1


Aku melihat sekelilingku, menebarkan pandanganku melihat seisi ruang tamu di sekitarku. Deretan foto-foto itu, foto-foto wanita itu sudah menghilang dari tempatnya. Hmm … mungkin saja dia sudah menyimpannya. Bisa jadi karena dia tak ingin aku berpikiran buruk terhadapnya.


Siapa juga yang bakal nggak berpikiran buruk, jika di rumah kekasihnya terlihat deretan foto sang kekasih dengan wanita lain. Hanya orang aneh yang tak akan merasa cemburu. Hmm … mungkin lebih tepatnya bukan orang aneh, tapi orang lain yang tidak mempunyai sedikit perasaan pun terhadap dia, yang tak akan cemburu. Atau mungkin saja dia menyingkirkan foto itu dengan tujuan untuk menghargai perasaanku saja.


Ah ... sudahlah. Yang penting foto mereka sudah tak menghiasi ruangan ini. Itu berarti dia sudah mulai membuka hatinya. Dan aku sungguh beruntung, karena hati itu milikku.


Hmm … aroma yang sedap tercium dari dalam sana. Sepertinya dia benar-benar sudah mulai memasak. Aku nggak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihatnya. Sungguh, aku nggak mau nyesel karena melewatkan kesempatan langka seperti ini.


Perlahan aku berdiri dan mulai melangkah tertatih, dengan sedikit menyeret kaki kananku. Aroma masakan semakin jelas tercium, ketika aku mulai menapakkan sepasang kakiku ke sebuah ruangan yang tidak terlihat seperti dapur itu. Hmm … terlalu bersih untuk disebut sebagai dapur. Ah … apa mungkin ini karena aku terbiasa melihat dapur rumahku yang kotor karena aktivitas memasak mamaku, yang notabene pekerjaannya adalah katering ala rumahan.


Aku melihat pria dalam apron hitamnya itu menarik sudut bibirnya. Sementara tangannya sibuk menggerakkan spatula untuk mengaduk isi wajan teflonnya, seolah tak memberikan kesempatan bagi isi di dalamnya untuk menghitam karena hangus.


Sungguh … dia membuat aku penasaran. Bagaimana mungkin dia mengatakan tidak pernah memasak untuk siapapun? Ah … sepertinya dia bohong. Tampilannya lebih mirip seorang chef daripada seorang yang pemula dengan apron dan spatula itu di tangannya.


Aku memaksakan diri untuk mendekatinya, rasa ingin tahuku meronta untuk dipuaskan. Apa sebenarnya yang sedang dibuatnya untukku.


"Om Damar butuh bantuan?" tanyaku menawarkan diri.


"Boleh," sahutnya dengan penuh percaya diri.


Namun melihat apa yang ada di dalam benda teflon berbentuk bulat itu, sontak membuatku terkejut. Kutatap wajahnya dengan mata membulat.


"Astaga! A–apa ini, Om?"

__ADS_1


__ADS_2