Dikejar Om Om 2

Dikejar Om Om 2
Kekasih Hati Belahan Jiwa


__ADS_3

Pacar? Gila aja, kapan aku bilang mau jadi pacarnya. Sebenarnya aku ingin protes, ingin membenarkan status kami yang sesungguhnya. Tapi … mengingat ini adalah hari ulang tahunnya, aku tak bisa mempermalukannya di depan semua teman dekatnya yang ada di sekeliling meja ini. 


Tentu saja aku masih mempunyai rasa kemanusiaan. Lagi pula bukankah kebohongan itu akan terungkap dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. 


“Abis ini kita langsung ke atas, yuk. Kita sekalian nonton bareng film yang lagi jadi pembicaraan itu,” ucap Darren. 


“Nah … ini yang aku tunggu, Ren.” Raka spontan menyetujui usul sang bintang acara itu. “Aku dengar kemarin tiket habis dengan cepat. Padahal ada tiga studio menampilkan satu film yang sama. Gosipnya ada seseorang yang membooking satu studio hanya untuk menikmati film ini dengan tenang.”


“Gila! Book satu studio?” tanya Shinta menegaskan kalimat yang baru saja didengarnya itu.


“Ah … itu belum seberapa. Lebih gilanya lagi, ternyata pria itu hanya membawa satu orang saja ke dalam studio. Jadi dia bukan book untuk sebuah rombongan besar,” lanjut Raka.


Tentu saja aku terkejut mendengar cerita itu. Jadi sebenarnya semalam Om Damar sengaja membeli semua kursi, hanya untuk melihat film itu denganku? Tapi kenapa alasannya? Bukankah itu terlalu berlebihan?


Ah … aku bisa mengerti, mungkin saja dia takut jika ada seseorang yang mengenalinya, memergokinya bersamaku, lalu melaporkan dia pada kekasihnya. 


Cukup Tiara! Jangan sekali-sekali membangunkan macan tidur! Bagaimana jika kekasihnya benar-benar menemukan kamu dan marah karena merasa terancam kedudukannya olehmu!


Ini bukan hal baik. Aku nggak mau membuat mama shock. Cukup sudah penderitaannya, dikejar oleh Tante Vivin untuk membayar hutang pengobatan dan perawatan papa saat masih hidup. Aku sama sekali tak berniat untuk melimpahinya dengan masalah hidup lainnya. Bukankah seharusnya aku membantunya menyelesaikan pembayaran hutang itu? 


Tiba-tiba saja ponselku berdering. Dalam layarnya yang berkedip menampilkan sebuah nama diatasnya. Astaga … kenapa dia menyimpan nomor telepon dia dengan nama seperti ini? 


Gimana kalau ponsel ini sedang ada di tangan orang lain? Pasti mereka jadi mikir yang enggak-enggak. 


Tanpa berpikir panjang, aku memasukkan kembali ponselku, tanpa sedikit niatan untuk menerima panggilannya. 


Ngapain sih, Om Damar pakai acara nelpon? Bukannya dia sedang asik sama pacarnya? Bikin kesel aja. Kalau aku angkat, nanti semua bakal denger kalau aku lagi telponan sama om-om. 


Tapi … kalau nggak aku angkat ….


“Siapa sih? Kok nggak berhenti gitu nelponnya.” Shinta yang duduk di sebelahku berusaha mencari tahu. 

__ADS_1


“Angkat aja, Ra. Nggak papa,” sahut Darren memberikan ijin. 


Mungkin saja dia merasa terganggu dengan suara dering yang tak kunjung berhenti itu. Ditambah lagi bunyi deringan dengan nada khas tokoh kartun berwarna kuning dari Bikini Bottom itu menjadi pusat perhatian seluruh kawannya yang hadir mengelilingi gabungan dari tiga meja itu.


“Hmm … sepertinya aku mendapat kesempatan bagus untuk melarikan diri dari suasana tak nyaman di tempat ini,” batinku.


Aku berdiri dari samping mereka berdua dan mendorong kursi yang aku tempati mundur ke belakang. “Sebentar ya, aku terima telepon dulu.”


Aku melangkah keluar dari resto makanan jepang itu, sementara tanganku menggeser tanda berwarna hijau di layar benda pipih itu.


“Om Damar, apa-apaan sih? Kok nyimpen nomer Om pake nama ginian?” Aku langsung mengeluarkan kekesalanku pada kalimat pertama yang melompat dari mulutku.


Suara tawa terdengar dari arah yang sebaliknya.


“Memangnya apa yang tertulis di sana?” tanya Om Damar.


“Kekasih hati belahan jiwa,” sahutku menyebutkan tulisan panjang yang tadi berkedip di layar ponselku.


“Ish … terima kasih apaan?” kesalku.


“Bukannya barusan kamu sudah menyatakan perasaan kamu buat aku?” sahut Om Damar.


Astaga … apa aku harus marah, tertawa atau sebaliknya memaki? Rasanya ingin aku gigit, kunyah dan telan mentah-mentah makhluk ini. Bagaimana bisa dia mempermainkan kata seperti itu? 


“Kamu dah selesai jalan-jalannya?” tanyanya tiba-tiba.


“Memang kenapa?” sahutku balik bertanya. 


Apa urusannya, kenapa dia bertanya seperti itu seolah peduli padaku? Bukankah seharusnya dia tidak menghubungi aku saat berada bersama kekasihnya. Atau … sebenarnya dia benar-benar kadal padang pasir, yang biasa merayu cewek di sana sini sekehendak hati. 


“Nggak papa sih, cuman … aku dah kangen sama kamu.”

__ADS_1


Deg!


“Ish … apaan sih Om? Hati-hati Om, jangan-jangan Om ngomong sama orang yang salah. Ini Tiara Om, bukan pacar Om Damar,” elakku. “Jangan sampai pacar Om marah sama Tiara.” 


Terdengar suara tawa dari seberang sana. “Kok bisa bilang pacar sih? Kalau sudah punya, nggak mungkin aku kemana-mana sendirian.” 


“Ish … nggak ngaku,” ucapku dengan nada sinis. “Bahaya Om, nanti pacar Om mikirnya Tiara cewek nggak bener.”


“Ya ampun, Tiara. Kok kamu nggak percaya sama aku, sih?” sahutnya dari ujung sana. “Bisa jelasin alasan kamu ngomong seperti ini?”


“Udah ah, nggak baik pria berpasangan masih ngedeketin cewek lain,” ucapku hendak memutuskan panggilan telepon itu.


“Sebentar … sebentar,” cegah Om Damar. “Katakan apa yang membuatmu berpikiran seperti itu.”


“Karena aku baru saja memergoki kalian berdua!” kesalku. 


Apa dikiranya aku anak kemarin sore yang bisa dibohongi begitu saja? Ah … semua yang dikatakan itu benar-benar palsu. Hanya satu kali jatuh cinta dan tak pernah bisa jatuh cinta lagi sebelum bertemu denganku? Tentu saja semua itu bullshit. Dia tak ada bedanya dengan pria lainnya.


“Memergoki kami?” Suara tawa kembali terdengar di telingaku. “Tiara, mungkin nggak … aku nelpon kamu di hadapan dia?” 


Untuk apa dia menjelaskan semua itu? Aku tidak pernah memintanya untuk menjelaskan hubungannya dengan siapapun. Bukankah aku dan dia tidak mempunyai hubungan apapun?


“Hmm … suara itu ….” Pria itu terdiam sejenak. “Apa kamu berada di mall yang sama denganku?”


Aku sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan itu. Tentu saja karena aku tak mau menjadi bahan perbincangan teman-teman yang sedang berada di dalam resto. 


“Tiara … aku bisa melihatmu.” Suara pria itu terdengar begitu dekat. 


Aku melihat sekelilingku. Sepasang mataku melihat sosok pria itu berdiri dengan jarak tiga meter di sebelah kananku. 


Mataku membulat. Astaga … bagaimana ini? Bagaimana jika teman-temanku memergoki aku bersama om-om seperti dia? 

__ADS_1


__ADS_2